Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 54: Dasar Mesum


__ADS_3

Laura memasuki kamar Argon dengan perlahan. Dia masih berjalan menggunakan alat bantu karena memang masih masa pemulihan. Namun, dia enggan memakai kursi roda, seperti orang tua katanya.


Tanpa banyak kata, gadis itu menelisik setiap inci ruangan yang menjadi tempat Argon menyendiri selama ini. Tidak ada hal yang istimewa, kecuali sebuah lukisan yang tidak lain adalah ibunya.


Laura terdiam menatap pemandangan di depannya saat ini. Rindu, tentu saja. Tanpa sadar buliran hangat berkumpul di pelupuk matanya. Akan tetapi, sedetik kemudian kesadaran seolah kembali padanya, mengatakan jika ini bukan saat yang tepat untuk bernostalgia.


"Duduklah." Argon menarik sebuah kursi untuk duduk sang putri. Menyadari sikap Laura masih belum terbiasa membuatnya juga sedikit canggung.


"Kenapa Anda menyimpan ini?" tanya Laura tanpa basa-basi.


Argon menghela napas berat. Setelah sekian lama menunda untuk menjelaskan mungkin inilah saat terbaik baginya mengungkapkan semuanya. "Karena dia memang istriku, dan kau adalah putriku."


"Dan kau meninggalkannya?" tebak Laura melirik sinis.


Tidak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulut Argon. Apa pun perkataan Laura memang ada benarnya. Dia menyalahkan diri sendiri karena Sanca harus berjuang sendirian di luar sana tanpa dia ketahui kondisinya.


"Pengecut!"


"Kau benar, Nak. Aku hanyalah seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab terhadap wanita yang kucinta." Sejenak Argon menghentikan kalimatnya. "Aku tahu kalian berjuang dengan susah payah di luar sana. Tapi, pernahkah dirimu terjebak dengan yang namanya hutang budi?"


Suara sayu dan sendu yang dikatakan Argon tak membbuat Laura bersimpati. Ya, dia pernah berhutang budi, tetapi akhirnya mereka mengkhianati setelah dia tak lagi berguna.


"Aku sempat mencari kalian. Tapi, semakin aku menemukan kalian. Ibumu semakin menjauh, dia bahkan rela berpindah-pindah tempat tinggal hanya demi menghindariku."


Sejak kecil Laura memang selalu berpindah tempat tinggal. Jika dia bertanya pada sang ibu, jawabannya hanya karena masalah pekerjaan. Mau tak mau Laura pun menurutinya. Dia pun sampai lelah harus pindah sekolah setiap tahunnya.


"Aku tak bisa bersamanya. Karena Michael adalah putra sah dari keturunan Wilson yang telah tiada dan harus kujaga. Tanpa diriku, Michael sebatang kara dan menjadi anak buangan nantinya karena kedua orang tuanya meninggal, sebelum kau dilahirkan. Sebagai orang yang pernah berada di posisi itu. Tentu aku tidak akan membiarkan putra penyelamatku sendirian. Aku hanyalah seorang anak pungut di keluarga Wilson. Utang budi itulah yang kelak kubawa mati, tidak akan mampu kutebus meskipun aku merawat Michael dengan sepenuh hati."


"Kau begitu menyayangi keturunan mereka. Tapi kau menelantarkan keluargamu sendiri."


"Itu adalah kesalahanku. Akulah pria pengecut seperti apa yang kau katakan itu, Nak."


"Jangan panggil aku, Nak! Kita tidak cukup dekat, meskipun kau mengaku sebagai ayahku." Tak ingin lebih mendengar lebih jauh, Laura memilih segera berdiri dan melangkah keluar dengan susah payah.

__ADS_1


Langkahnya yang tak hati-hati menyebabkan dia sedikit terpeleset.


"Laura."


"Jangan sentuh aku!" Laura menepis tangan Argon yang berniat membantu dan memilih berdiri sendiri, lantas segera pergi meninggalkan ruangan itu sebelum air matanya tumpah ruah.


Tanpa mereka sadari, obrolan yang terjadi di saksikan oleh Michael. Dia sendiri merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan ayahnya itu. Akan tetapi, jalan takdir masa lalu siapa yang bisa mengulanginya.


Sementara itu, di dalam ruangan Argon hanya bisa terduduk lemas. Takdir nyatanya tak pernah berpihak baik padanya. Mungkinkah dia melakukan dosa yang begitu buruk di kehidupan lalu. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


Di lain sisi, Laura duduk di kamarnya seorang diri. Dulu ketika dia bertanya kepada sang ibu ke mana ayahnya, ibunya hanya menjawab jika pria itu telah tiada. Namun, ketika menanyakan di mana dimakamkan, ibunya selalu mengalihkan pembicaraan. Hingga tak jarang dia harus di cemooh karena dianggap anak haram. Bahkan oleh bibi dan sepupunya sendiri.


Namun, sekarang setelah mengetahui fakta yang sesungguhnya. Mengapa rasanya lebih menyakitkan?


Suara ketukan di pintu seketika mengejutkan Laura. Dia mengusap buliran hangat yang jatuh sampau bersih berseri.


"Bolehkah aku masuk?" tanya seorang pria yang kini berada di ambang pintu.


"Terima kasih." Seolah tak mengindahkan jawaban Laura, Michael langsung duduk begitu saja di sampingnya.


"Menyebalkan! Untuk apa bertanya kalau akhirnya kau tetap masuk ke sini?"


"Hanya sekedar basa-basi. Lagi pula ini memang kediamanku. Jadi semua pintu terbuka untukku," kata Michael semakin membuat Laura kesal.


Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Laura juga tak berniat berdebat lebih jauh lagi. Kali ini dia hanyalah orang yang menumpang tidur di sini. Sebuah perasaan seperti yang ayahnya katakan. Menjadi benalu memang tidak enak sama sekali.


Melihat Michael yang hanya terdiam, Laura pun cukup penasaran. "Kenapa kau di sini jika hanya diam?"


"Lalu, kau ingin aku berbuat apa?"


"Pergi saja sana!" dengus Laura sedikit menahan nyeri di kaki. Seandainya Michael segera keluar, dia pasti sudah melakukan sesuatu pada kakinya sekarang.


Namun, sepertinya desis kesakitan Laura diketahui oleh Michael. Dia bukannya tidak melihat bagaimana tadi Laura terjatuh. "Sini kemarikan kakimu!"

__ADS_1


Dengan kasar Michael mengambil kaki Laura dan meletakkan ke atas pangkuannnya.


"Awh. Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Laura membuang wajah merasakan sakitnya.


"Jangan banyak tanya! Jika lukamu tak kunjung sembuh, nanti aku juga yang kerepotan." Kata-kata yang dikeluarkan Michael cukup menyakitkan.


Akan tetapi, apa yang dia lakukan malah sebaliknya. Michael membuka perban yang masih membalut pergelangan kaki Laura, dan mengusapkan obat yang membantu meredakan rasa sakit itu.


"Kau tahu? Kita sekarang adalah suami istri yang sah?" ucap Michael tetap fokus dan tak menoleh pada wanita di sampingnya.


"Apa maksudmu?" Laura berniat menarik kakinya, tetapi dengan cepat Michael menahannya.


"Kita memang suami istri yang sah. Baik di mata hukum ataupun agama. Kakimu terluka, tapi kau tidak pernah lupa jika kita pernah mengucapkan janji pernikahan 'kan?"


"Lalu? Apa maumu? Menceraikan aku?" sinis Laura.


Michael yang kesal dengan kata-kata tanpa di saring Laura sontak memukul lirih kaki yang terluka itu. Sang empu pun mengaduh kesakitan, tetapi Michael malah tak menghiraukannya. "Rasakan!"


"Dasar Arogan." Kesal Laura.


Secara lembut Michael kembali membalut kaki Laura dengan perban. "Kau adalah istriku. Apa pun masalahmu, akulah satu-satunya tempat yang bisa kau percaya untuk bersandar. Meskipun aku tahu belum ada cinta di antara kita. Tapi, setidaknya terbukalah padaku. Kita hadapi setiap masalah, juga kenyataan bersama-sama."


Setelah menyelesaikan tugasnya, Michael menganggkat pandang. Bukannya menjawab, Laura malah menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Michael heran.


"Apa yang ingin kau buka? Jangan harap bisa menyentuhku lagi!"


"Dasar mesum." Sebuah sentilan seketika mendarat di dahi Laura saat itu juga.


Dia hanya mencebikkan bibir. Bukannya tidak tahu akan apa makna di balik kalimat Michael, tetapi lebih pada kesulitan untuk memercayai orang lain lagi. Baginya, hanya dirinya sendirilah tempat dia bisa bergantung.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2