Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 38: Benarkah Dia Adikku?


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Zack bergerak menuju daerah Chameleon. Sebuah tempat terpencil di perbatasan yang memang berdiri salah satu universitas berasrama di sana.


Niat hati hanya ingin mengantarkan Laura seorang diri. Namun, Catherine kekeh untuk ikut karena terlalu terbiasa bersama Laura. Untung saja Zack sudah menyiapkan rencana cadangan yang tak kalah cemerlang. Hingga Catherine pun tidak bisa menghalanginya.


Mobil melaju menaiki jalan berkelok karena memang daerah tersebut berada di atas pegunungan. Jurang-jurang terjal dan jalan yang hanya berpembatas besi menjadikan tempat tersebut medan terbaik untuk memusnahkan Laura nantinya.


Bahkan beberapa lapak pedagang kecil sudah Zack disiapkan dengan matang, guna melancarkan aksi. “Apa kalian mau jagung bakar? Sepertinya di sini banyak sekali penjual jagung.”


“Iya, Laura, bagaimana kalau kita mampir sebentar? Sebentar lagi 'kan kita akan berpisah.” Dengan ekspresi manjanya Catherine monica membujuk Laura di kursi belakang.


Gadis itu hanya bisa mengganggu pasrah dan mobil pun berhenti di sebuah bagian tepi jalan yang berbatasan dengan jurang. “Cathy, aku ingin cari kamar mandi sebentar. Kau pesanlah jagung bakarnya! Kita makan di jalan saja, kalau makan di tempat terlalu lama nantinya. Kita bisa kemalaman pulang.”


Mendengar alasan Zack, Catherine mencebik kecewa. “Baiklah.”


Dia segera turun meninggalkan Laura seorang diri tanpa rasa curiga, sedangkan Zack juga pergi menuju kamar mandi umum yang berada tak jauh dari tempat itu.


Zack meraih ponsel di sakunya dan mengirim pesan pada beberapa orang yang menjadi bagian dari rencananya untuk menjalankan misi sekarang.

__ADS_1


Sementara itu, Laura yang di tinggalkan seorang diri merasakan perasaan berdebar kali ini. Meskipun dia tahu sesuatu hal yang buruk akan terjadi, tetapi Laura masih belum bisa memprediksi akan apa yang terjadi pada dirinya dan rencana buruk seperti apa yang tengah mereka jalankan. Dia mengusap kalung pemberian Michael yang menggantung di lehernya. Berharap semuanya akan baik-baik saja.


Namun, sayangnya harapan kini tinggallah harapan. Sebuah mobil box dari atas melaju dengan kecepatan tinggi tanpa bisa mengendalikan lajunya seolah mengalami rem blong. Catherine yang saat itu tengah menunggu pesanan pun terkejut akan kendaraan yang melaju dengan cepat.


“Laura, Awas!” Dia berteriak mencoba mengingatkan Laura di dalam mobil.


Namun, sayangnya ketika gadis tersebut hendak membuka pintu untuk melarikan diri, mobil tersebut tertutup rapat. “Sial! Aku terjebak permainan mereka,” gumam Laura di dalam sebelum akhirnya mobil box itu menghantam kendaraannya dan berakhir dengan menerobos pembatas jalan.


Tentu saja kedua kendaraan itu seketika terjun bebas ke jurang yang terjal dan terguling-guling di ke dalaman yang cukup jauh.


"Laura!" Catherine berlari mencoba menghampiri, sayangnya beberapa orang lainnya langsung menahan tubunnya.


Dari arah belakang, Zack segera berlari melihat Catherine yang bersimpuh di pegang orang-orang yang menyaksikan hal itu. “Catherine, apa yang terjadi?”


“Zack, Laura, Zack. Dia—” Belum sempat Catherine melanjutkan kalimatnya Zack sudah terlebih dahulu memeluk wanita tersebut dengan erat.


“Tenanglah, Catherine! Kita bisa mengatakan hal ini pada Ayah. Tim penolong pasti akan segera datang. Dia akan baik-baik saja!” ujar Zack menenangkan. "Di alam baka," batinnya menyeringai.

__ADS_1


Tidak mungkin bagi mereka untuk turun dan melihat situasi di bawah karena posisinya yang cukup dalam juga terdapat pepohonan lebat yang pastinya menutupi pandangan.


Akan tetapi, tak lama kemudian, sebuah ledakan terdengar cukup hebat hingga mengeluarkan asap tebal yang menguar ke udara.


“Laura!” Catherine berteriak histeris sambil mengulurkan tangannya, sedangkan Zack malah menyeringai iblis. Akhirnya tugas dari sang ayah sudah dilaksanakan dengan baik. Bahkan Cathrine tidak akan menduga hal itu, karena kejadian tersebut tampak seperti kecelakaan pada umumnya.


Di sisi lain, Michael tersadar dari tidur panjangnya kini berada di sebelah sang ayah. “Laura!” dia terengah-engah seolah baru mengalami mimpi yang buruk selama beberapa tahun ini.


“Kau sudah sadar, Mich?”


“Papa, bagaimana aku bisa di sini?’’ tanya Michael mencoba bangkit.


"Kami yang membawa Anda ke sini, Master," ucap dua orang yang membantu Argon di kursi roda.


"Siapa kalian?" tanya Michael heran. Karena memang selama ini dia tidak pernah melihat dua orang itu. Lagi pula keduanya bisa tahu tempat ini, pastinya mereka bukan orang biasa. Karena hanya mereka yang dipercaya lah yang paham akan tempat tersebut.


"Mereka anak buah, Papa. Jangan risau!" ucap Argon menenangkan putranya.

__ADS_1


Sejenak Michael menata hati dan pikirannya. Dia lantas menatap sang ayah dengan seksama serta berharap apa yang didengar semalam bukanlah kenyataan. "Pa, apa benar yang mereka katakan jika Laura adalah adik kandungku?"


To Be Continue...


__ADS_2