Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 40: Sembilan Nyawa


__ADS_3

Mobil yang di dalamnya berisikan Laura seorang diri, terjun bebas ke jurang di ikuti oleh sebuah mobil box di belakangnya. Di ambang batas antara hidup dan mati, Laura masih berusaha menguatkan diri dan naluri bertahan hidup membuatnya segera mencari posisi terbaik.


Posisi duduk di belakang sedikit menguntungkan baginya karena masih bisa bertahan dari guncangan dan dapat menghindari serpihan kaca mobil yang pecah. Kendaraan itu terus menerus meluncur ke bawah. Bahkan tak hanya sekali harus menabrak bebatuan terjal.


Beruntung meskipun kendaraan tersebut rusak cukup parah, tetapi tidak sampai ringsek bagian atasnya karena ketika mulai terguling, tak lama berselang berakhir berhenti setelah terhalang dua pohon di bagian bawah jurang itu.


Dengan susah payah Laura mencoba meraih kesadaran. Darah segar mengalir di kepalanya dan tubuh gadis itu pun terasa remuk redam.


Berulang kali Laura mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala. Tak lama setelahnya, samar-samar dia melihat seorang pria berjalan ke arahnya dengan kondisi yang sama-sama terluka. Namun, tampak lebih baik darinya.


Pastinya pria tersebut tak memiliki niat baik hanya dengan sekali lihat. Laura pun memutuskan berpura-pura tak sadarkan diri. Namun, di balik tubuhnya tersimpan sebuah pistol untuk melindungi diri.


Pria itu mencoba membuka pintu bagian belakang dengan memecahkan kaca. Namun, ketika tangannya berusaha mengecek kondisi Laura masih bernapas atau tidak. Gadis tersebut langsung membuka mata dan menembakkan pistolnya beberapa kali hingga pria itu pun tewas seketika.

__ADS_1


"Kalian benar-benar berniat menyingkirkanku," gumam Laura berat merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Aroma bensin lantas semakin menyengat membuat Laura segera melarikan diri, meninggalkan pria yang tewas itu seorang diri. Dengan kaki pincang dan tubuh penuh luka Laura mencoba menjauh dari kendaraan tersebut. Hingga tak lama kemudian, suara ledakan dari belakang seketika mementalkan tubuh Laura beberapa meter ke depan.


Laura terguling-guling di atas tanah. Dia semakin dalam terjatuh karena memang hanya bisa pasrah. Kondisi tanah yang curam tentu saja menyeretnya semakin jauh ke dasar hingga berakhir di dasar jurang. Gadis tersebut menatap langit yang tinggi. Kemepul asap tebal dan kobaran api jauh dari lokasinya saat ini membuat gadis itu sedikit bernapas lega. Berharap tidak ada lagi serangan dari mereka karena memang kondisinya sangat lemah saat ini.


Tak lama berselang, gadis itu pun akhirnya kehilangan kesadaran dan hanya bisa berharap Tuhan masih memberikan kesempatan hidup baginya.


Berbeda halnya dengan Laura yang entah masih hidup atau sudah mati. Zack dan Catherine segera kembali ke kediaman setelah apa yang terjadi. Wanita tersebut langsung berlari memeluk sang ayah sesampainya di kediaman dan menangis sesenggukan.


"A–ayah, Laura—" Catherine tidak sampai hati meneruskan kalimatnya. Akan tetapi, James dengan lembut menenangkan wanita itu.


"Tenanglah. Kau tahu Laura itu gadis yang kuat. Pergilah ke kamar dan bersihkan dirimu terlebih dahulu."

__ADS_1


Catherine mengangguk patuh, dengan dibantu pelayan dia pergi ke kamarnya. Sementara itu, Zack mengikuti ke mana sang ayah pergi.


"Kau yakin dia sudah tewas di sana?" tanya James.


"Mobilnya jatuh ke jurang dan berakhir dengan meledak, Ayah. Mustahil jika gadis itu selamat kecuali memiliki sembilan nyawa seperti kucing," jawab Zack yakin.


"Jangan terlalu yakin akan spekulasi! Terus pantau perkembangannya dan pastikan jika Laura benar-benar sudah menjadi mayat. Tanpa mayatnya, kau harus terus mencarinya. Tapi jangan sampai Catherine tahu! Dia terlalu menyayangi gadis itu."


"Baiklah, Ayah."


"Pergilah! Kau bisa istirahat."


Zack lantas membungkuk hormat sebelum melangkah mundur dan berbalik meninggalkan James seorang diri.

__ADS_1


"Dia terlalu sering beruntung dan bernyawa sembilan. Aku harap keturunan Argon benar-benar tidak ada lagi, sehingga tidak ada orang yang berani menghalangi jalanku. Tinggal satu tikus lagi yang harus aku singkirkan," gumam James menyeringai sambil memainkan sebuah cincin besi di tangannya.


TO be Continue…


__ADS_2