Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 53: Apa Yang Lebih Menyakitkan?


__ADS_3

Semakin hari kondisi Laura pulih dengan baik. Tak hanya fisik, tetapi juga jiwanya. Dia berhasil terbebas dari jerat iblis yang hendak mengambil alih tubuhnya. Sayangnya kini dia menjadi orang yang pendiam karena bingung harus bersikap seperti apa. Rasanya sungguh serba salah. Dia harus terlempar ke sana ke mari semenjak kematian sang ibu. Namun, tak ada satu pun orang yang benar-benar tulus menyayanginya sepenuh hati.


"Laura." Argon yang juga baru saja pulih dari kondisinya mendekat ke sang putri yang telah terpisah sekian lama.


Setelah berhasil menyelamatkan Laura dari daerah Betharia hari itu, Argon terpaksa harus menyembunyikan diri demi menutupi identitasnya dari orang lain karena banyaknya orang asing yang datang silih berganti. Dia hanya bisa mengintip sesekali untuk melihat kondisi sang putri sampailah hari ini.


Laura hanya melirik sekilas. Dia yang duduk di kursi menatap semilir angin di luar. Hawa siang itu cukup menenangkan, sayang dadanya terasa sesak di tempat ini lagi.


"Laura, bolehkah Papa duduk di sini?" tanya Argon mencoba mendekati Laura.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Laura. Gadis tersebut hanya diam dan tak berniat menanggapi apapun lagi kali ini.


Argon berniat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ekspresi yang diberikan Laura menyebabkan dirinya pun tak kuasa mengutarakan perasaannya. "Semoga kau lekas sembuh, Nak." Hanya itu yang bisa Argon katakan sebelum akhirnya memilih kembali pergi meninggalkan Laura seorang diri.


Tanpa mereka sadari, di kejauhan Michael melihat apa yang terjadi. Berulang kali dia mendapati sang ayah mencoba mendekati Laura. Namun, kembali mengurungkan niat sebelum melanjutkan langkah. Baru kali ini Argon berani sampai duduk di samping Laura. Akan tetapi, nyali sang ayah seolah menciut dan lagi-lagi menyerah.


Oleh sebab itu, Michael pun memutuskan untuk mencari tahu apa yang menjadi beban berat Laura selama ini. Dia sudah berjanji tidak akan membiarkan istrinya tersiksa seorang diri. Padahal tim medis dan yang lainnya sudah menyatakan jika dia baik-baik saja.


"Apa yang membuatmu berpikir jika Ayah adalah dalang utama dari kematian ibumu?" tanya Michael tanpa permisi langsung duduk begitu saja di samping Laura.

__ADS_1


Tentu saja hal itu menyebabkan Laura terkejut. Baru beberapa detik yang lalu ayahnya tidak jadi menggangu, kini malah giliran Michael yang datang. Namun, lagi-lagi Laura tidak berniat sama sekali untuk menjawabnya.


Sejenak Michael berpikir, dia mencoba memancing Laura dengan spekulasinya. "Jadi, kau datang padaku dan bersedia menjadi istriku saat itu hanya demi membalas dendam?" Michael mengangguk kecil. "Cara yang cerdik, tapi sepertinya kau salah sasaran. Karena itulah saat ini otakmu kembali berpikir kenapa kami harus menolongmu di saat kau kesulitan. Bahkan kau hampir saja menjadi korban Betharia dan ternyata mereka yang kau percaya juga memanfaatkanmu."


Laura mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia menoleh tajam pada Michael. Pria itu seakan dengan sengaja memprovokasinya saat ini. Hingga deru napas Laura yang tak beraturan terdengar cukup jelas di telinga Michael.


"Ayah bukan pelakunya. Aku bisa memastikan hal itu, tapi aku tahu siapa pelaku sesungguhnya," ucap Michael yakin.


Mendengar pengakuan Michael, Laura sontak menoleh padanya. "Apa maksudmu?" tanyanya dingin.


Michael tak langsung menjawab. Dia malah tersenyum sebab usahanya tidak sia-sia. Akhirnya Laura bersedia untuk menanggapinya. "Aku pikir kau berubah menjadi bisu setelah semua peristiwa itu," sindir Michael.


Laura mendengus, sialnya dia terpancing oleh kata-kata Michael begitu saja tadi. Dia pun kembali membuang wajah demi menjunjung harga diri yang baru saja jatuh tersungkur itu.


Sontak Laura menatap tajam pria di sampingnya. "Jangan menipu lagi! Jelas-jelas aku mengingat dengan pasti siapa orang yang membunuh ibuku. Dia tidak lain adalah tangan kanan ayahmu. Jadi, jangan menghasutku dengan kebohonganmu."


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi memang begitulah faktanya." Michael menunduk sambil tertawa kecil. "Mungkin terlalu berat bagimu ketika mengetahui orang yang kau kira pembunuh ibumu ternyata adalah ayahmu sendiri. Hanya saja jangan membiarkan hatimu tertutup begitu saja dengan kenyataan di depan mata."


Keduanya terdiam untuk beberapa saat. "Kau tahu. Bukan hanya dirimu saja yang terluka, tapi aku juga. Hal yang paling mengejutkan selama hidupku adalah mengetahui fakta jika ayah yang aku banggakan selama bukanlah ayah kandungku. Tapi, dia mengorbankan seluruh hidupnya demi menyelamatkanku. Seandainya saja, aku tidak pernah terlahir di dunia ini. Mungkin dia tidak perlu terpisah dari keluarganya sendiri, dan harus menerima kelanjutan kebecian dari putri yang selalu dia nantikan."

__ADS_1


Setelah mengatakan semua hal itu, Michael beranjak dari posisinya. Dia membiarkan Laura bermain dengan pikirannya sendiri dan mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. "Apa maksudmu?" teriaknya melihat punggung Michael yang semakin jauh.


"Sekali-kali bicaralah pada Papa dan caritahu jawabannya sendiri!" ujar Michael tanpa berbalik dan melanjutkan langkah kakinya.


Laura memang belum mengetahui bagaimana rumitnya benang kusut yang mengikat masa lalu maupun masa depan mereka. Dia puj masih mengira jika Michael adalah kakaknya sendiri. Terlepas dari apa yang di pikirkan Laura, hanya ini cara terbaik yang bisa Michael lakukan untuk mendorong sang istri agar mencari tahu sendiri dan bertanya secara langsung pada Argon.


Rasa penasaran manusia itu mengesankan. Dia tidak mungkin bisa tidur lelap ketika tirai yang menutup kenyataan jelas-jelas di depannya tak kunjung dia buka. Michael percaya, Laura adalah orang yang bijak dan akan bertanya pada Argon terlebih dahulu secepatnya setelah perkataannya tadi.


Benar saja apa yang dipikirkan Michael, Laura yang merasa penasaran tanpa membuang waktu bergerak menuju ruangan tempat di mana Argon berada. Dia mengepalkan tangan hendak mengetuk pintu kayu itu. Namun, samar-samar sebuah isakan menyebabkan Laura mengurungkan niat.


Dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang terjadi di dalam. Rasa bimbang dan takut akan kenyataan membuat nyalinya kembali menciut. Dia menundukkan kepala begitu saja. "Kenapa rasanya sesak sekali," batin Laura.


Laura hendak mengurungkan niat dan memilih berbalik. Namun, sebelum gadis itu melangkahkan kaki, suara pintu terbuka dan seseorang memanggil menyebabkan dia terdiam untuk sesaat.


"Laura, kau kah itu?" tanya Argon sedikit tak menduga.


Sial, takdir sepertinya tidak berpihak pada Laura untuk menjadi pengecut. Dia pun kembali berbalik dan berbicara dengan nada dingin. "Bisa kita bicara sebentar?"


Sebuah senyum mengembang di wajah Argon yang tak lagi muda. Pria paruh baya itu lantas membuka pintu ruangannya lebar-lebar untuk sang putri. "Ayo masuk! Kita bicara di dalam."

__ADS_1


To Be Continue...


Yuk komentar yang panjang. Biasanya dari komentar para pembaca bisa memunculkan ide di otak Rissa yang lagi ngebul kaya knalpot rx king ini.


__ADS_2