Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 55: Berusaha Mendekat


__ADS_3

Merupakan hal yang sulit bagi Laura untuk membuka hati. Namun, Michael juga tidak mudah untuk menyerah. Apa yang terjadi di antara Argon dan Laura secara tidak langsung juga menjadi tanggung jawabnya. Dia pun berjanji akan menyatukan keduanya dengan cara apa pun dan membantu mereka membalas dendam dengan caranya sendiri nanti.


Jika para musuh tahu Argon dan Laura masih hidup, mereka pasti akan diburu dengan cara apapun. Sayangnya ini bukan saat yang tepat bagi Laura maupun Aragon untuk keluar dari persembunyiannya.


Mereka harus bersatu terlebih dahulu, barulah bisa menghadapi musuh yang sama dengan baik tanpa kesalahpahaman. Untuk saat ini, biarlah keduanya menatap hati guna memaafkan diri sendiri dan mencoba percaya pada orang lain, yaitu Michael.


Selain itu, fakta jika Laura dan Michael kini telah sah menjadi sepasang suami, istri membuat pria itu memaksakan kehendak untuk tidur di kamar yang sama. Meskipun Laura menolaknya, tetapi bukan Michael namanya kalau tidak bisa menaklukkan hati wanita. Dengan segala daya dan upaya yang egois, keinginannya pun terwujud. Namun, hal itu bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan agar Laura lebih bisa membuka diri.


Dia bahkan melarang pelayan untuk melayani atau sekedar membantu Laura untuk melakukan sesuatu. Demi mendapatkan hatinya, dia sendiri yang mengerjakan semua hal yang istrinya perlukan, meskipun hanya sekedar berkemih ke kamar mandi dan berharap dengan cara ini Laura benar-benar mau membuka diri. Mengingat kondisinya yang semakin hari semakin pulih. Bisa jadi, wanita itu melarikan diri jika tak lagi memercayai orang lain.


"Apa sekarang kau alih profesi menjadi pengangguran?" tanya Laura membiarkan Michael mengeringkan rambutnya.


Keduanya berada di depan kaca, terlihat begitu romantis hingga cicak di dinding pun muak melihatnya. Sangat tak pantas dengan karakter Michael yang keras dan Laura pun ketus.


"Kenapa memangnya?" Bukannya menjawab, Michael malah berbalik bertanya. Dia bukannya tidak bekerja, hanya saja saat ini ada hal yang lebih penting untuk dilakukan. Lagi pula harta tidak akan habis jika dikejar setiap hari. Hanya menjadi setumpuk kekayaan yang membuatnys bingung bagaimana harus menghabiskan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya karena ku lihat berhari-hari ini kau selalu ada di rumah. Apa usahamu bangkrut?" sinis Laura sambil tertawa kecil.


Dia bukan menyindir Michael, melainkan dirinya sendiri. Bodohnya meskipun semua aset tersembunyi adalah atas namanya, tetapi semua itu di kelola oleh Catherine dan James Whale, sedangkan mereka adalah orang-orang yang kini telah membuangnya. Pengangguran, seharusnya kata itu Laura sematkan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Sementara itu, Mich tertawa mendengar pertanyaan dari Laura karena memang lucu baginya. "Memangnya kenapa kalau perusahaanku bangkrut? Apa kau tidak mau jadi istriku lagi?" tanya Mich.


"Tentu saja tidak! Aku tidak mau hidup susah! Bukankah janjimu setelah menjadi istrimu aku selalu bisa hidup mewah dan mendapatkan apa yang aku mau? Jangan harap mau membawaku menjadi gelandangan! Aku tidak sudi!" jawab Laura sarkas.


Suara tawa bariton menggelegar memenuhi ruangan. Ini baru Laura yang dia kenal, bukannya marah, dalam hatinya malah merasa senang kali ini. Laura sudah mulai banyak berbicara. Meskipun setiap kalimat yang ke luar dari mulutnya lebih pedas dari balsem geliga.


"Aku bisa menyuruh bawahanku untuk bekerja, kenapa aku harus mengerjakannya sendiri?" tanya Mich masih terus menggerakkan tangannya mengeringkan rambut Laura.


"Dasar Bossy! Biasanya kau juga melakukan semuanya sendiri dan berakhir dengan terluka."


Hidup bersama Michael beberapa saat dalam satu ruang yang sama membuat Laura menyadari banyaknya luka yang membekas di punggung Michael. Dia pun teringat akan ucapan Aragon saat itu. Jika ada orang yang melindungi saja Michael masih mendapatkan luka sebanyak itu. Apa jadinya jika pria itu benar-benar sebatang kara? Sedangkan dia? Masih cukup beruntung ada sang ibu yang selalu merawatnya dengan baik.


"Aku tidak akan mengganggumu. Dengan keadaan yang seperti itu, aku tidak tega juga untuk meminta hak keduaku. Jadi, simpan tenagamu untuk esok," ucap Michael lagi sambil menaikkan selimut hingga bagian atas tubuh Laura.


"Siapa juga yang memikirkan hal itu. Dasar mesum!" Laura segera memejamkan mata. Namun, sebuah benda kenyal terasa mendarat dengan hangat di dahinya untuk pertama kali. Ciuman mesra seorang suami sambil mengusap pipi sang istri terasa cukup mengejutkan sekaligus mendebarkan secara bersamaan bagi Laura.


"Aku keluar sebentar," pamit Michael.


Laura tidak menjawab. Hawa panas seolah berkumpul dalam dirinya saat ini akibat perlakuan Michael barusan. Setelah mendengar derit pintu yang tertutup barulah Laura membuka mata lebar-lebar dan mengambil napas sebanyak mungkin. "Apa yang baru saja dia lakukan? Apa dia mencoba merayuku?" gumam Laura yang kini di posisi duduk dan menggosok-gosok dahinya.

__ADS_1


Akan tetapi, tak lama berselang pintu kembali dibuka. Laura segera kembali ke posisinya dengan kalang kabut, sedangkan Michael yang mengambil sesuatu hanya tersenyum kecil. Dia melangkah mendekati sang istri, mengambil ponsel yang tertinggal di atas meja kecil di samping ranjang.


"Tidurlah, Sayang. Bermimpilah yang indah," ucap Michael kembali mendaratkan kecupan di pipi istrinya, lalu mengusap sejenak sebelum akhirnya kembali melangkah pergi. Meskipun dia tahu jika Laura hanya berpura-pura tidur.


Begitulah perlakuan Michael sekarang. Dia bukan sedang bersandiwara, tetapi benar-benar menunjukkan ketulusan dan perhatiannya pada Laura. Hanya dengan cara ini keduany bisa kembali rapat. Mengingat masa lalu ayahnya, dia tidak ingin mengulang kebodohan itu.


Sementara itu, Michael yang meninggalkan kamar lantas keluar untuk menemui seseorang. Bawahan bertato penuh yang kini telah menunggu di bawah sebuah pohon rindang taman. "Bagaimana?" tanya Michael tanpa basa basi.


"Ini, Master." Sebuah amplop coklat diberikannya pada sang tuan.


Michael tersenyum membaca apa yang ada di dalamnya. Dia cukup puas dengan kinerja anak buahnya yang satu itu, selalu saja bisa diandalkan. "Kau boleh pergi!"


Pria itu secepat kilat menghilang layaknya dibawa embusan angin malam, sedangkan Michael kembali ke dalam. Namun, berhenti di ruang kerjanya untuk sejenak. Dia mengambil beberapa amplop coklat lainnya yang tersimpan di sana dan menyatukan isi di dalamnya.


Sebuah senyum indah mengembang di wajah Michael. Benih-benih cinta membuatnya rela melakukan segala demi sang istri. Meskipun hujan dan badai harus diterjang seorang diri.


Setelah itu, Michael kembali ke kamar dan meletakkan amplop tersebut di atas meja kecil di samping Laura. Dia menoleh pada sang istri yang kini benar-benar terlelap. "Semoga kita bisa selalu bersama, Sayang," batin Michael sebelum akhirnya berganti pakaian dan ikut tidur di bawah selimut yang sama dengan sang istri sambil memeluknya dari belakang.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2