Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 70


__ADS_3

Menunggu selama satu minggu, untuk memberikan para mulut comberan itu pelajaran menyebabkan Laura kembali jenuh. Hari-hari yang dilalui selalu begitu saja tanpa adanya kegiatan, sedangkan suaminya sedang sibuk mengatur pengiriman senjata ke daerah lainnya bersama beberapa anak buah lain, dan Laura hanya diizinkan duduk di markas tanpa bertindak apapun.


"Ish, menyebalkan! Ini markas mafia atau tempat camping anak pramuka sih? Membosankan!" gerutu Laura. Dia pun segera keluar dari kamarnya. "Aku bahkan tidak memiliki pekerjaan selain makan dan tidur."


Kedua tangan wanita tersebut membentuk setengah melingkar di pinggang kanan dan kiri, dengan pandangan mengedar ke segela arah. "Aha." Sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di kepalanya tatkala melihat segerombol pria yang selalu mengganggunya tengah asyik berbincang. Apa salahnya berkumpul dengan mereka, lagi pula mereka suka mencari masalah. Tentu tidak masalah jika Laura menikmati hari dengan mengganggu apa yang mereka lakukan.


Tanpa ragu-ragu Laura melangkah ke arah sekelompok pria itu dan duduk begitu saja di sela-sela mereka. "Apa yang kalian kerjakan?"


Sontak semua pria di sana tersentak. Mereka terkejut akan kehadiran wanita yang selama ini mereka ganggu. Kedua tangan Laura bahkan tanpa ragu merangkul begitu saja leher dua pria di samping kanan dan kirinya.


"Singkirkan tanganmu dari mereka!" ucap seorang pria bertubuh kekar di hadapan Laura. Pria itu tampak seperti bos gank, tetapi lirikan tajamnya pun tak menyiutkan nyali Laura dan malah mencebikkan bibir berbalik menantang.


"Kenapa? Kau juga mau dirangkul seperti ini, hah? Cemburu?" Bukannya melepaskan, Laura malah semakin erat melingkarkan tangan. Namun, berakibat pada kedua pria yang di sampingnya terbatuk karena merasa tercekik.


"Dasar wanita murahan," sindir pria itu, lantas membongkar pistol miliknya menjadi beberapa bagian.


Merasa tidak bisa mentolerir apa yang dikatakan pria tersebut, Laura seketika duduk bersila dan mendesak yang lainnya. "Apa yang keluar dari mulut busukmu itu sangat menyebalkan! Bagaimana kalau kau melawanku?" tantang Laura pada akhirnya.

__ADS_1


Gelak tawa menggelegar memenuhi ruangan, seorang wanita menantang pemimpin tim mereka dalam permainan bongkar pasang pistol. Tentu saja cukup menggelitik bagi mereka yang menggeluti dunia hitam bertahun-tahun. Hal mudah bagi mereka untuk merakit kembali susunan yang telah terpisah menjadi beberapa bagian itu. Akan tetapi, wanita di depan mereka saat ini sangat mustahil mengetahui caranya.


"Jangan main-main di sini, Nona! Sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu dan bersolek saja. Bukankah tugasmu hanya melayani Master di atas ranjang? Tak perlulah mencoba bermain-main dengan kami." Mereka mengeluarkan kata-kata pedas dengan sangat menyakitkan. Laura yang cukup mudah tersinggung lantas kedua tangannya dengan sangat cepat merangkai satu per satu bagian pistol yang ada di depannya.


Hanya dalam hitungan detik, senjata itu berhasil di rakit, bahkan tanpa Laura memandangnya. Hal tersebut sontak membuat semua mata terkesima pada kecepatan Laura dalam merakit pistol semi otomatis itu.


Merupakan hal yang sangat umum di lapangan, bagi orang-orang yang belum dilatih secara benar, tidak sengaja mengarahkan senjata mereka ke samping saat mereka mengokang penutup geser atau ketika membuka atau mengunci pin keamanan. Kebanyakan pemula berusaha menarik penutup geser ke belakang hanya dengan jempol atau telunjuk mereka, terutama jika senjatanya memiliki sebuah pegas yang kuat atau jika tangannya sedikit berkeringat.


Namun, Laura dengan mudah dan lincahnya melakukan semua itu dengan cepat dan tak mirip dengan seorang pemula. Setelah menarik penutup geser ke belakang, menandakan jika pistol itu sudah siap. Laura dengan sigap mengarahkan tepat ke dahi pria yang mengejeknya, hingga menyebabkan suasana seketika menegangkan.


"Ap—apa yang ingin kau lakukan, Nona? Master akan murka jika Anda menembak kami tanpa alasan yang jelas. Apalagi hanya bermain-main."


Bisa dilihat oleh mata Laura bagaimana leher pria itu mulai bergerak, dengan susah payah menelan sendiri salivanya seolah tengah memakan pahitnya hidup. Lalu, dengan santainya jemari telunjuk wanita itu menekan pelatuknya, membuat sang pria di hadapannya sontak memejamkan mata karena merasa dahinya akan segera berlubang.


Namun, bukan suara pelatuk yang terdengar menggelegar, melainkan gelak tawa meremehkan yang Laura berikan sebagai balasan. "Apa kau takut mati?"


Dengan santainya Laura berdiri lalu melemparkan pistol di tangannya ke pria yang masih tercengang itu. Dia pun berbalik dan melangkah meninggalkan segerombol orang yang awalnya meremehkan tersebut dengan perasaan puas tentunya. Sebuah peluru yang memang tidak dia masukkan, dileparkan begitu saja layaknya sebuah kerikil kecil. "Terima kasih sudah menghiburku hari ini. Kita akan bermain lagi besok."

__ADS_1


"Kurang ajar!" Sang pria yang menerima peluru di tangannya lantas menggenggam dengan geram. Berani-beraninya seorang wanita mempermainkan dirinya di depan anak buah yang lain dengan sangat memalukan.


Tak terima akan perlakuan Laura, pria itu pun melompat hendak menyerang sang wanita dari belakang. Namun, belum sempat tangannya yang terulur meraih bahu Laura, dengan mudahnya sang gadis menghindar.


"Dasar pengecut! Beraninya menyerang dari belakang."


Tanpa ragu Laura menghindari setiap serangan yang diberikan pria itu dengan mudah. Akan tetapi, kedua tangannya hanya ada di belakang, seolah tak berniat melawan sama sekali.


"Kau meremehkanku!" Apa yang dilakukan Laura sontak menyebabkan sang pria semakin geram. Bukan hanya merasa di permainkan, tetapi harga dirinya pun seakan diinjak-injak sejak tadi oleh gadis itu. Mau tak mau, pria itu mengepalkan dengan kuat tangan dan bersiap hendak memukul Laura.


Sayangnya, lagi-lagi Laura menghindari serangan itu. Dia bahkan masih sempat menyeringai, hingga menyebabkan lawannya membelalak akibat perlakuan Laura.


"Bodoh," bisik Laura ketika keduanya saling bersinggungan dan kini berubah posisi. Di mana Laura dengan mudah memegang kepala pria itu dan memutarnya begitu saja tanpa aba-aba.


"Akh." Teriakan kesakitan dari sang pria sontak menyebabkan dia tumbang sambil memegang lehernya yang terasa patah. Beberapa pria lainnya sontak mendekat, menyaksikan adegan mengerikan itu.


Bukannya merasa bersalah, Laura masih saja mengejek pria itu. "Kau tidak akan mati hanya karena memiliki tubuh tanpa kepala. Renungi kesalahanmu hari ini. Jika sudah bertobat, barulah mencariku. Hanya permintaan maaf dariku yang bisa mengembalikan lehermu kembali seperti semula."

__ADS_1


Setelah mengatakan semua itu, Laura pun bergegas pergi meninggalkan area tadi. Entah mengapa baru bermain sebentar rasanya sudah mengantuk sekali. Sepertinya bermain dengan pria-pria bermulut comberan itu benar-benar menghiburnya kali ini. Setidaknya, waktu yang Laura habiskan hari ini tidak terasa panjang, jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.


To Be Continue...


__ADS_2