Istri Tawanan Tuan Arogan

Istri Tawanan Tuan Arogan
Chapter 73


__ADS_3

Jika sebelumnya Michael selalu pulang malam. Berbeda dengan hari itu. Di mana Michael kembali lebih awal dari biasanya. Dia memilih mengajak Jacob untuk membahas sisa pembahasan di markas daripada harus di luar, karena takut istrinya akan kesulitan menghadapi para anak buah yang memang sulit di atur. Padahal kondisi persenjataan mereka sedang mengalami banyak masalah kali ini.


Jika tidak ada Laura di markas, Michael pasti tidak akan kembali dan bekerja layaknya robot yang tak kenal lelah. Akan tetapi, berbeda dengan sekarang karena dia memiliki seorang pujaan hati yang jika tak melihatnya sehari pun sudah terasa begitu merindukannya.


Sayangnya, setibanya di markas. Apa yang dia khawatirkan tampaknya tak terjadi kali ini. Bukannya tertekan oleh penindasan anak buahnya, sang istri malah terlihat asyik bermain uno dengan Leo beserta gerombolannya dengan wajah penuh bubuk putih. Sepertinya mereka telah akrab setelah sebelumnya berseteru. Memang istri yang sangat bisa diandalkan, bahkan anak buahnya juga sampai tak memedulikan kehadiran Michael.


Perlahan Michael mendekat untuk menyapa, karena tampak kedatangannya pun tak disambut oleh istrinya saat itu dan malah asik membuang sebuah kartu. Dia melangkah pasti, sambil mengintip kartu milik sang istri dengan wajah tepat di samping Laura.


"Apa permainan ini begitu menyenangkan?" bisik Michael.


"Ish, pergilah jangan menggangguku! Nanti aku kalah." Laura berbicara tanpa menoleh, sedangkan anak buah lainnya pun terkejut serta mengangguk tanda hormat pada tuannya, dan Michael hanya mencebik di saat sang istri malah mengabaikannya.


"Berhenti mainnya! Dan ikut aku sekarang!" Tanpa aba-aba Michael langsung membawa tubuh Laura ke dalam gendongannya dan melangkah menjauh dari kerumunan. Bisa-bisa jika tidak dihentikan Laura akan mengabaikannya seharian ini. Pantas saja wanita itu tak pernah mengucapkan kata rindu setelah berhari-hari di tinggalkan di markas. Rupanya dia mencari kesenangan dengan caranya sendiri.


"Mich, kau sudah pulang? Lepaskan aku, Mich. Sebentar lagi aku akan menang." Laura terus saja meronta-ronta, tetapi sang suami seakan tak menghiraukan rengekannya dan terus membawa tubuh sang istri menjauh.


Pulang dari bekerja bukannya disambut dengan istri cantik, malah di suguhkan dengan pemandangan sang istri yang bermain kartu dengan pria lainnya. Bahkan bau asam di tubuh Laura dan debu menempel dengan begitu lekat, hingga Michael pun tak sabar segera membawanya ke dalam bath up.


"Jangan harap! Biasanya istriku selalu cantik ketika aku pulang bekerja. Kenapa hari ini dekil sekali?" Bukan hanya wajah Laura yang penuh dengan tepung, tetapi di pakaiannya pun banyak noda lumpur yang mengering. Bisa di pastikan jika Laura hanya bermain-main seharian ini dengan begitu puasnya sampai tak menjaga penampilan seperti biasanya.

__ADS_1


"Mich, turunkan aku! Aku ingin muntah." Kali ini Laura tidak beralasan. Perut wanita itu seolah di aduk-aduk hingga organ di dalamnya terasa tercampur rata. Jika bisa dilihat mungkin sudah kalis dan siap panggang kapan saja.


Michael berhenti dan menautkan kedua alisnya, sedangkan Laura segera berlari mengeluarkan isi perutnya ke kamar mandi.


"Sayang, apa kau sakit? Atau mereka melakukan sesuatu lagi padamu? Biar aku hajar mereka sekarang juga!" Michael yang melihat sang istri terus mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa air layaknya kran bocor pun murka. Kemarin mungkin dia diam jika Laura memberikan mereka pelajaran, tetapi berbeda lagi ceritanya jika sang istri sampai terluka. Dia hendak melangkah untuk memberikan pelajaran pada Leo, tetapi dengan cepat Laura menahannya.


"Mich, mereka tidak melakukan apapun padaku hari ini, sungguh." Suara lemah dan wajah pucat Laura yang berubah hanya dalam hitungan detik menyebabkan Michael segera membawa sang istri ke ranjang.


Perasaan tidak enak sekaligus mual dan rasa pahit di mulut membuat Laura sontak menjadi manja pada sang suami. "Mich."


"Apa? Bagian mana yang sakit? Biar aku hubungi dokter dulu." Michael hendak mengeluarkan ponselnya, tetapi di tahan oleh Laura.


"Apa kau tidak makan lagi?" tanya Michael lembut.


Hanya gelengan kepala yang bisa Laura berikan sebagai jawaban karena memang begitulah kenyataannya. Jangankan untuk makan, rasanya bahkan tak ada selera sedikit pun melihat anak buah Michael sebelumnya makan siang dengan begitu lahapnya.


"Aku hanya makan roti yang kau buat tadi pagi," jawab Laura jujur.


Michael pun tersenyum lembut sambil mengusap hidung Laura. "Baiklah aku akan membuatkan makanan. Apa yang kau inginkan, Sayang?"

__ADS_1


"Emth." Untuk sejenak Laura berpikir. Tadinya dia tidak selera untuk makan apapun, tetapi sepertinya sesuatu yang dibuat suaminya nanti cukup menggugah selera. "Aku ingin mi instan."


"Mi instan?" Michael mengernyitkan dahi. "Apa tidak ada makanan lainnya yang lebih sehat yang kau inginkan, Sayang."


Dengan cepat Laura pun menggeleng. "Kalau kau tidak mau membuatkan aku mi instan ya sudah. Tidak usah makan saja."


Melihat istrinya yang merajuk layaknya anak kecil, sontak helaan napas kasar terdengar jelas dari seorang Michael. Memang yang namanya wanita selalu benar, dan apa yang diinginkan tidak dapat di ganggu gugat. Mungkin ini juga merupakan anugrah bagi Michael karena dia bisa memasak, sedangkan istrinya tidak hingga dia tak perlu repot-repot mengungkapkan kasih sayang dengan cara yang lainnya.


"Baiklah. Aku buatkan sekarang. Kau pergilah mandi kalau sudah agak mendingan!" Michael mengusap wajah sang istri yang masih penuh dengan tepung. "Lihatlah wajahmu! Apa uang yang aku berikan tidak cukup untuk membeli bedak sampai-sampai kau memakai tepung sebagai gantinya? Bagaimana kalau nanti kulitmu iritasi?"


"Cih, aku pikir kau akan menyuruhku mencelupkan diri ke dalam telur sekalian, supaya siap di goreng kapan saja. Sudahlah Mich, cepat buatkan aku mi instan yang pedas, perutku sudah sangat lapar. Aku akan cuci muka saja dulu. Mandinya nanti." Laura mencoba mengusir Michael dari hadapannya, tetapi pria itu malah semakin menggodanya.


"Apa kau menunggu untuk aku mandikan juga, Sayang?"


"Cepat pergi!" usir Laura tersipu.


Mau tak mau Michael keluar dari kamar dengan wajah berseri. Perasaan khawatir seharian terbayarkan sudah dengan melihat senyum di wajah sang istri saat ini, sedangkan Laura di kamar langsung mencium kedua sisi ketiaknya dan hampir saja muntah.


"Busuk sekali bau badanku. Bagaimana Michael bisa tahan untuk tidak mengumpat dengan aromaku yang menyengat? Memalukan, bagaimana bisa dia pulang di saat kondisiku begitu menyedihkan. Ini semua gara-gara Leo, bermain dengannya membuatku lupa waktu sampai-sampai image ku hancur di depan suamiku sendiri." Laura menggerutu, tetapi secepat kilat wanita itu berusaha mandi. Rasanya memalukan sekali suami pulang dengan kondisinya yang masih seperti ini. Sebagai seorang wanita, tentu saja Laura juga ingin tampil terbaik di hadapan suaminya.

__ADS_1


To Be Continue....


__ADS_2