
Seorang gadis kecil dengan pakaian kumal membuka pintu sambil mengucapkan salam .
"Assalamualaikum"
ucap nya lelah ,kemudian terdiam saat mendapati seseorang yang belum di kenal nya .
"waalaikumsalam"
jawab Raisa dan Alvin bebarengan .
Alvin meneliti Adel dari atas sampai bawah .
wajah nya terlihat imut ,namun rasa lelah sangat terlihat sekali di wajahnya .
pakian yang terlihat kumal nya, menjadikan kesan bahwa kehidupan gadis itu sangatlah susah .
Alvin diam terpaku ,lidah nya kelu,tenggorokan nya tercekat
memandangi gadis kecil yang kini ada di hadapan nya .
"Bagaimana bisa aku seorang jutawan memiliki adik seperti ini,
kemana saja aku selama ini.
Membiarkan dua gadis yatim pihatu kesusahan ,bahkan aku tidak tahu barangkali mereka pernah kelaparan .
Lantas untuk apa harta melimpah yang telah Allah berikan kepadaku .
Aku sungguh telah berdosa tuhan "Batin Alvin meringis .
"Bunda ,apa yang telah kau lakukan kepadaku ,mengapa kau tidak pernah mengatakan perihal adik-adik mu .
kau sungguh tega bunda ,kau sengajakah membuat hati ini hancur?" Alvin meratap.
Adel berjalan pelan menghampiri sang kakak .
Ia mengulurkan tangannya ,kemudian mencium tangan sang kakak .
"Adel ini suaminya kak Hanna,sana cium tangan!".perintah Raisa sambil mengusap kepala adiknya .
Adel terlihat sedikit bingung ,namun kakinya tetap ia langkahkan pada seorang yang di tunjukan sang kakak .
Alvin tersenyum tulus saat Adel mencium tangan nya .
"siapa namanya ?" tanya Alvin setelah melepaskan tangannya .
"Adelia safitri"jawab nya malu-malu .
"Cantik ya , kaya kak Hanna"
Alvin berucap sambil tersenyum .
"terimakasih kakak ipar , kakak ipar juga tampan" suara Adel terdengar polos .
"Adel kamu makan dulu ya ?"
ucap Raisa sambil berdiri mengajak Adel ke kamarnya ,namun Adel cukup mengerti dengan perkataan sang kakak .
"Adel cape kak , Adel ga mau jualan lagi"
rengek nya manja .
samar-samar percakapan dua anak itu masih terdengar di telinga Alvin .
"Ayolah Adel ,kita itu harus makan."
suara Raisa terdengar merayu .
deg..
nyatanya percakapan mereka mampu membuat hati Alvin koyak ,
"Bunda bukan kah sudah ku beri uang,adik-adik mu mengapa kau biarkan?"
__ADS_1
batin Alvin meratap
"Belanja apa saja kamu bulan ini,sepertinya kamu banyak sekali memakai uangku"
"ku rasa kamu tidak memiliki barang brand,"
"jangan menghidupi selingkuhanmu dengan uang ku Hanna ,itu sangat menjijikan "
Alvin meringis menahan sakit di hatinya .
"maafkan aku bunda,aku sunggu tak tahu" Alvin membatin .
***
Adel berjalan malas menenteng wadah di kepalanya .Rupanya seragam sekolah yang tadi dikenakan nya sudah di ganti.
Lelah nya masih terlihat jelas di wajahnya ,matanya terlihat sedih ,namun bibirnya cemberut tak suka .
"Adel mau kemana kamu?"
tanya Alvin saat melihat Adel melewatinya .
Sementara Raisa memandang sedih di balik pintu kamarnya .
"Jualan kak" ucap nya lesu ,kemudian menghentikan langkahnya .
"tapi kamu baru pulang sekolah sayang ,apakah tidak cape?"
Mata Adel berkaca-kaca ,seolah sedang mempertimbangkan apa yang akan di katakan nya .
Raisa dari kejauhan memandang sedih ,ia tentu menyayangi adiknya pula .
Ia ingin adik satu-satu nya bahagia
tapi, apa boleh buat ?
semua ini benar-benar seperti bagian dalam kehidupan nya.
"Aku harus makan kak!" ucap polos Adel mampu mengobrak abrik siapa saja yang mendengar nya .
deg...
"Kakak aku mainan ini pokoknya"
"Riana cari yang lebih murah ,itu terlalu mahal hanya untuk sekedar mainan "
"Tidak apa-apa ibu, harga nya hanya 100 juta ,aku mampu membelinya"
"Itu berlebihan Alvin ,di luar sana bahkan banyak orang kelaparan karena tidak mampu membeli makanan."
"sudah lah ibu,Riana juga berhak untuk bahagia"
Air mata Alvin merambat di pipinya ,
"Duduklah sayang , hari ini kau tidak usah jualan. kakak akan memberikan gantinya untuk makan kalian"
Adel tersenyum bahagian ,namun air matanya lolos begitu saja .
"Jangan menangis sayang , maafkan kakak
harusnya ini tanggung jawab kakak."
ucap Alvin tulus sambil menarik tangan mungil milik Adel.
"Raisa , sini!"panggil Alvin . Sejak tadi Raisa sudah lebih dahulu memperkenalkan namanya .
Raisa berjalan pelan ,setelah menghapus sisa air mata di pipinya . Ia tertunduk kemudian duduk di kursi tua yang tadi sempat di tinggalkan nya .
"kak Hanna ,apa tidak memberikan kalian uang?"
tanya Alvin serius memandang Raisa .
Raisa menunduk .
__ADS_1
"setiap bulan kakak mengirim uang satu juta pada kami!" ucap Raisa
"Tapi kami tidak pernah memakai nya"
lanjutnya dengan kepala masih menunduk .
"mengapa?"
tanya Alvin penasaran .
"Tetangga banyak yang mengtakan uang yang kakak miliki adalah hasil penjualan diri"
jelas Raisa takut.
Ada rasa nyeri yang berdenyut di hati Alvin , saat mendengar apa yang telah di ucap kan adiknya .
"Dan kalian percaya?"
"maafkan kami kak "kini pundak Raisa berguncang .Raisa telah menangis .
"Ayah dulu pernah bilang ,jika seseorang memasukan barang haram ke dalam perutnya,
orang itu tidak akan Allah terima amal ibadahnya.
Aku takut kak ,maafkan aku" tambah Raisa .
Alvin melemah .perkataan gadis berusia empat belas tahun ini sukses menggoncangkan hatinya .
"apa kakak mu tidak pernah menceritakan pernikahan nya kepadamu?"
Alvin menguatkan hatinya .
"pernah kak ,tapi kami tidak percaya."
Alvin menautkan alisnya .
"kakak tidak sama sekali menunjukan foto pernikahan nya padahal aku ingin melihatnya.
Maafkan aku ,sejak saat itu aku tidak lah terlalu percaya pada kata-kata kakak"
Raisa menangis sesenggukan , bagaimanapun dia telah salah karena telah berperasangka buruk pada sang kakak.
Alvin menarik nafasnya ,sementara Adel mengusap-ngusap pundak Raisa mencoba seolah menenangkan hatinya.
"lalu mengapa kau percaya kata-kata tetangga.menganggap bahwa kakak mu telah menjual diri?"perkataan itu masih Alvin tanyakan padahal ia sendiri sudah sangat lah sering mengatakan Hanna ******* .
Tangis Raisa menjadi-jadi .
Ia seolah tidak mampu untuk mengatakan apa yang telah terjadi .
Namun keingin tahuan Alvin membuat nya terpaksa membuka suara.
Jika harus jujur Raisa tidak mau mengungkit kejadian itu .kejadian dimana sang kakak telah rela meninggal kan nya ,sekaligus kejadian sang adik di panggil oleh sang pencipta.
Membayang kan gadis berusia empat belas tahun harus mengurusi jenazah adiknya , sementara sang kakak tidak pulang karena ponsel nya tidak bisa di hubungi sama sekali .
Jika saja bisa ,ia sungguh ingin mati saat itu menyusul kedua orang tua dan adiknya .
"semunya saat kami membutuhkan uang 50 juta kak"
Raisa terdiam mencoba menghapus air mata di pipinya.
deg..
jantung Alvin melemah ,tubuh nya melemas
Ia jatuh ambruk dengan apa yang barusan di dengarnya.
***
kuotaku baru di isi .. he he maafin ya .
author udah semangat nih nulis ,jangan lupa kasih semangat juga ya ..
__ADS_1
like sama vote nya jangan lupa .
keritik dan sarannya juga ya ..