
"Ponsel kak Hanna udah aktif tuh,"Ucapan Riana sejenak menghentikan aktivitas Alvin.Pria itu terdiam memandang wajah Riana sejenak kemudian memasukan nasi nya yang sempat tertunda setelah tidak menemukan tanda kebohongan dari mimik wajah adik nya itu.
"Dari kapan,?"kilah Alvin sedikit cuek ,namun hati nya menggebu-gebu ingin segera menyambar handphone dan menelpon wanita dambaan nya itu,menghujani berbagai pertanyaan setelah sekian lama ia tak menghubunginya sama sekali.
"Malam,"Singkat Riana ,tanpa mengalihkan pandangan nya.Wanita itu masih asik menyomot lauk dari piring lain ke piring nya.
"kenapa dia tidak menghubungiku ,padahal sudah sepuluh hari lebih aku menunggu nya , chat ku apa belum cukup memberi kode bahwa aku sangat merindukan nya" Batin Alvin menerka-nerka .Ia bahkan lupa bahwa atas inisiatif nya ia telah mematikan handphone nya agar Hanna merasakan apa yang dirinya rasakan .
Dengan cepat-cepat Alvin menyudahi makan nya ,tentu saja berhasil memarik perhatian Riana yang saat ini menatap curiga ke arah nya."Mau kemana kakak,?"
Alvin tidak menjawab ,ia malah asik mencuci tangan nya di wadah yang sudah Riana siapkan kemudian bangkit dari duduk nya .
"Mau sampai kapan kakak akan mematikan handphone nya,kuat nahan rindu tuh sama Kak Hanna..?"celoteh Riana,pandangan nya masih menatap Alvin ke arah mana pria itu akan pergi.
Alvin yang sedari tadi hendak berdiri seketika terdiam ,kata-kata Riana barusan telah mengembalikan sebagian ingatan atas kata-kata yang telah di ucapkan nya kemarin pada Riana
"Siapa juga yang mematikan handpone,!"
Alvin berdalih membuat wanita yang dihadapan nya itu memutar bola mata nya jengah."Bilang aja kalau kakak ga kuat,"
Seloroh nya dengan nada tak terima,pasal nya kemarin dengan terang-terangan Alvin mengatakan bahwa akan mematikan ponsel nya.
Membuat Hanna merindukan nya lah ,Riana jadi ingin muntah mengingat kata-kata Alvin waktu itu ketika melihat yang di lakukan Alvin sekarang tampak berbalik dengan fakta.
Di kursi roda yang sudah tidak terpakai lagi Alvin sedang duduk setelah tadi buru-buru mengambil ponsel nya.
Ia tampak nyengir tanpa dosa saat Riana menatap kearah Alvin juga ponsel nya dengan tatapan malas.
"Kata nya ingin membuat kak Hanna rindu,?"
kekeh Riana sambil membereskan sampah-sampah makanan tersebut .
Riana bersuara dengan nada mengejek,kendati demikian Alvin sama sekali tidak mempedulikan nya.
Pria itu malah asik menghentak-hentakan jari di layar ponsel kemudian menempelkan ponsel tersebut ketelinga nya.
***
Drt..drt..
Ponsel Hanna bergetar.
wanita itu dengan cepat menyambar ponsel tersebut yang tergeletak di meja makan.
Saat ini Hanna baru saja memulai sarapan pagi dengan Fatimah ,juga ke dua adik nya yang malam tadi nginap di rumah nya.
Biasa nya tidak ,entah alasan apa yang membuat wanita itu membawa ponsel nya kemana pun.
Ia mengangkat telpon nya kemudian menempelkan nya di telinga.
Ia tampak berdiri menghentikan aktivitas makan nya .
__ADS_1
Adel menatap Raisa tidak mengerti,karena biasa nya wanita yang di sebut nya kakak itu selalu di siplin jika berkaitan dengan makan.
"Bunda mau kemana?,"pertanyaan Fatimah membuat Hanna menatap wajah anak gadis nya sejenak.
Menatap mereka bertiga Hanna mengulas senyum dengan wajah merah merona.
"Lanjutin dulu ya sayang,bunda mau ngangkat telpon dulu.!
Raisa,tolong antar Fatimah ke sekolah nya ya ,kakak ada urusan sebentar."
Hanna berpesan begitu panjang sambil berlalu meninggalkan meja makan setelah di rasa tangan nya cukup bersih.
Sementara Raisa ,wanita itu berdehem
ia hampir ter batuk saat mendengar alasan kakak nya ada urusan .
Raisa menunduk pura-pura sibuk dengan makan nya tidak mau dihujani banyak pertanyaan oleh Fatimah juga Adel karena tingkah aneh kakak nya itu.
Langkah kaki nya ia seret ke kamar Fatimah.
Ia membanting tubuh nya ke kasur dengan ponsel yang masih ia tekan di telinga nya.
Ia terdiam ,menantikan kata apa yang akan pria dambaan nya itu ucapkan.
Hening...
Belum ada percakapan di antara mereka.
Hanna bergerak kesana kemari dengan perasaan gelisah ,memikirkan apa yang akan ia katakan membuat tenggorokan nya beberapa kali berdehem.
"Halo mas,Assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
jawaban pria yang berada di sebrang telpon sana membuat jantung Hanna semakin bergetar.Ia tampak memegang dadanya mengatur napas sambil menjauhkan ponsel dari jangkauan nya "Ok Hanna santai,santai.."pelan nya mencoba menenang kan hati.
"mas apa kabar,?"Kali ini suara Hanna terdengar lebih santai.
"kamu sendiri bagaimana,selama sepuluh hari kamu kemana saja,aku merindukan pitriku."Pertanyaan Alvin seketika membuat Hanna menciut.
Kata-kata yang sedari malam ia rangkai mendadak hilang dalam otak nya.
"kamu tidak merindukan ku,mas?"
Alvin terdiam ,tidak biasa nya Hanna bersifat seberani ini..
"ekhemm.."
Alvin berdehem,membuat suasana kembali canggung.Pasal nya Hanna menyesal karena berbicara seperti itu.
"kamu apa merindukan ku,sayang?"
__ADS_1
Alvin malah menggoda ,jika saja Hanna ada di depan nya maka rona wajah Hanna sudah lah pasti terlihat jelas.
"Ti,tidak.."saking geroginya Hanna menyela godaan Alvin dengan gugup.
"Oh ,ya sudah."kilahnya kemudian terdiam.
"Aku merindukan mu ,mas"akhirnya Hanna menyerah saat Alvin tidak lagi bersuara.
"kamu merindukan ku,tapi selama sepuluh hari kamu mematikan ponsel nya.."celutuk Alvin terdengar kesal"kemana saja kamu,sayang?"tambah nya kemudian.
Hening..tidak ada jawaban dari Hanna.
"Sayang aku nanya,kamu kemana aja?"Alvin tampak mengulangi pertanyaan nya.
"Ok..ok ,gini aja
Nanti setelah mas pulang ,kita udah nikah aku ceritain apa alasan nya."Hanna mencoba merendam rasa penasaran yang kini sedang menyelimuti hati Alvin,juga membuat nya risih karena jika Alvin tahu ia akan banyak di hujani banyak pertanyaan.
***
Riana menunduk,pura-pura sibuk dengan benda pipih yang sedang ia pegang,kendati demikian pendengaran nya ia pasang dengan jelas tidak mau melewatkan kata per kata yang keluar dari mulut Alvin.
Ia begitu penasaran seperti apa reaksi Alvin saat mengetahui Dave melamar Hanna.
"Ga mau ,aku mau sekarang!"ucap nya.
Riana mendongak memperhatikan Alvin yang saat ini sedang menggelengkan kepala sambil memanyunkan bibirnya layak nya bocah seusia putrinya.
Sekian lama tidak ada percakapan diantara mereka,sepertinya Hanna kebingungan dengan jawaban nya.
"Kak udah jam delapan loh,"
Riana mencoba mengalihkan arah percakapan kakak nya itu.
Alvin hanya melirik jam sebentar kemudian kembali pokus pada ponsel nya.
"Hari ini hari pertama pengobatan bekas luka loh kak,kakak lupa..?"
Tak peduli,gadis itu bersuara dengan nada yang sedikit di tinggikan.
Alvin menjauhkan ponsel dari jangkauan nya,sementara tangan satu nya lagi jari telunjuk nya ia letakan di atas bibir mungilnya mengisyaratkan pada sang adik untuk diam .
Iriana ,gadis itu terkekeh seolah tanpa dosa .
Ia gemas sendiri melihat tingkah kakak nya seperti seumuran remaja.
***
Malem up udah 1100 kata ,tiba-tiba hp nya bleng raib sudah..
harus mikir sama ngetik lagi..
__ADS_1