ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
BERKUMPUL.


__ADS_3

Fatimah berjalan pelan menyusuri rumput yang baru saja di guyur air hujan.


kepala nya menunduk ,mata besar nya terlihat sangat hati-hati memilih tanah yang akan di pijak kaki nya..Rok panjang yang di kenakan nya sesekali ia angkat ke atas seolah ia lindungi dari cipratan air yang kadang mengenai rok nya .


Alvin tersenyum ketika di suguh kan pemandangan yang seketika bisa menghilang kan perasaan kacau di hati nya .


Air mata yang sedari tadi sudah menggenang kini tak terasa sudah jatuh di pelupuk mata nya .


air mata itu jatuh mewakili rasa bahagia nya yang tak bisa di ungkap kan .


Tentu saja bahagia memiliki putri seperti Fatimah .


Namun ada rasa sakit yang menyelinap di hatinya ,ketika memandangi ke dua bola mata putri nya,gadis sekecil itu pasti banyak menyimpan luka di dalam hati nya mengingat semenjak dalam kandungan sang ibu ,sampai umur tujuh tahun tidak pernah merasakan kasih sayang ayah nya .


"Ayah.." Ucap nya ,kali ini langkah mungil itu berhenti sejenak ,terlihat ada binar bahagia di kedua bola mata indah nya..


Alvin tersnyum sebelum kemudian Fatimah berjalan kearah nya .


Fatimah meraih tangan Alvin ,kemudian mencium punggung tangan Alvin lembut.


"Ayah kak Mala sepertinya tadi sudah di jemput sama mami" Ucap Fatimah menjelaskan ,ia memang menyangka Alvin akan menjemput Mala yang sudah ia terima sebagai kakak nya.


"Tidak.." Alvin menggelengkan kepala nya pelan .


"Ayah tidak bermaksud menjemput kakak mu"tambah nya kemudian ,kali ini tangan besar Alvin mencolek hidung Fatimah gemas.


Bagai mana bisa gadis sekecil itu bisa mengatakan hal yang bisa menyakiti dirinya sendiri.


Alvin menggendong tubuh Fatimah ke arah di mana ia meletakan mobil nya,sementara Fatimah, gadis itu terdiam menahan tangis di hati nya,tangis bahagia tentu nya karena Ini memang pertama kali ayahnya menggendong dirinya .


"Aku bisa jalan sendiri ayah"ucap Fatimah lembut.


"Benar kah,tapi tadi ayah melihat mu sangat kesusahan memilih jalan" Bantah Alvin sambil menurun kan Fatimah kemudian membuka kan pintu mobil nya lebar-lebar agar Fatimah tidak kesusahan menaiki nya.


"Terimakasih ayah."Senyum manis itu terbit memamer kan lesung pipi yang mirip dengan ibu nya .


Alvin masuk dari arah yang berlawanan kemudian memakai kan sabuk pengaman untuk Fatimah sebelum ia memegang kemudi dan melajukan mobil nya .


"Ayah.. bagai mana kalau bunda menjemput ku?" pertanyaan Fatimah sejenak membuat Alvin terdiam ..


"Baiklah,ayah akan menelpon bunda mu" Ucap nya kemudian sambil mengeluar kan benda pipih di dalam saku kemeja nya .


Tangan Alvin sebelah sibuk mengutak ngatik ponsel nya ,sementara yang satu nya lagi memegang kemudi,sesekali

__ADS_1


ke dua mata nya melihat ke depan.


Entah sudah berapa kali telpon tersambung ke no Hanna ,tapi sepertinya masih belum juga ada tanda-tanda Hanna akan mengangkat nya .


"Sepertinya bunda mu sedang sibuk" ucap Alvin sambil tersenyum pada Fatimah tak enak .Seharus nya ia tidak menelpon Hanna ,kalau pun nelpon seperti biasa nya Hanna tidak akan mengangkat nya .


"Baiklah ayah akan mengirim kan pesan" tambah nya kemudian menutupi kekecewaan nya.


Alvin menepikan mobil nya ,tampak mengubrak ngabrik telpon nya kemudian ia melajukan mobil itu kenbali.


Fatimah tersenyun sedih ..


meskipun usia nya baru mau menginjak tujuh tahun namun jiwa nya tidak terlalu polos untuk melihat kekecewaan dan mencerna kata kata ayah nya.


***


Fatimah hanya terdiam memperhatikan tubuh ayah nya yang setiap bertemu tubuh itu semakin terlihat kurus .


"Ayah ,apa ayah sakit?" tanya Fatimah sambil memandang wajah Alvin kemudian wajah nya ia kembali paling kan ke depan memperhatikan jalanan yang ramai dengan kendaraan .


Alvin melirik Fatimah sekilas kemudian tersenyum..Ia menggelengkan kepala nya


"ayah baik-baik saja ,sayang" ucap nya .


"Ya ayah yakin "jawab nya sambil mengangguk ..


namun hatinya tidak mengiyakan ,


mengingat tubuh nya banyak yang sering kali terasa sakit .


"lalu apa ayah sering telat makan?" Gadis itu mempertanyakan nya lagi seperti belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan .


"mungkin karena itu ,sekarang-sekarang ayah memang sering telat makan" Alvin tersenyum sedih menahan sesak di dada nya .


"kalau begitu jangan telat makan lagi ,jika ayah tidak mau aku mengkhwatirkan mu" ucap nya kemudian diam.


***


"ayah mari masuk" Ajak Fatimah sambil melembaikan tangan nya ,tadi nya Alvin berdiri di batas teras untuk memastikan putrinya sampai ke dalam .


"Tidak usah sayang ,ayah di sini aja" jawab Alvin sambil tersenyum,memberi isyarat kepada Fatimah bahwa ia tidak akan masuk .


"masuk lah ayah ,tidak apa-apa." Gadis itu masih juga belum masuk ,memperhatikan ayah nya yang berdiri .

__ADS_1


Alvin berfikir sejenak ,kemudian memutus kan untuk menuruti kemauan putrinya .


"Baiklah ,ayah masuk" ucap nya kemudian sambil tersenyum ..


Senyum Fatimah merekah ,tampak nya ia bahagia dengan keputusan ayah nya .


Alvin mengedar kan pandangan keseluruh penjuru,rupanya rumah itu tidak ada yang berubah dari semenjak ia membelinya..


mata nya masih melirik kesana kemari ,


Hanna ,ia mengharap kan kehadiran sosok itu . Namun ia tidak berharap lebih,Ia tahu beberapa jam yang lalu Hanna masih sibuk di butik nya .


belum lagi Dave, seorang yang mengatakan Hanna calon istrinya,tadi datang .Hanna pasti tidak pulang secepat yang ia pikirkan.


Sementara di belakang ,Hanna tampak memperhatikan tubuh yang setiap ia lihat semakin kurus , Meski kini bukan siapa siapa nya lagi ,tapi ada rasa sedih yang masuk ke dalam relung jiwa nya ..


Batin Alvin pasti menopang begitu banyak penderitaan .


Alvin kaget ,saat meliahat siapa yang kini ada di depan nya .


"aku hanya ,emhh aku hanya".Alvin berusaha menjelas kan ,namun kegugupan sangat terlihat sekali pada dirinya .


mendengar kegugupan Alvin ,Hanna menjadi merasa bersalah ..Ia sadar tadi ia berbicara kasar pada Alvin ,meskipun kesal harus nya ia bisa menahan emosi nya juga.


"Duduklah ,akan aku buat kan minum untuk mu" ucap Hanna ..mencoba menenagkan kegugupan Alvin.


Seperti anak kecil Alvin menuruti perintah Hanna ,ia menjatuh kan bobot tubuh nya dengan sangat hati-hati,mata nya masih mengekori kemana Hanna pergi..


Hanna datang membawa teh kesukaan Alvin ,mencium wangi th itu kadang teringat masa masa Alvin dahulu ,tentu nya menjadikan luka-luka itu hadir kembali.


"maaf soal tadi ,mas.Aku sungguh tidak punya niat untuk menyakiti mu" Rasa menyesal terdengar dari suara Hanna,membuat Alvin yang sedari menunduk menjadi mendongak.


Fatimah datang di sela sela percakapan mereka.. kemudian duduk di samping ibu nya ,setelah ia mencium tangan Hanna.


"Aku mohon ingin bebicara dengan mu.,apa boleh?" ragu-ragu Alvin bertanya .


Hanna tampak melirik gadis kecil nya ,


"Fatimah .. bunda mau bicara dengan ayah mu ...kau kekamar dulu ya sayang" Hanna berucap sambil mengusap ngusap kepala Fatiamah lembut .


Fatimah hendak berdiri ,namu tiba-tiba Alvin menghentikan nya .


"Tidak usah sayang ,ayah rasa kau perlu mendengar nya juga" ucap Alvin seketika membuat Fatimah melirik ibunya ,

__ADS_1


Gadis kecil itu duduk kembali setelah Hanna mengangguk tanda memperbolehkan .


__ADS_2