
Hanna baru saja datang ,ia merebahkan badan nya di kasur.
tersenyum sendiri sambil membalik-balikan telapak tangan,memandangi cincin yang kini melingkar di jari manis nya dengan rasa bahagia.
"Aku harap semuanya berjalan lancar sampai hari itu tiba"Hanna berucap,matanya berkaca-kaca .Hatinya begitu bersyukur pada Tuhan yang maha kuasa mengingat hal yang terjadi tadi adalah sesuatu yang di inginkan nya selama ini.
Ia tidak bisa membayang kan betapa bahagia nya Fatimah karena
Memilik keluarga lengkap adalah impian putrinya dari sejak dia lahir.
Hari ini ia sangat kelelahan.
Matanya tertuju pada jam dinding yang menggantung di kamarnya,masih ada waktu beberapa menit untuk tertidur sebelum masuk waktu asar.
Matanya terpejam , namun suara bunyi bel membuat matanya kembali terbuka.
Dengan langkah lelah Hanna berjalan menuju ruang tamu,memeriksa siapa yang telah datang ,karena jika Raisa ,gadis iti tidak biasa menekan tombol bel terlebih dahulu.
Pikiran nya menerka-nerka ,siapa gerangan yang telah datang ke rumah nya mengingat rumah yang di tinggalinya kini tidak banyak orang yang tahu.
Ia membuka pintu dan betapa terkejut nya saat melihat sosok Adrian kini berada di ambang pintu sedang tersenyum kepada nya.
"Adrian dari mana tahu rumah ku?"Hanna membatin.
"Assalamualaikum"Sapanya sambil tersenyum ramah ,menungkup kan ke dua tangan nya di balas dengan gerakan yang sama juga oleh Hanna.
Ramah ,ya..
itu hal yang biasa bagi seorang dokter.
Namum di balik keramahan nya siapa sangka, ia telah banyak menyakiti hati wanita.
Penyebab nya satu,yaitu cinta nya yang tak terbalas kan.
"Silahkan masuk dokter,silahkan..!"Hanna membuka dua daun pintu itu selebar-lebarnya.
Ia tidak mau pertemuan dengan tamu nya ini akan mengakibat kan fitnah,apalagi setatus nya saat ini sudah bertunangan.
Ia tentu harus membatas dirinya dari pria lain.
"Dokter mau minum apa?"tanya Hanna ramah.
"Apa aja.."terlihat Adrian tersenyum pada Hanna sebelum Hanna sendiri undur diri
mengambil air minum untuk tamu nya.
Tidak berapa lama Hanna datang dengan segelas jus jeruk di tangan nya.
"Silah kan dokter,di minum..!"Ucap Hanna sambil meletakan gelas tersebut.
"Jadi ada keperluan apa dokter kesini..?"
Tanya Hanna tanpa basa-basi.
Jika harus jujur ia tidak suka dengan kedatangan Adrian hari ini..
Bukan benci ,tapi lebih ke tidak suka.
__ADS_1
Setelah mendengar cerita dari adik nya tentang sosok Adrian,jujur hal itu sudah melupakan kebaikan Adrian begitu saja.
Adrian menyerah kan sebuket bunga ke hadapan nya.
Hanna memang tahu Adrian tadi datang dengan bunga di dalam genggaman nya.
"Untuk siapa dokter,?"tanya Hanna sambil menerima bunga tersebut kemudian meletakan di samping tempat duduk nya.
Tepat nya di atas sofa.
"Untuk mu..!"jawab nya tanpa ragu.
"Terimakasih dokter."Hanna menautkan alisnya kemudian tersenyum ,namun hatinya menggrutu.
Ia tidak suka ,tidak suka Adrian memberikan bunga kepadanya.
"Apa kau suka?"
Tanya Adrian setelah lama Hanna terdiam.
kata-kata itu benar-benar telah membuat wanita itu kesal ,namun ia memilih tersenyum dan sabar mengahadapi tamu nya ini.
"Jadi ada keperluan apa doktet datang kemari?"Hanna kembali bertanya,tanpa menimpali kata-kata Adrian barusan.
"Haruskah aku memberitahu?"
Adrian membatin,ia meraih gelas yang tadi Hanna letakan kemudian meminum nya.
"Hanna, aku mencintaimu,"Akhir nya kata itulah yang lolos di mulut Adrian.
"Aku mencintaimu semejak pertama kali aku bertemu dengan mu."tambah nya lagi sambil menunduk.Ia takut kalau-kalau Hanna akan marah dengan pernyataan nya.
Hanna terdiam.
Kini ia mengerti dengan alasan kebaikan
Adrian kepadanya.
Andai saja ia tahu dari dulu,sudah pasti ia memilih mati ketimbang sembuh.
Matanya berkaca-kaca .
mengapa ia baru menyadari saat semua nya telah jelas di depan mata.
Mengapa dari dulu ia tidak curiga.
"Apa yang membuat mu jatuh cinta kepadaku,dari dulu bukan kah kau sudah tahu
bahwa aku telah memiliki seorang suami?"
Tanya Hanna .Air mata kini telah merambat di pipinya,tapi buru-buru ia menghapus nya.
Jika harus junjur ia merasa kecewa,kecewa karena di bohongi dengan sikap Adrian selama ini.
"Aku tahu kamu tidak bahagia dengan rumah tangga mu,itu sebab nya aku berniat akan memperjuangkan nya."Jawab nya sambil memandang Hanna penuh harap.
"Kau mencintaiku ,tapi kau memacari adik ku.Ini apa maksudnya ?"Hanna sudah tidak sabar ingin menanyakan tentang hal ini kepada seorang yang kini duduk di hadapan nya.Meski Raisa kelihatan baik-baik saja namun ia sebagai kakak mengerti akan perasaan nya.
__ADS_1
"aku .."Suara Adrian tertahan..
Jika ia mengucapkan alasan yang sebenar nya juga tidak mungkin .
Hanna pasti akan sangat membencinya.
"kenapa dokter?"tanya Hanna lagi karena Adrian belum juga menjawab pertanyaan nya.
"Karena Raisa terlihat sangat mirip dengan mu,aku memacarinya karena berharap sosok Raisa bisa menghilangkan mu di pikiran ku"
" Kau tahu dia adikku?"Hanna bertanya seolah mengintrogasi.
Sementara Adrian yang sejak tadi menunduk kini mengangkat kepala nya.
Ia nyaris tak percaya dengan nada suara Hanna saat ini.
"Tidak ,sebelum nya aku tidak mengetahui nya."Jawab Adrian sambil menggelngkan kepala.
Hanna menarik napas demi menghilangkan rasa kesal nya.
"Jadi ada keperluan apa dokter kemari?"
tanya Hanna lagi memastikan kemudian terdiam.
Ia tak menyangka dirinya bisa berkata seperti ini pada seorang tamu.
"Aku ingin melamar mu,setelah itu aku akan memberi tahu keluarga ku."Jawab nya penuh harap.
"Usia ku sudah menginjak tiga puluh satu tahun ,tapi aku belum pernah menemukan sosok yang ungin aku nikahi selain dirimu."
Tambah nya lagi menerangkan.
Mata Hanna berkaca-kaca ..
Ia tidak menyangka kata-kata Adrian bisa menyentuh jiwa terdalam nya.
Hatinya bertanya-tanya ,pikiran nya menerka-nerka.
"Sedalam apa cinta Adrian kepadanya?"
"Aku tidak mau ,dokter ..
mohon maaf."Hanna mengambil bunga yang tadi di terima nya kemudian kembali menyodorkan nya pada Adrian.
"Kau mungkin tak tahu aku telah menyakiti banyak hati wanita ,dan semua nya karenamu.Jika kau ingin aku berhenti melakukan nya,maka terimalah aku aku mohon..!!"
Deg..
"Ini bukan cinta ,melainkan nafsu.
Jika saja Adrian mencintaiku,dia pasti mengharap kan ku bahagia bukan mengancam seperti ini.."
Batin Hanna .
"Jadi bagai mana,apa kau mau menerimaku?"
tanya nya lagi,karena Hanna belum juga menjawab pernintaan nya..
__ADS_1