
Aku menatap kepergian dua wanita yang ku cintai itu tak rela.
Ibu dan anak itu kini telah lenyap di telan pintu gerbang rumahku.
Aku tersenyum pedih mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara aku dan Hanna.
Aku tak berniat menyakitinya,semua ini aku lakukan sebenarnya demi kebaikan nya pula.
Namun,aku tak tahu aku akan melukai hatinya hingga sebesar ini.
Meskipun bukan lagi seorang istri,tapi hampir setiap hari dia menjenguk ku.
Dari cara ia memandang dan bertingkah sudah jelas sekali ia mencintaiku,namun aku pura-pura tidak peduli
Aku pura-pura tidak peka,
kenapa..?
karena aku ingin Hanna menikah dengan seorang yang sempurna.Bukan lelaki seperti ku, tak berdaya seperti ini.
Aku melakukan nya juga agar dia berhenti menaruh harapan kepada ku.
Meski dulu aku mengharapkan dia mencintaiku ,namun sekarang justru sebaliknya.
Aku ingin dia membuang perasaan itu untuk ku jauh-jauh.Aku tidak ingin dia jatuh cinta kepadaku.
Bukan aku tidak mencintainya lagi,bukan aku tidak ingin memilikinya lagi..Namun
kondisiku ,kondisiku yang cacat membuat ku sadar diri bahwa kini aku tidak pantas jika harus bersanding dengan Hanna.
Belum lagi wajah ku ,ada goresan bekas luka memanjang di bagian pipi kiriku.
Aku sungguh tidak percaya diri.
Ku hembus kan nafas kasar,mencoba membuang rasa gusar di hatiku.
Namun tiba-tiba suara Iriana sedikit mengejutkan ku.Aku lupa bahwa Iriana yang mendorong kursi roda tadi menghantarkan kepergian Hanna.
"Apa yang terjadi pada kalian?
Sekilas aku tadi melihat kak Hanna menangis,apa kakak telah menyakitinya?."
Pertanyaan itu terdengar nyaring di
gendang telingaku.
Riana menarik kursi roda yang aku duduki kemudian memutar haluan ,ia hendak membawa ku masuk kedalam rumah.
"Ya,aku telah menyakitinya."
Jawab ku kemudian terdiam ,kursi roda itu masih juga bergerak .Sepertinya Riana hendak membawaku menuju kamar yang dulu di tempati Hanna..
Ya..kamar itu sekarang memang telah menjadi kamar ku.
Gadis itu membantuku untuk berdiri ,
Dengan sangat hati-hati dia menuntun tubuh ku menuju tempat tidur.
Beruntung berat badan ku kurus,
al hasil dia tidak terlalu kesusahan untuk menopang tubuku.
Kali ini aku sudah duduk di kasur,kepala ku menyandar sementara kaki ku sudah dia telunjarkan.
"kak Hanna sudah banyak menderita karena kita,bagaimana bisa kakak menyakitinya lagi?" Dia berucap,mata nya berkaca-kaca .
Aku tahu dia telah mengingat kesalahan nya dulu pada Hanna.
__ADS_1
"Tapi ini demi kebaikan nya Riana,meski menyakitinya ku rasa aku harus melakukan nya."jawab ku sambil tersenyum.
Tentu saja untuk menutupi luka di hatiku.
Demi apapun ,kata-kata barusan sangat pahit untuk aku ucapkan .
"Bagaimana bisa kakak mengatakan bahwa semua nya demi kebaikan kak Hanna,jika kak Hanna sendiri merasa tersiksa."
celoteh nya lagi.Mata nya masih bekum lepas memandang mata ku penuh harapan.Rupanya adik ku ini belum juga mengerti akan permasalahannya.
"Hanna telah mencintaiku ,Riana."
Bola mata adik ku membulat,tatapan mata itu berubah menjadi tajam seolah mencari kebenaran tentang apa yang baru saja aku katakan .Bisa ku simpulkan ia tidak percaya dengan kata-kata ku barusan.
"Benarkah ,bukan kah itu kabar baik kak?"
tanya nya antusias.
Tidak seperti dulu saat aku bercerita kepadanya.
Aku mengatakan aku tidak mencintai Hanna,saat itu pula wajah nya terlihat lesu.
Aku tahu Riana sangat menyayangiku , ia tak peduli walau yang dilakukan nya salah hanya untuk membuat ku bahagia.
Ya ,contohnya saat dulu dia membantuku merencanakan pernikahan dengan Bella.
"Kau bisa saja mengatakan kabar itu bagus Riana,namun lihat lah kondisiku..
Aku tidak mungkin melamarnya dalam keadaan seperti ini"Terangku rapuh .
Ya hatiku benar-benar merasa rapuh.
Selain menyakiti Hanna,hati juga merasa tersiksa.
"Jika kak Hanna mencintai kakak apa adanya,untuk apa pula kakak mempermasalahkan semuanya."
"Aku malu Riana,aku ingin Hanna mendapat pendamping yang lebih baik,bukan pria sepertiku.Lumpuh seperti ini..!"
kata-kata ku barusan benar telah menggores.Mengucapkan nya hatiku benar-benar terasa ngilu.
"Satu tahun juga ini bakal sembuh kak,jangan khawatirkan masalah ini."
rupanya Riana masih juga belum menyerah.Ia memandang ku dengan penuh harap.
"Adrian ,apa dia sudah menikah?"
Tanyaku ,aku malah mengalihkan pembicaraan ,sama sekali tidak mempedulikan ucapan Riana barusan.
Mata Riana kembali membulat ..
"Untuk apa kakak menanyakan tentang nya.?"celotehnya terdengar kesal..
"Apa kau masih ada hubungan dengan nya..?"
pertanyaan ku terdengar menyelidik .
"Tidak kak.. untuk apa pula aku masih berhubungan dengan nya."
Ia menunduk ,matanya berkaca-kaca .
nama yang ku sebutkan barusan seolah mengandung luka yang dalam
"Sekarang apa kau punya kekasih?"
Tanya ku lagi penasaran .
"Kakak untuk apa kau bertanya ini kepadaku?"Ia merajuk ,sepertinya ia enggan membahas masalah ini dengan ku ,Gadis itu ku rasa mengalami trauma tentang cinta.
__ADS_1
"Usia mu sudah hampir tiga puluh tahun Riana.Carilah pasangan ,kau harus segera menikah"
Ucap ku mengakhiri,aku tidak peduli dengan perasaan nya.Aku hanya ingin dia menikah ,
itu saja.
Dia memandang ku lekat,debit air di matanya seolah tidak bisa di tahan .
Air mata itu jatuh perlahan di pipinya..
Wanita yang ada di hadapan ku juga adalah salah satu orang yang aku sayangi.
Melihat nya menangis hatiku benar-benar merasa teriris.
"Riana tidak mau menikah kak.."
Ia menggeleng kemudian menunduk ..
Aku syok dengan pernyataan nya ,bagaimana bisa ia mengatalan hal semacam itu.
"Apa maksudmu Riana,kakak tidak mengerti?"
Aku tidak habis pikir dengan pemikiran Riana yang seperti ini.
Dia menggigit bibir bawah nya sebelum pada akhir nya bibir itu berucap.
"Jika kakak tidak menikah dengan kak Hanna,apa kakak akan menikah dengan wanita lain?" tanya nya pelan-pelan .
"Kau harus nya tahu Riana ,kakak tidak mungkin mau menikahi wanita lain selain dia"Ucap ku ..Memang kenyataan nya seperti itu ,aku tidak mau menikah lagi kecuali dengan Hanna.
"Seperti itu juga yang aku rasakan kak,
aku hanya ingin menikah dengan nya." Ia berdiri kemudian pergi.
Aku terpaku mendengar ucapan Riana barusan .. Cinta nya pada Adrian sepertinya benar-benar dalam ..
Di situlah air mataku merambat ,aku tahu betul dengan apa yang sedang Riana rasakan .
***
Sementara Hanna ,wanita itu menangis
mengingat ngingat perkataan Alvin tadi.
Air mata nya merambat namun kemudian ia hapus kasar,tidak mau anak semata wayang nya mengetahui keadaan nya yang seperti ini.
"Bunda kenapa..?"
Akhirnya gadis kecil itu bersuara.
"Apa ayah membuat dada bunda sakit lagi?"
pertanyaan yang satunya belum juga Hanna jawab ,namun ia sudah melemparkan pertanyaan lagi.
"Tidak sayang ..Bunda tidak apa-apa"
"jangan menangis lagi bunda ,aku menyayangimu" Celotehnya tegas kemudian terdiam.
Hanna hanya menarik nafas tidak mempedulikan apa yang barusan Fatimah ucapkan.
Ia fokus memperhatikan kemudi juga jalanan yang di penuhi kendaraan.
****
like sama vote nya ya kalo berkenan ...
kalu tidak suka ceritanya tidak usah komen yang negatif cari aja cerita yang kalian suka.
__ADS_1
mohon untuk tidak membuat mood ku hancur ya .. !! he he.