ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
HARI BAHAGIA (ekstra part.)


__ADS_3

Hai kak,mampir yuk di karya baru ku.


#Destiny,semoga bisa mampir dan mengapresiasi di sana setelah menamatkan cerita ini.


bab ini mengandung konten dewasa.


Dengan wajah tak sabar Alvin membuka lipatan kertas kecil yang baru saja Fatimah berikan untuk nya.


Sederet kata-kata yang sedang Alvin baca membuat mata nya berbinar,sebelum nya ia tak sempat curiga sama sekali bahwa yang membalas surat itu adik nya sendiri.


Di depan Fatimah,tanpa malu ia berdiri di hadapan cermin.Menatap pria yang kini sedang merapikan rambut nya dengan sela-sela jarinya kemudian kembali mengenakan songkok hitam yang tadi sempat di lepas nya.


kepala nya menyamping ,melihat ke dua sisi wajah nya secara bergantian.


Satu Minggu ini ia telah melakukan perawatan,bagaimana mungkin ada yang kurang.


Alvin tersenyum percaya diri,berlatih sebagaimana dirinya berada di hadapan Hanna.Namun,tak sengaja mata nya menangkap sosok Fatimah,alih-alih ia sadar karena telah melupakan keberadaan Putri cantik nya itu.


"Fatimah ,Ayah mau keluar .Kamu tunggu di sini sebentar tidak apa-apa kan?"Ucap Alvin begitu hati-hati.


Fatimah mengangguk menandakan ia setuju,"Tidak masalah ayah,"Ucap nya seraya tersenyum dengan gelengan kepala pelan.


Setelah mendapat persetujuan dari Fatimah


Alvin keluar setelah tadi mengecup kening putrinya terlebih dahulu .Mata Alvin melihat kesana kemari ,memastikan sang adik untuk tidak melihat nya.Tidak ada bedanya,bahkan yang Alvin lakukan sekarang sama hal nya dengan seorang pencuri.


Entah sudah berapa kali Alvin menarik napas kemudian membuang nya,sepertinya ia sedang berusaha menata hati juga jantung yang memporak-porandakan di dalam nya.


Sementara di belakang rumah suasana tampak sepi.Seorang Riana berdiri,menatap aliran air jernih di malam hari bersama ikan mas yang masih asik bermain di dalam nya.


Wanita itu seolah tak sabar menantikan sang kakak bersama ekspresi nya.


Ekhemm..Begitu sampai Alvin berdehem,memperhatikan seorang yang terhalang dengan tanaman sedang membelakangi nya .Gelap nya malam membuat Alvin tidak begitu jelas mengetahui pasti siapa di balik tanaman hias itu.


Sebelum nya Riana telah mematikan lampu belakang terlebih dahulu. Ya,mereka bertemu di taman belakang.


Jantung nya berdegup kencang .Kembali ia menghembus kan napas nya pelan.Dadanya ia pegang menahan sesak yang tiba-tiba menjadi beban.


"Hanna,"panggil nya dari jarak dua meter.


Tidak ada balasan dari sosok yang di maksud,membuat Alvin kembali memajukan langkah nya .Napas berat membuatnya terasa sulit sekali untuk melangkah.


"Untuk apa aku menemuinya ,? sekarang apa yang akan aku katakan kepadanya.?"Alvin merutuki dirinya sendiri di dalam hati,Ia ngotot ingin bertemu dengan Hanna tapi belum menyiapkan apa bahan obrolan nya.


"Aku merindukan mu,"Ragu-ragu ia bersuara,kemudian terdiam menunggu apa yang akan Wanita yang ada di depan nya ucapkan.


Mata nya seperti seorang yang sudah tak sabar untuk menanti kan wajah itu menghadap ke arah nya.Bodohnya pria itu tidak memperhatikan perawakan wanita yang kini ada di depan nya.


"Sabar aja ya,besok kan udah halal .Sudah bebas mau ngapa-ngapain juga."Riana menjawab sambil terkekeh pelan .Kaki nya ia putar agar bisa melihat bagaimana ekspresi sang kakak saat mengetahui siapa yang menjawab nya


"kamu..!"pekik Alvin dengan ke dua bola mata yang nyaris keluar.


Riana tersenyum menyeringai,puas dengan ekspresi Alvin sekarang.


Alvin mendesis lirih,mata nya ia pejamkan sesaat ,sambil menggaruk-garuk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Kamu lancang Riana,"Sungut nya dengan nada kesal.


Jantung yang tadi sempat menggila,sekarang benar-benar tidak lagi merasakan apa-apa.


"Habis kakak ngeyel,"Timpal Riana dengan cengiran nakal.


"Aku yang ingin berbicara dengan kakak."Ungkap Riana sambil berjalan pelan kemudian mendudukan tubuh nya di atas lantai yang di ikuti Alvin juga di belakang nya.Nada suara nya kini terdengar santai.


"Apa yang ingin kau katakan,?"Tanya Alvin begitu penasaran ,Ia duduk memposisi kan diri dengan Riana sekira nya satu meter saja di bagian samping kanan.


"Setelah kakak menikah aku akan pergi,!"Pelan Riana sambil memeluk tubuh di bagian dada nya.Ia berbicara saat Alvin baru saja mendudukan tubuh nya.


"Pergi,?"Dahi Alvin terlipat,memandakan bahwa ia tidak cukup untuk mengerti apa yang di ucapkan adiknya.


"Ya ..untuk sementara aku ingin fokus pada bisnis ku yang di Singapura,Kakak tidak tahu kan,?


Aku telah membuka toko bunga di sana .."Jelas nya dengan senyum yang di paksakan.


"Ini hari pernikahan kakak Riana,tidak kah ada kabar yang bisa membahagiakan hati kakak,?"Celoteh Alvin menatap Riana sekilas kemudian kembali menatap lurus ke depan."


"Aku punya sesuatu untuk kakak,tunggulah sebentar"


Wanita itu berdiri,kemudian melangkah meninggalkan Alvin sendirian.


Tidak berapa lama ,Riana mencul membawa sebuah map juga kado yang di bungkus dengan kertas berwarna silver.


"Ini kabar bahagia untuk kakak,"Ujar nya sambil menyodorkan map berwarna biru ke arah Alvin


Tidak ada jawaban , Alvin tampak sibuk meneliti kertas sambil membolak-balik kan map tersebut setelah tadi menerimanya.


"Ini serius Riana,?"Alvin bertanya seolah tidak percaya.


"Iya kak,! Aku membeli nya atas nama teman ku.."


Riana menghentikan suara nya sejenak"Maafkan aku karena tidak memberitahukan ini pada kakak"


"Bahkan kamu tidak mampu untuk mempekerjakan seorang pembantu,Ku kira kau sudah tidak punya uang sama sekali"Celoteh Alvin mengingat ,semenjak Riana merawat nya pekerjaan rumah di kerjakan nya sendiri.


Riana terkekeh"Aku hanya ingin mencoba hal baru saja"


"Terimakasih Riana,namun maaf kakak tidak bisa menerima nya,jalan kan lah !.Kakak yakin kamu mampu mengelolanya .."Tolak Alvin Sambil kembali menyodorkan map tersebut kearah adiknya.


"Tidak kak,aku sudah mengubah pemilik nya menjadi nama kakak ,bagaimana mungkin kakak tidak menerima nya .."Riana bersuara dengan nada sedih.


"Kakak sudah baik kepadaku ,aku mohon terimalah..!"


Tambah nya dengan nada memelas.


"Baiklah,terimakasih.Uang mu nanti akan kakak ganti.."Alvin mendesah pasrah kemudian berdiri hendak pergi meninggalkan adik nya.


"Kakak tunggu..,,"Ucapan Riana seketika membuat Alvin kembali pada posisinya.


"Ini untuk kak Hanna,!"Raisa menyodorkan sebuah kado yang di bungkus dengan kertas berwarna silver.


Alvin menatap kado tersebut tidak mengerti,satu alis nya ia angkat "Mengapa kau tidak memberikan nya langsung pada Hanna..?"Tanya nya sambil menerima kado tersebut.


"Itu karena aku ingin kakak yang meminta agar kak Hanna memakainya di malam pertama.Jangan anggap aku adik jika kakak tidak berhasil membujuk nya."Riana berucap kemudian pergi setelah menepuk bahu Alvin dengan santai.


KEESOK HARINYA


Kedatangan Hanna berhasil mengalihkan pusat perhatian semua tamu yang hadir .Wanita itu telah cantik mengenakan gaun pengantin yang di rancang dirinya sendiri selama tiga bulan yang lalu bersama Raisa yang menggandengnya.


Kepala nya menunduk,menata hati yang dia sendiri tidak tahu perasaan apa itu.


Langkah nya terhenti setelah di rasa bahwa dirinya telah ada di hadapan Alvin sekarang.Detak jantung kedua nya berdetak lebih cepat,tangan mereka bahkan terasa dingin karena tegangan hati yang mereka masing-masing.


Tidak ada yang berani bersuara selain gemerisik pohon mangga yang sedang mengagungkan asma Allah.


Jarum jam menunjukan tepat pukul sembilan.


Hari ini kembali akan ada hari bersejarah bagi mereka berdua.Nun jauh di sana,seorang gadis kecil memeluk Riana dengan mata berkaca-kaca.


Dia Fatimah ,ia tampak begitu khidmat menikmati detik-detik orang tua yang di cintainya bersatu kembali.


"Aku rujuk kau mulai hari ini,"sejenak Alvin menghentikan kalimatnya"Aku telah kembali"tambah nya begitu lantang .


Kebahagiaan yang membuncah di dalam hatinya itu kini menjelema menjadi air mata haru ,


Hanna menatap manik Alvin dengan tatapan penuh arti.Ia menggerakkan kaki nya hendak meraih tangan kemudian mencium tangan Alvin dengan penuh ta'dzim.Angin sesekali menyapa selendang yang di kenakan Hanna menambah ketenangan suasana.


Alvin mendarat kan ciuman di kening Hanna membuat suasana mendadak riuh ,mereka seolah hanyut kedalam bahagia Alvin dan Hanna.


Namun tak sedikit juga yang merasakan kekecewaan yang dalam .

__ADS_1


Dia adalah Bellena,wanita itu diam-diam menitikan air mata karena denyut sakit ketika menyaksikan mereka berdua.Hatinya membara ,menahan gejolak cemburu di dalam dada nya .Ia begitu tidak sabar ingin meninggal kan tempat itu segera .Sayang nya gengsi membuat ia mengurungkan niat nya ,ia tidak mungkin pergi sebelum mengucap kan selamat pada mantan suami nya itu.


Dilain tempat juga ada Adrian,Pria itu dari tadi sibuk memperhatikan,seolah meyakinkan bahwa yang di lihat nya adalah seorang yang di kenal nya .


Ya ..Wanita yang menjadi pusat perhatian nya itu telah mengenakan jilbab di kepala nya.


"Mami..?"Mala memeluk dan menatap Bella dengan wajah sendu.


Seketika Bella tersadar ,ia mengalihkan pandangan nya kemudian tersenyum.


"Fatimah sudah merebut ayah Mala ya ,?"Ungkap nya dengan nada sedih .


Bella terdiam seketika ,pernyataan Malla sungguh telah mengiris-ngiris hatinya .


"Tuhan. karma kah ...?"batin nya meratap .


"Harus nya ini tidak di alami oleh putriku bukan,?"Tambah nya lagi sambil menitikan air mata yang buru-buru di hapus nya.


Bella berdiri , menuntun Malla untuk mengucapkan selamat pada mereka berdua ,tekad nya sudah bulat .Ia ingin segera pulang dan menangis sepuasnya di rumah.


"Selamat ya mbak,!"Ucapnya begitu sampai .


Ia tampak mencium pipi Hanna secara bergantian.


"Terimakasih Bella,mohon do'a nya ya!."Hanna berucap begitu tulus.


"Mas .. Selamat!" Bella tersenyum


Sementara Alvin tampak menganggukan kepala nya.


"Ayah..!" panggil Malla pada Alvin seketika membuat Alvin menoleh .Alvin menjongkokan badan nya kemudian tersenyum sambil mengusap pipi Mala dengan ibu jari nya .


"Mala tambah cantik ya.,jadi anak yang baik ya sayang..!"Ucap nya di iringi anggukan oleh Malla.


Denyut sakit kembali menyapa ulu hatinya,memandang anak gadis nya sungguh membuat hatinya tak tega,ia seolah merasakan juga mengerti apa yang di rasakan putrinya.


"Mbak duluan ya,!" Sekilas Bella melirik Hanna.


"Ayo sayang,!"Tambahnya sambil meraih tangan Mala kemudian menuntun nya.


"Loh,Bella gak makan dulu..?"


"Belum lapar mbak ,lagian ini lagi buru-buru."Bella beralasan dengan memperlihatkan senyuman agar semua orang tak curiga .


"Ya sudah kalau begitu,hati-hati ya..!"


Bella mengangguk kemudian pergi tanpa menoleh lagi.Sekuat tenaga ia menguat kan hatinya namun akhirnya air mata itu luruh juga .


Begitu sampai di mobil wanita itu menangis sejadi- jadinya tanpa peduli dengan keberadaan anak nya.


***


Hanna baru saja melaksanakan shalat isya ,ia berdiri kemudian melipat sejadah nya.


ceklek...


pintu terbuka menampakan sosok Alvin di balik nya.


Ia baru saja melaksanakan shalat berjamaah di masjid,sejak magrib tadi .


"Assalamualaikum"


Hanna menjawab salam tersebut sambil tersenyum,menatap Alvin sekilas kemudian menundukkan wajah nya.


Jantung nya mendadak berpacu lebih cepat dari sebelumnya.Ia menjadi salah tingkah,bingung dengan apa yang akan di lakukan nya.


Alvin tersenyum tipis ,tingkah Hanna benar-benar sangat langka.Ia berjalan ke arah istrinya dengan jantung yang menggila.


"Mas,minta Ridho nya ya..!"Ucap Hanna sambil mengulurkan tangan kanan nya.


Ia mencium tangan Alvin dengan penuh ta'dzim sementara Alvin tampak memegang kepala Hanna sambil membacakan sholawat..


"Insyaallah"Jawab nya .


Alvin terpaku,ada perasaan bahagia yang tidak bisa lagi di ungkap kan lewat kata-kata .Ia menahan kepala Hanna sejenak kemudian mencium kening nya dengan lembut.


Wajah Hanna bahkan sudah memerah ,ia tampak memalingkan wajah nya karena malu.


"Hujan ya mas,"Ucap nya berbasa-basi.Meraih kancing Koko Alvin Sambil membuka nya satu per satu dengan tangan gemetar.


"Iya ,cukup deras"Jawab nya dengan suara sesak .


Ada hawa panas bersama debaran jantung ,Alvin sedikit menjauhkan tubuh nya dari Hanna .


Ia takut kalau Hanna mendengar detak jantung nya yang sudah menggila.


Hanna tampak melipat sarung dengan Koko nya ,kemudian meletakan nya di rak bersama mukena yang tadi di pakai nya.


Alvin baru sadar ternyata Hanna shalat dengan jilbab yang tidak di lepas nya.


Mereka duduk di tepi ranjang,sama-sama diam karena tidak tahu apa yang bisa jadi bahan pembicaraan.


"Mas mau di bikinin apa,?"Hanna bertanya kaku,


Ia tampak menatap wajah Alvin dengan perasaan yang tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata.


deg..


Debar jantung mereka sama-sama menggila saat mereka beradu pandang.


Sekian detik mata mereka saling mengunci satu sama lain dan entah siapa yang memulai kini bibir mereka bertemu dengan benda kenyal .


Rindu yang sekian lama terpendam itu menjelema menjadi ***** .


Mereka tampak lapar ,sama-sama menikmati lumutan-******* dari lawan nya yang semakin lama berubah menjadi hawa panas di dalam tubuh nya.


Tubuh Hanna melemas akibat gairah ,namun buru-buru Alvin menahan nya.


Mereka ambruk ,membaringkan tubuhnya masing-masing di tempat tidur tanpa melepas kan ciuman yang terjadi di antara mereka berdua.


Posisi mereka berhadapan..


Hanyut kedalam kenikmatan,tanpa malu Hanna melingkarkan tangan nya di pinggang Alvin.


Tidak mau menyia-nyiakan Alvin juga mengeratkan pelukan nya sehingga tubuh mereka menempel erat .


Tangan Alvin sudah mulai nakal , meraba-raba perut sampai tertumpu di bagian dada Hanna .


Hanna terpejam ,menikmati setiap sentuhan yang di berikan suami yang menjadi penggugur dosa setiap sentuhan nya.


Cukup lama kejadian itu berlangsung,namun tiba -tiba Alvin mengakhiri nya.


"Aku mau sekarang ,ya..!"Ucap Alvin dengan mata yang di selimuti gairah di dalam nya.


Hanna terengah-engah "Sekarang..?"Tanya nya ragu-ragu.


Alvin mengangguk,sambil meraih resleting baju Hanna di bagian depan.


Tok..tok...


"Kak ,makan malam sudah siap."Suara seorang yang tak lain adalah Riana terdengar di balik pintu membuat Hanna terpaksa menghentikan aksi Alvin.


"Baiklah,nanti kakak menyusul.."Dengan susah payah Hanna meninggikan suara nya agar Riana tak curiga dengan apa yang tengah terjadi di antara mereka.


"Baiklah ,kami akan menunggu.."Ucap Riana kemudian tidak lagi terdengar suara nya.


Alvin tampak terdiam,sebenarnya hatinya begitu kesal karena aktivitas nya terganggu.Namun ia sadar karena ini masih tergolong siang.


"Mas ,kita makan dulu..!"Ucap Hanna sambil membenarkan tampilan nya.Posisi nya kali ini sudah duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Bukan nya menjawab Alvin malah menarik Hanna ,sehingga mengakibatkan ia terjatuh dengan posisi Alvin di bawah nya .


Tidak mau menyia-nyiakan ,Alvin kembali ******* bibir Hanna dengan gairah yang masih belum juga surut pada tubuh nya.


Hanna terbuai ,ia kembali hanyut dalam kenikmatan tanpa mengubah posisi nya .


"Sayang ,aku sudah tak tahan..!"Suara Alvin terdengar sangat berat .


"Mereka sudah menunggu sayang,"Timpal Hanna sambil mencium bibir Alvin sekilas kemudian bangkit dari posisinya.


Alvin memegang kepala nya frustasi, setelah bangkit dari tidur nya."Tunggu sebentar sampai dia kembali tertidur.."Ucap Alvin membuat pipi Hanna memerah.


Hanna berdiri hendak ke kamar mandi untuk membersihkan ,mengingat apa yang sudah terjadi cukup lah ,untuk membuat nya basah .


Baru saja Hanna keluar dari kamar mandi namun Alvin sudah menahan nya.


"Mas.."Hanna sedikit terkejut sontak memegang lengan suami nya.


"Makan nya nanti saja ya,!"Alvin memelas ,Alvin memandang Hanna dengan hasrat yang membara di mata nya.


Hanna cukup mengerti.Ia hanya terdiam ,tidak menggeleng ataupun mengangguk ,bingung dengan cara seperti apa agar Alvin mengerti akan jawaban nya.


"Aku akan menemui mereka dulu untuk mengatakan bahwa kau lelah.."Cegah Hanna saat Alvin hendak mencium bibir nya.


Alvin setuju ,ia tampak mengendorkan tangan nya kemudian membiarkan Hanna berlalu dari kamar nya dengan pasrah.


***


"Riana ,mas Alvin sedang lelah..Kalian duluan saja makan nya."Ujar Hanna begitu sampai di ruang makan.


Beruntung mereka mengerti mengingat tamu yang datang siang tadi.


"Baiklah kak,.."Riana menjawab sambil tersenyum.


"Di dapur ada madu ,seduhlah dengan air hangat untuk meredakan lelah nya.."Tambah nya kemudian sibuk menyodok nasi pada piring yang Fatimah sodorkan kepada nya.


Ya.. Mereka sudah cukup lama menunggu Alvin juga Hanna untuk makan bersama.


***


Hanna membuka pintu dengan segelas madu hangat di tangan nya.


Alvin sudah terbaring dengan mata terpejam,berusaha meredakan hasrat yang tadi membangkitkan nya.


Namun ia segera terbangun saat mendengar seorang masuk kedalam kamar yang di yakini istrinya sendiri.


"Mas minum lah,"Hanna menyodorkan gelas tersebut yang si sambut cepat oleh tangan kanan Alvin.


"Ada hadiah untuk mu ,buka dan pakailah..!"Alvin bersuara sambil menyodorkan kotak berwarna silver ke arah Istrinya sebelum ia meneguk madu tersebut.


"Dari siapa,mas?"Hanna bertanya namun tangan nya sibuk membuka bungkus kado tersebut.


"Riana,"Alvin menjawab begitu selesai meminum madu sampai habis tandas lalu meletakan gelas kosong nya di nakas.


Setelah nya ia asik memperhatikan,juga penasaran dengan apa yang Riana berikan.


Hanna tampak malu-malu begitu mengetahui isi dari kado tersebut.


"Apa isinya,? "Alvin bertanya penasaran,tangan nya tanpa izin mengambil lingeria yang lain nya.


Alvin tersenyum menyeringai begitu membeberkan baju tersebut."Pakailah sekarang..!"Perintah nya sambil menyodorkan lingeria hitam yang di pegang nya.Sementara Hanna tertegun mendengar ucapan Alvin barusan.


Ia juga membeli nya ,namun tidak terlalu terbuka seperti yang di berikan adik iparnya .Membayang kan lingeria tersebut telah melekat di tubuh nya membuat wajah Hanna kembali memerah.


"Cepatlah sayang..!"Alvin bersuara dengan nada memerintah,namun tidak mengurangi kelembutan nya.


"Tapi aku telah membelinya ,aku akan memakai yang aku beli saja.."Jawab Hanna sambil memegang erat lingeria tersebut.


"Tapi Riana memaksaku untuk memakai pemberian nya malam ini,kamu bisa memakai baju yang kamu beli lain kali saja.."Bisik nya dengan nada sensual.


Hanna berdiri meninggalkan Alvin,langkah kaki nya menuju meja rias .Ia hendak memoles wajah nya dengan sedikit make up.


"Tidak perlu sayang..!"Alvin bersuara begitu mengerti dengan apa yang akan di lakukan istrinya.


Hanna berbalik menatap Alvin kemudian mendesah pasrah .Ia berjalan pelan menuju kamar mandi dengan gamis panjang juga jilbab yang masih melekat di tubuh nya.


***


Hanna menatap baju yang di kenakan nya di cermin.


Kulit putih nya terlihat kontras dengan lingeria hitam yang di kenakan nya.


Baju nya sangat terbuka sekali,bagian belakang nya memamerkan punggung putih nya yang sampai bagian pinggang .


Panjang baju tersebut hanya setengah paha saja.


Tali nya Hanya sebesar kelingking ,belum lagi baju tersebut tidak muat untuk menutupi belahan dada nya membuat wajah Hanna memerah saat membayang kan dirinya sebentar lagi akan berada di hadapan Alvin.


Rambut sepunggung nya ia gerai,mencoba menutupi bagian punggung yang terlalu mencolok.


Entah sudah berapa kali Hanna menarik napas kemudian membuang nya menata jantung yang berpacu di atas rata-rata.


Ceklek ...


Begitu pintu terbuka,Alvin sudah menyambut nya.


Ia menatap tubuh Hanna ,menelisir setiap inci tubuh istrinya dengan penuh *****.


Hanna menatap Alvin malu-malu,pipi nya bahkan memerah saat melihat sang suami menatap nya sedemikian rupa.


Napas Alvin memburu,entah sejak kapan bibir itu telah meraup bibir istrinya dengan penuh *****.


Ia meraih pinggang Hanna kemudian menyandarkan nya di dinding luar kamar mandi tanpa melepaskan ciuman nya terlebih dahulu.


Tubuh Hanna tiba-tiba melayang ,Alvin menggendong dan membaringkan nya di kasur pelan-pelan.


"Kamu siap sayang..?"Tanya Alvin dengan napas berat.


Hanna menatap Alvin kemudian mengangguk pasrah..


Ia bahkan seperti tidak punya kekuatan untuk berbicara.


Bertasbih lah cinta mereka bersama hujan yang mengguyur bumi pada malam itu.


Tangan Alvin begitu lincah,menelisir setiap inchi tubuh istrinya bersama dosa-dosa yang berguguran di setiap sentuhan .


Mereka hanyut dalam ibadah juga kenikmatan di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


#Jika berkenan ,mampir ya ke karya ke duaku "LUKA YANG KAU GORESKAN!"


(TAMAT)


TERIMAKASIH UNTUK KAKAK" YANG TELAH MENGKIKUTI KISAH ALVIN DAN HANNA.


WALAU JARANG UP,SERING MENGECEWAKAN TAPI SEKARANG ALHAMDULILLAH CERITA INI BERHASIL SAYA TAMAT KAN.


MESKI AGAK NYA GAK NYAMBUNG,ALUR YANG ACAK-ACAKAN ..CARA PENULISAN YANG MASYAALLAH BANYAK YANG SALAH ,NAMUN TETAP AUTHOR TIDAK BISA DISALAHKAN KARENA KETERBATASAN.


TERIMAKSIH UNTUK YANG SELALU MENGANGKAT JEMPOL NYA ,MENGONENTARI BAHKAN MEMBERIKAN VOTE DENGAN IKHLAS..


POKOK NYA ALHAMDULILLAH


MOHON MAAF PADA KAKAK"SEMUA ,APABILA ADA KATA YANG MENYINGGUNG,MENYIMPANG ATAU SEJENIS NYA ,AUTHOR HARAP DAPAT DI MAKLUM.SEMOGA KAKAK SEMUA BISA


MENGAMBIL SISI POSITIF DAN MEMBUANG SISI NEGATIF NYA.


TIDAK LEBIH ,AUTHOR DI SINI HANYA SEBATAS MENYALURKAN SEBUAH HOBI SAJA,


UNTUK ITU MOHON MAAF ATAS SEGALA KETERBATASAN PENGETAHUAN AUTHOR YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB INI.

__ADS_1


##SALAM SAYANG UNTUK KAKAK" KU SEMUA..


SITI SALMAH


__ADS_2