
Bella melirik Alvin ,Jika biasanya penampilan nya berantakan kini ia tampil sangat mengesan kan .
"wah....ayah tampan nya"Gadis berusia tujuh tahun memuji ketampanan sang ayah .
Bella senyum-senyum sendiri ,ia berfikir Alvin telah melupakan masalalu nya .Ia berharap hubungan mereka yang sempat retak akan di mulai kembali dari awal ..
"Ayah mu memang tampan dari lahir" Alvin membanggakan diri pada putrinya.
Hati nya berbunga-bunga saat teringat wajah Hanna ,wajah yang dulu selalu tersenyum walau sedang terluka,yahh.. wajah itu kini berhasil membuat nya jatuh cinta.
Hanya saja cinta itu datang terlambat ,jika saja dulu dia tidak menyia nyiakan Hanna.Ia pasti menjadi pria terbahagia karena memiliki istri seperti nya.
"bunda ,aku berjanji akan membuat mu jatuh cinta kepada ku!" batin nya .
"kemana mas akan pergi?"
Bella bertanya sambil melirik suami nya yang asik memakai jam di tangan nya .
"jalan -jalan "
jawab nya singkat ,kali ini jam tangan itu sudah melekat di tangan nya .
"Mala ,apa kamu sudah siap?" tanya Alvin kemudian sambil mengusap-ngusap puncak kepala putrinya .
"seperti yang ayah lihat,.mami apa mami mau ikut?"Mala menjawab pertanyaan ayah nya ,kemudian bertanya pada ibunya ..
Bella hanya mematung ,ia berharap Alvin akan mengajak nya keluar bersama putrinya.
"Tidak Mala ,mami mu harus banyak istirahat"
Alvin menjawab pertanyaan putrinya .
Sementara mata Bella berkaca-kaca bagai mana bisa suami nya mengatakan itu semua .
"aku baik-baik saja kok mas," Bella menimpali jawaban suami nya .
"Kau diam lah di rumah Bella ,aku tidak mau kamu kenapa-kenapa "
Alvin masih mencoba melarang Bella.
"ini perhatian kah mas ,tapi ku rasa ada sesuatu di balik kata-katanya " Bella berfikir mencoba mencerna kata-kata suami nya .
Sementara Alvin sudah beranjak keluar menuntun putrinya .
***
"Jika ibunya mengizinkan .. Fatimah akan menunggu di sini ..Tapi sepertinya tidak ada" Mala melirik ayah nya ,kemudian pandangan nya beralih keluar mencari cari sosok yang di panggil nya Fatimah.
"itu artinya tidak jadi ,kita berangkat saja ya sayang" Alvin melirik Mala kemudian melajukan mobil nya menuju butik yang kemarin di kunjungi nya.
Sementara Mala hanya mengangguk nurut.
Jantung Alvin berdetak dengan kencang ,
ketika sudah memasuki parkiran .. Hatinya sudah resah tidak tahu apa yang mesti ia lakukan .. Ia memegang dadanya tegang ..
sesekali nafas nya ia atur berusaha mencari-cari ketenangan .
"Ayah kenapa?" Mala bertanya saat melihat sang ayah bersikap aneh di depan nya .
"Tidak ..sayang tidak ada apa-apa "Alvin menggelengkan kan kepala, menjawab Mala gugup dengan senyum yang berusaha di buatnya.
"Ayo turun"Ucap nya kemudian .
"B-U-T-I-Q-U-E F-A-T-I-M-A-H"
"Butique Fatimah" Mala nampak mengeja satu per satu huruf yang terpampang .
__ADS_1
"nama butik nya sama kaya temen Fatimah ya yah?..
Apa ini punya Fatimah?"Gadis yang di kuncir dua itu bertanya melirik ayah nya,kemudian kembali memperhatikan bangunan yang ada di depan nya.
"Tidak juga sayang ,karena nama Fatimah di indonesia itu bukan lah satu"
Alvin menjelaskan sambil meraih tangan mungil Mala kemudian menuntun nya .
****
"kakak di luar ada tamu..!!" Seorang karyawan memberitahu pada Raisa yang sedang sibuk memperhatikan lembaran-lembaran yang kemarin Hanna berikan kepada nya .
"pukul sepuluh ,bukan kah hari ini tidak ada jadwal pertemuan dengan seorang klien?" Raisa
memandang karyawan tersebut heran.
"Sepertinya itu tamu yang kemarin bertemu dengan kak Hanna.. apa di suru menunggu di luar aja?" tanya karyawan tersebut sopan .
"Itu tidak sopan Luna ,antarkan saja dulu keruang tamu ..saya masih harus menyelesai kan pekerjaan sebentar lagi "
Raisa menjawab kemudian kembali pada pekerjaan nya.
" Baik kak .. "sosok yang di panggil Luna menunduk kemudian undur diri .
***
Hanna datang dengan Fatimah yang di tuntun nya ..
"Fatimah sama bibi aja yah " Seorang remaja putri mencoba mengambil alih tangan Fatimah .
"Fatimah mau sama bunda aja" Gadis yang kecil yang mengenakan jilbab itu menggeleng .menolak ajakan bibinya.
"Kamu ga ada kegiatan kah ?" tanya Hanna pada remaja putri dengan kulit coklat ,mungkin kareana banyak mengikuti kegiatan di sekolah nya .
"Tidak ada kak.. Tapi kalo kakak ngizinin Adel mau berkunjung kerumah teman-teman Adel"
Hanna tersenyum ,Ia begitu bersyukur memiliki adik-adik yang nurut kepada nya.
"Boleh saja ,hanya saja harus ada batasan ..
kamu pilih-pilih saja jika bergaul sama teman ."
Hanna berucap ,sejenak menghentikan langkah nya .
"itu penting kak" Adel menimpali pesan kakak nya .
"ya sudah... hati-hati ya "Hanna berucap sambil mengeluarkan beberapa uang lembar di dompet nya .
"Terimakasih kak ,Adel pergi ya ..!"
Adel tersenyum tulus ,kemudian pergi setelah menerima beberapa lembar uang yang di berikan kakak nya .
Sementara Hanna tampak melanjutkan perjalanan nya yang tadi sempat terhenti.
"kakak apa kemarin kakak ada janji dengan seorang tamu?" Raisa bertanya saat melihat Hanna datang .. Ia masih asik dengan kerjaan yang belum lama ini ia kerjakan .
"tidak ... memang nya kenapa?" Hanna bertanya masih belum juga mengerti ..
"Ada seseorang yang ingin bertemu kakak ,temuilah!" ucap Raisa.
"Bukan kah ini tugas mu?"
Hanna bertanya,karena tugas untuk melayani pelanggan nya biasa nya ia serahkan pada adiknya .
"Ayolah kak ,aku sedang banyak kerjaan .
bulan ini banyak sekali pesanan"Raisa masih juga memaksa ..
__ADS_1
Sejujurnya hati Hanna sedikit was-was ...takut kalau tamu yang Raisa sebutkan adalah tamu yang kemarin di temuinya .
"Baiklah .. kakak akan menemuinya" Hanna beranjak pergi meninggalkan tempat dimana Raisa berada .
Sementara Raisa namak menarik nafasnya lega.
Hanna terdiam ,memandang siapa tamu yang kini ada di hadapan nya ..
Ia berjalan pelan kemudian mendudukan pantat nya di kursi yang bersebelahan dengan Alvin .
Sementara jantung Alvin hampir saja copot ketika melihat gadis kecil yang berjalan mengikuti Istrinya .
Lidah nya kelu ,mata nya berkaca-kaca ketika melihat gadis yang mengenakan jilbab itu duduk berhadapan dengan nya .
"Ayah Mala kasihan deh sama Fatimah ,kata Fatimah ,Fatimah belum bertemu dengan ayah nya"
Ada desiran halus yang membuat tubuh nya lemas . Hati nya terlalu yakin anak yang kini duduk bersebelahan dengan Hanna itu adalah putrinya..
Tubuh nya bergerak tak tahan ingin memeluk putrinya,jika saja tidak ingat Mala ia sudah pasti langsung menangis di pelukan gadis yang diyakini putrinya itu .
Putri nya yang bahkan ia baru tahu akan kehadiran nya .
Ia benar-benar tidak pantas jika harus di sebut seorang ayah .
"Fatimah .."Akhir nya kata itu lolos begitu saja di mulut Alvin.
Dada Hanna sesak ketika mendengar Alvin memanggil putrinya.
Sementara mata Fatimah sudah berkaca-kaca .
Ia ingin menangis berhambur di pekukan ayah nya .
Hanna menggigit bibirnya ,
"Jadi apa tujuan mu kesini,apa untuk memilih gaun ulang tahun?"
Hanna mencoba menguasai diri nya yang sempat hanyut kedalam pikiran nya .
Alvin mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Hanna.
Ada rasa sakit yang menyelinap di hatinya ,
bagai mana bisa Hanna mengurus putrinya tanpa di dampingi dirinya.
Jika saja tidak ada Mala ia sudah pasti menghujani Hanna dengan sebuah pertanyaan yang sudah membuncah di hatinya .
"Jadi baju mana ,yang akan kamu pilih?"
Hanna datang dengan buku yang kemarin ditunjukan nya .menjatuhkan bobot tubuh nya di kursi ,kemudian meyodorkan buku yang di pegang nya kepada Alvin .
"Fatimah ,bunda keluar sebentar ..
kamu tunggu dulu aja ya di sini..!"
Hanna memberi intruksi kepada Fatimah sebelum pergi..
"Mala ,temenin Fatimah ya ..!"Hanna berpesan kepada gadis yang bernama Mala kemudian tersenyum .
"iya tante.." Dengan sopan gadis itu menjawab sambil mengangguk .
***
intinya kasih semangat untuk author ..
jangan lupa ya dukungan nya ..
aku pada kalian muach ...
__ADS_1