
Hanna melihat jam yang melingkar di tangan nya.
Dengan sangat buru-buru wanita itu merapikan peralatan sudah di pakainya kemudian meneguk air dalam botol demi menghilangkan rasa haus yang sejak tadi terasa di tenggorokan nya.
Ia berdiri sambil meraih tas jinjingnya,berjalan cepat meninggalkan ruangan yang sedari tadi di tempatinya.
Di sana ada Raisa,gadis itu sedang berbicara pada dua orang tamu yang ia duga suami istri sedang menjelaskan sebuah gambar,sepertinya gambar baju ulang tahun yang di rancang Hanna sudah sejak lama..
Hanna tersenyum kemudian mengangguk saat tiga orang itu kini mengalihkan perhatian pada dirinya..
"Selamat siang pak,bu."Sapanya ramah.
"Selamat siang juga nona,"jawab dua orang itu bersamaan.
"Raisa,titip Fatimah.kakak ada urusan di luar sebentar..!"Ucap Hanna kemudian pergi setelah mohon undur diri pada tamu nya itu.
"Mari pak,bu"ucap nya sopan.
"Silahkan ,silahkan"
Dua orang tamu itu mempersilahkan nya juga tak kalah sopan.
Ia tergesa ,memasuki sebuah mobil kemudian mobil itu perlahan melaju meninggalkan area bangunan dua lantai tersebut.
***
Suara gemerisik pepohonan yang di terpa angin tak juga memengaruhi lamunan seorang pria yang kini duduk di kursi roda.
Baju yang di kenakan nya bergoyang di terpa angin seolah memperlihat kan bahwa tubuh nya yang sekarang jauh dari kata baik.
Sesekali mata nya tertuju pada jam yang dikenakan nya.
Terlihat ia menghembuskan napas kasarnya.
Sudah hampir setengah jam pria itu duduk, namun yang di tunggunya belum juga datang.
Kekhwatiran kini menyapa hatinya ketika seberkas memori kembali berputaya di dalam otak nya.
Membuat nya bergidik ketakutan ketika mengingat wanita yang kini di cintainya sedang dalam perjalanan.
"Harus nya Aku tidak memintanya bertemu disini,harusnya aku datang kerumah nya."
Ia merutuki dirinya sendiri ketika mengingat kebodohan yang telah dilakukan nya.
"Bagai mana kalau terjadi sesuatu pada Hanna?"Ia membatin ,terlepas dari itu ke dua bola matanya berkaca-kaca seolah sedang membayang kan yang tidak-tidak.
Ia menggeleng kan kepala nya,sudah jelas Alvin sedang berusaha menghilangkan bayangan-bayangan yang menghantui pikirannya.
Hanna saat ini mengenakan baju coklat yang menutupi pantat di padu dengan rok lebar berwarna krem juga jilbab segi empat yang senada dengan rok nya membuat wanita itu terlihat anggun saat berjalan memasuki kafe dimana ia telah berjanji dengan seseorang.
Alvin terperanjat ketika melihat seorang yang di tunggunya telah tiba.
Tak sadar ,seberkas senyum terlihat dari bibirnya.Cara berjalan wanita itu masih tetap sama,sama seperti saat dulu pertama kali ia melihatnya.
"Kenapa aku baru menyadari bahwa dia itu sangat cantik?,
Ah..sial mengapa aku dulu bisa menyakiti wajah yang meneduhkan jiwa itu."Alvin membatin.Bola matanya kembali di lapisi cairan bening ketika mengingat wajah sabar Hanna dulu dalam menghadapi amarah nya.
Lain lagi dengan Hanna,wanita itu berjalan menunduk kemudian tak sadar pandangan nya bertemu dengan mata Alvin.
__ADS_1
pria itu sedang duduk menatap nya,wajah nya sekarang terlihat sedikit tua juga tubuh nya memang tak seindah dulu lagi,tapi matanya .
Dimata itu kini terlihat jelas bahwa pria itu
menyimpan cinta yang begitu besar padanya.
Tanpa kedua nya sadari kini mereka sudah berhadapan .
Alvin tersenyum ,di saat itulah Hanna baru tersadar bahwa dirinya sudah sampai di tujuan,rupanya wanita itu dari tadi sibuk memperhatikan penampilan nya.Bagaimana tidak,sejak dari tadi ia di tatap Alvin sedemikian rupa.
"Assalamualaikum"sapa Hanna,dua tangan nya di rapatkan kemudian mengangguk sopan.
"waalaikumsalam"Alvin menjawab kemudian mempersilah kan nya untuk duduk.
sementara bibir nya masih belum juga lepas dari senyuman nya.
"Maaf karena telah mengganggu waktu mu,"Alvin basa-basi ketika melihat Hanna sudah membenarkan posisi duduk nya
"Tidak juga mas,"Hanna menggeleng.
"Jadi apa yang ingin mas sampaikan?"
Tanya Hanna tanpa basa-basi.
Alvin terdiam,tenggorokan nya tercekat .
AIvin bingung harus memulai nya dari mana,Sementara Kata-kata yang di rangkai dari malam seolah hilang begitu saja.
Namun tiba-tiba tangan nya bergerak menyodorkan sebuket bungan kehadapan Hanna.
Hanna sendiri baru menyadari bahwa sejak tadi Alvin sudah memegang bunga,mungkin karena rasa geroginya.
Hanna tampak menautkan alisnya ,tidak mengerti dengan apa yang Alvin maksud karena sejak tadi Alvin belum juga memulai percakapan nya.
"Hanna.."Ia memanggil ,matanya berkaca-kaca.
Hanna sendiri hanya terdiam,menanggapi kata-kata selanjutnya yang akan Alvin ucapkan.
"Aku tahu begitu banyak kesalahan ku padamu..
Aku tahu begitu banyak aku telah menyakiti mu.."Ia menunduk setetes air mata telah jatuh mengingat apa yang dilakukan nya dulu pada Hanna.
Hanna tersenyum pahit,untuk apa pula Alvin membahas nya,lagi pula ia hanya menganggap semua ini taqdir atas dirinya.
mengingat itu hanya akan menghadirkan luka itu kembali.
"Namun adakah kesempatan untuk ku?,
pada kesempatan kali ini aku ingin melamar mu..!"Ucap Alvin sambil mengeluarkan kotak cincin kemudian menyodorkan nya pada Hanna.
Hanna terdiam,memandang mata Alvin begitu dalam.Seolah meyakin kan apa yang di ucapkan nya itu benar,mengingat kemarin
dia menyuruh nya untuk menikah dengan orang lain.
"Apa kau serius mas?"tanya nya meyakinkan.
"apa kau melihat ku tidak serius,
jadi bagaimana?"Tanya Alvin ,matanya lekat memandang Hanna,sementara kotak cincin itu masih ada dilam genggaman nya.
__ADS_1
Hanna tertunduk malu ,ia mendongak kemudian tersenyum sambil meriah kotak cincin yang sudah terbuka itu.
"Lamaran nya,aku terima.!"jawab nya mantap.
Kebahagian membuncah di dada Alvin,senyum nya melebar
"Alhamdulillah"Ia mengucap kan syukur sambil menutup muka dengan kedua tangan nya.
"Aww.."pekik Alvin kesakitan ,mungkin karena ia terlalu banyak bergerak hingga tak sengaja kaki itu membentur sebuah meja.
"Mas,kenapa?"tanya Hanna.
Mata Alvin berkaca-kaca menahan rasa sakit ,Ia memandang Hanna namun telunjuk nya mengarah pada kaki nya.
Hanna tersenyum,ia tahu Alvin terlalu bersemangat.
"Aku pakai ya mas,cincinnya?"
Hanna mengeluarkan cincin tersebut kemudian memakai kan ke jari manis yang ada di tangan nya.
"Cantik..!"Ucap Alvin ketika Hanna menunjukan cincin tersebut sudah melekat di jarinya.
"Jadi kapan mas merencanakan pernikahan nya?"tanya Hanna tak sabar.
"Sekitar enam bulan lagi,apa kau siap menungguku?"Tanya Alvin,matanya menatap wajah Hanna serius seolah berharap wanita yang barusan dilamar nya itu dapat bersabar hingga enam bulan lagi.
"Kenapa harus enam bulan lagi mas,kenapa tidak menikah sekarang-sekarang aja.
Lihatlah kaki mu,jika kita menikah aku bisa merawat mu" Ia berbicara dengan nada harap.
"Aku akan pergi ke Singapura ,menjalan kan pengobatan untuk kaki ku."Jawab nya sambil menunduk.
Hanna hanya terdiam ,tidak bisa menyangkal lagi akan kata-kata yang Alvin ucapkan .
Jika di pikirkan ini memang demi kebaikan nya juga.
"Baiklah ,jika itu keputusan mu."
"Jika ada lelali yang melemar mu,dan kamu menyukainya aku bebaskan kau untuk memilih."ucap Alvin.
Hanna cemberut,bagaimana bisa Alvin berbicara itu kepadanya.
"Baiklah kalau begitu akan aku pikirkan."
jawab Hanna tanpa basa-basi karena kesal.
Hati Alvin meringis,harus nya ia tidak usah so so an.berbicara " itu jika hatinya sendiri tidak akan merelakan nya.
"Kapan mas akan pergi ke singapura?"
"Sekitar tiga hari lagi,nanti aku akan memberitahumu dulu"ucap nya sambil tersenyum.
"Kau belum memesan sesuatu Hanna?"ucap Alvin mengingat kan.
"Tidak mas ,aku akan pulang.
Mas mau pulang sama siapa?"Hanna menjawab kemudian bertanya.
"Riana nanti akan menjemput ku,kau jangan terlallu khawatir "
__ADS_1
***
Aku nulia karya baru ni ,mampir ya ke sana kalo berkenan.