
Jika seorang hamba di cintai Tuhan nya,maka orang tersebut akan di timpa berbagai ujian dalam kehidupan nya.
Seperti yang telah terjadi pada seorang pria yang kini masih setia terbaring lemah .
Tujuh tahun sudah ia melewati kesusahan dalam hidup nya.Namun saat kebahagiaan itu akan tiba,ia malah memilih berbaring seperti ini.
Fatimah tersenyum melihat wajah damai Alvin . Perlahan tangan mungil itu bergerak mengusap-ngusap pipi ayah nya lembut,berharap sang ayah bisa membuka mata secepat nya.
"Ayah,bangunlah..!"Ucapan lirih dari bibir mungil itu berhasil menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Ayah jangan terlalu lama tidurnya."
tambah nya lagi,kali ini tangan mungil itu melingkar di dada sang ayah.
Hanna hanya bisa diam.walau hanya sekedar menyuruh putrinya makan siang,ia bahkan tidak berani mengganggu aktivitas yang kini sedang Fatimah lakukan .
Ia baru saja pulang dari butik nya.Sementara Fatimah dari sejak pagi ,gadis itu masih setia duduk manis menemani ayah nya .
"Fatimah sayang."
Hanna mencoba memberanikan diri memanggil Fatimah dengan suara lembut khas nya .
Gadis itu terperanjat,ia mendongak menatap wajah sang ibu yang baru ia ketahui keberadaan nya ..
"Bunda,aku masih ingin bersama ayah".
Wajah imut itu memelas.
"Bunda tidak mengajak mu pulang sayang,bunda hanya ingin kamu makan."Ucap Hanna seraya tersenyum sambil membantu tubuh Fatimah menuruni kursi yang sedari tadi di dudukinya.
"Fatimah belum lapar bunda."Tolak nya lembut,gadis kecil itu memang memiliki sifat kelembutan seperti ibunya.
"Tubuh mu sekarang terlihat kurus sayang,
akhir-akhir ini kau jarang sekali makan."
Wanita itu berucap sambil menuntun putrinya menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Fatimah tidak napsu bunda," Kali ini mereka sudah duduk rapi di tempat yang sedari tadi mereka tuju.
"Sudah hampir tiga hari,ayah masih belum makan,bagaimana Fatimah bisa makan enak."tambah nya lesu .
Hanna memandang Fatimah tak tega,tangan lembut nya mengusap-ngusap pelan puncak kepala putrinya.
"Yang sabar ya,nak."ucap nya kemudian.
Menguatkan hati putrinya walau hati dirinya sendiri pun sama rapuh nya.
Fatimah hanya mengangguk kemudian berdo'a sebelum pada akhirnya ia memasukan nasi kedalam mulutnya.
Hanya beberapa suap saja,gadis itu tampak menyudahi acara makan nya,Ia bergegas ke kamar mandi setelah ia meneguk air yang sudah di siapkan ibunya.
Hanna menatap sedih gadis yang kini berjalan meninggalkan nya,mata nya kemudian beralih pada bungkus nasi yang tadi sempat ia makan.
Sambil berlinang ia membereskan sisa-sisa makan tersebut.Ia menangis mengingat betapa tersiksa nya Fatimah atas apa yang telah menimpa ayahnya.
Gadis seusia nya bahkan tidak akan mengerti apa-apa tentang keras nya kehidupan.
tapi Fatimah,gadis itu harus menanggung penderitaan dari semenjak ia dalam kandungan.
Mungkin hal lain sudah terbiasa baginya .Tapi saat ini, ia harus menanggung beban saat
dia baru akan merasakan kasih sayang seorang ayah.
Betapa menderita nya ia saat melihat sang ayah saat ini sedang berjuang antara hidup dan matinya.
__ADS_1
Ia akan mendapat kasih sayang itu jika Alvin bisa melewati masa keritisnya,tapi jika Alvin meninggal .Hanna tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada putri semata wayangnya.
***
Iriana berjalan santai memasuki ruangan.
Sebuket bunga tampak melekat di tangan nya.
wanita itu setiap memiliki waktu senggang pasti menyempatkan diri untuk menjenguk kakaknya.Nyatanya Riana sangat menyayangi kakaknya.
Namun langkah nya tiba-tiba terhenti,tubuhnya kaku saat memandangi seorang anak kecil yang duduk sambil memeluk tubuh kurus kakak nya.
Gadis kecil itu bukanlah Mala,ia bahkan masih belum berani untuk melangkah kan kakinya ketika teringat bagaimana seorang yang tidak berdosa harus menanggung
penderitaan akibat keegoisan nya .
"Kau tahu Riana,saat aku di usir
aku telah mengandung anak kakak mu
kau tahu bagaimana perasaan ku dulu saat pertama kali ia menanyakan keberadaan ayahnya.
aku yakin jika semua ini terjadi padamu,kau juga tidak akan mampu menjawabnya."
tersa di cubit-cubit ,ia meringis menahan
sakit di hatinya.
Tak terasa air matanya jatuh mengalir deras
mengingat betapa jahat dirinya.
"Karena kebencian mu, anak tak berdosa seperti putriku harus menanggung penderitaan nya"
Lidah nya kelu,ia ingin sekali memeluk tubuh mungil itu namun tak mampu.
Ia terlalu malu mengingat apa yang telah ia lakukan dulu .
Fatimah terperanjat,gadis itu bangun ketika mendengar suara sesuatu yang jatuh kelantai.
Ia memperhatikan Riana yang bersimpuh sedang menangis sambil memandang dirinya rapuh.
Ia mencoba mengingat-ngingat wajah itu ,namun sama sekali tak bisa ia ingat.
"Fatimah.."
Suara itu memanggilnya lemah.
Gadis mungil itu terkejut,ia mengalihkan pandangan nya pada sosok yang masih terbaring di samping nya.
"Ayah.."
melelehlah air mata Fatimah ketika memandang sang ayah perlahan membuka matanya.
"Ayah,ini Fatimah."
Fatimah menangis terharu sambil memperhatikan wajah ayahnya.
"Bunda, ayah sadar"
Ia tersenyum bahagia namun air mata nya terlihat masih mengalir.
Hanna yang sedari tadi memperhatikan Iriana
seketika pandangan nya beralih pada Fatimah .Dengan langkah cepat ia menghampiri mereka kemudian tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Mas.." Bibir mungil itu tersenyum di iringi deraian air mata.
Hanna mencoba menghapus air mata tersebut namun sial nya air mata itu kembali meluncur tanpa persetujuan nya.
"mas.." ucap nya lagi sambil menahan tangis.
Bibir lemah Alvin melebar,memandang wajah Hanna dengan penuh arti.
Mata nya beralih pada gadis mungil yang juga berada di samping nya kemudian tersenyum .
"maafkan ayah sayang." Alvin berucap dengan suara berat.
"Ayah.. Fatimah merindukan mu" ungkap nya sambil mengecup pipi Alvin hati -hati.
Alvin hanya tersenyum mendengar ungkapan putrinya.
Mata nya kembali beralih pada Hanna.
"Maafkan mas." ucapnya kemudian .
Sambil menahan tangis Hanna menggeleng,
mengiayaratkan bahwa tidak ada yang perlu di maafkan .
Alvin hanya mengedipkan kedua mata nya. Ia terlalu bersyukur pada Tuhan karena telah di anugrahi kebahagiaan selama mata itu terpejam .
Hal yang sangat di inginkan nya selama tujuh tahun yang lalu adalah melihat Hanna tersenyum tulus kepada nya.
Dan hari ini,yang di inginkan nya itu tercapai walau hanya saat ia sedang terbaring lemah seperti ini.
Namun hal itu tidak mengurangi rasa bahagia nya .
Insiden kecelakaan itu tidak bisa disesali nya ,mengingat hikmah lebih besar dari semua nya.
Sementara tak jauh dari situ,Riana masih bersimpuh lemas,ia tak mampu walau hanya untuk sekedar berdiri.
Yang di inginkan nya saat ini adalah satu ,memeluk gadis yang sedari tadi di pandangnya.
****
Like ,rate ...
vote nya juga kalo suka .
maaf ya jika menunggu up nya lama .
yang jelas terimakasih pada kakak yang masih berkenan membaca karya saya .
jika ada kesalahan mohon berkenan untuk meluruskan ,he he wajar
authornya kurang berpengalaman.
selain dulu author tinggal di kampung
juga pendidikan yang author dapat hanya
sebatas dari sekolah dasar ..
jadi mohon di maklum jika salah dalam penempatan tanda baca ,atau salah tulisan dan lain sejenis nya. tinggal kasih komentar yang positif saja jika berkenan untuk meluruskan nya.
aku pada kakak kakak muachh..
love you .. love you
pokonamah titik.
__ADS_1