ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
JANGAN BICARA SEPERTI ITU


__ADS_3

"Aku merindukan mu,ayah,"Tutur Fatimah yang baru saja datang kerumah ayahnya.


Gadis mungil itu telah cantik mengenakan gamis putih dengan jilbab hitam yang melekat di kepalanya.


"Benarkah,ayah juga sangat merindukan mu,


kau terlihat sangat cantik,sayang."


muachh...


Satu kali lagi Alvin mendaratkan ciuman di puncak kepala Fatimah yang kini duduk di sebelah Alvin,namun matanya masih belum juga lepas dari sosok wanita yang kini duduk di sofa bersebrangan dengan nya.


Hari ini Hanna terlihat begitu cantik di matanya itu.


Hanna tersenyum ,pipinya memerah saat Alvin belum juga mengakhiri pandangan nya.


"Hari ini bagaimana keadaan mu ,mas,?"


tanya Hanna akhirnya mencoba melepas kecanggungan di dalam hatinya tak lupa seberkas senyum ia tampakan di sela-sela ucapannya tersebut .


Sementara Alvin,pria itu terdiam seolah tidak ada tanda-tanda akan menjawab nya sama sekali.


"Bunda bertanya ayah,ayah kenapa?"


Pertanyaan Fatimah seketika menyadarkan lamunan Alvin ,ia mengalihkan wajah nya pada Fatimah yang masih setia memandang nya.


"ada apa sayang,?"tanya Alvin begitu polos,pria itu merasa malu karena baru tersadar mengagumi kecantikan Hanna,belum lagi ia tidak terlalu mendengar jelas apa yang telah di ucapkan putrinya barusan .


"Bunda bertanya ayah,"Fatimah mendesah,


Ia menyandarkan tubuh mungilnya ke sofa merasa aneh dengan kelakuan ayahnya saat ini.


Alvin kembali memalingkan wajahnya pada Hanna ,namun ia hanya terdiam.


Ia terlihat sedikit salah tingkah,malu saat hendak mempertanyakan pertanyaan Hanna tadi kepadanya .


"Jadi apa yang tadi kamu tanyakan ,?Maaf pikiran ku tadi tidak terlalu fokus." Alvin memberanikan dirinya untuk bertanya,wajah nya ia tundukan menandakan ia malu pada dirinya sendiri.


Hanna menahan tawa melihat kelakuan calon suaminya yang bertingkah seperti gadis desa,Hanna sendiri baru tahu Alvin memiliki sifat seperti ini di balik wajah tampan nya itu.


"Lupakan saja mas ,jadi bagaimana keadaan mu saat ini?"Pertanyaan tadi kembali Hanna ucapkan ,sayang nya Alvin menanggapi seolah pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang tadi Hanna ucapkan kepadanya.


"Baik ,baik Alhamdulillah.."Ia menjawab sambil menganggukan kepala,namun pikiran nya kembali mencerna pertanyaan Hanna barusan.


Akhirnya ia menyadari pertanyaan Hanna barusan adalah pertanyaan yang tadi sempat Hanna tanyakan kepadanya.

__ADS_1


"mas mikirin apaan sampai tidak fokus seperti itu?"


Hanna tersenyum ,merasa penasaran dengan apa yang sedang calon suami nya pikirkan,mengingat tingkah Alvin yang tidak normal seperti biasa.


"emhh.. tidak "Alvin menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya mengagumi kecantikan mu,itu saja."tambahnya kikuk ,ia telah melupakan bahwa Fatimah kini sedang duduk di samping nya.Sementara Hanna,wanita itu hanya menunduk malu ,bagaimana bisa Alvin mengatakan hal itu di depan Fatimah.


"Bukankah wajah bunda setiap hari juga terlihat cantik.Ayah,?tanya Fatimah seketika membuat Alvin menoleh pada gadis kecil yang bersuara di sampingnya.Alvin kembali menyadari bahwa ia telah melupakan gadis yang sedari tadi ada di samping nya.


Tangan nya sibuk menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


Alvin memandang Hanna dengan rasa bersalah,sementara Hanna tidak mengerti mengapa Alvin bisa bersikap seperti ini.


Sungguh membuat nya sangat canggung.


"Ayah ,bibi Riana mana,?"


"Bibimu ada dikamar,sayang."


Jawab Alvin ,kini tangan besar itu mengusap-ngusap puncak kepala Fatimah setelah berusaha menetralkan perasaan dan suasana hatinya.


"Aku ingin bertemu dengan nya ,apakah boleh..?"Tanya Fatimah lagi.


Rupanya gadis kecil itu mengerti akan situasi saat ini.


"Baiklah aku kesana ,bunda jika ingin pergi kasih tahu aku ya,"pesan Fatimah pada Hanna sebelum pada akhirnya gadis itu pergi meninggalkan mereka berdua.


Alvin dan Hanna memandangi anak gadis nya yang berjalan riang menuju kamar bibinya.


Sementara diruang tamu setelah kepergian Fatimah barusan suasana nya malah tambah sepi.


"mas kamu yakin akan menikahi ku setelah pulang dari sana,?"


Akhirnya pertanyaan Hanna berhasil memecah keheningan diantara mereka.


"Jika kita menikah sekarang ,aku akan ikut menemani mu ke Singapura,"tambahnya lagi .Kali ini suara itu tersengar lesu.


Alvin menatap manik Hanna penuh arti,


"Ini sudah menjadi keputusan ku Hanna ,ada apa?,bukan kah kemarin kamu telah menyetujuinya."Tutur Alvin,mata nya masih belum juga lepas memperhatikan wajah mata indah calon istrinya itu.


Mata Hanna menatap ke sembarang arah ,berusaha menghindari tatapan Alvin kepadanya.kedua tangan nya sibuk ia mainkan dilutut,rupanya ia tidak terlalu nyaman dengan tatapan Alvin yang seperti itu.


"Bukan seperti itu mas,aku hanya tidak mau kau kerepotan,"jelas nya kemudian.

__ADS_1


Alvin tersenyum tipis ketika mendengar penjelasan Hanna,


"Dan aku tidak mau merepotkan mu ,


Aku tidak apa-apa Hanna ,jangan terlalu mengkahawatir kan ku."Tutur nya ,kemudian mengakhiri pandangan nya saat melihat Hanna salah tingkah karena ulahnya.


"Ah baiklah,aku akan menghargai keputusan mu itu ."Ucap Hanna kemudian terdiam.


"Bagaimana dengan Adrian,bukan kqh kemarin dia menemui mu?"pertanyaan Alvin seketika membuat Hanna terkejut.


Ia memandangi mata Alvin ,isi hatinya bertanya siapa orang yang telah memberitahunya.


Alvin tersenyum melihat keterkejutan pada diri Hanna .


"Kemarin Adrian sendiri yang telah memberi tahunya kepadaku,"Alvin menjelas kan seolah tahu apa yang ada di pikiran Hanna saat ini.


"Jadi bagaimana?,"tambahnya.


"Tidak terlalu penting .Bisa untuk tidak membahas nya ,aku sedang malas membahas orang lain,mas."Terang Hanna malas,namun matanya sempat terlihat berkaca-kaca seolah menyimpan cerita yang mendalam didalam nya.


"Besok mau berangkat jam berapa,mas?,"


Hanna mengalihkan arah pembicaraan nya ,menyebut-nyebut nama Adrian selalu teringat pada adiknya yang kemarin menangis karena telah mendengar percakapan nya dengan Adrian.


"Sekitar pukul enam pagi ,Putriku apa boleh nginap di sini,?Aku ingin tidur dengan nya sebelum berangkat ke Singapura."Jawab Alvin di iringi permintaan nya pada Hanna.


Mata nya menatap manik-manik Hanna penuh harap.


"Dia putrimu mas,aku tidak mungkin bisa melarang nya."Tutur Hanna,


"Nanti pagi aku akan menjemputnya"


Tambah nya lagi.


"Aku ingin kau dan Fatimah ikut mengantarkan ku ke bandara,"Satu kali lagi Alvin mengutarakan keinginan nya.


Bola mata itu kembali memancarkan harapan yang dalam pada calon istrinya.


"Akan aku usahakan mas ,jika tidak ada halangan aku ikut mengantarkan mu,insyaallah"


Setelah itu mereka terdiam cukup lama mengikuti pikirannya masing-masing sampai Alvin kembali bersuara kembali memecah keheningan di antara mereka.


"Hanna,"mulut itu berucap ,kedua bola mata yang kini dilapisi cairan bening itu menatap Hanna penuh arti .


"Aku harap kamu sabar menunggu ku ,sampai aku kembali.."Tutur nya ,Ia menunduk

__ADS_1


kata-kata barusan berhasil mengiris hatinya kala membayangkan taqdir tidak berpihak kepadanya.


"Jangan bicara seperti itu mas,"Hanna memprotes,sebenar nya ia juga mengerti apa yang ada di dalam pikiran calon suaminya saat ini.


__ADS_2