
Sudah siap,Beberapa menu sudah terhidang di meja makan berukuran sedang itu.
Tak..
Suara Hanna meletakan wadah terakhir nya di meja makan seketika membuat semua orang memandang nya ,Mereka seolah menanti Hanna untuk segera duduk dan memulai acara makan siang itu.
Lagi,tatapan mereka beradu .Buru-buru mereka memalingkan wajah nya.Malu,karena entah sudah berapa kali dua pasang mata indah itu beradu pandang.
"Fatimah lapar,"Suara lesu yang keluar dari bibir mungil itu berhasil memecah keheningan .Gadis kecil itu sedang duduk di samping sang ayah,sibuk memainkan sendok dan garpu di piring kosong yang berada di hadapan nya itu.
"Sini piring nya..!" Hanna menyodorkan telapak tangan nya di sambut dengan piring kosong yang Fatimah sodor kan kepada nya.
Setelah itu Hanna tampak sibuk menyodok nasi dari wadah ke piring lain nya.Tak lupa senyuman ia sematkan ,bibir dengan lipstik merah muda itu memang tak pernah lepas dari senyuman.
Bingung,kali ini tinggal piring Alvin yang belum di isi nasi.Hanna menunduk,ia tampak malu-malu ketika mengambil piring kosong yang telah Alvin sodorkan ke arah nya.Dengan susah payah ia menguasai tangan nya agar tidak terlihat gemetar.
Mereka semua mengerti ,namun mereka memilih diam dan malah asik memperhatikan gelagat dua pasangan dewasa yang terlihat masih remaja itu.
Sesuatu yang unik juga menggelikan mengingat sepasang tunangan itu sebelum nya pernah menikah dan tercipta Fatimah dari hasil hubungan nya.
"Terimakasih..!" Ucap Alvin sambil menerima piring yang sudah berisikan nasi tersebut.
Hanna hanya mengangguk ,ia terlihat serba salah dan sial nya adik,-adik nya sengaja memberi tempat duduk yang berhadapan dengan Alvin,hal semacam ini sudah tentu akan membuat nya tidak berselera untuk makan.
"Ayah kapan Fatimah sudah boleh ber do'a?"
Fatimah bertanya,ia masih tetap sabar menunggu orang dewasa memulai acara makan nya.
Disiplin,gadis mungil itu memang di latih Hanna sedemikian rupa untuk menghormati orang dewasa, dan hal itu berguna karena Fatimah sangat mematuhi peraturan yang sudah di terapkan ibunya.
"Sekarang sudah boleh sayang,berdo'a dan makan lah" Jeda Alvin.
"Selamat makan semuanya"lanjut nya.
Mereka bertiga tampak menyudahi makan nya.Sejenak mereka ingin memberi ruang kebebasan pada pasangan yang seperti baru menjalin kasih itu.
"Aku juga udah selesai.."Terakhir,Raisa lah yang bersuara.Ia berbicara sambil beranjak dari tempat duduknya.
Hanna dan Alvin menatap mereka tidak mengerti,
__ADS_1
Dan akhirnya mereka ber dua menyadari gelagat mereka ketiak Riana memberikan kode pada Putrinya yang masih asik mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulut nya."Fatimah apa makan nya sudah selesai,bibi punya oleh-oleh dari Singapura untuk mu ."panggil Riana,wanita itu sengaja menghentikan langkahnya sebelum menuju Ruang tamu.
"Ini yang terakhir bi,sebentar.!"
Fatimah memang selalu mengerti,Riana tampak menyunggingkan senyum usil ,kemudian pergi dari ruang makan tersebut dengan senyuman yang mengembang.
Hening,hanya dentuman sendok dan piring yang menghiasi ruangan itu setelah Fatimah menyudahi makan nya.
Sudah sekian lama Alvin menguasai degup jantung nya ,mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar bergetar.
Alvin mendongak sebelum mengucapkan sesuatu
deg...
Kembali mata itu saling berpandangan..
"Kamu terlihat sangat cantik,!"puji Alvin,mentatap mata Hanna lekat,meski dari kejauhan namun kata-kata tersebut sukses membuat Hanna salah tingkah.
Hanna menunduk ,pipinya bahkan sudah merah merona karena rasa malu yang menguasai hatinya,namun terlihat senyum tipis melengkuh untuk menetralkan keadaan.
Entahlah,entah kebahagiaan seperti apa yang efek nya membuat jantung Hanna memompa lebih cepat tidak seperti biasa nya.
Lagi ,Alvin bertanya kemudian kembali melanjutkan makan nya.
"Aku baik mas,bukan kah mas juga sering menghubungi ku di sana?
Aku tidak menyangka mas akan melalui masa pengobatan hingga secepat ini mengingat keadaan kaki mas yang sangat parah." Terang Hanna ,membalas tatapan Alvin yang masih setia memandang sambil mengunyah makanan nya.
"Bahkan bagiku ini terasa sangat lama,kamu apa tidak merindukan ku..?"
Hanna terdiam,tanpa di jawab pun seharusnya Alvin tau jawaban nya,pasal nya Alvin memang sering berkata seperti itu jika sedang nelpon.
Seolah tak pesuli,Hanna malah sibuk membereskan piring kotor bekas makanan dari meja nya.
***
Suar tawa sesekali terdengar dari ruang tamu.Mereka nampak asik memperhatikan juga membicarakan sepasang kekasih yang saat ini masih berada di meja makan.Tingkah,gelagat nya tidak jauh seperti orang yang baru memulai percintaan.Hal itu tentu saja membuat mereka gemas sendiri melihat nya.
Fatimah hanya senyum-senyum saja,ia mengerti kadang juga tidak .Ia lebih asik memainkan boneka Barbie yang Riana berikan kepada nya.
__ADS_1
"Aku tidak sabar ingin segera melihat mereka menikah ,biasa nya yang seperti itu akan menjadi pasangan teromatis di malam pertamanya."Ucap Riana di iringi cengiran.
Raisa terkekeh mendengar penuturan Riana,
"Bukan kah ini bukan yang pertama lagi bagi mereka,lihatlah ponakan tesayang ku sudah ada di dunia.."pelan nya .Sekelabat
khayalan muncul di otak mereka mencoba mencetak gambaran apa yang Alvin dan Hanna lakukan sehingga membuat Fatimah ada, namun kemudian mereka kembali tertawa bersamaan ketika melihat sikap Jaim yang mereka lakukan saat ini.
Pusat yang menjadi perbincangan telah datang ,tidak ada yang berani bersuara setelah nya .
Mereka malah asik memandang Alvin yang diiringi Hanna di belakang nya ,masih terdiam menantikan mereka untuk duduk bergabung bersama nya.
Baru saja mereka mendaratkan tubuh nya di sofa ,tiba-tiba Riana bicara.
"Sudah pada siap kan,?"Tanya Riana ,menatap Alvin dan Hanna secara bergantian.
Alvin terlihat bengong pasal nya di sini hanya dia yang tidak tahu apa-apa.
Menatap Hanna,mencoba mencari jawaban dari sorot matanya namun Hanna hanya mengedian ke dua bahunya sambil tersenyum.
"Maksud mu apa,,?" Bingung Alvin sambil menaikan satu alis nya.
"Nikah..!"
"Nikah..,?"Reflek Alvin mengulangi kata yang Riana ucapkan dengan nada sedikit ditinggikan.
Alvin tentu saja kaget,selama ini ia hanya fokus mengobati kakinya dan rencana pernikahan ,ia akan membahas nya nanti dengan Hanna setelah sembuh.
"Iya ,Dua Minggu lagi siap kan?"Riana memperjelas kata-katanya tadi.
"Bagaimana bisa,waktunya tidak akan cukup"
"Sudah tidak perlu di pikirkan lagi kak,tinggal kakak bersiap saja ..Masalah resepsi pernikahan sudah kami atur semua nya "Ujar Riana begitu enteng.
Tidak ada kata lagi yang Alvin ucapkan setelah nya,
Ia hanya menatap Hanna menyiratkan bahwa dirinya hampir tak percaya akan kembali menyentuh juga memiliki Hanna seutuh nya .
Mata nya berkaca-kaca menahan haru ,berharap waktu bisa berputar lebih cepat menuju dua Minggu yang saat ini di nantinya...
__ADS_1