ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
UJIAN MENUJU PERNIKAHAN


__ADS_3

"Masyaallah Umi ,datang ke sini kok


ga bilang-bilang"Ungkap Hanna ,


Ia menggenggam tangan yang sudah mulai mengeriput dan menuntun nya dengan sangat lembut hendak masuk kedalam .


Hanna memang menyebut Mirna dengan sebutan Umi,alasan nya karena ia ingin menggantikan sosok umi yang sudah lama tiada.


"Lho,memangnya Dave ga bilang dulu,nduk?"


Celoteh Mirna terdengar antusias.


wanita paru baya itu tampak meletakn tas jinjingnya di meja kemudian memerosotkan tubuh dengan lutut yang sering terasa sakit itu di sofa.


"Tidak umi,"Hanna menanggapi dengan gelengan kepala ,tangan nya sibuk mengambil alih oleh-oleh yang masih di tenteng Hilman ketangan nya.


"Ayo ,silahkan duduk pak,"Hanna mempersilahkan Hilman dengan sangat ramah ,tak lupa senyuman manis ia sematkan di tengah-tengah ucapan nya barusan.


"Hanna permisi dulu ya ,mau di buatin minuman apa Pak,mi,?"Tanya Hanna.


Posisinya masih mematung ,menatap kedua paru baya yang sedang duduk di atas sofa secara bergantian ,menunggu kata apa yang akan mereka jawab selanjutnya.


"Jangan ngerepotin nduk ,udah air putih aja,"


Mirna berujar,mata nya menatap Hanna dengan pancaran kasih sayang,tentu membuat mata wanita itu berkaca-kaca .


Pasal nya ia sudah lama tidak menemukan mata yang memancarkan aura kasih sayang tersebut.


"Tidak kok mi,sama sekali tidak merepotkan .


Ayo mau di buatin minuman apa,?"


Sanggah nya ,tak lupa tawaran itu kembali ia ucapkan karena merasa tidak puas dengan jawaban Mirna barusan.


"Jus jeruk aja ,nduk"


Kali ini Hilman yang bersuara,setelah mengingat Hanna masih belum juga beranjak dari posisinya.


"Tunggu sebentar ya,Hanna buatkan dulu jus nya."Setelah mengucap kan kalimat tersebut ,Hanna beranjak pergi menuju dapur


hendak membuatkan jus jeruk yang Hilman pesan barusan.


Sebelum pergi ia sempat tersenyum pada Hilman ,mengingat jus jeruk masih menjadi minuman pavorit pria paru baya itu.


Dengan sangat cekatan Hanna meraih gagang pintu kulkas kemudian mengambil beberapa buah jeruk di dalam nya.


Setelah nya ia di sibukan dengan beberapa aktivitas lainnnya.


Seperti memotong cake yang belum lama ini ia buat .


***


Hanna datang dengan dua gelas jus jeruk bersama beberapa potong bolu gulung di sebuah nampan.


Ia menyodorkan gelas juga piring berisikan bolu tersebut di atas meja.

__ADS_1


"jus nya ,pak"Ucap Hanna .


Kali ini ia menyodorkan gelas tersebut ke arah


Hilman.


setelah itu ia mendaratkan tubuh nya di atas sofa ikut bergabung dengan Orang tua angkatnya.


"Umi kesini sama siapa,?"


Tanya nya kemudian setelah membenarkan posisi duduk nya yang ternyaman.


Terlihat ,Mirna masih asik meneguk jus jeruk yang di suguhkan nya barusan.


"Sama Dave,"Jawab nya sambil meletakan gelas tersebut di tempat semula .


"Dave,?"Hanna bertanya seolah meyakinkan,satu alis nya ia angkat sedikit menandakan tidak mengerti dan masih butuh penjelasan atas jawaban Mirna barusan.


Satu kata tersebut mewakili dua pertanyaan sekaligus.


"Iya Dave,!"Hilman membenarkan ,namun masih juga belum ada penjelasan atas pertanyaan yang ia utarkan.


"Kok gak mampir ,kenapa?"tanya Hanna akhirnya setelah lama belum juga belum ada jawaban atas pertanyaan yang sempat ia ucapkan.Merasa penasaran ,pasalnya ia sudah lama tidak bertemu dengan pria yang dulu sering menemuinya itu.


"Alasan nya ada urusan sama teman-teman ,tapi umi fikir ia malu bertemu sama kamu,nduk"Jawab Mirna terang-terangan.


Ia sebagai orang tua tentu tahu jika anak nya sedang berbohong atau tidak .


Sebelum nya gelagat Dave memang sudah Mirna curigai.


Ternyata Hanna masih belum mengerti akan uacapan mirna barusan ,Itu memang terdengar sangat konyol di pendengaran Hanna,mengingat ia dan Dave sudah seperti adik kakak.


"Ini beda lagi nduk,"jawab Mirna mengandung teka teki di fikiran Hanna..


"Maksudnya gimana ,mi?"


Tanya Hanna mencoba mencoba memecah teka teki yang saat ini membuncah di dalam Fikiran nya.


Mirna menghadapkan posisi nya agar bisa menatap Hanna jelas.


Tak lupa kedua tangan nya ia letakan di lengan Hanna seolah mau mengatakan sesuatu yang teramat penting untuk Hanna ketahui.


"Dave sudah memilih wanita untuk di nikahi ,nduk!"Mata wanita paru baya itu berkaca-kaca.


Dari cara pandang nya sudah jelas,air mata yang sebentar lagi akan menetes itu adalah air mata haru seorang ibu.


"Dan Umi bahagia,"tambahnya,kini air mata itu menetes dari sumber kedua nya.


Hanna tersenyum tulus ,Dave usia nya sudah seumuran Alvin ,namun rupa nya pria itu masih suka mempermainkan wania dam sepertinya tidak pernah memiliki hubungan serius yang akan di bawa ke jenjang pernikahan .Kabar tersebut tentu saja membuatnya bahagia.


"Alhamdulillah ya mi ,Hanna ikut senang dengar nya."ungkap Hanna .


kali ini tangan lembut itu mengusap air mata yang membasahi wajah yang sudah keriput itu.


"Jadi kapan Dave akan menikah,?"tambahnya.

__ADS_1


"Keputusan ada di tangan mu nduk ,


kau yang akan menentukan nya."


Jawaban Mirna berhasil menghentikan aksinya saat ini.


Hanna telah berhasil mencerna kata-kata wanita yang di panggil nya umi barusan.


"Maksud umi,?"Hanna kembali meyakinkan pemikiran nya barusan,ia masih berharap ada jawaban yang berbeda dari Mirna dengan pemikirn yang saat ini berputar di kepala nya.


"iya ,Dave mencintai mu,nduk.


Kamu mau kan menikah dengan anak nya umi.?"jawaban dengan pertanyaan barusan


membuat Hanna lemas .


Mirna melepas pegangan nya ,kemudian meraih tas jinjing yang tadi sempat di letakan nya.


Ia mengeluaran kotak cincin kemudian membuka nya .


Cincin berhiaskan permata tampak setelah kotak itu di buka.


"Cantik kan nduk,?"tanya Mirna.


"kamu suka engga,?"tambahnya lagi.


Hanna menatap cincin tersebut dengan pandangam sedih ,pasal nya ia bingung harus menjawab pertanyaan semangat dari mirna.


"Canti mi,"ucap nya lemas.


Demi apapun ia tidak mau membuat waniat yang di panggilnya umi tersebut kecewa.


Ia tidak tega membiarkan air mata wanita yang di sayanginya itu menetes apalagi atas kesalaha nya.


Dengan bersemangat Mirna menyematkan cincin tersebut di jari manis Hanna.


Ia tersenyum bahagia kala cincin itu telah terpasang begitu sempurna di jari indahnya .


Sementara Hanna ,wanita itu hanya bisa pasrah.


Untuk saat ini tidak tahu apa yang akan dirinya perbuat.


****


Masyaallah ,terimakasih sekali untuk kakak kakak ku yang masih setia nunggu up nya walau pun lama .


Terharu tau kak ,padahal aku telah buat kalian kecewa tapi tetep aja setia nunggu lanjutan nya


Tidak bermaksud membuat kakak kakak menunggu lama ,namun gimana lagi.


Ini sengaja aku up dua bab mumpung hp masih baik..


maaf banget dari aku ya kak..


Insyaallah bentar lagi Happy ending ,cuman ada beberapa part Falshback yang sempat di loncat.

__ADS_1


Do'a ini ya mudah-mudahan ini cepet tamat


__ADS_2