
Tatapan nya kosong ,ia jatuh ambruk saat lutut nya tidak lagi mampu menopang beban tubuh nya ..
"Ini tidak mungkin" Ucap nya pelan,namun suara nya masih terdengar di telinga Fatimah yang sedari tadi memperhatikan nya .
"Bunda .. apa yang terjadi?" Gadis polos itu bertanya khawatir ,melihat keadaan sang ibu setelah menelpon ayah nya,tidak bisa di pungkiri sesuatu pasti sudah terjadi,ia berjalan menghampiri sang ibu kemudian memegang lengan ibunya lembut.
Pertanyaan Fatimah sejenak membuyar kan lamunan nya,ia menatap gadis kecil yang sedari tadi menunggu ayah nya..
"Bunda ,apa yang terjadi?"
Fatimah kembali mengulangi pertanyaan nya saat Hanna masih belum juga menjawab nya.
Tangis Hanna pecah,ia sungguh tidak bisa menahan beban apa yang baru saja di dengarnya.
"Ayah.. kecelakaan sayang"
Hanna ambruk,memeluk Fatimah mencoba memberikan pertahan pada anak gadis yang tubuh nya mulai melemas ..
Gadis kecil itu pingsan di pangkuan sang ibu,air matanya sesekali merambat mengalir di sudut mata nya ..
"ayah.." racau nya pelan
"Ayah jangan tinggalin Fatimah lagi"
mata gadis itu masih dalam keadaan terpejam.
Hanna menggeleng kan kepala nya pelan ..
"Tidak nak,ayah mu pasti baik-baik saja,jangan seperti ini nak,bunda mohon. "
Ucap nya sambil memeluk tubuh mungil itu erat..
Hanna melirik kesana kemari ,mencoba mencari pertolongan.perasaan putri nya hancur harus nya ia sebagai ibu kuat menghadap nya ..
Tubuh lemas Hanna mencoba mengangkat badan Fatimah,ia hampir tak kuat mengingat hati yang sama hancur nya dengan Fatimah.
"Bangun nak ,bunda mohon" ia berucap di iringi deraian air mata.
Kini tubuh mungil itu sudah terbaring di sopa ruang tengah .
Ia memandangi putrinya.. Kejadian kemarin seolah membekas dalam ingatan nya.
"Ayah ,Fatimah ingin memeberi kesempatan pada ayah ..
Ayah boleh melamar bunda satu kali lagi"
Putriku telah memberi kesempatan untuk mu,apa kau benar-benar tidak mau lagi hidup bersama ku .
"Maafkan aku mas"
Racau nya sambil meringis menahan sakit di hatinya ..
"Ayah.."
Gadis mungil itu telah sadar ,beruntung pingsan nya tidak berlangsung lama.
"nak ,kamu baik-baik saja,kita kesana ya sekarang.. kita lihat bagai mana keadaan ayah " Ujar Hanna sambil membantu putrinya berdiri..Ia mengambil tas jinjing nya kemudian pergi..
***
Air mata merambat di pipi Hanna terbawa deras nya air hujan..
Beberapa polisi tampak sibuk mengurus jenazah,sementara beberpa ambulance entah sudah berapa unit mobil yang berlalu lalang datang kemudian pergi..
__ADS_1
Banyak darah yang mengalir bercampur deras nya air hujan ,belum lagi tangisan histeris keluarga menambah keadaan semakin mengerikan .
Ibu dan anak itu berjalan gontai menghampiri mobil yang di yakini punya Alvin,
Hanna jatuh bersimpuh kerika melihat sebuket bungat telah rusak , tergeletak tak jauh dari mobil nya.
"ayah...."Sedari tadi Fatimah belum juga berhenti menangis memanggil manggil sosok ayah nya .
Hanna mengambil bunga tersebut kemudian memeluk putrinya.
"Yang sabar ya nak,tenang kan dirimu ayah mu pasti baik-baik saja"
"Nona apa yang punya mobil ini keluarga anda?"Tanya seorang petugas yang letak nya kini tak jauh dari Hanna .
Hanna beranjak..
"Iya pak ,iya..
beliau salah satu keluarga saya,
Apa dia baik-baik saja?"tanya Hanna tak sabar .
"Beliau salah satu korban terparah yang berhasil selamat ,baru beberapa saat yang lalu
korban di bawa ke rumah sakit"
jelas nya terkesan menguat kan .
"Baik pak saya pergi ,Terimakasih banyak "
ucap Hanna menahan tangis kenudian pergi.
"Bunda,ayah..." Suara itu kembali terdengar merengek,menambah kesengsaraan dalam hati Hanna.
ayah mu pasti baik-baik saja" Ucap nya menenangkan ,lain lagi dengan hatinya yang semakin gelisah .
Langkah mereka di percepat menuju salah satu meja pendaptaran.
"permisi..
pasien kecelakaan beruntut ditangani di ruangan mana?"
Tanya Hanna buru-buru,ia ingin segera memastikan keadaan Alvin bagaimana.
"Saat ini pasien sedang di tangani dokter, mohon tunggu sebentar ya mbak!"
Jawab seorang wanita sambil menunjuk sederetan kursi yang letak nya tidak jauh dari sana.
"Baiklah ,terimakasih" jawab Hanna kemudian menuntun Fatimah pergi.
Gadis kecil itu menggigil kedinginan .
Hanna menatap baju basah yang di kenakan putrinya.
"Tunggu di sini,bunda keluar sebentar ya.."
Hanna pergi setelah memberi intruksi.
Tidak berapa saat,Hanna datang dengan baju di tangan nya,ia menarik tubuh mungil itu ke kamar mandi hendak memakai kan baju yang baru saja di beli nya .
"pakai ini nak ..Bunda tidak mau kau sakit"
ucap nya ..
__ADS_1
Bibir yang mulai pias itu bergetar ,mengucapkan terimakasih pada ibunya.
"Terimakasih bunda.." ucap bibir mungil itu kemudian meraih baju yang di sodorkan oleh ibu nya .
Tangis kedua nya kini telah berhenti ,mereka berjalan ke tempat yang pernah di tunjukan petugas kembali.
Rupanya beberapa keluarga korban telah memenuhi ruangan itu.
"Fatimah.. apa ada seorang yang bernama Fatimah," Seorang perawat tampak berbicara setengah berteriak sambil memperhatikan beberapa orang yang sedang duduk berjajar di ruang tunggu.
"Saya kak ,saya Fatimah"
Fatimah sedikit berteriak sambil berlari menuju perawat yang sedari tadi memanggil nya. Sementara Hanna hatinya sedikit lega ,rupa nya seorang yang di khawatir telah sadar .
"Sini sayang " perawat itu meraih tangan mungil Fatimah kemudian menuntun nya masuk kedalam ,seketika menghilang dari pandangan Hanna.
Fatimah berjalan pelan di iringi perawat yang sedari tadi menuntun nya ..
Ia melirik kesana kemari ,memperhatikan satu persatu wajah yang kini sedang terbaring lemah ..
deg...
jantung nya hampir saja copot ketika mengenali siapa yang saat ini di pandang nya .
"ayah.." ucap nya pelan.
Air mata yang sedari tadi telah berhenti menetes ,kini kembali meluncur tanpa paksaan saat melihat keadaan ayah nya sekarang .
Kepala Alvin di bungkus perban yang kini berwarna orange menyeluruh .
Beberapa bagian tubuh nya tampak di pasang selang kebagian alat yang Fatimah tidak mengerti apa fungsinya.
Sejenak nafas nya tertahan .
"Ayah.."
Ia menangis tertahan,kemudian memeluk tubuh kurus ayah nya pelan .
"Ayah jangan tinggalin Fatimah"
ucap nya berbisik di telinga sang ayah .
"Ayah mu pasti baik-baik saja, sedari tadi ia memanggil namamu" perawat yang memperhatikan gadis kecil itu berkata hampir menangis,jika harus jujur ia salut dengan gadis kecil itu yang bersikap memahami sang ayah ..
"Ayah .. cepat lah sadar
ayah masih punya janji sama Fatimah"
Fatimah berucap sambil menghapus sisa air di mata nya ,seolah yang kini terbaring lemah itu mendengar setiap apa yang di ucap kan nya.
***
"Maafkan jika setiap bab nya selalu menguras air mata ,jika harus jujur author tidak terlalu pandai mengarang cerita bahagia ..
fikss.. di sini yang baca novel author kemudian menangis. berarti itu menandakan hati kalian masih sangat lembut ..
Jika ada yang tidak suka out saja ,tidak usah komen negatif ,itu menjadi kan semangat author untuk menulis berkurang,.. "
hargai karya author dengan
like .. like .. like..
vote nya juga jangan lupa ya..
__ADS_1