ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
AYAH AKAN BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

Mata Hanna mengawasi dua wanita yang barlari melembai-lembai tangan nya dari kejauhan .


"kak..kak Hanna.."panggil suara yang sudah tak asing lagi di pendengaran Hanna setengah berteriak.


"Gimana keadaan kak Alvin?" Raisa bertanya dengan nafas yang masih terdengar ngos ngosan.Ia memegang tangan Hanna panik,raut kekhawatiran benar-benar terlihat sangat jelas di ke dua wajah mereka yang baru saja tiba.


Hanna menggelengkan kepala nya pelan,bercak bening kembali muncul di kedua bola mata nya ,ia nyaris menangis ketika seseorang bertanya akan keadaan seorang yang dia sendiri belum tahu bagaimana keadaan nya sekarang.


"Kakak tidak tahu" permata itu kini telah mencair merambat pelan menyapu pipi putihnya.


Ia berhambur memeluk Raisa kemudian menangis sejadi-jadinya.


Diruang pemeriksaan..


"Ayah tahu,bunda sangat mencemaskan mu,


ku mohon bangun lah,jika ayah tidak mau kami mengkhawatirkan mu"


mulut mungil itu berbisik tepat di telinga Alvin .


Fatimah menghapus pelan air mata yang merambat di pipinya,ia benar-benar berusaha menahan tangis saat berbicara dengan ayah nya .


Fatimah mendongak menatap perawat yang sedari tadi memperhatikan nya.


"Bukan kah tadi ayah memanggil namaku,


sekarang kenapa ayah tidak mau menjawab perkataan ku" Fatimah bertanya sambil menatap wajah mulus itu..


wanita itu tersenyum kemudian berjongkok,mensejajarkan tinggi nya dengan tubuh Fatimah .


"Mungkin ayah mu sedang tidur"


Bohong nya sambil mengusap sisa air mata yang tertinggal di pipi Fatimah.


"Tapi ayah akan baik-baik saja ,bukan kah begitu kak?"


tanya nya lagi,jiwa yang tidak terlalu polos itu sebenar nya cukup mengerti dengan perkataan perawat itu..


"Asalkan Fatimah rajin berdo'a ,ayah mu pasti baik-baik saja." Jawab nya seraya tersenyum .


Fatimah membalikan badan nya ,menatap setiap inci wajah keterlukaan ayah nya ,


kemudian mencium pelan pipi sang ayah hati-hati.


"Ayah jangan lama-lama ya tidurnya,ayah sudah janji akan membawa Fatimah pergi jalan-jalan."Ujar nya saat mengingat perkataan sang ayah padanya terakhir kali.


Sesaat ia terdiam mencoba menahan tangis yang ingin ia lepas dari dadanya.


Suara itu berhasil di tahan ,namun rasa sakit kemudian menjalar di hatinya,


Air mata itu jatuh tanpa menunggu persetujuan nya.


Ia menangis sambil memeluk ayah nya tak rela.


"Ayah,jangan tinggalkan Fatimah"ucap sambi memegang dada nya kuat.


"Aku sudah memberi kesempatan untuk melamar bunda satu kali lagi,apa ayah tidak mau menggunakan kesempatan itu.

__ADS_1


Katakan ayah ,bukan kah ayah masih sangat mencintai bunda"ucap nya dengan nafas sesenggukan .


"Aku baru saja benar-benar merasakan mempunyai seorang ayah ,ku mohon ayah bangun lah."racau nya melemah .


Aktivitas semua petugas yang mendengar ucapan Fatimah seketika terhenti,mereka menatap tubuh mungil yang sedang memeluk ayah nya itu penuh rasa iba.


Mereka tidak tega mengingat keadaan ayah nya sangat buruk.


"Ayah,jangan tinggalkan Fatimah lagi"


Tambah nya ,tubuh itu masih setia memeluk tubuh kurus sang ayah seolah tidak mau melepaskan nya.


Seorang dokter menatap wanita yang kini berdiri tepat di belakang Fatimah kemudian menggukan kepala nya ,mengisyaratkan untuk membawa Fatimah keluar dari ruangan.


"Sudah ,sudah...


Ayah mu harus di periksa lagi sama dokter,


Fatimah keluar dulu ya sayang!"


Wanita itu menarik pelan lengan Fatimah.


"Lakukan yang terbaik untuk ayah,Fatimah mohon." Fatimah mendongak menatap mata wanita itu sambil menghapus sisa air di matanya.


"Ayah mu akan baik-baik saja jika kamu rajin berdo'a" ujar nya ,kali ini mereka berjalan,hendak meninggalkan ruangan tersebut..


Gadis mungil itu berjalan ,namun seketika langkah nya terhenti ketika melihat sang ibu menangis di pelukan bibinya.


Ia hanya terdiam,memandangi sang ibu yang sama rapuh nya dengan dirinya..


"Fatimah.."Suara Adel seketika membuat Hanna terperanjat ,ia memandang wajah Fatimah kemudian menarik guna mendekat dengan dirinya.


luka nya apa sangat parah,


ayah mu apa baik-baik saja ?"


cecernyaa sambil manatap lekat mata putrinya.


"Ayah baik-baik saja ,bunda jangan khawatir"


Fatimah berbohong ,tentu saja .


Ia tentu tidak ingin menambah luka pada hati rapuh ibunya.


"Apa ayah mu mengatakan sesuatu pada mu?" tanya Hanna sambil membulat kan mata nya.,berharap putrinya mengatakan hal jujur mengenai keadaan mantan suaminya.


Gadis kecil itu menggeleng kemudian merenggang kan tangan nya ,ia hendak memeluk sang ibu.


Jika harus jujur jiwa rapuh nya sungguh saat ini sedang membutuh kan seseorang untuk menguatkan hatinya.


"kau berbohong nak sama bunda "Batin Hanna meratap.Ia meraih tubuh mungil itu kemudian membekap kepala Fatimah di dadanya.


"Ayah akan baik-baik saja bunda"Ucap mungil itu menenangkan,namun tangis nya malah pecah di pelukan sang ibu..


Hanna diam terpaku,tidak ada yang hendak ia katakan.


Anak gadis nya pasti sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi .

__ADS_1


Baru saja ia merasakan kasih sayang seorang ayah ,namun jalan hidup nya seperti ini.


Mau tidak mau ia harus menyaksikan keadaan ayahnya yang kini akan berjuang antara hidup dan mati.


"Ayah akan baik-baik saja bukan,mengapa kamu menangis?" Hanna bersuara sambil melepaskan pelukan putrinya .


Ucapan Hanna seketika membuat tangis Fatimah berhenti ,ia terdiam nampak nya sedikit berfikir .


Alvin pov.


Aku hendak membuka mata,namun rasa nya mengapa susah sekali.


parah nya tubuh ku tak bisa bergerak sama sekali.


Tuhan,sebenar nya apa yang sudah terjadi?


Akhir nya aku ingat,tadi siang


aku akan pergi ke rumah Hanna,


kemarin putriku memberi kesempatan satu kali lagi untuk melamar bunda nya.


Rencana ku tadi siang hendak melamar Hanna.


Namun,oh ya ampun.. Aku mengalami kecelakaan .


"Fatimah"


Aku panggil nama putriku sampai beberapa kali,hingga akhir nya suara keributan terdengar.


"Dokter..dokter,pasien memanggil nama seseorang" Aku mendengar jelas suara wanita yang sama sekali tidak aku kenal .


Aku mengerti ,rupa nya saat ini aku sudah berada di rumah sakit .


"Cari keluarga pasien yang bernama Fatimah di luar ,semoga saja bisa membantu kesadaran nya" kali ini yang berucap seorang pria.


Tidak berapa lama ,terdengar suara seorang yang ku cintai memanggil nama ku ,yah..


suara itu adalah suara putriku,


Fatimah.


"Ayah jangan tinggalkan Fatimah" bisik nya di telinga ku.


Aku hendak menjawab ,namun apa daya ku lidah ku kelu..aku tidak bisa berbicara sepatah katapun untuk menenangkan hati putriku.


"ayah sadarlah,ayah masih punya janji sama Fatimah" tangan kecil itu terasa melingkar di pinggangku .iya.. Gadis kecil ku menagih janji yang kemarin sempat ku ucapkan.


"Ayah tahu,buda sangat mencemas kan mu,ku mohon bangun lah jika ayah tidak mau kami mengkahawatirkan mu"


Ingin rasa nya ku memeluk putriku ,memberikan ketenangan untuk nya


namun apa,aku hanya pasrah mendengarkan bisikan-bisikan Fatimah di telinga ku.


***


jangan lupa untuk selalu memberi dukungan.

__ADS_1


hargai karya author dengan cara mengacungkan jempol kalian .


kalo bisa vote nya juga ya.


__ADS_2