ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
BERTEMU BELLA


__ADS_3

koridor rumah sakit tampak ramai dengan raga-raga lemah yang sedang ikhtiar mencari kesembuhan.


Meringis menahan sakit ,sepertinya mereka menunggu antrian atau nama nya di sebut di pendaftaran bersama keluarga yang telah setia menemaninya.


Beberapa kali Alvin melepas tongkat nya ,melatih kaki nya untuk berjalan sesuai dengan arahan dokter di temani Riana yang kepala nya telah di balut dengan jilbab berwarna moca.


Gadis itu nampak telaten mengajar kan kakak nya berjalan seolah sedang melatih anak kecil yang baru bisa berdiri.


"Ayo kak,semangat ..!" Riana menyemangati memperhatikan dari jarak lima meter bagaimana cara Alvin berjalan tanpa sebuah tongkat yang selama ini di pakai nya.


"Sebentar lagi aku sudah boleh pulang," gumamnya di iringi senyum bahagia yang memancar dari pipinya.


Alvin dengan semangat berlatih,membiasakan kaki nya yang masih kaku.


"Kakak sudah bisa dikatakan sembuh,tapi pasti masih kaku karena kaki kakak sudah lama tidak di gunakan untuk bergerak."Terang Riana sambil menyodorkan sebuah botol berisikan air untuk di minum kakak nya.


Alvin langsung menyambar nya kemudian meminum air tersebut sampai habis setengah nya.


Satu minggu ini bibir Alvin terus merekah tanpa Riana tahu sebabnya.


Bulu kuduk gadis itu kadang merinding melihat tingkah aneh kakak nya sekarang-sekarang.


"kakak kenapa sih senyum terus,?"Riana berjalan mensejajarkan dirinya dengan Alvin ke arah taman Rumah sakit.


Alvin melirik Riana kemudian tersenyum.


Tentu saja senyum yang membuat gadis itu penasaran"emhh..Rahasia..!"ucap nya membuat Riana memutar bola matanya malas.


Tingkah Alvin tidak ada bedanya seperti gadis remaja,membuat Riana bergidik karena geli melihatnya.


"Kakak hanya membayang kan bagaimana nanti kalau ketemu Hanna sama Fatimah."


Ucap nya sambil tersenyum,bisa di simpulkan senyum membanggakan diri.


"Bekas luka kakak masih ada ,loh,"ucap Riana reflek membuat tangan kiri lelaki itu menyentuh bekas luka nya."Tiga kali lagi perawatan juga ini akan hilang."ucap nya optimis namun terdengar tidak bersemangat.


Riana melirik Alvin tak tega ,namun hanya terdiam memilih duluan duduk di bangku taman itu."Kata siapa kak,.?"Tanya nya saat Alvin telah duduk di sampingnya,namun mata gadis itu memandang lurus kedepan.


"Kata dokter nya,"ucapnya begitu yakin.


"Sekali pun wajah kakak hancur,tetap saja kak Hanna akan mencintai kakak .


Iya kan,?" Riana berterus terang dan bertanya memandang Alvin sekilas kemudian kembali mengalihkan pandangan nya.


"Kakak ingin memberikan nya yang terbaik,"sanggah nya sambil tersenyum.


Mata nya berkaca-kaca namun buru-buru ia menarik napas mencoba membuang perasaan yang barusan sempat menyeret hatinya.

__ADS_1


"Ya sudah ,latihan lagi sana..!"perintah Riana.


Tak lama setelah itu Alvin berdiri berlatih seperti yang di peritahkan adik nya.


Pria itu begitu bersemangat untuk sembuh,maka tak heran pulih nya sedikit lebih cepat dari waktu yang sudah di perkirakan semua dokter yang merawat nya.


***


Di sebuah ruangan ,telah terpasang patung yang di balut dengan gaun pengantin putih lengkap dengan selendang sebagai penutup kepala.


Hanna menatap gaun rancangan yang di kerjakan nya selama tiga bulan itu dari atas sampai bawah.Meneliti setiap inchi gaun itu kalau-kalau ada sesuatu yang kurang.


"Ini sudah sempurna ,kak..!"Ucap Raisa yang ikut serta meneliti gaun tersebut dengan takjub .Wanita itu menyentuh meraba-raba kain yang telah kakak nya pilih..


"Kain nya berat ya ,kak?,Tapi kalau di pake nyaman kayanya,"Raisa menambah ucapan,berbicara sesuai dengan penilaian nya.


"Bunda ini untuk siapa,?"


Fatimah yang masih mengenakan seragam merah putih itu bertanya saat melihat gaun kecil seukuran tubuh nya dengan potongan yang sama seperti gaun yang kini telah asik di teliti Hanna dan Raisa.


Reflek mereka menoleh ke arah Fatimah,senyum kemudian mengembang dari bibir kedua nya"menurut mu ,untuk siapa?"bukan sebuah jawaban melainkan pertanyaan yang keluar dari mulut Ibunya


"Baju nya seukuran ,apa baju sebagus ini untuk Fatimah,,?"Tanya begitu antusias.


Sementara Hanna ,wanita itu mengangguk mengiyakan kata-kata Fatimah barusan.


Fatimah menghampiri Hanna ,kenudian memeluk nya dengan manja.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu dari liar membuat Fatimah melepaskan pelukan tersebut.


"Masuk" begitu Hanna bersuara tak lama seorang karyawati muncul di balik pintu tersebut."Ada apa Luna,?"Seketika Hanna bertanya.


"Ada tamu kak,"


"Apa sudah di persilahkan masuk,?"


Raisa bertanya sambil melangkah kan kaki nya melewati Hanna begitu saja.


"Sudah kak,aku menyuruh nya untuk duduk di ruang tunggu.."Jawab nya sambil mengikuti langkah kaki Hanna.


"Kamu lapar ,sayang..?"Hanna bertanya setelah mereka berdua menghilang di balik pintu ruangan nya.


Fatimah mengangguk mengiyakan "Mau makan di rumah atau di restoran,?"Tanya Hanna lagi sambi berjongkok menatap mata Fatimah yang sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan nya.


"Pulang aja,yu..!"Ajak nya.

__ADS_1


"Baiklah kita pulang,kita makan terus tidur..!!"Ucap Hanna sambil berdiri,meraih tangan putrinya kemudian pergi.


Di ruang tamu,Raisa sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita juga gadis belia se umuran putrinya.Sayang nya posisi mereka sedang membelakangi jadi Hanna tidak bisa melihat persis seperti apa wajah wanita itu.


"Raisa kakak pulang du.."Ucapan Hanna mengatung kala melihat siapa wanita yang kini memandang nya .


deg..


Mata mereka saling mengunci satu sama lain.


pun Bella ,wanita itu terlihat begitu syok siapa yang dilihat nya saat ini.


Sekian lama belum ada percakapan di antara mereka,namun air mata ..


Air mata telah mewakili,mereka masih mengikuti arah pikiran nya masing-masing.


"Mbak.."Bella bersuara sambil membuang mukanya ,menghapus air mata yang berhasil meluncur di pipi tanpa persetujuan nya.


Hanna menunduk,ia masih belum menemukan kata yang pas untuk di ucapkan nya.Raisa memilih pergi,sementara Mala gadis itu menatap ke dua nya tidak mengerti.


Mereka akhir nya menyalami satu sama lain,


"Kita perlu bicara mbak.."Lirih Bella sambil berdiri setelah meraih tas jinjing nya.


Bella masih saja terdiam..


pikiran nya menerka-nerka bahwasan nya saat masih menjadi suaminya,Alvin telah mengunjungi "Fatimah butique"itu bersama putrinya.


"Pantas saja saat itu mas Alvin berpenampilan begitu rapi tanpa mau mengajak ku.


pantes saja mas Alvin dulu bertanya mengungkit kematian mbak Hanna yang sudah lama,nyatanya ia telah bertemu tanpa memberi tahukan kepadaku."Bella masih berbicara di dalam hatinya.


"Apa kabar mbak selama ini,?"Bella membuka suara nya ,sementara dua gadis itu masih asik menunggu makanan yang telah di pesan nya.


"Seperti yang kamu lihat ,aku baik-baik saja."


Untuk itu hanya kata itu yang mereka ucapkan."Kamu sendiri bagaimana,?"


Bella menyungging kan sudut bibirnya,tersenyum malas mengingat selama ini tidak ada kebaikan yang ia temukan dalam hidup nya kecuali sekarang-sekarang"


Percakapan mereka terhenti ketika Seorang pelayan datang bersama pesanan nya , ke dua putrinya tampak antusias menerima pesanan tersebut mereka seolah tak sabar untuk menikmati makanan nya.


"Fatimah makan yang banyak ya ,bunda mau bicara dulu sama mami nya Mala,"Hanna beranjak dari duduk nya meraih es teh manis menuju kursi lainnya yang kebetulan masih banyak yang kosong.


Di ikuti Bella dari belakang nya.


Mereka duduk memposisikan tubuh ter nyaman nya di sebuah kursi yang letak nya sedikit jauh agar anak-anak tidak mendengar perckapan nya.

__ADS_1


"Hidup ku jauh dari kata baik ,mbak..!"


Lirih nya pada Hanna,namun pandangan nya masih lurus menerawang ke depan dengan tatapan kosong.


__ADS_2