
Cahaya matahari sudah berubah menjadi kemerah-kemerahan menandakan hari sudah beranjak petang .Langit Singapura kali ini terlihat biru terang di dominasi dengan warna awan yang di hiasi cahaya matahari itu sendiri menambah kesan keindahan di mata siapa saja yang menyaksikan kuasa Tuhan itu.
dua bocah kembar se umuran Fatimah telah memakan sebuah es cream vanila yang baru saja di belikan pria paru baya, telah berjalan asik bersenandung ria di hadapan mereka sambil menyendoki es cream yang berada di tangan nya itu.
Bibir Alvin sedikit melengkuh,ketika sebuah bayangan melintas dalam pikiran nya namun tak lama setelah itu ia mendesah kecewa.
fiuhh...
Desahan Alvin yang setiap hari semakin terlihat gagah itu terdengar di telinga sang adik.Tampak nya pria yang di pangggil kakak itu tidak begitu menikmati keindahan sore ini.
"Kakak,mau es cream?,"
Pertanyaan itu melesat setelah cukup lama Riana memandang Alvin yang masih belum berpaling dari dua gadis yang telah memakan sebuah es cream ,padahal mereka semua telah menjauh dari pandangan nya itu..
Tidak ada jawaban dari Alvin .
Bibir nya masih terlihat cemberut saat ia belum mendapatkan jawaban atas keresahan yang melanda nya setelah sepuluh hari terakhir ini.
Riana tentu saja tahu .Kabar kakak ipar nya yang membuat Alvin sedari ia datang masih belum selesai mengoceh menanyakan keadaan Hanna dan putrinya.
"mereka baik-baik saja,"sudah Riana jawab ,namun Alvin masih belum selesai mempertanyakan alasan Hanna mematikan ponsel juga tidak menghubunginya.
Hal itu telah membuat Riana kalangkabut,kesusahan menemukan alasan apa yang pantas untuk di dengar kakak nya.
"Kakak mau pulang saja kalau kamu belum memberi tahu alasan Hanna tidak mau berkomunikasi dengan ku,"Gumam nya lirih .Pandangan nya ia palingkan layak nya seorang yang telah menyembunyikan sesuatu dari pandangan adiknya.
Sekilas Riana masih bisa menangkap sorot mata kerinduan yang di baluri lapisan bening di kedua bola mata sang kakak,membuat hatinya meringis seolah ikut serta dengan apa yang telah Alvin rasakan saat ini.
"Kakak nangis,"kekeh Riana,mencoba mengalihkan arah pembicaraan nya.
"Indonesia dekat loh kak,cengeng banget sih,"tambah nya lagi terdengar santai setelah susah payah menetralkan suasan hatinya.
"kakak merindukan nya Riana," Terang Alvin sambil mengusap ke dua sudut matanya secara bergantian .Namun wajah nya masih belum juga ia palingkan.
"Riana mengerti kak,"
"ya sudah besok kita pulang ,temui Hanna."
Kilahnya nya dengan nada kesal.
"Sabar dulu napa kak,kaki kakak aja masih belum pulih bener.
__ADS_1
Belum lagi wajah ,kakak memang nya mau nemuin kak Hanna tapi bekas luka nya masih ada,?"
Tidak ada jawaban dari mulut Alvin ,kali ini ia terlihat merenung .Mau tak mau sepertinya ia membenarkan apa yang barusan Riana katakan.
"Tapi kakak udah jauh lebih baik kan,?
kakak udah bisa jalan sendiri,tubuh kakak pun udah terlihat pulih lagi.
Kakak pandangi di cermin ,wajah kakak terlihat tambah tampan,Lihat saja wanita ganjen itu sangat tergila-gila sama kakak."
Terang Alvin penuh percaya diri membuat Riana tertawa.
Seketika Alvin menoleh."Kenapa kamu tertawa,ngeledek kakak,?" kilah nya tak terima di susul langsung gelengan kepala oleh Riana.
"bu,bukan seperti itu kak..
Riana hanya kagum saja mendengar kepercayaan diri kakak."Elak nya di iringi tawa renyah yang mengudara.
"Emang benar kan,kakak tambah tampan,?"
Alvin bertanya memastikan.
Kak Hanna pasti tergila-gila lihat kakak yang sekarang."Riana menjawab dengan suara antusias demi membuat kakak nya bahagia,selain itu agar ia berhenti bertanya tentang Hanna juga.
"kalau begitu ya sudah kita pulang saja,"Ajak nya dengan binar mata bahagia ,namun suara nya terdengar sedikit memelas.
Riana tampak menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal .Ia mengusap wajah nya dengan kasar kemudian mendesah frustasi
saat Alvin kembali membuat nya kebingungan.
"Alangkag baiknya kalau kakak pulang sudah terlihat sempurna ,kak Hanna pasti tergila ..gila..gila..sama kakak."Riana menjelaskan dengan nada jengkel.
"Udah mau magrib kak,ayo pulang..!"Tambah nya sambil berdiri kemudia melangkah kan kaki nya meninggal kan Alvin begitu saja.
"Riana ,tunggu kakak..!"
Alvin berdiri di bantu tongkat nya dengan sangat hati-hati .Ingin rasa nya memukul Riana dengan tongkat nya agar berhenti.
Namun apa daya,walau hanya untuk menggerakan kaki nya pun ia sangat kesusahan.
"Ayolah kak ,latihan.."Teriak Riana dari kejauhan.
__ADS_1
Malam hari,Indonesia..
Hanna baru saja menemani buah hatinya tertidur ..Akhir-akhir ini tidur Fatimah tidak terlalu nyenyak ,mungkin karena ia merindukan ayah nya atau Alvin merindukan nya.
Ia meraih ponsel yang sedari tadi di ambil nya di dalam lemari kemudian menyalakan nya.
Sudah sepuluh hari tidak aktif sudah tentu banyak sekali pesan yang masuk ke hp nya .
Dan benar saja getar ponsel tanda pesan masuk ke hp nya masih belum juga berhenti.
Pesan pertama yang di periksanya adalah Alvin.Hanna tersenyum tipis ketika melihat Seratus enam puluh empat pesan dari Alvin untuk nya.
"*Sayang kamu kemana sih,?"
Lihat lah pria itu bahkan sudah berani memanggil nya sayang..
"Bunda aku merindukan mu,juga Fatimah,"
Tak lupa emotikon sedih Alvin terapkan di akhir kalimatnya.
"*Bunda tidak rindu kah,?"
"Bunda apa bunda telah menyukai pria di sana,?"
"Bunda aku menncintaimu,ku mohon tunggu aku pulang.."
"bunda sedikit-sedikit aku bisa berjalan ,bunda senangkan* ?"
Hanna tersenyum tulus,terlepas dari itu air matanya jatuh perlahan sebagai ungkapan haru yang tidak lagi bisa ia ungkapkan.
Ia meraba dada nya ,disana jantung telah berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Aku disini ada untuk mu mas,aku jugu merindukan mu.
Tidak mas ,aku tidak pernah menyukai pria lain selain dirimu,dan aku senang mendengar kabar baik bahwa kau sudah bisa berjalan.
Aku juga mencintaimu mas,
Aku pasti menunggu mu karena aku telah mencintaimu."
Gumam Hanna lirih sambil mengusap pipi nya yang telah basah .
__ADS_1