
Di apartemen ,Bella tampak menyandarkan bahunya pada sofa .Wedang jahe hangat bersama keripik kentang yang setia menemaninya bahkan belum ia sentuh sama sekali.
Di luar ,saat ini hujan sore ini turun cukup deras.
Di kasur sana,seorang gadis kecil meringkuk masih setia terpejam di dalam balutan selimut tebal yang membungkus nya.
"Inikah karma,?"Gumam nya lirih ,terlihat sudut bibirnya terangkat menyiratkan kepedihan yang amat dalam.
Satu kali lagi,tangan nya terlihat meraih sebuah undangan yang tergeletak di meja nya .
Di sana nama Hanna dan Mantan suami nya terpampang jelas ,mereka akan melangsungkan pernikahan sekitar satu Minggu lagi.
"Seharusnya mereka dulu seperti ini bukan?,tanpa ada aku di dalam nya rumah' tangga nya.!"Rasa sakit itu terwakilkan, bersama luruh nya air mata seperti tetesan air hujan.
"Harus kak ku cemburu?,haruskah aku sakit hati?
Kau sungguh tak tahu diri Bella."Ucap Bella pada dirinya sendiri .Ia kembali melemparkan undangan tersebut secara kasar ke atas meja.
Tak lupa pipi putih mulus itu ia usap secara kasar dengan tangan nya.
"Jangan jadi wanita yang lemah Bella,!"Gumam nya lirih ,meraih keripik kentang di toples kemudian memakan nya.
Tidak ada rasa,kentang itu bahkan terasa hambar di mulut nya.
Kembali ia tersenyum ,tentu saja senyum yang di paksakan oleh bibir nya,berusaha kuat namun tetap saja, sakit yang ada di dalam hatinya kembali menjelma menjadi air mata.
"Pria brengsek..!" Bella menyampah.
Sampai ia tak sadar ,seorang pria telah berhasil memasuki apartemen yang saat ini menjadi tempat tinggal nya.
"Hai sayang..!"Brayen Baru saja datang menenteng subuah paper bag yang entah apa isinya .
Tanpa ragu ia menghampiri Bella di sofa kemudian menyandarkan nya di bahu Bella.
Cihhh..Bella mendecih di dalam hatinya
"Sungguh tak tahu malu.."Batin nya lagi.
Ia hanya terdiam,menikmati sampai mana sandiwara Brayen akan berlangsung.
Tanpa peduli ,Bella malah meraih wedang jahe tersebut kemudian menyeruput nya.
"Kamu kenapa sayang,?"
__ADS_1
Brayen bertanya sambil meraih dagu Bella kemudian menghadapkan wajah Bella ke arah nya.
Bella menatap mata Bereyen dengan tatapan biasa saja,namun jauh di lubuk dalam, hati nya berdenyut hebat menahan sakit mengingat mata itu pernah memandang dan mengagumi wanita lain.
"Aku tidak apa-apa"Jawab nya datar sambil kembali memalingkan wajahnya .
"Benarkah? tapi,tidak biasa nya kamu bersikap seperti ini,biasa nya kamu kan terlihat manja.."Brayen bertanya.Kembali kepala nya ia sandarkan di bahu Bella.
"miris ,mana mau aku bermanja pada pria yang sudah memanjakan wanita lain"Batin Bella menyangkal,namun mulut nya mengatup ,ia lebih memilih berpura-pura tidak tahu.
"Apa kerena mantan suami mu akan menikah lagi,?"
Tanya nya,tanpa Bella sadari surat undangan itu sudah berada di tangan Brayen.
"Kita juga akan menikah sayang,apa kamu masih mencintainya.?"Brayen belum menyerah ,ia tampak beberapa kali mencium pipi Bella dengan manja.
"Dia pria yang baik,!"
Dahi Brayen berkerut ,kata-kaya Bella tersebut belum cukup di mengerti oleh akal nya.
"Maksud mu?"Tanya Brayen penasaran,setelah habis-habisan menguak kejelekan Alvin, bagai mana bisa wanita itu kembali memuja nya di hadapan dirinya sendiri.
"Kau masih mencintainya,Bella?"Tanya Brayen memastikan.
"Jika ia ,apakah kau akan marah.?"Bella balik bertanya ,Ia masih setia memandang lurus ke depan .Telanjur sakit hati ,ia bahkan tak peduli dengan apa yang akan Brayen putuskan setelah nya
"Kau gila,jika Alvin telah jatuh cinta ia tidak mungkin mengkhianati orang yang di cintai nya..!"Bella menyangkal "Menjijikan ,kau malah mengompori ku hanya untuk menutupi aksi bejad mu"Bella melanjutkan kata tersebut di dalam hatinya.
"Kau yakin,bukan kah kau juga di telantarkan oleh nya..?"
"Itu karena dia telah mencintai Hanna,!"Tegas Bella kemudian terdiam."Bukan kah itu sama,?"kilah nya lagi.
"Maksud mu,untuk apa berbicara seperti itu,kau tidak cemburu ,apa kau tidak mencintaiku lagi..?"
Kali ini Brayen lah yang di brondong beberapa pertanyaan.Bella memojokkan dengan suara menyiratkan bahwasanya ia telah tahu apa yang di lakukan Brayen di belakang nya .
"A..aku ..Aku tentu saja cemburu ,aku tetap mencintaimu sayang dan akan tetap mencintaimu. Tidak kah kau lihat kesungguhan ku hingga begitu lama menanti perceraian dirimu dengan Alvin.?"
Brayen melindungi dirinya ,ia menggenggam tangan Bella dengan penuh rasa cinta .
"Kalau aku tidak mencintaimu,untuk apa aku akan menikah dengan mu sayang,?"Tambah nya sambil mencium kembali pipi Bella lembut .
Drt...drt...Ponsel Brayen bergetar ,ia tampak menjauh kan ponsel nya dari jangkauan Bella memeriksa siapa yang saat ini menelpon nya.
__ADS_1
"Aku angkat telpon dulu ya ,sayang..!"Ucap nya kembali mencium pipi Bella kemudian berdiri hendak meninggal kan nya.
Bella mendesah ,kemudian menyandar kan bahunya di sofa.Memejamkan matanya ,ia seolah menikmati setiap denyut yang mengiris hatinya.
"Harus nya dulu aku tidak usah percaya pada rayu dan bualan nya bukan ..?"Batin nya ,namun terlihat sudut matanya mengeluarkan air mata yang buru-buru di usap nya.
"Sebelum menikah ,dia bahkan sudah berani bermain wanita di belakang ku.Aku akan membatalkan pernikahan ku dengan nya."Begitu tekad Bella di dalam hatinya.
Inikah nasib pelakor yang telah Author gariskan,padahal semua ini tidak ada apa-apa nya di bandingkan penderitaan yang dulu Hanna rasakan.
Sesama perempuan harus nya saling menghargai,
berpikir sebelum bertindak,nyatanya seorang yang di cintai berpaling pada wanita lain itu sangat menyakitkan.
Hanya saja kejadian seperti itu sering terjadi ,seorang wanita bahkan tega menyakiti sesama nya hanya untuk belaian semata atau karena harta sejenis nya.
Miris memang ,mereka seolah tidak berpikir bagaimana jika kejadian seperti itu terjadi kepadanya.
***
Sementara di lain tempat Riana tampak sibuk mengatur persiapan pernikahan kakak nya.
Tak kenal lelah,ia hanya ingin menebus kesalahan nya dulu pada Hanna.
"Kakak merindukan nya Riana,apakah sudah boleh menghubungi nya..?"Alvin merengek ,bertanya pada Riana dengan penuh harap.
Riana menatap Alvin sekilas kemudian menggeleng
"Tidak kak,tidak boleh"ya..Saat ini Alvin dan Hanna sedang di pingit oleh ke dua adik nya .Mereka tidak boleh berhubungan apalagi bertemu.
Entahlah,tujuan nya mungkin agar mereka saling merindukan .
"Ayolah Riana,tidak usah melakukan hal seperti ini..!"
Alvin memelas.
"Tidak kak,tidak boleh"Tegas Riana membuat Alvin mendesah kecewa.
"Sama Fatimah apa boleh,?"
Nyatanya Alvin belum putus asa .
"Jika ingin bertemu,Fatimah nanti aku jemput ke sana."Jawab nya enteng.
__ADS_1
***
Like ,komen sama vote jika berkenan ..