
Mata Alvin mengekori wanita yang baru saja pamit undur diri sampai tubuh berisi itu lenyap di telan daun pintu ruangan yang tidak seberapa besar nya itu.Iya,
Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar telah ia sewa untuk pengobatan nya selama di Singapura.
Ia berjalan menggunakan tongkat nya kemudia berhenti kala telah sampai pada ujung ranjang tempat tidur yang berukuran sedang.
Dengan sangat hati-hati sekali pria berkaki tiga itu memerosot kan tubuh kemudian menyandar kan nya pada tumpukan bantal yang lumayan tingginya.
Ia mendesah kemudian memejamkan matanya,seolah telah mengusir kekesalan juga rasa tak suka pada wanita yang baru saja meninggalkan ruangan nya tersebut.
Baginya yang di lakukan perawat itu sudah di luar batas kewajaran ,bersikap jaim membuat ia muak melihat nya.
Pandangan Alvin menyita keseluruh ruangan kemudian berhenti kala melihat benda pipih yang tergeletak di samping nya.
Seberkas nama melintas di kepala nya.
Hanna,tentu saja nama wanita yang menjadi dambaan dan yang di rindukan nya selama ini.wanita yang kerap kali hadir dalam bunga tidur nya itu telah meninggalakan teka-teki yang membuat Alvin kepayahan dalam menjalani hari-harinya.
Ia terlihat mengutak-ngatik ponsel nya .Tidak berapa lama setelah itu terlihat mendesah kembali begitu menemukan kejadian serupa seperti yang sudah-sudah.
"Hanna kemana ,sih."kata-kata itu reflek keluar dari bibir tipisnya.
Ia menjatuhkan ponsel nya di atas kasur kemudian kembali memejamkan matanya sesaat.
Rasa rindu kembali menyeruak menjelema menjadi kegelisahan yang begitu nyata pada hati yang sudah tidak bisa di bahasakan lagi artinya.
Minimal mendapat pesan ,mendengar suara jika tidak bisa melihat wajah nya ,namun ini tidak.Riana bahkan menjadi orang tidak berguna saat ia tanyakan keberadaan Hanna saat ini.
Satu kata pun yang mengabarkan keberadaan Hanna tidak sama sekali ada.Hal itu kadang menghadirkan pikiran-pikiran negatif di kepalanya.
Alvin uring-uringan,Pasal nya ia tidak tahan menahan kerinduan yang terlalu berlarut-larut seperti ini.
Indonesia seolah sudah terpampang begitu jelas di dalam pikiran nya ,padahal butuh satu bulan lagi kaki nya memijak negara yang di rindu kan nya selama ini.
Ia kembali meraih ponsel nya ,kala mengingat Alina ,perawat yang menurut nya ke ganjenan.
"Bagai mana kalau Hanna tahu,"Alvin bergidik ketika membayangkan yang tidak-tidak.Masalah nya persoalan seperti ini bukan lagi hal sepele jika di ketahui sama Hanna dan secepat nya harus di tangani juga terselesaikan.
Alvin memandangi nama Riana yang tercantum dalam layar ponsel nya kemudian berhenti menatap nya kala nada sambung telah berganti dengan suara wanita di dalam nya.
"Iya kak, ada apa,?"Kata itulah yang terdengar pertama kali di telinga Alvin.
"Kakak tidak mau lagi ada perawat yang keganjenan itu,"keluh nya terang-terangan.
Ia tampak memanyun kan bibir mirip seperti anak kecil yang merajuk ,namun keinginan nya belum juga di penuhi.
"keganjenan,?
maksud kakak Alina,?" Tanya Riana seolah meyakin kan akan ucapan nya barusan.
__ADS_1
"Menurut mu siapa lagi kalau bukan dia,?"
Tawa Riana yang terdengar di ujung telpon nya membuat Alvin menggeram,ia kesal saat menyadari Riana menganggap apa yang di katakan nya barusan hanya sebuah lelucon belaka.
"Masa sih kak,Alina gadis yang baik Loh.
Kakak aja kali yang ke pedean."Tawa renyah itu kembali terdengar di ujung kalimat yang barusan Riana ucapkan.
Gadis yang di telpon nya saat ini seperti tidak sama sekali menanggapi keluhannya dengan serius.
"Riana ,kakak serius.."Kilah Alvin ,sejenak membuat percakapan di antara mereka hening .Sepertinya Riana sedang memikirkan kata yang pas untuk di ucapkan.
"Ganjen kaya gimana sih kak,Riana gak ngerti deh. !"
"Kamu tau kan orang jatuh cinta ,iya jaim-jaim kaya gitu.Kakak muak deh ngelihat nya .
Apalagi sampai ketahuan calon kakak ipar mu kan bisa berabe,"Tukas Alvin hati-hati ,otak nya baru saja berpikir akan rangkaian kata agar bisa di mengerti adiknya.
"maksud kakak ,Alina mencintai kakak,?"
Riana mencoba menyimpulkan kata-kata Alvin barusan.
Alvin memutar bola mata nya malas ,harus nya Riana tidak memperjelas nya seperti ini.
"ya seperti itu ,kayanya."
Sejenak ia berpikir,memang ia terlalu berlebihan .
Namun Hanna ,ia tidak bisa membayang kan jika wanita yang kerap kali memenuhi isi kepalanya itu sampai salah paham .
"Terus apa yang harus Riana lakukan kak,?"
pelan Riana terdengar berat .Wajar saja ia pasti sedikit tak enak mengingat Alina itu adalah teman nya.
"Ya terserah kamu,yang penting ga ada wanita ganjen itu lagi di hadapan kakak ,
kamu kesini misalnya ,gantiin dia."
jelas Alvin hati-hati ,Sebenar nya ia tahu betul wanita yang menjadi adik nya itu juga sibuk akan pekerjaan nya.
Samar-samar suara desahan Riana terdengar ,
"Baik lah kak,akan Riana usahain.."putusnya berat .
"Terimakasih ,kakak tutu telpon nya ,ya..!"
ucap Alvin .
"Baiklah kak,selamat sore."
__ADS_1
Riana mengakhiri hendak menutup telpon nya namun tiba-tiba terhenti kala Alvin kembali bersuara.
"Riana tunggu,apa Hanna baik-baik aja,"
Tanya Alvin tiba-tiba.
"kak Hanna baik-baik saja kak ,tenang aja ..
Riana tutup dulu ya telpon nya,
Dah.." Riana terdengar buru-buru kemudian menutup telpon nya tanpa menunggu persetujuan Alvin yang penasaran dan siap melayangkan pertanyaan selanjutnya.
Alvin mendesah kecewa..
Selalu saja seperti ini kala ia menanyakan keadaan Hanna kepada adiknya.
***
tujuh tahun yang lalu.
Hanna baru saja menjalankan shalat sunah tahajud yang telah lama menjadi kebiasaan nya sekitar jam tiga dini hari.
Ia berdiri melipat mukena juga sejadah yang sempat ia pakai.
Mengintip halaman rumah melalui celah jendela kamar yang di tempatinya.
Tirai jendela itu sedikit ia singkab kan agar leluasa menatap alam yang hidup pada waktu yang sebentar lagi akan beranjak subuh ini.
Hal pertama yang dilihat nya adalah sebuah pohon mangga ,namun letak nya ada di halaman rumah tetangga.
Mendadak hatinya meronta ,menginginkan buah mangga yang tampak menggatung seolah melembai-lembai kepada nya.
Ia mengusap lembut perutnya .
"Andai saja mas Alvin ada ,sudah tentu aku membangun kan dan menyuruh nya untuk memanjat pohon punya tetangga Hilman tersebut."
Mengingat hal itu ia malah menangis hingga tersedu-sedu membuat Mirna juga Hilman yang sedang menjalan kan ibadah sunat nya terganggu.
Pasal nya Hanna menangis telalu keras hingga terdengar ke kamar sebelah milik dua paru baya yang saat ini tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Ada apa nduk,ada apa,?"tanya Mirna begitu datang ,Mirna datang dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya bersama kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah nya.
Tangis Hanna semakin meledak ,pasal nya ia malu mengutarakan keinginan nya di pagi buta seperti ini .Sayang nya tangis itu ternyata tidak bisa berhenti saat masih belum mendapatkan apa yang di inginkankan nya saat ini.
Mirna dengan sabar membujuk Hanna untuk bicara sampai pada akhir nya mereka tersenyum ketika mendengar apa yang di inginkan nya.
"Hanna mau mangga muda mi,"keluh nya sambil menunduk.
"pak, itu mangga pak Darmi,minta geh sekarang buat yang ngidam."
__ADS_1