
Pukul 20:30
Alvin menatap posel yang ia genggam ...
Dari tadi ia memutar mutar ponsel tersebut tidak jelas ...
Pikiran nya tertuju pada Hanna ,
kadang juga pada perkataan adik nya tadi.
Kejadian tadi siang benar-benar telah menguras pikiran nya..
Ia termenung kemudian terlihat mengubrak-ngabrik ponsel nya sekilas .
Ia terdiam tatkala sudah merangkai sebuah kata dalam ponsel tersebut.
Ibu jari nya kemudian mengatung saat hendak menekan tombol (Send)
"Assalamualaikum,Hanna bagaimana kabarmu?"(pesan terkirim)"
Ia merenung sejenak melihat kode bahwa pesan terkirim .
Berfikir yang di lakukan nya benar atau salah
karena menunggu balasan dari Hanna belum juga tiba.
"Haiss,apa Hanna benar-benar marah kepadaku ,kenapa pula tadi aku so ao an tidak mau menikah dengan nya .
Lihat lah seperti ini kan,jadinya?"
Ia menggerutu,merutuki dirinya sendiri sambil memukul mukul sebuah bantal mengingat kejadian yang menimpanya tadi siang.
Ponsel nya berdeding ..
Buru-buru ia menyambar ponsel yang tadi sempat ia jauhkan.Dengan semangat ia membuka pesan dari Hanna tersebut.
"Waalaikumsalam mas...
Aku baik-baik saja,bukan kah kau tadi sudah melihatku?" (pesan diterima)
Ia tersenyum bahagia ,namun wajah nya kembali terlihat lesu memandang pesan dari Hanna yang baru saja ia terima.
"Hanna kenapa tidak menanyakan balik keadaan ku ?.." pria itu membatin ,wajah nya saat ini terlihat tidak lagi bersemangat seperti tadi.
"Kau masih marah kepadaku?,
Aku minta maaf 🙏🙏"
(pesan terkirim).
Setelah sekian lama terdiam, namun belum juga ada tanda-tanda Hanna akan membalas nya.
"Dia benar-benar marah kepadaku kah?"
Batin nya.
"Putri kita ,apa sudah tidur?"
(pesan terkirim).
Akhir nya dia kembali mengirim pesan karena pertanyaan tadi tidak ada respon dari Hanna.
"Sudah.. Setelah belajar Fatimah tadi langsung tidur ,sepertinya ia sangat kelelahan."(pesan diterima)
"Bisa kah kau mengirim gambarnya ,aku ingin melihat dia saat sedang tertidur.Satu lagi
Aku ingin melihat mu juga." (pesan terkirim)
ting..
Alvin tersenyum melihat Foto anak gadis nya yang sedang tertidur dengan pulas nya .
"putriku begitu cantik,terlihat mirip sekali dengan bunda nya😍😍😘😘"(pesan terkirim)
"Dia putriku mas😥"
__ADS_1
(pesan diterima)
"Terimakasih kerena sudah melahirkannya.Fotomu mana,Hanna?" (pesan terkirim)
"Bisa untuk tidak meminta Fotoku ,aku sedang malas memakai kerudung"(pesan di terima)
Kali ini Alvin tampak menghembuskan nafas kasar nya ketika menerima pesan dari Hanna.
Ada rasa kecewa padahal ia tidak memiliki Foto Hanna ,kecuali foto yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi.Itupun tidak lah jelas.
***
Sementara di kamar Hanna senyum-senyum sendiri sambil mengutak ngatik ponselnya.
Ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya,seperti mendapat pesan pertama kali dari orang yang kita sukai,kira-kira seperti itu perasaan nya.
Namun ia merenung,mengingat kejadian tadi siang .Bagaimana bisa dengan begitu mudah nya Alvin melupakan perkataan yang sempat melukai hatinya,dan ini ...
Bagaimana bisa ia tersenyum dan bahagia
setelah tadi ia menangis karena sakit hati.
"Besok apa ada waktu ,aku ingin bertemu dengan mu"(pesan diterima)
Hanna tampak berfikir sejenak.
"apa yang nanti akan ia katakan?"
batin nya.
Dia kembali mengutak-ngatik ponselnya..
merangkai kata kemudian kembali menghapusnya.
Dia terlihat kebingungan terhadap jawaban dari permintaan Alvin barusan.
"Dimana kau akan menemui ku?"
(pesan terkirim).Akhirnya ia menukan kata yang tepat untuk menjawab permintaan Alvin.
Tak lama balasan dari Alvin datang ,pria itu rupanya terlalu bersemangat ,sampai membalas secepat ini.
"Baik ,mas tentukan saja waktunya.Insyaallah nanti aku akan datang?"(pesan terkirim).
"Satu lagi Hanna,Fatimah jangan di ajak ya..
Di sana hanya kita berdua "
(pesan diterima)
Hanna tampak menautkan alis nya saat membaca permintaan Alvin .
Tangan nya kali ini tampak diam.
Namun kembali bergerak saat ia telah memikirkan jawaban nya.
"Ok,aku akan datang sendiri"
(pesan terkirim)
"Tidur ya,selamat malam ..
semoga mimpi indah,ku harap besok kita masih panjang umur sampai bertemu nanti
😘😘😘🤗🤗"(pesan di terima)
Hanna membulat kan matanya,memandang tulisan kecil tersebut tidak percaya.
Namu sudut bibirnya terangkat,ia tersenyum tipis.
"Mas Alvin bisa seromantis inikah?"
batinnya.
***
Riana masuk dengan segelas susu setelah tadi ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kakak sudah mau tidur?,
aku membuat kan susu untuk mu,minumlah..!!"Titah nya sambil menyodorkan gelas ukuran besar dengan air susu penuh di dalam nya.
"Terimakasih ,Riana"
Alvin meraih gelas tersebut kemudian meneguknya hingga tandas.
"Riana tunggulah,ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu..!"
Alvin memanggil Riana saat ia hendak pergi setelah menerima gelas kosong yang tadi berisikan susu.
Langkah wanita itu terhenti,
Ia memutar arah dengan langkah pelan kemudian menghampiri sang kakak.
Ia mendudukan tubuhnya di tepi ranjang ,
sementara kakinya menapak lantai seperti kebiasaan nya.
Riana memandang Alvin serius seolah menanti kata apa yang akan kakak nya ucapkan.
"Apa yang ingin kakak bicarakan dengan ku?" Tanyanya dengan wajah penasaran .
Alvin tersenyum melihat tingkah adik nya,
wajah gadis itu memang selalu berubah-ubah,
ia memang pintar sekali memainkan karakter wajahnya,dari mulai lugu,tegas ,lembut bahkan jahat sekali pun..
Tergantung siapa lawan bicara yang berhadapan dengan nya.
"Aku ingin melamar Hanna,bagaimana memurutmu?"
Tanya Alvin dengan mimik di wajahnya serius..
Bola mata Riana membulat..
"Benarkah ,apa kakak sudah berubah pikiran?"Tanya nya semakin penasaran .
Alvin hanya mengaguk tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
"Kapan kakak akan melamarnya?"
Akhirnya gadis itu bisa meguasai keterkejutan nya,kali ini ia berbicara dengan nada santai.
"Besok."
"Besok?"
"Iya Riana,tapi kakak akan menikahinya setelah kaki kakak sembuh.Kakak sudah berpikir ,jika dalam tujuh tahun saja Hanna mampu menungguku ,apalagi ini paling lama hanya satu tahun"Alvin menjelaskan dengan penuh keyakinan..
"yah..bagus."
Riana hanya manggut-manggut mendengar penjelasan kakak nya.
"Tapi ada yang harus kakak minta persetujuan dari mu"Kali ini Alvin berbicara sangat hati-hati.
"Apa itu?"Rasa penasaran kembali menyelimuti hati Riana.
"Apa boleh kakak menjual rumah peninggalan ibu yang di Bandung?"
"Haiss kakak ,di sana banyak sekali kenangan bersama ibu,lagi pula kakak menjual nya untuk apa?"celotehnya terdengar kesal.
"Untuk biaya pengobatan kakak di luar negri sisa nya untuk modal usaha kecil-kecilan.
Kakak ingin secepatnya pulih ,tapi kakak tidak lagi punya uang Riana.Sementara sisa tabungan kakak nanti akan kakak pakai untuk modal nikah dengan Hanna."jelas nya terdengar lesu ,ia sungguh berharap adik nya menyetujui permintaan nya yang satu ini.
Sejenak Iriana terdiam,nampak nya ia sedang berfikir keras untuk menemukan jawaban nya .
"Nanti akan akh pikirkan kak"ia berdiri hendak pergi ,namun dengan cepat Alvin meraih tangan adiknya itu.
"Kakak butuh jawaban nya sekarang Riana,
Kakak akan melamar Hanna besok."Alvin merajuk layak nya anak kecil yang inging di belikan mainan oleh orang tuanya.
Riana menarik napas malas ,
__ADS_1
"Baiklah ,terserah kakak"putusnya kemudian pergi,jujur hatinya menggerutu tidak setuju dengan permintaan kakak nya.
Jujur rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan bersama ibunya sehingga ia tak bisa melepaskan nya.