ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
DIA MENCINTAIMU


__ADS_3

"Harus nya aku tidak memaksakan diri untuk memenuhi nafsuku.


Harus nya aku memikirkan perasaan Raisa sebelum menyatakan cinta pada Hanna."


Adrian membatin .Satu tangan nya memegang pelipisnya,sementara tangan lain nya sibuk memainkan kemudi.Pria itu benar-benar telah di landa kegelisahan setelah kejadian beberapa saat yang lalu.


Mata nya berkaca-kaca.


Entah kecewa karena Hanna sudah dilamar terlebih dahulu oleh mantan suaminya atau pertemuan dengan Raisa saat ia baru saja keluar dari pintu rumah Hanna.


Ia juga sepertinya tidak terlalu mengerti akan hatinya.


"Raiasa..??,


Wanita itu sudah tentu mendengar semua yang aku ucapkan pada Hanna.


Harus nya aku tidak segila ini,melamar Hanna setelah melamar Raisa.."


"arghhh.."


Adrian memukul kemudinya ,meracau tak jelas karena kegilaan nya sendiri.


Ia menghentikan mobilnya,kemudian mengambil ponsel yang tadi bergetar di saku celana miliknya.


"Apa ada waktu ,aku ingin bertemu dengan mu di kafe Xxx,"


Satu pesan masuk dari no yang tak di kenal.


Ia termenung,mencoba mempertimbangkan keputusan nya.Tadinya ia hendak pergi kerumah orang tuanya,namun pesan tersebut membuat nya penasaran siapa yang mengirimnya.


Akhir nya ia putuskan memutar haluan.


Jika tadi pikiran nya di landa kegelisahan,kini pikiran itu menerka-nerka,penasaran dengan siapa yang ingin bertemu dengan nya.


Tidak terlalu ambil pusing,pria itu melajukan mobil nya dengan sangat kencang hendak menuju kafe yang telah disebutkan seseorang.


Adrian telah sampai.


Kaki nya melangkah dengan cepat memasuki kafe tersebut.


Langkah nya terhenti,pandangan nya mengedar keseluruh penjuru ruangan mencari-cari sosok yang ingin menemuinya.Pandangan nya terhenti ketika melihat sosok pria yang sedang melembai-lembaikan tangan sedang tersenyum kepadanya.


"Tuan Alvin,apa kabar?,"Adrian tersenyum miring sambil mengulurkan tangan kanan,setelah ia sampai pada pria yang tadi melembaikan tangan nya. Mata nya melirik kursi roda yang sedang di duduki Alvin,dapat di pastikan bahawa pria yang ada di hadapan nya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Baik, seperti yang kamu lihat saat ini.


Lalu bagaimana dengan mu, dokter.?"


Alvin menyambut uluran tangan Adrian,membalas senyuman Adrian kepadanya dengan senyuman yang sama pula.


"Aku baik.."


Adrian mendudukan tubuh nya kemudian bertanya.


"Jadi apa yang ingin anda bicarakan kepada ku,tuan Alvin?,"

__ADS_1


Tanya nya tanpa basa-basi.


"Kau mau pesan apa,?"Alvin bertanya,Ia hendak memanggil seorang pelayan ,namun tidak jadi setelah mendengar penolakan secara tidak langsung dari Adrian.


"Aku buru-buru tuan,bisakah untuk memulai apa yang ingin anda bicarakan dengan saya sekarang?,"


Alvin mengulum senyum,ia tidak tahu harus memulai dari mana.


"Terimakasih waktu itu karena telah membawa Hanna ke Singapura,"


Akhirnya kata itu yang lolos di mulut Alvin.


Sebenar nya bukan hal ini yang ingin dia bicarakan ,tapi ia memilih basa-basi terlebih dahulu sebelum masuk pada inti pembicaraan selanjutnya.


"Itu sudah menjadi tugas seorang yang mencintai nya,bukan begitu tuan,?"


jawab Adrian di iringi persetujuan kepada Alvin.Nada sindiran benar-benar terdengar jelas dalam suara nya itu.


Alvin terdiam,otak nya kembali berputar mengingat kejadian silam beberapa tahun yang lalu.Ia teringat betapa kejam dirinya saat itu.


"Aku suami nya waktu itu,jadi terimakasih dan maaf karena telah merepotkan mu."jawab nya setelah sekian lama terdiam .


Adrian tersenyum pahit.


"Tidak apa-apa , meski aku bukan suaminya tapi aku bahagia karena telah menolong nya,"


jawab nya jujur .


"kau seorang yang baik ,dokter..


semoga Allah membalas kebaikanmu."puji Alvin tulus.


jawab Adrian .Rupanya pria itu benar-benar tidak mau berlama-lama.


"Apa kau sudah menikah,?"tanya Alvin,ia tidak ingin Adrian pergi sebelum ia mengutarakan permohonan nya untuk Iriana.


Sementara kata-kata Adrian barusan,ia tidak terlalu menganggap nya.


Ia sudah lama tahu Adrian menyukai calon istrinya.


"Sedang dalam proses ikhtiar ,aku belum menemukan wanita yang pas untuk di jadikan pendamping hidup."jawab nya tegas.


Namun memorinya kembali berputar mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


"Bagaimana kalau dengan Iriana?,dia mencitaimu dokter.."


Suara Alvin melemah ,dadanya sesak mendengar pernyataan Iriana tadi malam kepadanya.


"Lalu bagaimana dengan wanita yang telah anda lamar?,bisakah kau memutuskan lamaran tersebut .Aku telah mencintainya.Tuan,"


Jawaban Adrian membuat Alvin terdiam.Hatinya sakit


bagaimana bisa Adrian bisa berterus terang seperti ini kepadanya.


"Aku tidak mungkin melepaskan nya dokter,"ucap Alvin kemudian.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu,kita akhiri pertemuan ini.Kabari aku jika anda akan memutuskan lamaran nya."Putus Adrian sambil berdiri.


Ia hendak pergi namun langkah nya terhenti ketiaka mendengar ucapan Alvin kepadanya.


"Dia telah mencintaimu dokter,dia tidak mau menikah selain denganmu,aku harap kau dapat mempertimbangkan nya kembali."


Dengan dada sesak Alvin bersuara.


Jantung Adrian meronta-ronta mendengar ucapan Alvin barusan kepadanya.


Hatinya sesak mengingat perjuangan cinta Iriana kepadanya dulu.


Namun sekarang ia terlanjur membenci dan mencoba tidak mempedulikan nya.


Akhirnya tanpa menoleh lagi pria itu berjalan tenang namun tidak dengan suasana hatinya.


Alvin mengeka napas frustasi,ia memejamkan matanya saat tubuh Adrian sudah tidak lagi terlihat di kedua bola matanya.


"Iriana,mengapa kau mencintai lelaki sepertinya"Desah nya saat telah kembali membuka matanya.


Terlihat ia mengutak-ngatik ponsel nya kemudian menempelkan nya di telinga.


"kakak sudah selesai Riana,bisakah kau menjemput kakak sekarang?,"ucapnya terdengar lesu.


"kakak kenapa suara nya seperti itu,apa lamaran mu di tolak?,"cecer suara wanita yang terdengar di dalam ponselnya .


"Nanti akan kakak ceritakan ,jemputlah dulu"jawab Adrian.


"Ah baiklah ,sampai jumpa kakak."


Telpon pun terputus.


***


Sementara dilain tempat, Raisa berjalan dengan sangat lesu.Percakapan Adrian dengan Hanna benar masih terdengar di telinganya sampai sekarang.


Tidak lama sebelum itu ,Adrian telah melamarnya.


Bercak bening yang tadi sempat terlihat dimatanya ,kini telah mencair.Merambat pelan menyusuri pipinya.


Kini jelas sudah ,perasaan Adrian kepadanya hanya sebagai pelampiasan saja.


Satu keputusan yang tidak bisa ia sesali yaitu karena ia tidak menerima nya.


***


Kakak -kakak pasti bertanya kan,kemana sih authornya..?


Untuk satu minggu kebelakang aku memang ga buka-buka Noveltoon .


malas ngetik karena hp nya eror..


lagi ngetik hidup mati hidup mati kek gitu.


Akhirnya ginilah , membuat kakak kecewa kan?,

__ADS_1


Maafin aja ya kak.


hehe..😁😁😘😘🤗🤗


__ADS_2