
Hanna Pov.
Mata ku mengitari setiap sudut ruangan..
Sepi,itulah yang kurasakan.
Biasa nya memang seperti ini,tapi sekarang
rasa nya begitu berbeda.
Seperti ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan ku,
Hampa,kira-kira seperti itu rasa nya.
Ku hembus kan nafas kasar ku sebelum pada akhir nya berjalan menuntun Fatimah yang masih setia memegang tangan ku.
Baru saja aku pulang di rumah sakit,namun pikiran ku sudah bertanya lagi mengenai keadaan mas Alvin.
Rasa sakit menjalar di ulu hati,ketika mengingat kejadian satu hari sebelum mas Alvin kecelakaan,saat itu aku bahkan tega mengusir nya.
"Jangan tampakan lagi wajah mu di depan ku ,jika kamu tidak ingin aku memebencimu mas!"Itu kata-kata yang aku ucapkan bukan ,tapi mengeapa hatiku semakin hancur ketika mengingat nya .
Aku tersenyum rapuh ,berusaha menghilangkan rasa sakit di hatiku.
"Bunda istirahatlah,!"Ucapan Fatimah telah berhasil membuyarkan lamunan ku .
Aku menatap Fatimah yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur nya sejenak ,
oh ...Aku baru menyadari ternyata saat ini aku sedang berada di kamar putriku ..
Aku tersenyum pedih,jika saja mas Alvin tidak akan bangun lagi,aku pasti menjadi seorang yang paling menyesal di dunia ini.Aku sungguh telah menyia-nyiakan perjuangan nya .
Belum lagi Fatimah,mana tega jika suatu saat aku menyaksikan Fatimah menangisi kepergian ayah nya,itu pasti akan sangat menyakitkan
Bulir bening ini kembali menetes,ya..
aku tengah menangis,ketika mengingat perkataan ku sendiri kepada nya .
Aku jahat ,seperti itu bukan?
Bahkan aku tidak tahu mengapa aku bisa menjadi sekejam ini.
Sentuhan lembut mendarat di pipiku,tangan mungil itu mencoba menghapus air mata yang telah mengalir seolah mencoba menenangkan perasaan ku yang tak menentu.
Lagi-lagi aku tidak menyadari atas keberadaan putriku .
"Jangan menangis lagi bunda"Bibir mungil itu bergumam di iringi senyuman.
Aku membalas senyuman itu sambil melepas kan tangan mungil Fatimah di pipiku.
"Bunda hanya kelilipan" jawab ku sekenanya,
__ADS_1
kali ini aku sendiri yang telah mengusap-ngusap bagian bawah mataku.
"Hendak nya kita banyak berdo'a,ayah sudah tidak perlu di tangisi lagi" Timpal nya tanpa mempedulikan perkataan ku ,ya..aku tahu Fatimah pasti menyadari sandiwara ku.
"Bunda ,istirahatlah"
kedengaran nya ia mengulangi kata-kata tadi.
seperti mayat hidup aku berjalan meninggal kan Fatimah tanpa sepatah kata pun.
saat ini aku tidak ada bedanya dengan seorang ibu yang tidak berguna sama sekali.
Sesekali aku menarik nafas ,entah sudah berapa kali aku mencoba menghilang kan ingatan-ingatan mengenai mas Alvin namun hasil nya sama sekali tidak berguna,bayangan itu masih saja menghantui pikiran ku.
Ku lirik jam dinding yang terpampang di kamar ku ,sudah pukul sebelas namun aku masih belum juga bisa memejamkan mata ku .
Aku berjalan keluar dari kamar ku ,malam ini aku memutus kan untuk tidur bersama Fatimah dengan harapan aku bisa tidur nyenyak di sana .
Namun,langkah ku seketiaka terhenti ketika mendengar isak tangis seseorang di kamar nya .
Aku terdiam sejenak sebelum aku mebuka pintu itu dengan sangat perlahan .
Ku intip apa yang sedang ia lakukan di kamar dan saat itu juga air mata ku kembali meluncur melihat pemandangan apa yang sedang ku saksikan ..
Ia memeluk lutut dengan tangisan yang tertahan di mulut nya ..
Ibu mana yang tega menyaksikan seorang anak dalam keadaan seperti itu.
tok..tok..
ini memang menjadi kebiasaan ku.
Mengetuk pintu dan meminta izin sebelum memasuki ruangan nya,itu juga aku terapkan sebegai salah satu contoh adab kesopanan .
"Nak ,apa sudah tidur?
Bunda ingin tidur bersama mu ,apa boleh?"
Aku berucap setengah berteriak di balik pintu kamar nya.
Aku masuk setelah Fatiamah memberi izin kepada ku .
ku lihat saat ini dia sudah terbaring,rupanya gadis kecil ku telah menyembunyikan kesedihan nya pada ku .
"Tidurlah sayang ,besok kau harus pergi kesekolah" ucap ku setelah mendarat kan ciuman di pipi Fatimah.
****
Aku terbangun ketika suara adzan menyapa gendang telinga ku.
Fatimah masih tertidur pulas,perlahan ku goyang kan tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Sayang,subuhan yuk."Aku berbisik tepat di telinga nya .
Tubuh mungil itu mengeliat-geliat ,mata nya terbuka perlahan namun kemudian mata itu kembali terpejam ,sepertinya gadis kecil ku di terpa ngantuk yang sangat luar biasa.
"Waktu subuh adalah waktu yang paling baik untuk berdo'a"
Aku masih berusaha untuk merayunya.
Benar saja mata besar itu melebar,kepala nya menggeleng .Rupa nya ia berusaha untuk menghindari mata nya untuk terpejam kembali.
Senyum ku melebar tatkala melihat nya semangat menuruni ranjang,ia mengambil handuk nya kemudian keluar dari kamar menuju kamar mandi.
begitu pun aku,aku meniru hal yang telah Fatimah lakukan.
Aku bersimpuh ,bermunjat kepada sang penguasa semesta alam dengan khusu di iringi deraian air mata .
mengutarakan keluh kesah jalan hidup ku solah Allah benar-benar sedang mendengar kan ceritaku.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini,bukan kah begitu..?
Tidak peduli seberapa banyak kebaikan yang ada di dalam diri mereka ,tetapi tetap saja
ada kalanya mereka melakukan kesalahan.
Baik kesalahan itu di sengaja atau tidak.
Asal kita menyadari ,menyesali dan bertaubat kepada Tuhan semesta alam ,aku percaya hidup kita akan baik-baik saja.
Aku telah berbuat salah,tapi setidak nya aku telah meminta maaf atas kesalahan ku,dan satu lagi yang aku percaya ,Allah tidak akan menolak permohonan ampun hamba nya .
***
Fatimah telah asik menyantap nasi goreng yang beberapa saat aku buat dengan seragam merah putih yang sudah rapi di kenakan nya.
mata nya bengkak ,tapi suasana hatinya sekarang terlihat seperti sudah membaik.
Mata yang selalu sembab itu juga kini kering ,seolah air mata di dalam nya kini telah mengering.
Sesuap nasi pun rasa nya begitu sulit aku telan.
Aku memandangi kursi yang saat ini di tempati Fatimah.
Rasa sakit itu kembali menyapa ku mengingat beberpa hari yang lalu mas Alvin duduk di kursi itu makan dengan sangat lahap nya .
"Mas cepat lah sembuh ,jika aku di anugrah kan untuk panjang umur,aku berjanji akan memasak lagi untuk mu"
Bulir bening itu kembali meluncur di mata ku .
Nyartanya aku tidak sekuat itu untuk menahan beban di hatiku..
Dengan segera aku meng lap air mata ku ketika melihat Fatimah yang saat ini telah memperhatikan ku .
__ADS_1
****
setidak nya hargai tulisan author dengan menekan tombol like.