
"Ayah ,cepat lah kembali"
Ucap Fatimah ,Alvin baru saja mau berangkat tapi gadis kecil itu sudah memintanya untuk kemabali.Fatimah menatap mata Alvin dibaluri dengan tatapan memohon.
Raut kesedihan tercetak jelas di wajah imutnya,gadis kecil itu tentu berat jika harus berjauhan dengan sang ayah setelah enam tahun tanpa kehadiran nya.
Alvin tersenyum bersamaan dengan cairan bening yang melapisi kedua bola matanya.
Ia tentu merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan putrinya.
Namun demi memberikan yang terbaik untuk orang yang di cintainya ,mau tidak mau ia terpaksa harus tetap pergi meninggalkan mereka untuk sementara walau pada nyatanya hal itu sangat berat juga untuk hatinya.
"Tidak akan lama, sayang."Jawabnya kemudian .Kali ini tangan besar itu mengusap-ngusap puncak kepala Fatimah yang masih lekat menatap matanya,lapisan bening yang tak sengaja ia tangkap di bola mata indah itu tentu menambah berat beban di hatinya untuk pergi.
"Setelah ayah pulang nanti,ayah akan membawa mu jalan-jalan."Tambahnya lagi mencoba menghibur ,demi apapun sebelum ia pergi, ia ingin melihat dulu senyuman dari bibir mungil itu .
"Jangan berbicara seperti itu lagi ayah,aku tidak mau menunggu dan berakhir kecewa seperti yang sudah-sudah"Fatimah menimpali ,Ia menggelengkan kepalanya samar tanda tidak setuju dengan apammmm yang barusan Alvin ucapkan kepadanya.
Seberkas memori berputar di otak Alvin membuat dadanya kian sesak.
Teringat waktu itu ia terlalu semangat hendak pergi menemui Hanna dan putrinya,namun tak pernah terpikir sebelumnya sesuatu akan terjadi dan berakhir di kursi roda seperti ini.
Nyatanya kehidupan manusia sudah ada yang merancang ,dan Alvin sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani kehidupan yang setiap detik nya telah di tentukan.
"Baiklah ,do'akan saja .Semoga kaki ayah lekas sembuh,"Ucap Alvin .Ia mendongak menatap Hanna yang saat ini sedang termenung.
Alvin yakin saat ini Hanna sedang memikirkan sesuatu ,sayang nya ia hanya manusia yang tidak bisa menebak isi hati calon istrinya itu.
"Aamiin,"Aamiinan Fatimah berhasil membuat Hanna tersentak,pasal nya ia tidak terlalu mendengarkan obrolan di antara keduanya.Lamunan tadi terjadi ketika ia mengingat bagaimana Fatimah menunggu dan mengharapkan ayahnya datang .Iya, gadis kecil itu sangat menginginkan keberadaan sang ayah .
Hatinya meronta-ronta ia mengharap pada Tuhan bahwa taqdirnya berjalan seperti apa yang ia inginkan.
"Kamu baik-baik ya sayang,jangan pernah bertingkah nakal Ok."Ucap Alvin kemudian .Kedua jari nya ia bulatkan Seperti hurup O.
Tak lupa setelahnya kecupan manis ia daratkan di pipi tirus Fatimah sebagai ungkapan rasa sayang ayah kepada putrinya.
__ADS_1
"Fatimah tidak pernah nakal,iya kan bunda,?"
Celoteh Fatimah diiringi permintaan setuju pada Hanna.Gadis itu sedikit mengangkat kepala ,penglihatan nya berusaha menangkap wajah Hanna kemudian berhenti ketika melihat Hanna mengaggukan kepala tanda mengiyakan ucapan Fatimah barusan.
"Putri ayah yang terbaik,"
Alvin tersenyum kemudian kembali mengecup gemas pipi putrinya itu.
***
Kejadian itu melekat di dalam kepala nya menambahkan rindu yang kian menyeruak di dalam hatinya.
Jika saja ia tidak mengingat kaki nya yang lumpuh,mungkin ia akan berlari sekencang mungkin menuju Indonesia hanya untuk memeluk dan mencium pipi cantik putrinya.
Hanna,tentu saja wanita itu juga menjadi alasan nya.
Apalagi kalo bukan rindu melihat senyum dengan lesung pipit yang menambah kesan manis dalam senyum ikhlasnya
lagi-lagi hatinya tersiksa ketika mengingat nya .
Hatinya mulai tenang kala angin itu juga menyapa wajah nya dengan tiupan yang lembut.
"Aku titip salam untuk mereka,"Untuk saat ini hanya kata itu yang bisa ia sematkan di tengah-tengah do'a yang selalu ia ucapkan.
Pasalnya sudah hampir satu minggu ponsel Hanna tidak bisa di hubungi pun tak menghubunginya sama sekali.
Dengan susah payah Alvin memaksakan bibir nya untuk tersenyum namun pikiran negatif masih saja hadir di tengah tengah rindu yang semakin membuncah di dalam benaknya.
"Pak ,apa sudah selesai,?"
Suara gadis berambut sebahu itu seketika menghentikan pikiran Alvin yang masih adik tenggelam bersama lamunan nya.
Alvin tersadar ,ia menatap wanita berambut sebahu yang selama ini setia melayani keperluannya tengah tersenyum manis kepadanya.
Wanita seumuran adik nya itu dari tadi hanya diam memperhatikan pasien yang berada dalam tanggung nya.
__ADS_1
"Ayo!"Alvin memberi intruksi kemudian menggerakan tongkat ketiak nya mendahului langkah kaki kanan yang masih kesusahan untuk berjalan.
Sudah Hampir dua bulan pria itu berada di Rumah sakit terbaik di Singapura,Rupa nya ikhtiar mencari kesembuhan nya itu mendapat hasil yang memuaskan .
Kondisinya sekarang sudah bisa dikatakan jauh lebih baik dari yang sebelumnya.
Wanita itu berjalan mengekori langkah kaki Alvin dari belakang ,menjaga kalau-kalau Alvin membutuhkan sesuatu .
Dengan susah payah Alvin berjalan membelah koridor rumah sakit menuju ruangan di mana selama ini dia terbaring istirahat.
***
Di Indonesia.
Satu minggu yang lalu.
Dengan tergopoh-gopoh kedua pasangan suami istri itu turun dari mobil,
Dua kardus sedang, Hilman tenteng untuk sebagai oleh-oleh dari kampung untuk putri angkatnya tersayang .
"Rumah yang ini Dave,?"Tanya Marni,istrinya Hilman saat matanya menangkap rumah warna crem di dominasi warna coklat tua membuat rumah itu terkesan minimalis.
"iya buk ,"Dave mengiyakan pertanyaan Ibunya.
"Ya sudah Dave duluan ya buk ,Dave lagi ada acara sama teman-teman."
Tambah nya lagi .Dengan sangat terpaksa pria itu berbohong demi tidak bertemu dengan Hanna.
Pertemuan dengan Hanna selalu saja sukses membuat jiwa jomblo nya meronta.
"walah..walah..
kamu tidak mau ketemu dulu dengan nduk ,Hanna?."Celoteh Marni ,rumah sudah dakat bagai mana bisa putra satu-satu nya ini akan pergi tanpa bertemu dengan pemilk rumah yang saat ini ada di hadapan nya.
"Nanti Dave nyusul ya bu,"
__ADS_1
Dave menyalami kedua orang tua nya sebelum pada akhirnya pria itu pergi menjauh bersama mobil yang dinaiki nya.