
Entah sudah berapa kali Hanna mengeluarkan baju kemudian memasukan nya kembali pada lemari.
Satu kali lagi ia diam,berdiri menatap deretan baju yang tergantung rapi di lemarinya dengan kebingungan yang sedari tadi terlihat di wajah nya.
"jadi ,baju mana yang harus bunda pakai,?"
Tanya nya pada Fatimah yang telah rapi mengenakan gamis pilihan ibunya tadi,namun matanya masih sibuk melihat satu persatu baju yang tergantung itu.
Gadis itu sedang duduk manis di kasur memperhatikan ibunya hampir lima belas menit memilah milih baju namun tak kunjung pula mendapat ke man nya.
"Fatimah tidak tahu,!" Jawab nya di iringi gelengan kepala Sambil mengedik kan ke dua bahunya.
Memperhatikan Hanna saja sudah membuat nya pusing apalagi di suruh berpendapat ,sudah tentu jawaban tadi yang hanya akan gadis kecil itu ucapkan.
"Ayah mu apa akan menyukai baju ini,?"Lagi-lagi Hanna bertanya membuat Fatimah mendesah
"Baju seperti apa pun yang akan bunda pakai, bukan kah ayah akan tetap menyukai bunda,?"
Seperkian detik Hanna terdiam.,akhirnya tangan nya jatuh pada gamis biru muda dengan Khimar yang senada dengan warna bajunya.
***
Pesawat Baru saja mendarat dengan selamat .Orang-orang berjejer sama hal nya dengan Hanna sepertinya mereka sedang menyambut kedatangan seorang yang sepesial seperti saudara,atau apalah.
Mata Fatimah dan Hanna sibuk memperhatikan satu persatu orang-orang yang di perkirakan baru saja turun dari pesawat.
"Bunda ,bukan kah itu ayah dan Bibi,?" Jari telunjuk Fatimah mengarah pada wanita dengan hijab pasmina berwarna navy sedang melembai-lembai kan tangan nya pada mereka ber-dua.
Mata Hanna tertuju,mengikuti kemana arah telunjuk Fatimah dan
deg...
Jantung Hanna berpacu dua kali lipat dari biasanya kala mata nya tak sengaja menangkap pria yang mengenakan kacamata hitam berjalan semakin dekat ke arahnya.
Terlihat Hanna meremas ujung bajunya,keringat dingin mendadak keluar menandakan bahwa sekarang ia tidak sedang baik-baik saja.
Mata Hanna semakin lemah kala Alvin semakin dekat,ia menunduk berusaha menyembunyikan sesuatu yang saat ini tiba-tiba menguasai hatinya.
Tubuh nya sedikit bergetar,ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika pria yang sedari tadi di lihatnya itu sedang berada di hadapan nya.
Sementara mata di balik kaca mata hitam itu sedari tadi sibuk memperhatikan wanita yang mengenakan gamis berwarna biru muda juga himar dengan warna senada tertiup angin membuat wajah cantik itu semakin terlihat mempesona.Sudah dari tadi Riana menunjuk-nunjuk mereka yang sedang sibuk mencari seorang yang di yakini dirinya sendiri.
Alvin tersenyum tipis kala menyadari gelagat Hanna yang tidak seperti biasa.Wanita itu tentu sudah jelas sedang menguasai hati yang tidak beda dengan nya.
Degup jantung Alvin bahkan berpacu lebih cepat ,parah nya ia sudah tidak mempedulikan keberadaan sekitarnya.Di Bandra seluas itu ia hanya melihat dambaan hatinya yang sudah tiga bulan lebih tidak dilihatnya.
Tibalah Alvin di hadapan Hanna,ia melepas kaca mata yang sedar tadi melekat dan deg...
Bertemu lah mata yang sudah lama memendam kerinduan itu..
Tidak ada yang berpaling ,mata mereka masih saling mengunci sibuk tenggelam dengan perasaan nya masing-masing.
Jantung yang semakin meningkat kecepatan nya itu bahkan tidak lagi mereka hiraukan . Meleburlah,tidak ada mulut yang mampu berkata-kata untuk mengungkapkan perasaan mereka saat ini.
Tenggelam,mereka seolah menikmati setiap degup jantung juga detik yang saat ini terjadi.
Tatapan mereka seperti isyarat tersendiri,meluapkan bahwa selama ini kedua mata itu saling merindukan.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau akan setampan ini ,mas.."
Batin Hanna bersuara.
Tanpa sadar senyuman melengkung dari bibir mereka berdua..
Indah,seperti itu kata yang sedang mewakili perasaan mereka ,namun tiba-tiba mata indah Hanna terpejam
menyadari atas kehilapan nya.
"Astagfirllah Al adzim.."Tersadar,barulah Hanna memalingkan tatapan nya.
Tidak jauh dari Hanna berpaling lah Alvin,Ia menatap Putri yang bahkan sedari tadi memperhatikan nya,berharap tangan kokoh itu memeluk tubuhnya ,namun masih mengerti suasana.
"Assalamualaikum,ayah."Barulah ia menjulur kan tangan kanan yang di sambut senyuman juga jawaban dari ayahnya.
"waalaikumsalam , Putri ayah bagaimana kabarnya?.."
Ciuman bersama pelukan hangat dari Alvin membuat gadis itu berkaca-kaca.
Ia tampak memejamkan matanya menikmati perasaan bahwa ia benar-benar merasakan pelukan dan kasih sayang seorang ayah kembali.
"Harus nya Fatimah yang bertanya seperti itu,
Bagaimana keadaan ayah sekarang..?"Tangan nya bergelayut manja melingkar di leher Alvin seolah tak mau melepaskan nya.
"Ayah baik ,lihatlah sekarang ayah sedang berjongkok.."
"Ayah sekarang terlihat lebih muda,ayah terlihat sangat tampan..!"Fatimah berterus terang sambil mengusap-ngusap lembut pipi Alvin.
"Apa ayah merindukan bunda,?"Bisik nya ,namun tetap saja kedua pasang Hanna masih mendengar ucap gadis kecil nya tersebut.
Alvin mendongak ..
Tangan nya secara perlahan melepaskan Fatimah .Ia tampak berdiri kemudian memandang Fatimah yang tadi sempat tidak di pedulikan nya.
"Apa kabar,?"Tanya nya sambil memungkinkan kedua tangan nya.
Hanna hanya tersenyum,menungkup kan kedua tangan nya tanpa menjawab pertanyaan Alvin tadi .
Seperkian detik ia baru tersadar
"A-aku baik mas,bagaimana keadaan mu..?"
Jawab nya gerogi ,kembali membuat bibir Alvin melengkuh .
"Tidak buruk ,"Jawab nya sambil memalingkan muka nya ke arah Fatimah.
Nyata,berhadapan dengan Hanna membuat jantung nya hampir meledak .
"Gadis ayah apa sudah makan,?"Tanya Alvin sambil meraih tubuh mungil Fatimah kemudian memangku nya.
"mas.."Reflek Hanna menjerit,takut kalau-kalau kaki Alvin kenapa-napa.
"Sudah tidak apa-apa kak,"
Hanna manatap Riana,ia bahkan melupakan keberadaan nya..Riana sendiri tidak mau mengganggu kebahagiaan yang tadi sempat tercipta.
__ADS_1
Dan hijab,Hanna baru sadar bahwa Riana telah mengenakan hijab..
"Kamu apa kabar,?"Tanya nya Hanna sambil mencium pipi Riana secara bergantian.
"Aku baik kak,makasih ya sudah mau repot-repot menjemput kami..!"Jawab Riana sambil tersenyum basa-basi.
"Jangan seperti itu ,ini kemauan ku bukan.!"kilah Hanna sejenak menatap Alvin kemudian kembali pada Riana.
"Cape engga,?mau langsung pulang aja..?"Tambah nya.
"Terserah kamu aja,"Alvin menyela seketika membuat Hanna terdiam.
"Aku laper ayah,!" Fatimah bersuara dengan nada manja .."Sudah siang seperti ini Putri ayah apa belum makan,?"Tanya Alvin sejenak menatap Hanna yang saat ini menunduk penuh rasa bersalah.
"Fatimah tadi makan sedikit,bunda kelamaan milih baju jadinya tadi kami buru-buru."Fatimah berbisik ,tidak mau kalau sampai kata-kata nya terdengar oleh Hanna.
Jantung Alvin bahkan berdebar lebih cepat ketika mendengar penuturan Fatimah .Lagi ,ia melirik Hanna memperhatikan baju nya dari sampai bawa membuat wajah Hanna kembali merona
Alvin tersenyum tipis ,kemudian memelan kan kaki nya"Mau mampir ke restoran dulu,sayang,?"tawar Alvin .
"Bunda sudah masak di rumah,Fatimah mau beli burger aja"
"Baiklah,kita cari tukang burger nya.."Alvin tersenyum sambil mencolek hidung Putrinya.
Hanna diam saja .Di belakang ia masih sibuk memperhatikan interaksi anak dan ayah itu.
Ada kebahagiaan yang di ungkapkan lewat air matanya.Wanita itu menangis menahan haru.
"Mobil nya ada di arah sini mas,!"Ucapan Hanna sejenak menghentikan langkah Alvin.
Alvin menoleh ,buru-buru Hanna menunduk menghindari tatapan Alvin ke arah nya.
"Aku mau nyari tukang burger dulu buat Fatimah,,"kata itulah yang Hanna dengar dari mulut Alvin.
"Fatimah lapar..?"Tanya Hanna,sambil memperhatikan Putrinya ,ia jadi merasa bersalah karena tadi sibuk memperhatikan dirinya sendiri."Tunggu disini aja ya,bunda yang Carikan,"
Tambah nya kemudian hendak bergegas untuk pergi.
"Hanna,biar aku saja..!"Reflek kata-kata Alvin barusan berhasil menghentikan langkah Hanna.
"Mas tunggu aja ,mas kan cape..!"kilah nya kemudian pergi.
***
Tidak banyak percakapan antara mereka kecuali Alvin juga Fatimah ,mereka tampak asik membahas aktivitas saat mereka berjauhan .
Hanna dan Alvin sendiri,tidak ada yang berani membuka obrolan di antara kedua nya.
Mereka malah asik bersikap seolah sebelum nya tak saling kenal.
Sesekali Riana berbicara,mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka .
Namun semua itu tidak berhasil,mereka ber dua akan kembali terdiam saat Riana menghentikan obrolan nya.
Entah apa yang terjadi pada mereka.
Di usia nya yang sudah dewasa mereka malah bersikap seolah sepasang remaja yang baru memulai kencan pertama.
__ADS_1