ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
SURAT


__ADS_3

Istilah jodoh adalah cerminan diri kita sendiri itu benar mengingat pasangan yang besok siang akan melangsungkan pernikahan .


Mungkin kalian tahu sendiri bagai mana perjuangan Alvin untuk memantas kan diri menjadi pendamping juga imam untuk wanita yang saat ini di cintainya.


Sehabis shalat isya ,di sisi yang berbeda mereka sedang bermunajat kepada sang pencipta cinta itu sendiri.Terlena ,mereka berdua sama-sama hanyut dalam dekapan kasih sayang Tuhan dalam


keheningan bersama gelap nya malam.


Mereka benar-benar datang ,bersimpuh memasrahkan diri dihadapan sang pencipta dengan air mata yang perlahan merambat di wajah mereka.


Mereka menunduk sambil mengangkat ke dua tangan nya ,mengucap syukur juga berbagai permohonan untuk kebaikan diri mereka nanti.


Tidak ada tempat berlindung selain kepada -NYA,tidak ada tempat yang baik untuk bercerita selain kepada -NYA .Dan tidak ada tempat untuk memohon ampun selain kepada-NYA juga.Mereka yang meraih ketenangan itu adalah mereka yang memasrahkan diri menjadi seorang hamba sahya-NYA .


Mereka ridho akan taqdir yang Allah garis kan untuk nya,dan mereka bersyukur apa pun yang di dapatkan nya.


"Berkahi pernikahan kami Rabbi,..!"


Lirih nya dengan suara setengah berbisik seolah Tuhan benar-benar telah mendengar nya.


"Rahmati pernikahan kami ,bimbing lah pernikahan ini sampai Jannah mu nanti.."Pelan nya..


Ia tampak mengusap kan telapak tangan ke wajah nya tanda do'a sudah di selesai.


Hanna baru saja menyelesaikan ibadah nya ..


"Kak,udah siap kan ? kita berangkat sekarang ya!"


Panggil Raisa di balik pintu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ya sebentar lagi,Fatimah apa sudah siap..?"


Hanna menjawab ,namun belum juga membuka pintunya.Ia malah asik melipat mukena kemudian menyimpan nya di rak gantung.


"Sudah kak,aku tunggu di ruang tamu ya..!"


Putus nya kemudian pergi.


***


kediaman rumah' Alvin...


Jika biasa nya rumah itu sepi,kini ramai di penuhi dengan orang-orang yang mempersiapkan acara pernikahan besok.Mereka tampak sibuk dengan aktivitas nya masing-masing termasuk Riana ,wanita itu sedang asik membungkus sebuah kado untuk kakak ipar nya nanti .


Riana menyeringai membayang kan bagaimana reaksi Hanna dan Alvin saat membuka kado darinya.


Beberapa potong lingeria sengaja ia beli dari luar negri hanya untuk mengerjai kakak ipar nya nanti.


Ia jadi geli sendiri saat membeberkan satu lingeria berwarna hitam dengan berukat transparan.


Buru-buru ia membungkus kado tersebut karena sebentar lagi Hanna akan sampai ke rumah nya.


Ting...


Satu pesan masuk ke ponsel yang kini tergeletak di samping nya.Pesan dari Raisa yang mengabarkan bahwa sebentar lagi ia akan sampai ke rumah nya.


Sedikit membuat nya panik,ia tampak meletakan kado nya di lemari kemudian bergegas menuju kamar kakak nya sendiri.

__ADS_1


"Kakak mau kemana ,?"Begitu sampai Riana bertanya karena melihat Alvin yang baru saja keluar dari kamar nya.


"ke teras,nyari udara segar..!"Jawab nya enteng.


"gak boleh kak,calon pengantin itu dilarang kemana-mana.Masuk lagi ayo..!"Riana melarang sambil menarik dan menyeret lengan kakak nya untuk masuk.


"kamu apa-apaan sih,ngarang melulu"Protes Alvin hendak kembali meraih gagang pintu kamar nya.


"kakak pliss.."Riana menahan ,wajah nya tampak memelas mengisyaratkan permohonan pada sang kakak untuk tidak keluar.


Alvin keluar tanpa mempedulikan Riana yang dengan susah payah menahan nya untuk pergi.


"kakak,kakak..!"Riana berteriak tapi tidak Alvin hirau kan sama sekali .Ia sama sekali tidak mengerti dengan pikiran adik nya saat ini.


"Gagal sudah ,"Riana mendesah pasrah sambil mengikuti langkah kaki kakak nya.


Koko putih dengan sarung yang masih membelit pinggang ,juga songkok hitam yang masih melekat di kepala nya,Jelas sudah pria itu telah melaksanakan kewajiban nya .Mata Alvin meneliti ruangan yang di dekorasi sedemikian rupa membayang kan apa yang akan terjadi besok membuat jantung nya kembali berdetak cepat.


Fiuhh ..Ia membuang napas nya ,mencoba kembali menetralkan suasana hatinya.


"Hanna.."Nama itu benar- benar telah membuat dirinya gelisah,sepuluh hari sudah ia tidak melihat juga berhubungan dengan nya.


Ide gila adik-adik nya membuat waktu berputar terasa lambat.


"Teman-teman ku nanti akan kesini!"Ucap Alvin Sambil mendaratkan tubuh nya di kursi pelaminan yang di pasang bunga juga lampu-lampu hias.Ia tampak menyandar kemudian Memejamkan matanya mengingat besok dirinya dan Hanna lah yang akan bersanding di sana.


Wajah Riana merah ,ia tampak gelisah memikirkan cara untuk membawa kakak nya masuk ke dalam.


"Kakak masuk yu,mending istirahat' deh


kalau besok masuk angin gimana,?"Riana berucap panjang lebar namun Alvin tak menanggapinya.


"Kakak,"Riana merengek saat suara deru mesin mobil semakin dekat ke rumah nya.


Alvin memicingkan matanya,melihat mobil yang masuk ke pekarangan rumah nya.Mata nya menatap dengan tatapan awas ,pasal nya ia tahu siapa pemilik itu mobil.


"Jadi ini alasan kamu melarang kakak keluar?"Alvin mengintrogasi,namun tatapan nya masih belum juga teralihkan .


Deg...


Jantung nya mendadak berpacu lebih cepat ,napas nya terasa berat saat melihat seorang wanita turun dari mobil tersebut.


Tatapan nya belum juga terlepas,ia bahkan tidak menyadari bahwa di mobil tersebut bukan lah Hanna seorang.


"Assalamualaikum" Kata itu lah begitu mereka sampai di teras .


Riana tampak tersenyum bahagia ,menyambut calon kakak ipar nya .Ia mencium tangan kemudian mencium pipi nya secara bergantian.


Sekilas pandangan Hanna menatap Alvin..


deg..Jantung nya bahkan tak kalah beda dengan detak jantung Alvin yang sekarang.


Ia tampak menungkup kan ke dua tangan nya yang di balas Dengan gerakan sama pula oleh Alvin


"Apa kabar mas,?"Suara nya bahkan telah membuat Alvin terkesima.


"Mari kak masuk..masuk.."Riana mempersilahkan ,sengaja menjauhkan nya dari Alvin .

__ADS_1


Sebelum pergi Hanna melirik Alvin sekilas kemudian tersenyum tipis ke arah nya.


Alvin hanya terpaku ketika melihat Hanna di bawa adik nya sendiri ke dalam.


Alvin mengacak rambutnya frustasi ,ia kesal dengan Riana karena telah membawa pujaan hatinya kedalam ,setidak nya ia ingin beberapa lama lagi menatap Hanna .


"Ayah apa kabar..?"Tanya Fatimah .


Alvin terkesiap,ia bahkan tak menyadari keberadaan Fatimah sedari tadi


"Ayah baik sayang,bagaimana kabarmu?"Tanya Alvin Sambil meraih tubuh mungil Fatimah kemudian meletakan Fatimah di pangkuan nya.


"Harus sehat dong yah,kan besok ayah sama bunda nikah..!"Jawab nya enteng.


"Kamu bahagia..?"Tanya nya.


"Tentu saja,"Ucap Fatimah sambil memeluk tubuh ayah nya.


Alvin mencium pipi Putri nya lembut,kemudian memangku ,membawa Fatimah masuk ke dalam kamar nya.


"Ayah butuh bantuan mu,apa kamu bersedia?"


Begitu kata yang Alvin ucapkan setelah mendarat kan tubuh Fatimah di kasur nya.


"Tentu saja,apa yang bisa Fatimah bantu ?"


Alvin tersenyum senang saat mendengar jawaban Fatimah ,ia tampak meraih sebuah buku dan balpen kemudian menulis sesuatu di sana..


"Aku merindukan mu.


Aku sudah tidak sabar menunggu besok,aku ingin segera memiliki mu Hanna.


Aku ingin bicara sesuatu pada mu,bisakah kita bertemu ,jika bisa..kasih tahu tempat nya nanti aku akan ke sana..!!"Begitu kira-kira pesan singkat dari Alvin untuk Hanna.


Rindu adalah sebagian dari mati,maka tak heran Alvin bersikeras ingin menemui Hanna walau pun adik-adik nya tak kalah keras melarang nya.


Tadi Alvin bertemu Hanna sebentar ,tapi aneh nya bukan nya mengobati rasa rindu tapi malah membuat nya semakin gelisah.


"Sayang ,kasihin ke bunda..Tapi kalau bibi-bibi mu tidak ada ya..!"Pinta Alvin Sambil memberikan kertas yang ia lipat sangat kecil.


"Siap ayah.."Jawab Fatimah enteng kemudian pergi.


Melihat respon Fatimah ,sungguh membuat nya merasa lega.


Fatimah mengetuk kamar yang di tempati ibunya .


Begitu masuk ,semua bibi-bibi nya berkumpul,mereka tampak asik membahas sesuatu.


"Fatimah,apa itu?"Tanya Riana begitu melihat kertas yang berusaha Fatimah sembunyi kan.


Fatimah menggigit bibir kemudian menggeleng,namun surat tersebut terlanjur di ambil Riana karena merasa curiga.


Benar saja ,Riana tampak tersenyum menyeringai membuat semua yang melihat nya penasaran.


"Dari kak Alvin kak,?"Tanya Raisa penasaran.


Riana mengangguk kemudian mencarari-cari balpoin,ia menulis sesuatu di dalam surat tersebut kemudian kembali menyuruh Fatimah untuk mengembalikan nya pada sang ayah.

__ADS_1


"Jangan kasih tahu ini dari bibi ya,!"Ucap Riana


membuat Hanna tersenyum kemudian menggelengkan kepala nya .


__ADS_2