
Entah sudah berapa lama Hanna menatap cincin yang baru saja melingkar di jari manisnya itu penuh arti hingga melupakan keberadaan orang di sekitarnya.
Sebuah benda mati itu nyatanya telah mengganggu pikiran Hanna .
Pikiran nya menjadi kalut ,ia bingung antara harus memilih kebahagiaan nya atau menyakiti perasaan orang yang selama ini di anggap sebagai ibunya.
Hal itu tentu menjadi pilihan yang teramat sulit baginya.
"kamu kenapa,nduk?"Akhirnya suara Mirna berhasil membuyarkan lamuna Hanna sekaligus memecah keheningan di antara mereka bertiga.
Raut kebahagiaan yang sebelum nya terpancar jelas kala berhasil menyematkan cincin di jari seorang yang selama ini di anggap putrinya sendiri,kini mendadak sirna saat menyadari perubahan pada diri Hanna.
Sudah bisa di tebak,Hanna tidak terlalu suka memakai cincin yang baru saja di sematkannya.
"Tidak umi ,"Sekilas ia menatap Mirna kemudian kembali beralih menatap jemarinya.
"Maafkan Hanna umi,"pelan Hanna,sambil melepas cincin yang masih baru di pakai nya.
Mirna terdiam ,ia sudah tahu kearah mana sekarang Hanna akan berbicara.Rasa kecewa mungkin ada ,naman ia selaku orang tua tidak bisa memaksa masa depan yang akan di pilih wanita yang di cintai putra nya ,pun ia sangat mengerti .
Pernikahan juga harus di dasari atas mencintai agar kelak bisa menjalankan kewajibannya sepenuh hati.
Ia memegang ke dua tangan Mirna kemudian menatap nya dengan tatapan yang tak dapat di artikan seolah telah mengatakan sesuatu lewat sorot mata besarnya.
Sayang nya Mirna tidak mengerti dan memilih diam menunggu kata apa yang akan Hanna ungkapkan kepadanya.
"Hanna telah dilamar ,mi"ungkapnya .
Bongkahan masalah itu telah membuat nya tenang begitu kata hati terdalam itu lepas dari mulutnya,Selanjutnya ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Manusia memang harus seperti itu,mengambil langkah kemudian pasrah .
Mirna hanya tersenyum menanggapi ucapan tersebut,namun dengan begitu Hanna paham betul mengingat manik yang selalu memancarkan kasih sayang itu kini memperlihatkan warna kekecewaan.
***
__ADS_1
Hanna menghembuskan napas beratnya begitu otak nya selesai merekam kejadian satu minggu yang lalu.
Sesaat ia memperhatikan kertas yang ada di hadapan nya kemudian mendesah kala melihat kertas itu masih putih bersih .
Tadinya ia ingin merancang beberapa model syar'i yang di sukai anak-anak muda seusia adiknya.
Sudah satu minggu pikiran nya terganggu ,bahkan ia mematikan ponsel nya demi tidak berhubungan dengan siapa pun .
Alvin ,sudah tentu pria itu bertanya-tanya tentang keadaan nya ,namun ia memiih tidak menghubunginya terlebih dahulu sebelum permasalahan juga pertimbangan dengan Dave telah terselesaikan.
Urusan dengan Mirna telah selesai ,namun agaknya Dave tampak berbede.Saat ini ia menjadi seorang yang pemaksa mengingat ke dua orang tuanya kembali mengutarakan niat ,bahkan menyuruh Hanna untuk membatalkan rencana pernikahan nya.
Untuk yang ke dua kali nya Hanna mendesah ,marasa bingung memilih masa depan yang akan di pijak nya . Sibuk dengan pertimbangan nya,walau sudah beberapa kali merenung tetap saja hidup bersama orang yang di cintai telah menjadi pilihan nya.
"kamu yakin nduk,akan menikah dengan pria yang tega menyakitimu dulu ,
Lihatlah Fatimah,! Anak tak berdosa sepertinya bahkan harus menanggung akibat dari kejejaman nya."
Sederet kalimat yang telah Mirna ucapkan kadang membuat hatinya berguncang ,kendati demikian Hanna bukan ragu atas jatuhnya pilihan .Hanya saja rasa bersalah yang kian menyeruak dalam benak nya membuat pikirannya semakin bingung.
Namun ia juga tidak bisa jika harus kembali mengorbankan perasaan nya jika hanya untuk balas budi .
Sekilas pandangan nya menangkap Fatimah yang sedang asik memainkan boneka barbie membuat otak nya kembali berputar mengingat bagaimana dulu gadis kecil itu di besarkan.
***
Singapura.
Alvin menatap curiga wanita yang kini berada di hadapan nya ,Tingkah aneh itu terlihat semakin mencolok mengingat sorot mata wanita itu menatap nya penuh damba.
Alvin bisa menebak ,di sana ada rasa .
Rasa istimewa yang ia simpan rapat di hatinya namun gagal karena Alvin menyadari gelagatnya.
"Sebentar pak ,"Perkataan wanita itu sejenak menghentikan aktivitas makan Alvin ,
__ADS_1
Ia terdiam namun kemudian tersadar kala tangan putih mulus itu berusah meraih ujung bibir Alvin .
Menyadari akan hal itu Alvin dengan sigap mengelap bibir dengan punggung tangan nya ala-ala anal kecil .
Selain adik dan istrinya nanti,sekarang ia berusaha keras menolak bersentuhan dengan lawan jenis nya,sekalipun yang saat ini menjadi perawat khusus nya wanita.
Tangan Alina mengatung,kemudian kembali menarik nya saat pusat yang akan menjadi kesempatan nya telah tiada ,Tadi memang ada sisa makanan yang membingkai di sudut bibir Alvin.Namun rupanya Alvin terlanjur menyadarinya.
"Riana,kapan akan kesini,?"
Alina bersuara mencoba menutupi salah tingkah nya meskipun gagal karena Alvin menyadari kegugupan nya itu.
Ya,Alina adalah teman sekolah nya Riana dulu di Singapura.
"Aku akan menyuruh nya kesini secepat mungkin,suster"jawab Alvin ,ia sengaja menekan kata terakhir nya seolah memberi isyarat tidak boleh ada rasa kepadanya ,kira-kira seperti itu maksudnya.
"Secepat mungkin,?" Alina sedikit terkejut sebelum meyakinkan akan jawaban Alvin .
"ya secepat mungkin ,aku tidak mau terlalu lama merepotkan mu"Alvin membenarkan kemudian menjelaskan .
"Tidak kok pak ,sama sekali tidak merepotkan.
Justru saya senang bisa melayani bapak selama ini,"Sanggah nya buru-buru .
Tak lupa pancaraan matanya ia siratkan atas ucapan tulus nya tesebut.
"Tetap saja saya tidak enak suster,terimakasih sekali karena telah setia merawat saya."Tukas Alvin begitu santai .
Merasa tidak ada kata yang pas untuk di ucapkan ,Alina hanya terdiam menikmati setiap suap makanan nya meskipun terasa hambar di mulutnya .
Hambar ,bagaimana tidak
ia lebih memperhatikan degup jantung yang setiap hari mengencang saat menatap manik-manik pria yang ada di depan nya.
Pulih nya tubuh Alvin memang menghadirkan pesona nya dulu yang pernah terpendam .
__ADS_1
Maka tak heran wanita seumuran adik nya ini cara pandang nya berubah seketika seolah baru menyadari akan pesona orang yang padahal setiap hari ada bersama nya.