
Aku menatap iba seorang yang sedang susah payah memutar kursi roda.
Dia mas Alvin,sekitar dua minggu yang lalu dia sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit .Aku tersenyum saat dia telah menyadari bahwa sedari tadi aku menatap nya dari kejauhan .
Fatimah turun dari sofa ,bergegas menghampiri ayahnya sebelum pada akhirnya gadis kecilku membantu mas Alvin untuk mendorong kursi roda yang saat ini sedang didudukinya.
"Assalamualaikum"
Aku mengucapkan salam saat mereka sudah berada di hadapan ku .
Ia kembali tersenyum menjawab salam ku,sambil menungkupkan ke dua tangan nya .
ya akhir-akhir ini senyuman itu memang selalu terlihat menghiasi bibirnya.
"Apa keadaan mu sudah membaik?"
Tanyaku, pandangan ku pokus melihat perban tebal yang melingkar di bagian lututnya.
"Alhamdulillah,untuk yang lain nya sudah tidak apa-apa.Hanya saja untuk kaki ,kurang lebih butuh satu tahun untuk pulih kembali"
terang nya tak lepas dari senyum nya yang menawan.
"Kau pasti sangat kesusahan untuk melakukan aktivitas"
Aku kembali bersuara setelah sekian lama terdiam.
Bukan nya menjawab ia hanya tersenyum menanggapi ucapan ku.
Namun dengan tersenyum pun aku sudah mengerti akan jawaban nya.
"Ayah ,apa kau sudah makan,?
bunda memasak makanan kesukaan ayah,
aku ingin ayah memakannya."
suara Fatimah memecah keheningan di antara kami.Aku tertunduk malu
ku lihat sekilas ia tersenyum tipis menatapku.
"Terimakasih bunda"kata itu lah yang kudengar dari gendang telingaku.
Aku tersenyum mengangguk ,tangan ku sibuk memisahkan satu persatu rantang susun. Jika harus jujur ,hati ku berbunga-bunga ketika mendengar kata-kata mas Alvin barusan.
Bunda.Kata itu memang sudah lama sekali tidak terucap dari bibir manis nya.
"Apa kalian sudah makan,ayah ingin kita makan sama-sama."
Ucapnya,namun matanya terlihat masih setia menatapku. Tentu saja hal itu membuat ku malu. Gerogi,ya kira-kira seperti itu.
"Baiklah ,jika itu permintaan mu
kita makan sama-sama"
ku menarik nafas mencoba membuang perasaan aneh yang menyapa hatiku.
Sedari tadi aku memang belum makan.
Tentu saja,hal ini sengaja ku lakukan.
Dua minggu semenjak mas Alvin pulang dari rumah sakit ,aku memang sering mengunjungi nya .
Aku datang hanya memastikan keadaan nya atau hanya sekedar mengantar kan makanan untuk nya.
Namun juga ada hal lain ,aku sering datang kesini juga mengharapkan dia untuk mengutarakan sebuah lamaran yang sempat tertunda .Namun sampai saat ini dia enggan juga membahas nya.
Aku bingung,jika aku memulai nya
ahh..sudahlah.
kami mengucapkan do'a sebelum pada akhirnya kita bertiga mulai makan .
Aku tertunduk namun sesekali aku
mencuri pandangan ke arahnya,sialnya
dia juga melakukan hal yang sama dengan ku.
Deg...
__ADS_1
Jantung ku berdetak di atas rata-rata ketika kami beradu pandang,seperti maling ketahuan aku buru buru memutuskan pandangan ku.
"Fatimah makan nya yang banyak ya sayang"Aku menyodok nasi kemudian di letakan pada piring Fatimah demi mengalihkan perhatian.
"Bunda ..nasi ku masih banyak"
Astagfirllah..
aku baru tersadar ternyata nasi di piring Fatimah masih sangat banyak.
"Ehemmm.."
suara itulah yang terdengar di gendang telingaku. ku lihat bibir nya tersenyum tipis ketika melihat apa yang baru saja aku lakukan.
Aku menunduk,bisa ku pastikan wajah ku sudah merah menahan rasa malu.
Gadis kecilku biasanya akan banyak bertanya,namun saat-saat seperti ini mengapa dia hanya diam.
Aku kesal sendiri,situasi seperti ini benar-benar membuat ku salah tingkah.
"Bella apa pernah menjenguk mu,mas?"
Akhir nya suara ku memecah keheningan di antara kami bertiga. kami memang baru saja menyelesaikan makan,sementara tangan ku sibuk merapikan perabot yang baru saja kami pakai.
Aku melirik dia sekilas.
Dia tersenyum kemudian menggelengkan kepala nya pelan .
"Tidak.."ucapnya kemudian.
"Kau melepaskan dia secara baik-baik kan mas?"Tanyaku lagi penasaran .
Aku menuangkan air putih kedalam gelas kemudian memberikan nya pada mas Alvin
"Ya... sepertinya begitu.
Mungkin dia sedang disibukan perkerjaan,tidak ada waktu untuk menjenguk ku.Lagi pula aku rasa itu tidak perlu ."
Dia menatap ku sambil tersenyum.
Menerima gelas yang aku sodorkan kemudian meminum nya.
Fatimah sedari tadi dia hanya terdiam ,menyimak percakapan antara kami berdua.
"Siapa yang kau maksud putriku,?"
Ia bertanya ,namun pertanyaan nya tidak bisa aku cerna.
Ia menatapku sebentar kemudian pandangan nya lurus menerawang ke depan.
"Tentu saja Mala,siapa lagi?"
jawaban ku diiringi pertanyaan tidak mengerti,bagaimana bisa mas Alvin melupakan putrinya sendiri begitu saja.
"Dia bukan putriku."
jawab nya tegas.Namun bercak bening sudah tampak melapisi kedua bola matanya .
perkataan ku seolah telah membangkita kan luka di dalam hatinya.
"Assalamualaikum."
seorang wanita datang mengucapkan salam kemudian mencium lembut tangan mas Alvin.
Ya .. Gadis itu adalah Riana,dan yang merawat mas Alvin saat ini adalah dia.Meski di rumah menyediakan pembantu pria untuk membantu mas Alvi jika dirinya tidak ada.
"Waalaikumsalam"kami menjawab bebarengan .
Tangan Riana kali ini meraih tangan ku
kemudian mencium nya.
"Sejak kapan kakak ada di mari?" celoteh nya setelah mendaratkan beberapa ciuman pada putriku..
"Sudah dari tadi Riana,sebentar lagi juga kami akan pulang."jawab ku santai,namun pandangan ku tertuju pada Alvin yang sedang fokus memperhatikan Adik dan anaknya itu.
"Fatiamah sayang,bibi punya sesuatu untuk mu.. Mari ikut bibi ke kamar"Ku lihat Riana menarik tangan Fatimah,entahlah mungkin dia sengaja meninggalkan kami berdua di ruang tamu.
"Wahh..bibi baik sekali ,sebelumnya
__ADS_1
Terimakasih bibi Riana"
Ucapan antusias Fatimah masih sangat jelas terdengar di telingaku.
"Kau tidak menikah lagi Hanna,aku kasihan pada Fatimah.Carilah ayah yang baik untuk menjaga putri kita."Dia memulai percakapan ,
memecah keheningan di antara kami berdua.
Aku tersenyum pedih,lapisan bening tentu sudah terlihat jelas di kedua bola mataku.
Hatiku perih,bagaimana bisa mas Alvin mengatakan hal ini kepadaku,aku tidak mengerti bukan kah dia masih mencintaiku.
"Lalu bagaimana dengan mu,mengapa kau tidak mencari wanita lagi?."bukan menjawab pertanyaan,aku malah balik bertanya kepada nya.
"Kaki ku patah Hanna ,aku tidak mampu walau hanya untuk sekedar berdiri,jika saja aku menikah aku bakal menjadi suami tidak berguna sama sekali."Terang nya begitu santai seolah tidak ada beban yang di pikul di dalam hatinya.
"Jika saja mas mencari wanita lagi ,nanti akan ada yang merawat dan membatu mas dalam melakukan aktivitas"Aku menatap nya sekilas, kemudian pandangan ku menerwang ke depan.Hati ku terlalu pedih untuk melihat senyum yang selalu terukir di bibirnya.
"Aku tidak percaya jika ada wanita yang menerima ku dalam keadaan seperti ini"
celotehnya ,ku lihat dari ujung mataku dia tersenyum tipis sambil menatapku.
Kali ini aku hanya terdiam,tidak berniat menjawab kata-katanya barusan.
Hatiku terlalu perih bagaimana bisa mas Alvin berkata seperti itu.Bagaimana bisa dia masih belum mengerti akan perhatian dan kasih sayang yang aku tujukan selama satu bulan ini.
"Ku rasa Dave pria yang bertanggung jawab Hanna ,dia sangat tulus mencintaimu.
Menikah lah dengan nya,pilih lah dia untuk menjadi ayah Fatimah,ku rasa Fatimah juga menyukainya."
Ucapnya lagi setelah sekian lama aku belum juga bersuara.
Aku tersenyum getir mendengar apa yang mas Alvin katakan barusan.Jiwaku rapuh,
Lapisan bening yang tadi masih melekat di mataku kini sudah berubah menjadi buliran buliran permata cair yang menghujani pipiku.
Aku menatapnya sekilas,kemudian beralih menatap kosong ke depan.
"Bagaimana kau bisa berkata sekejam ini kepadaku mas,bagaimana kau bisa berbicara enteng tanpa mempedulikan perasaan ku,bagaimana kau bisa menyakiti hatiku mas?
Aku mencitaimu mas ,aku mencintaimu
apa kau belum juga mengerti akan perhatian yang selama ini aku tunjukan kepada mu."
Kali ini suara ku berubah menjadi dingin.
"Aku tahu Hanna ,aku tahu kau mencintaiku"
"Kau tahu aku mencintaimu,namun mengapa kau dari kemarin diam saja seolah tidak mengerti,kau tidak mencintaiku lagi kah mas?"Aku menyela di tengah-tengah penjelasan nya.
"Tidak Hanna ,aku mencintaimu dan akan tetap mencintaimu..
Tapi lihatlah kaki ku,Kaki ku patah Hanna.
Bagaimana bisa aku merepotkan seorang yang ku cintai." Ucapan itu kali ini terdengar rapuh .
"Kau anggap aku wanita seperti apa mas ,
Kau meragukan ketulusan ku kah?"
Aku terisak.
"Aku pergi mas.."Tanpa persetujuan nya aku berlalu mencari dimana putriku berada.
Namun tiba-tiba sosok yang kucari muncul bersama wanita yang tadi membawa nya,ku hapus kasar air mataku kemudian menghampirinya.
"Sayang kita pulang,pamit dulu sama ayahmu" Ajak ku sambil menarik lembut tangan mungil nya.
Ekor mataku menangkap Iriana yang sedang memperhatikan ku ,sepertinya dia mengerti Kan keadaan ku saat ini .
"Riana kakak pulang,kakak titip mas Alvin ya.." ucapku.Sementara Fatimah gadis itu telah menghampiri ayah nya .
***
jangan tanya author kemana ..
he he..
Hp author rusak ,ini baru di benerin
__ADS_1
maafin ya..
muachh muachh ..