ISTRI YANG TERLANTAR

ISTRI YANG TERLANTAR
MEMILIH BAJU


__ADS_3

"Riana ,keluarkan baju yang ini..!"


Ucap nya sambil menunjuk sebuah kemeja berwarna navy yang menggantung di dalam lemari.


Berjalan tak bisa ,apa daya pria itu selain nyuruh-nyuruh adik nya yang selalu setia menemani dan menuruti perintah nya.


Riana menghembus kan nafas nya lelah , Dengan sangat pelan ia berjalan menuju lemari.Bagaimana tidak ,sudah hampir semua baju Riana keluarkan namun belum juga ada yang di pilih kakaknya.


"Yang ini ,kak?"tanyanya sambil memegang lengan baju warna navy yang sempat tadi Alvin tunjukan kepadanya.


Alvin hanya tersenyum kemudian mengaguk tanpa dosa.


"Ya.."ucapnya santai.


Dengan sabar Riana mengambil baju tersebut kemudian mendorong kakak nya ke arah tempat tidur.


"Yang ini apa bagus?"


Tanya nya dengan wajah polos sambil membeberkan baju tersebut di depan badan nya.


Riana hanya manggut-manggut menanggapi ucapan Sang kakak.


Pertanyaan itu entah sudah berapa puluh kali Alvin layangkan kepadanya sehingga adik nya sendiri bosan mendengar dan menanggapinya.


"Bagus kak.!"ucapnya terdengar semangat namun terlihat lelah.


"Jadi yang bagus itu sebenarnya yang mana Riana.Dari pertama sampai sekarang kau hanya menjawab itu-itu saja.


kalau seperti ini kakak tidak bisa memilih."


Celotehnya terdengar kesal saat mendengar jawaban adiknya,dari baju pertama sampai sekarang gadis yang ada di hadapan nya ini memang hanya mengatakan kata itu saja.


"Tau gini,dari tadi aku akan mengatakan semua baju yang di tunjukan kakak jelek"Batin Iriana sambil memijat plipisnya kesal.


"Oh ya ampun Riana ,sebentar lagi jam dua"


wajah Alvin tampak panik saat melihat jam dinding yang menggantung di kamar nya menunjukan pukul 13:00.


Ia meremas rambut belakang nya dengan pelan saat melihat baju-baju yang tertumpuk di atas tempat tidur.


Sementara Iriana gadis itu mendesah karena jengkel.


"Jadi baju mana yang harus kakak pakai?"


ucapnya frustasi ,nada suara nya terdengar seperti orang yang sebentar lagi akan menangis.


"Saat mencintai Bella ,perasaan kakak ga kaya gini-gini amat,kak Hanna jago banget buat pria seperti orang gila."


Riana membatin ,namun tangan nya sibuk memilih satu persatu baju yang sudah berserakan di tempat tidur itu.


"Yang ini kak,menurut ku cocok dengan tubuh kakak.!"


Ucap Riana saat telah berhasil menangkap kemeja polos berwarana biru muda ,kemudian membeberkan nya di tubuh sang kakak.


"Baiklah ,lagi pula ini baju favorit kakak."


Jawab nya sambil meraih baju tersebut,kini baju itu beralih ditangan Alvin .


Dengan teliti Alvin memeriksa baju tersebut kalau-kalau menemukan noda di dalam nya.


"Apa ini terlihat kusut?"


tanya nya sambil membeberkan kembali baju tersebut.


"Tidak kak,tidak..!"Iriana mengeleng sambil menggigit bibir bawah nya ,nyali nya menciut.

__ADS_1


Ia sungguh takut kalau-kalau sang kakak menyuruh nya untuk menyetrika baju tersebut.


"Tapi kakak rasa kusut.


Setrikalah,kakak mau mandi dulu..!"Titah Alvin sambil melempar baju tersebut ke wajah Iriana .


"Mata Iriana berkaca-kaca memandangi Alvin yang pergi begitu saja bersama kursi roda nya ke kamar mandi.


Ia tidak tahu apa yang harus di lakukan nya saat ini.


"fiuhh.."Gadis itu mendesah lesu.


Iriana berjalan lesu ke tempat dimana dulu seorang pembantu menyetrika baju penghuni rumah itu.


Ia memandangi setrikaan tersebut tak mengerti.


Pikiran nya sempat ingin meminta bantuan pada seorang pembantu pria yang suka membantu Alvin ketika ia tidak ada,namun rasa malu membuat ia mengurungkan niat nya.


Bagaimana seorang gadis tidak bisa melakukan hal semacam ini.


"Ternyata ini tidak terlalu susah"gumam nya sambil menggerakan kesana kemari setrika tersebut pelan,wajar saja ini hal tak biasa baginya.


Ia tersenyum dengan penuh kemenangan mengingat dia bisa melakukan salah satu tugas perempuan.


"Oh,ya ampun..


kenapa jadi haus kaya gini?"Ucapnya kemudian pergi berlalu hendak mengambil air minum untuk meredakan rasa dahga nya.


"Riana ,apa sudah selesai?"Alvin sudah berteriak-teriak di kamar nya,sudah jelas ia menanyakan baju yang tadi di berikan pada Riana untuk di setrika.


"Sudah kak,sebentar."


Dengan tergopoh-gopoh gadis itu meneguk air dalam gelas yang ada di tangan nya kemudian berlari menghapiri baju yang tadi ia setrika.


"prang.."


gelas yang di pegang nya jatuh kemudian pecah.


"Oh,tuhan ..Apa yang telah kulakukan?"


gumam nya tak sadar..


"Riana,mana bajunya"


Alvin kembali bersuara,kali ini teriakan itu terdengar sangat keras di telinga nya.


Dengan sigap Iriana mencabut aliran listrik tersebut kemudian menjauhkan setrika dari baju yang kini sudah bolong mencetak setrikaan.


Ia berlari dengan tangan gemetar menuju kamar sang kakak.


"Ria.."


Kata-kata Alvin mengatung saat melihat baju di tangan Hanna sudah bolong.


Bengong ,entah apa yang ada di dalam pikiran nya.


"Maafkan aku kak,"


Iriana nyengir kuda melihat Alvin siap melampias kan amarah nya.


Sementara Alvin, pria itu mengusap dada mencoba menahan amarah yang sedang membuncah di dalam dadanya.


"kakak,aku baru ingat


kak Hanna tidak suka baju berwarna biru muda"Iriana berucap sambil cengengesan.

__ADS_1


Kening Alvin berkerut ketika mendengar penjelasan adiknya.


"Bukan kah ,Hanna sering mengenakan baju berwarna biru muda?"tanya nya menyelidik.


"Hoalahh,mati aku"Batin Iriana.


"Yang ini aja ya kak, lagi pula ini lebih bagus dari baju yang itu."Gadis itu masih mencoba melindungi dirinya.Kini tangan itu meraih kemeja berwarna navy yang tadi sempat di ambilnya.


Alvin mendesah ,kemudian mengambil kemeja tersebut. kemarahan nya ia padam kan mengingat hal itu tak ada gunanya.kalau pun ia marah kemeja itu tetap tidak akan kembali seperti semula.


***


20 menit kemudian.


Alvin memandang dirinya di cermin.


Sesekali wajah nya tersenyum,


membayangkan bahwa yang ada di depan nya


kini adalah Hanna.


Namun wajah nya kembali terlihat frustasi saat melihat bekas luka dipipi nya.


Ia menghembuskan nafas nya kemudian mencoba menghilangkan rasa tegang pada hatinya.


"Kakak ,apa kau sudah siap,?


kakak harus lebih dulu datang dari kak Hanna."Suara Riana telah berhasil membuat nya panik.


"Sudah Riana ,masuklah..!"titah Alvin dengan suara setengah berteriak.


Tidak lama setelah itu,pintu terbuka .


Menampilkan sosok Riana dengan wajah kesal.


Bau minyak wangi menusuk hidung gadis yang baru saja masuk.Entah berapa banyak minyak wangi yang di semprotkan Alvin sehingga minyak itu bukan lagi tercium wangi,lebih ke pusing bagi siapa saja yang mencium nya.


Ia memandangi kakak nya kemudian menghembus kan napas nya pelan.


"Kakak kenapa jadi malu-maluin kaya gini sih?"Batin Iriana frustasi.


"Apa kakak mu terlihat tampan,Riana?"


Tanya Alvin saat melihat Iriana berjalan semakin dekat kearahnya.


"Ya.."Jawab Iriana singkat meraih kemeja sang kakak ,kemudian merapikan baju yang di kenakan kakak nya tersebut.


Baju nya memang terlihat acak-acakan.


Wajar saja Alvin memakai baju itu sendiri meskipun harus dengan susah payah.


"Ayo kita berangkat..!"Ucap Iriana sambil mendorong roda yang di duduki kakak nya keluar.


"Apa kamu yakin cincinnya akan muat,Riana?"tanyanya di tengah-tengah perjalanan.


"Sepertinya cukup kak ,soalnya badan kak Hanna sekarang lebih berisi."jawab nya singkat ,namun tak mengindah kan pandangan nya.


Gadis itu fokus pada jalanan yang sudah di penuhi kendaraan .


"Bunga ,apa kau sudah membelinya?"


Tanya nya lagi seolah mengingatkan.


"Di depan kak,kita mampir dulu ke toki bunga."Jawab Irian kemudian terdiam.

__ADS_1


__ADS_2