
Pagi hari....
Pagi pagi sekali Ubaydillah telah berada di rumah singgah, ia sedang mencegah Afnan pulang ke ponpes, agar menemani nya bertemu dengan orang tua kandung nya.
"A'a bro jangan pulang dulu yaa, temani Ana menemui orang tua kandung Ana" rengek Ubaydillah, sembari memeluk koper dengan kunci mahar Hasna ia sabotase di tangan nya.
"Dek kembalikan koper dan kunci Mobil nya , ini harus siap siap ngepak pakaian dek " pinta Afnan.
Abi, Umi dan yang lain nya membiarkan kakak adik itu seperti itu, mereka hanya tertawa kecil, menertawai kelakuan Ubaydillah yang sedang menyabotase barang barang milik Afnan.
Setengah jam sudah, drama utun berjenggot merayu Afnan, dengan segala upaya, kini sepatu Afnan ikut ia sabotase, ia seperti nya lupa telah menjadi seorang suami, yang mungkin sebentar lagi akan memiliki utun juga.
"A'a bro tolong, tolong A'a Ana sayang, please cuma satu hari saja koq untuk menemui orang tua Ana dan semalam Granny berkata, akan mengajak Ana ke perusahan, Ana tidak percaya diri tanpa A'a bro, besok kita sama sama pulang ke ponpes A" rengek Ubaydillah kembali.
"Astagfirullah deekk, bukan nya Ana tak mau menemani, namun Anta juga tahu kan dek, pekerjaan kita sudah beberapa pekan terbengkalai" ucap Afnan.
"Iya Ana tahu A, tapi kan nanti setelah pulang Ana bantu ngebut ngerjain" Ubaydillah masih bersikukuh.
"Sayang telepon Lilin lampu , suruh datang ke mari, biar di jewer tuh telinga utun ber jenggot" pinta Afnan pada Hasna, kini Afnan di bantu zainal, sedang memasukan pakaian tanpa di pak ke dalam koper, ia letakan begitu saja. Di jok Mobil.
Hasna mulai mengeluarkan ponsel, berniat menelpon Lintang.
"Tolong jangan jangan jangan dek Nana, heee jangan menghubungi Lilin" pinta Ubaydillah, jika Lintang datang, maka urusan akan runyam fikir nya.
"A'a broo huuwaa , huuu tolong dedek, huuwaa aaaa hikss hikss ," kini berlanjut drama pertumpahan air mata, Ubaydillah menangis yang ia buat buat.
"Abi, Umi tolong dedek doong bujuk A'a " Ubaydillah memohon.
Akhir nya pak kyai angakat bicara " Ya sudah A temani utun dulu, toh hanya untuk satu hari kan" ucap pak Kyai.
" Iya A,, kasihan dedek, temani saja dulu" bujuk Umi.
Apa bisa daya, jika sudah menyangkut titah Abi dan Umi, Afnan tidak akan dapat menolak.
"Hmmm.. Baiklah satu hari yaa, kalau masih ada lusa, Anta akan Ana tinggal" tukas Afnan.
"Iya iya, baiklah A'a satu hari, Terimakasih A'a broo," Ubaydillah kegirangan lalu memeluk dan mengecup dahi Afnan.
"Dek, iiih apa apaan sih" tepis Afnan sembari mendorong Ubaydillah hingga jatuh duduk di sofa .
Yang lain hanya ikut tertawa.
Beberapa jam kemudian...
setelah rombongan pak Kyai berpamitan kepada keluarga Lintang, Granny dan seisi rumah singgah, maka mereka kembali ke ponpes di kota S, kecuali Afnan , Hasna, Ubaydillah dan Lintang, mereka tidak ikut serta di Karenakan sedang menanti orang tua Ubaydillah yang akan kembali dari jerman.
Kini Ubaydillah sudah berada di rumah Granny bersama Afnan, Hasna dan Lintang.
Grandad dan Ubaydillah baru bertemu semalam di acara walimatul Urs, ia sempat bertanya pada Granny, mengapa wajah Ubaydillah mirip dengan nya dan Devano, pagi ini Granny baru memberitahukan kebenaran nya jika Ubaydillah adalah cucu mereka yang dulu di anggap sudah meninggal.
"Jadi kau cucuku Nak , cucu yang sudah kami anggap meninggal" ucap Grandad berkaca kaca.
"Ia Grandad, saya Cucu Grandad yang sudah di anggap meninggal" ucap Ubaydillah.
Ubaydillah mengiyakan, maka terjadi lah pelukan haru, hingga cair suasana dan ber akhir obrolan ringan.
Siang hari Ubaydillah mengikuti ajakan Granny ke perusahan yang memang sudah atas Nama nya sejak ia lahir, dan setelah Ubaydillah kecil di nyatakan meninggal pun, Granny tidak mencabut nama kepemilkan tersebut yang bernama Tekstil and Garment A*R company persero ( A*R di ambil dari nama tengah dan belakang Davian), Granny menyumbangkan 50% keuntungan dari Pt A*R ini untuk kegiatan sosial dan badan Amal di atas namakan Davian Arjan Rayker.
__ADS_1
Setelah puas berkeliling maka Granny memperkenalkan Ubaydillah kepada para staf dan pekerja.
"Selamat siang, saya Emma Rayker, selaku Board of Manager PT. A*R Tekstil and Garment ini, maka hari ini saya perkenalkan pemilik sah dari PT AR ini, walaupun tidak berkantor di PT AR ini, namun ia tetaplah sebagai pemegang saham terbesar dan owner dari A*R persero, dan sebagaimana kalian ketahui jabatan nya sebagai PRESDIR PT A*R, sebelum jabatan Board of manager ini saya serah terimakan kepada nya.
Tentu saja semua para staf yang awal nya hanya tahu nama Davian Arjan Rayker ini sebagi PRESDIR misterius, mereka riuh saling berbisik berkomentar, mereka berfikir jikalau Davian Presdir mereka itu adalah Devano yang sering hilir mudik di PT AR ini, memang berdasarkan keyakinan yang kuat bahwa Davian Arjan Rayker ini masih hidup, dan suatu hari akan kembali, maka setelah di perkirakan usia Davian skitar 20 tahun maka Granny membuat dan mengankat Davian sebagai PRESDIR, namun sosok Davian ini tidak pernah ada, PRESDIR DAVIAN ARJAN RAYKER ini hanya FIKTIF belaka, Granny membiarkan para staf atau dewan direksi lain nya mengangap Ubaydillah atau Davian ini tetap ada, namun Misterius.
Dan saat ini dengan bangga, Granny memperkenalkan Davian sebagai PRESDIR kepada seluruh dewan Direksi, staf dan karyawan tanpa terkecuali, dengan penampilan perlente Ubaydillah yang memang ber basic seorang pebisnis, maka Granny tidak perlu repot dan sulit untuk Merubah nya, Ubaydillah sudah mengerti apa yang harus Ubaydillah lakukan.
"Perkenalkan saya DAVIAN ARJAN RAYKER ,
" seperti yang telah ibu komisaris katakan sebelum nya, bahwa saya adalah PRESDIR di sini dan..." Ubaydillah ragu akan penerusan kata katanya
Granny dan Grandad menganguk ke arah Ubaydillah, dan Ubaydillah pun mengerti.
" Dan itu benar adanya, selama ini mungkin saya tidak pernah hadir di perusahaan ini, Karena saya sibuk dengan urusan di tempat lain, maka dari itu alhamdulillah siang ini saya dapat hadir dan bertatap mata dengan kalian, di mohon kerjasamanya untuk kita sama sama memajukan usaha ini, akhir nya sekian dari saya terimakasih" Perkenalan singkat Ubaydillah.
Kini mereka sudah berada di area Masjid PT A*R tersebut untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah dan Ubaydillah yang mengimami, Grandad terlihat bangga akan kefasehan Ubaydillah dalam imam sholat dan berdoa, dan ia bersyukur karena cucu nya yang ia anggap telah taida, ternyata masih hidup dan hidup baik dalam perawatan seorang kyai.
Malam hari....
Setelah penat seharian, kini mereka tengah bersantai di ruang keluarga, Afnan dengan Hasna, Ubaydillah dengan Lintang, Granny dengan Grandad, dan Devano seorang diri, namun Devano selalu dengan gaya cuek nya, seperti malam ini ia malah asik sendiri dengan mobil remote nya, yang ia mainkan mengitari rumah besar itu sesekali mobil itu menghampiri nya.
"Dav, sayang.. Granny ingin jujur tentang mommy mu" , ucap Granny memecah ke heningan.
"Maksud Granny?" tanya Ubaydillah tidak mengerti.
"Mmm.. Bahwa mommy mu, bukan seorang Muslim Dav, ia masih taat dengan keyakinan nya saat ini " ucap Granny bersuara berat.
"Iya Dav, namun daddy mu dan Devano ikut keyakinan kita yaitu Islam" sambung Grandad.
namun seperti Abi pernah sampai kan, ibu adalah surga bagi anak - anak nya, maka sebagai seorang anak harus lah berbakti kepada ibu nya, bagaimana pun keadaan nya ibu tetaplah ibu yang harus di hormati.
"Seorang Anak wajib berbakti pada kedua orang tua nya walaupun dia fasiq (pendosa) atau kafir. Dan ia wajib taat pada mereka di selain perkara maksiat pada Allah. Apabila mereka kafir, maka perlakukan mereka dengan baik di dunia dan jangan mentaati mereka dalam soal kekufuran dan kemaksiatan.”
Itulah ucapan Abinya yang masih terngiang di telinga Ubaydillah.
Afnan menatap Hasna, ia meminta kebenaran, Karena Hasna dan Lintang memang sudah tahu kalau mommy nya Devano itu Non muslim.
Hasna menganguk perlahan, tanda mengiyakan.
Karena sudah larut Malam, maka mereka berpamitan untuk pergi tidur di kamar masing-masing yang memang telah di persiapkan .
____________
Jam pun berlalu, tak terasa kini pagi menjelang.
Seusai sholat shubuh berjamaah di mushola rumah besar itu, kini mereka bercengkrama sembari minum kopi.
"Dav, seperti nya Daddy dan Mommy mu, tidak dapat pulang hari ini, ada pekerjaan yang belum mereka selsaikan Dav" Granny memberitahu kan kebenaran orang tuanya tak dapat pulang hari ini.
Granny belum menyampaikan kabar gembira di ketemukan nya Ubaydillah pada orang tuanya, Karena selain ingin membuat kejutan juga bicara di telepon tidak mengenakan.
" kalau begitu, kita pulang ke ponpes hari ini saja Granny" ucap Ubaydillah
"Loh mengapa Dav, baru tidur di sini satu malam, Grandad masih Rindu " ucap Grandad.
"Pekerjaan kita di kota S menumpuk Grandad, Granny" ucap Ubaydillah dan menoleh pada Afnan
"Hehe iya Granny, Grandad" Afnan ikut mengiyakan.
__ADS_1
"Jika Granny dan Grandad rindu, datang saja ke ponpes, minta di antar Devano, pintu ponpes terbuka lebar kapan pun Granny dan Grandad ingin berkunjung, jika Daddy dan mommy tiba, tolong ajaklah serta Granny" ucap Ubaydillah.
"Baiklah jika itu sudah keputusan mu" ucap Granny.
Kini mereka larut dalam obrolan ringan.
Hingga waktu nya tiba Ubaydillah dan Afnan pulang ke ponpes, dan kali ini Ubaydillah pulang dengan membawa istri, siang hari setelah berpamitan kepada Granny, Grandad, orang tua Lintang serta Mbak Nurin dan isi rumah singgah, maka mereka pun berangkat untuk kembali ke kota s dengan Afnan dan Ubaydillah membawa masing masing Mobil, serta pasangan nya masing - masing pula
"Mih pih, Lintang Davian bawa ya" pamit Ubaydillah pada orang tua Lintang
"Iya Dav, Mami titip anak mami ya" ucap Mami Lintang.
"InshaAllah Mih, pih Davian akan selalu menjaga dan membahagiakan nya" ucap Ubaydillah.
"Iya Dav, papi percaya padamu" ucap papi Lintang.
Lintang menangis di pelukan mami nya.
" Pergilah Nak, ikuti suami mu, jadilah istri yang baik, hormati kedua mertua mu" ucap mami Lintang.
"Iya mih, Papi sama Mami sering sering lah jenguk Lintang, Karena Lintang mungkin akan jarang pulang apalagi setelah perkuliahan berjalan mih " ucap Lintang
"Iya sayang, Mami dan papi akan sering sering jenguk kamu, sudah jangan menangis" ucap mami Lintang.
"Ya sudah kita pamit mah" , pah ucap Ubaydillah
Di susul Afnan dan Hasna, " kita juga pamit ya om, tante" ucap Afnan, lalu mereka bersalaman.
"Iya nak Afnan, jaga Nana baik baik, dan Nana sehat sehat ya sayang untuk mu dan calon debay mu " ucap mami Lintang.
"Iya tante terimakasih" ucap Afnan
"Iya Aunty dan Uncle, Terimakasih atas doa nya" ucap Hasna
Iya sama sama sayang ucap mami dan papi serempak.
"Ini tidak ada yang tertinggal yang?" tanya Ubaydillah pada Lintang
"Tidak yang, kata ayang bawa yang penting penting saja" ucap Lintang.
Iya yang, ya sudah ayo berangkat" ajak Ubaydillah.
Mereka pun berangkat.
____________________
GRANNY AND GRANDAD :
Papi Lintang:
Mami Lintang :
**********
Terimakasih sudah membaca 🙏 😍
__ADS_1