Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 51. Hubby sayang.


__ADS_3

Pukul satu tiga puluh malam, mereka tiba di rumah kecil. (kata Afnan).


Rumah bergaya minimalis terdapat empat kamar tidur, dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu serta garasi dan terdapat kolam renang minimalis juga di dalamnya.


Ubaydillah langsung memasukan Mobil ke dalam garasi tanpa turun, dari mulai pagar rumah, pintu garasi semua bisa di akses secara otomatis, dengan hanya satu sentuhan dari tombol yang ada di dalam Mobil.


Hasna tertidur di dalam pelukan Afnan. "Sayang... Bangun. Hai... sudah sampai rumah nih!" Hasna malah makin mengeratkan pelukannya.


"Ana duluan ya bro, pingin ke toilet," pamit Ubaydillah


"Iya... Sob." Afnan masih menunggu, mungkin Hasna akan bangun.


Namun, tiga puluh menit sudah, Hasna tidak juga bangun, akhirnya Afnan memutuskan mengangkat Hasna ke kamar utama.


Afnan melihat Ubaydillah sudah terlelap di Atas permadani yang ada di ruang televisi, memang Ubaydillah terbiasa seperti itu.


Ia membaringkan tubuh Hasna di Atas tempat tidur, membuka jasnya yang masih di kenakan Hasna terlebih dahulu, lalu ia menyelimuti tubuh Hasna, mengelus dan mengecup kening Hasna. Lalu bergegas ke kamar mandi, ia mandi dan mengambil air wudhu, Karena ia belum sholat isya dan Witir malam itu.


Setelah selesai sholat, Afnan duduk di sisi Hasna, bersandar pada kepala dipan, ia luruskan kedua kakinya yang terasa lelah. Jagan tanya, rasa letih menyelimuti dirinya, namun hilang seketika saat melihat Hasna terlelap sepolos bayi.


"Astagfirullah .... Astagfirullah .... Astagfirullah ...."


Afnan mengusap wajah dan beristighfar berkali-kali. Memohon ampun serta untuk menenangkan diri.


"Terima kasih ya Allah, Engkau masih beri Hasna petunjuk dan menuntun di jalan-Mu! walaupun kelakuannya nyeleneh dan terkesan urakan. Hamba tahu ya Allah, Istri hamba ini wanita kuat dan hebat! ya hebat dalam menjaga kesuciannya, kuat dalam menjaga imannya, padahal ia di Kelilingi temaram dunia. Namun, ia adalah cahaya berkilau di antar temaram itu, ZAHRANI ya Itulah kilauan," gumam Afnan.


Afnan teringat ketika Anton si pengacara membisikan sesuatu.


*Memmory Afnan sebelumnya*


"Ustadz... bersyukur istri Anda akan dapat keluar malam ini pun, anak itu pingsan bukan karena penganiayaan seperti yang di tuduhkan, prediksi dokter, ia pingsan Karena kelelahan dan kurangnya asupan gizi yang cukup untuk Ibu Hamil. Saat ini ia sedang mengandung, usia kandungan sudah memasuki 6 minggu, dan itu terjadi di luar nikah."


"Astagfirullah Al Adzim!" Ucap Afnan terkejut.


Lalu Anton melanjutkan perkataannya. "Emosi yang tidak stabil terlalu memuncak juga salah satu penyebab ia tidak sadarkan diri. Selain itu, ia juga mengidap bipolar."


"Ya Allah, bipolar?!"


Ucap Afnan kembali, sekaligus lega berarti memang Hasna betul-betul tidak bersalah.


"Yups! ini bukti kuat untuk kita agar Istri Anda bebas tanpa syarat apapun malam ini juga." Pengacara Anton begitu yakin.


Di dalam kantor pemeriksaan,


Anton menjelaskan semua penemuannya pada polisi, dan polisi pun mencabut laporan yang di tujukan kepada Hasna dan akhirnya ia bebas tidak bersyarat malam itupun.


"Ustadz Afnan... Anda dapat mengajukan laporan kembali, tuntutan balik kasus pencemaran nama baik dan fitnah, selagi di sini," usul pengacara Anton.

__ADS_1


"Tidak perlu Bang Anton, cukup hanya agar Istri saya dapat bebas dari sini malam ini." tanggapan Afnan.


"Baiklah, jika itu yang Ustadz inginkan. Saya akan urus berkasnya, memang Istri Anda tidak bersalah dalam kasus ini.


Orang tua Anak itu juga sudah meminta maaf dan mencabut laporannya," ujar Anton.


"Terima kasih Bang Anton, Atas Kerja kerasnya, Anda selalu dapat saya andalkan," ucap Afnan.


"Aah, ini sudah kewajiban saya Ustadz!"


*Memory Afnan End*


"Hmm..Huuuffss. Astagfirullah al-adzim."


Afnan menghembuskan nafas pelan sembari mengusap wajahnya, ia membayangkan Kristine yang hamil tanpa suami.


"Ustadz! sedang apa?"


Suara lembut dan parau Hasna membuyarkan lamunan Afnan.


Ia sudah terbangun dan sedang menatap Afnan dalam posisi masih berbaring.


"Ah tidak ada, sedang memikirin kamu hehe." Afnan salah tingkah.


"Maaf Ustadz! Nana sudah menyulitkan Ustadz. Bahkan pada hari pertama kita menikah," ucap penyesalan Hasna.


"Ingat yaa, mulai saat ini, jangan ada kesulitan apapun kamu sembunyikan dari ku dan berusaha mengatasinya sendiri, ada Aku yang dapat di andalkan, kini kamu sudah tidak sendiri lagi! ada Aku suami mu," ucap Afnan kembali dan terdengar menenangkan.


"Baik Hubby sayang... Suami Shaleh, Ustadz tampan ku! terima kasih My hubby Ustadz." ucap Hasna lirih dan tersenyum menatap wajah Afnan dengan binar kebahagiaan.


"Masya Allah tabarakAllah. terdengar indah panggilan itu sayang. Dapatkah kamu ucapkan sekali lagi sayang!" pinta Afnan.


"Hubby sayang!"


"Terimakasih sayang! bisakah itu panggilan untuk ku menggantikan kata Ustadz dari bibirmu?"


"Tentu my Hubby Ustadz!


hubby my hubby, bunny, Sweety, cutey, Ustadz! hehe."


"Sekali lagi terima kasih."


Lalu Afnan mengangkat tubuh Hasna dan memeluk Hasna dengan gemas, ia membenam kan wajahnya pada leher Hasna dan menggesek-gesekan wajahnya, bibir serta janggutnya dengan bulu janggut yang mulai tumbuh pada leher Hasna.


"Ampun hubby... ampun geli ini ahahahah, hubby cukup-cukup ahahaha gelii, geli!!" pekik manja Hasna.


"Gak mau lepas! biar aja, biar kegelian sampai kamu pipis di celana hehe," gumam afnan masih dengan gemasnya menyesap lembut leher Hasna.

__ADS_1


"My hubby please!! seperti nya memang Nana pipis di celana nih, Hiiii." Hasna menyeringai.


"What? seriously?" Afnan pura-pura kaget.


"Hu'uh!" angguk Hasna sambil memanyunkan Bibir nya. "Mm.. mauu... gendooong, ke kamar mandi!" pinta Hasna manja. Semakin manja saja kelakuan Hasna terhadap Afnan. Tentu saja Afnan senang dengan kemanjaan Hasna tersebut.


"Tentu sayang!" tidak berpikir panjang lagi, Afnan menggendong Hasna ke kamar mandi, lalu menurunkannya di dekat toilet


"Hubby sayang, sini deh! boleh Nana pinjam telinganya sebentar," rayu Hasna.


"Untuk apa?"


"Sini saja... ayok dong!"


"Ok, niih sayang." Afnan merunduk lalu menyodorkan telinganya pada Hasna.


Hasna pun mulai berbisik. "Byy...tolong ambilkan pembalut di tas Nana, lalu hubby harus cari baju ganti untuk Nana! Pakai Baju ini tidak nyaman! lengket dan tentunya bau By!"


"Huufff!! baiklah sayang, tunggu sebentar aku ambil tas nya di mobil. Nanti aku carikan baju ku yang kebesaran untuk mu!" tukas Afnan.


"Emmm machiww my hubby!"


"Sama-sama sayang!" cup! Afnan mengecup kening Hasna dan membuat Hasna tersipu malu.


Lalu setelahnya, Afnan menuju ke garasi mengambil tas Hasna di dalam mobil. Afnan lihat Ubaydillah masih terlelap di depan televisi. Ia bergegas kembali ke kamar, mencari piyamanya yang cukup besar untuk Hasna. Lalu ia kembali ke kamar mandi tidak lupa ia membawa handuk untuk Hasna.


"Nih sayang, pembalut sama piyama ku. Ini cukup besar untuk mu!" Afnan menyodorkan apa yang ia bawa.


"Terima kasih By! Eh sekarang tolong putar badan nya ya By, ayok By!"


"Begini?" Afnan memutar tubuhnya membelakangi Hasna.


"Iyaa! pintar," ucap Hasna.


"Tetaplah begitu ya By, sampai Nana bilang balik." pinta Hasna.


"Baiklah!" karena kakinya terasa gatal, maka Afnan berniat menggaruknya dan ia bergerak miring.


Namun...


"Hubyy... stop! jangan bergerak dan tidak boleh mengintip!"


Bersambung....


******


Terimakasih yaaa masih pada nyimak my readers gemez kesayangan.

__ADS_1


Hatur nuhun untuk vote, like and komennya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


__ADS_2