
Continued ___
**Flashback**
"Ustadz mengapa tak ada yang Ustadz tolak satupun, Koq Ustadz menyanggupi semua nya, begitu saja?" Hasna malah merasa bersalah saat tak ada kata penolakan dari Afnan.
"Mengapa Aku harus menolak nya! bukan kah itu rezeky yang akan kamu dapatkan. Allah memberikan rezeky itu untuk mu, melalui Aku," jawab Afnan dengan santai.
"Malah Aku merasa terhormat, kamu mau jujur meminta. Sebagai bentuk perhargaan untuk kejujuran mu! maka Aku akan kabulkan semua tanpa terkecuali," sambung Afnan.
"Sungguh, Ustadz?" tanya Hasna seolah tak yakin. "Tapi.." lanjut nya, namun terdengar menggantung.
"Hehmm .... tidak perlu kamu pikirkan! cara saya mendapat kan uang untuk membelinya! cukup kamu doakan saja, agar rezeky saya di permudah oleh Allah," tukas Afnan.
"Deg! deg .... deg .... " jantung Hasna bekerja lebih cepat, degupan Jantung nya berasa mau lompat dari orbitnya. Hasna terkejut, betapa tidak! Afnan dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran nya. Padahal ia hanya berharap Afnan membatalkan pernikahan nya.
"Ustadz ...." Panggil Hasna pelan.
"Yah!" jawab Afnan singkat dan tanpa melihat ke arah Hasna. Afnan takut akan pandangan nya.
"Seandainya, aku meminta mahar pernikahan se-se-sebuah mobil sport merk L*********, apakah Ustadz akan mengabulkan nya?" tanya Hasna terkesan konyol dan materialistis namun bukan itu tujuan sebenarnya Hasna.
"Jika itu yang kamu inginkan, mengapa tidak!" Jawab Afnan santai.
"OMG .... Ni Ustadz, bercanda ga sih?" gumam batin Hasna.
"Huffff ...." Hasna seperti tak berdaya, semua usahanya untuk membatalkan pernikahan itu malah sia+sia, dan terkesan konyol pada akhir nya.
"Ustaaaddzz ayolah pikirkan kembali, masa Ustadz mau begitu saja memberikan mahar sebuah mobil sport tanpa berfikir dahulu." pekik Hasna kesal.
"Aih... Ini perempuan kok lucu! tadi begitu menggebu- gebu meminta mahar dan seserahan yang harganya fantastis. Dan Sekarang terlihat merasa bersalah! Hai Nona, jadilah kamu yang sebenar nya, jangan kau fikir aku akan mundur dengan permintaan konyol mu ini," batin afnan, seraya melempar pandangan pada Ubaydillah dan mereka mengatupkan bibir nya menahan tawa. Karena merasa lucu melihat ekspresi Hasna yang mulai kesal.
"Maaf Ustadz, apakah Ustadz mempunya alasan, mengapa Ustadz tidak menolak mahar yang saya ajukan?" tanya Hasna.
"Sebetul nya tidak perlu sebuah alasan! untuk sebuah rumah tangga dan membahagiakan Istri pada nanti nya! itu tidak perlu sebuah alasan selain daripada alasan ibadah. Namun jika kamu meminta alasan. Maaf, mungkin, Karena ada sebuah harga yang pantas untuk mendapatkan kesucian anak perawan orang." jawab Afnan, yang merasa tidak enak hati Sebetulnya karena
berbicara yang terkesan vulgar.
Hasna makin bingung. "Nah kalau seandainya saja ketika sudah menikah, ternyata aku sudah tidak suci? apa Ustadz tidak akan kecewa lalu membenci ku?" tanya Hasna.
"Hemmm .... Jawaban nya ada padamu, bukan pada Ku!" seru Afnan.
"Maksudnya, Ustadz?" tanya Hasna tidak mengerti.
"Mmm .... begini saja deh! saya kasih kamu lima menit untuk berfikir, pantas atau tidak nya, sebuah mobil sport itu menjadi mahar dari Aku untuk mu, sebagai bentuk penghargaan untuk sebuah kesucian."
__ADS_1
"Saya Rasa pantas!" jawab Hasna tegas dan lantang.
"Heeee .... sudah terjawab, bahkan hanya butuh satu
detik untuk kamu memberikan jawaban dari Pertanyaan ku," ucap Afnan. Hasna nampak diam.
"Baiklah, sebaik nya kamu pulang! calon pengantin itu harus nya di pingit, jangan berkeliaran seperti ini," ucap Afnan kembali.
"Ustadz maaf .... maaf sekali lagi! mungkin saya lancang! Ustadz kan hanya seorang Guru Ngaji dan Guru Agama! koq mau dan mampu membelikan barang branded dan mobil sport sebagai mahar? Ustadz masih waras kan? atau mungkin Ustadz terlibat pesugihan dan penggandaan uang yah untuk membelinya?" pertanyaan yang terlalu menohok dan tidak pantas sebetulnya.
"Ahhahaha ... Ahmm .... Ahmm .... mmmfff," kali ini Ubaydillah yang sedari tadi diam, ia mengeluarkan tawa nya, Karena merasa lucu terhadap kepolosan Hasna dalam berbicara.
"Hoooo .... berarti dia belum tau profesi Ustadz yang sebenar nya? dia hanya berpikir Ustadz hanya seorang Guru ngaji dan Guru Agama. Hihi....ini anak polos apa gimana siihh?" ucap Ubaydillah dalam hatinya.
"Insha Allah saya masih waras! dan saya pastikan yang memberikan saya uang adalah Allah, lewat jalan Nya, bukan jalan pesugihan apalagi penggandaan uang," jawab Afnan lirih.
"Hehe .... maaf Ustadz! jangan marah yaahh!" ucap Hasna merasa tidak enak hati.
Afnan hanya tersenym.
"O yah! mengenai gaun pernikahan, mengapa kamu tidak bersedia untuk menerimanya dari desainer yang saya ajukan?" tanya Afnan.
"Maaf Ustadz. Karena desainer bawaan Ustadz pasti merancang nya dengan tertutup. Aku ingin gaun yang sexy, yang terbuka di bagian dada dan punggung, mm .... mirip para artis Hollywood gitu Ustadz," jawab Hasna dengan polosnya.
"Ustadz tidak keberatan?" tanya Hasna kembali.
"Selama kamu nyaman memakainya, aku tidak keberatan," jawab Afnan santai.
"Jika nanti Ustadz di perolok, Karena Istrinya memakai gaun yang sexy, bagaimana?" masih dengan pertanyaan Hasna.
"Itu kembali lagi padamu, dan jika Itu betul-betul terjadi, maka itu adalah konsekuensi yang harus Aku tanggung untuk menikahi mu, dan Aku harus ikhlas menerima nya." jawab Afnan.
Hasna terdiam, mencerna kata-kata Afnan, betapa tidak Afnan begitu sabar dalam menghadapi segala kekonyolan nya.
"Tapi saya ingin menikah dan melafalkan Ijab Qobul di Mesjid area pesantren," ucap Afnan.
"Baik, tapi aku ingin yang unik, yaitu ketika Aku menuju ke Mesjid, baru Ustadz melafalkan Ijab Qobul dan kita terhubung melalui video call, Aku ingin di sambut Ustadz bak Princess ketika turun dari mobil." pinta Hasna.
"DEAL!" Afnan mengangkat jempol tangan nya pertanda setuju.
-----
Triingg .... triingg .... ponsel Afnan berdering!
"Maaf, saya harus menerima telepon dahulu," pamit Afnan pada Hasna.
__ADS_1
"Baiklah Ustadz." Sahut Hasna. Kini tinggal ia bersama Ubaydillah.
Lalu Afnan berdiri dan melangkah agak jauh dari meja tempat ia dan Hasna mengobrol.
"Mmm .... maaf kak Ubay! Kira-kira pendapatan Ustadz dari hasil mengajar berapa?" tanya Hasna.
"Ustadz tidak menerima gaji sepeserpun, Ustadz hanya menyalurkan ilmu nya yang ia miliki," jawab Ubaydillah.
"Oohh, begitu kah?"
**Flash back selesai**
**********
Tok .... tok...tok..
Suara pintu kamar Afnan ada yang mengetuk. Afnan tersadar dari lamunan nya, lalu ia bergegas membuka pintu kamar dan terlihat dua orang santri putri membawa kresek berisi pembalut.
"Asalamualaikum, Ustadz Afnan" ucap kedua santri wati itu serempak.
"Wa'alaikum salam," sahut Afnan.
"Maaf Ustadz Afnan, kak Ubaydillah menitipkan barang ini dan menyuruh kami mengantar nya ke kamar Ustadz Afnan," ucap salah satu santri putri.
"oh iya, terimakasih. Lalu kak Ubaydillah nya mana?" tanya Afnan.
"Kak ubay nya, sedang sibuk di Aula Ustadz, mempersiapkan untuk acara walimatul Urs."
"O ya sudah, Kalau begitu," ucap Afnan.
"Baik, kalau begitu kami pamit Ustadz Afnan.Asalamualaikum,"
"Wa'alaikum Salam Warahmatullah," balas Afnan.
Bersambung...
.
.
.
.
.
__ADS_1