Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 231. Memilah pakaian


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian..


"Assalamualaikum Mimma.. A'a Kha, Dedek Sha! Biyya pulang Sayang," suara renyah Afnan di ambang pintu rumah kayu.


"Wa'alaikumsalam By! Mimma di kamar," jawab Hasna. Suaranya terdengar jauh.


Afnan menghampiri Hasna di dalam kamar mereka. "Loh sayang! sedang apa koq naik-naik bangku begitu?" tanya Afnan yang melihat Hasna sedang berdiri di atas bangku dan mengambil sesuatu di atas lemari.


"Ini By, mengambil tas untuk pakaian Nana yang sudah tak terpakai," ujar Hasna. Afnan membantu Hasna turun dengan menggendong nya.


"Terimakasih By."


"Sama-sama sayang."


"Pantas saja pakaian nya berserakan begini," tukas Afnan. "Maaf ya By! baru pulang kerja, cape, eh lihat kamar nya berantakan!" jawab Hasna.


"Tidak mengapa sayang, o yah A'a dan Dedek ke mana Sayang?" tanya Afnan yang tidak melihat keberadaan Anak-anaknya.


"Di ajak Umi, Sayang, katanya mau diajak belanja atau bagimana gitu dengan Abi. Dedek Arsya juga ikut. Lintang baru saja pulang dari sini," ucap Hasna.


"Seperti itu rupanya. Pantas si utun berjenggot itu sumringah sekali ketika membaca pesan dari Neng Lilin. Ternyata mereka punya waktu berduaan nih, Dedek Arsya nya di bawa Umi dan Abi," ucap Afnan menyeringai.


"Iih Byby, rumpi," Hasna mencubit pelan pipi Afnan lalu mereka tertawa bersama.


"Lagipula, masih siang koq sudah pulang?" tanya Hasna. "Sedang jenuh saja sayang, ingin cepat pulang," Jawab Afnan.


"Ya sudah! mari Byby bantu merapikan pakaiannya." Afnan berbicara kembali menawarkan diri.


"Terimakasih By. tapi Byby kan baru saja tiba, pasti masih lelah! ganti pakaian dan Nana buatkan minum dulu ya! masalah pakaian ini sih mudah lah nanti," ucap Hasna.


"Boleh sayang." Hasna segera mengeluarkan t-shirt oblong hitam serta celana pendek agar Afnan merasa santai tatkala di rumah. "Sini Nana bantu menggantinya." Hasna membuka satu persatu pakaian kerja Afnan, yang hanya pakai kemeja tangannya di gulung dan celana panjang bahan.


"O yah By. Lalu pakaian tak terpakai nya di kemanakan ya By?" tanya Hasna sembari membuka pakaian Afnan. "Kan ini masih layak pakai, dapat di padu padankan sayang," ucap Afnan.


"Iya juga By, sebelum mengganti pakaian, membersihakan wajah dulu ya By!" ucap Hasna dan mulai mengolesi pembersih wajah. Afnan hanya pasrah, Setelah selesai Hasna memakaikan pakaian ganti yang baru pada Afnan.


"Terimakasih sayang," ucap Afnan mengecup kilas bibir Hasna. "Kembali kasih Byby sayang." balas Hasna.


"Mengenai pakaian itu, yang pasti Jangan di berikan pada siapapun. Atau menjual nya," ujar Afnan.


"Loh memang kenapa By?" tanya Hasna. "Jadi begini sayang, kalau nanti di pakai dan mempertontonkan aurat mereka, kan akan menjadi dosa jariah untuk si pemberi," tutur Afnan.


"Astagfirullah! tidak jadi deh By, yang agak terbuka Nana pakai ketika di rumah saat berdua Byby dan yang lainnya Nana padu padankan saja, masih banyak yang layak pakai karena panjang dan longgar." ucap Hasna.


"Ya lebih baik begitu, jikapun memang tidak terpakai, dapat sayang gunakan untuk kain lap atau dikubur saja," ucap Afnan.


"Di kubur By?" Hasna tak mengerti.


"Iya, di hancurkan dengan cara di gunting lalu di kubur, daripada di jual atau di berikan malah akan menimbulkan dosa baru. Lebih baik di lenyapkan, tidak mengapa sayang, jatuhnya mubah atau boleh dan di anjurkan.


"Ada yang belum Nana pahami, apa bedanya mubah dan mubadzir By?" tanya Hasna yang memang selalu ingin tahu dan banyak bertanya jika Afnan sudah mulai bicara tentang hukum hukum dalam agama Islam.


"Jadi Mubah adalah, sebuah status hukum terhadap suatu aktivitas dalam dunia islam. Aktivitas yang berstatus hukum, Mubah boleh untuk dilakukan, bahkan lebih condong kepada dianjurkan (bersifat perintah), tetapi tidak ada janji berupa konsekuensi berupa pahala terhadapnya, sayang."


"Dengan kata lain, Mubah yakni apabila dikerjakan tidak berpahala dan tidak berdosa, jika ditinggalkanpun tidak berdosa dan tidak berpahala. Hukum ini cenderung diterapkan pada perkara yang lebih bersifat keduniaan saja sayang," tutur Afnan.


"Oouuh begitu By, Lalu Mubadzir?" Hasna masih mencari jawaban.


"Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَا نُوْۤا اِخْوَا نَ الشَّيٰطِيْنِ ۗ وَكَا نَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا


innal-mubazziriina kaanuuu ikhwaanasy-syayaathiin, wa kaanasy-syaithoonu lirobbihii kafuuroo


"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."


(QS. Al-Isra' 17: Ayat 27).

__ADS_1


"Mubazir adalah suatu kegiatan menyalahgunakan, menghambur-hamburkan dan merusak harta. Mubazir dalam kaitanya islam yaitu membelanjakan harta dalam kondisi yang tidak semestinya untuk diperbelanjakan. Maka itu akan mengikis rasa bersyukur Hamba pada pemberinya yaitu Allah SWT. Orang yang melakukan pemborosan disebut mubadzirin atau mubadzirun."


"Secara bahasa, mubadzir merujuk pada pelaku tabdzir, yaitu orang yang melakukan tabdzir) Menurut Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abas Radiyallahu'anhuma berpendapat bahwa tabdzir adalah infaq (membelanjakan harta ) tidak pada tempatnya. Allah Ta'ala menyebut pelaku tabdzir sebagai temannya setan dan Allah tidak mencintai orang yang suka israf (boros). Allah Ta’ala berfirman,"


وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا.إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا


"Jangan melakukan tindak tabdzir. Sesungguhnya para mubadzir itu temannya setan." (QS. Al-Isra: 26-27)


Allah juga berfirman,


وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ


"Janganlah bersikap boros, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang boros.” (QS. Al-An’am: 141)


"Lantas, apa perbedaan antara israf dan tabdzir?"


"Al-israf: menggunakan harta untuk sesuatu yang benar, namun melebihi batas yang dibenarkan. sedangkan tabdzir, menggunakan harta untuk sesuatu yang tidak benar.” (Hasyiyah Ibnu Abidin).Sebagai contoh, makan berlebihan, itulah di namakan israf. Sementara jika menggunakan harta untuk maksiat, itu tabdzir."


"Karena israf, menyia-nyiakan dan merusak kekayaan memiliki makna yang lebih luas dan mencakup berbagai aspek, seperti berlebihan dalam infak-infak pribadi dan urusan sosial yang tidak bisa diartikan sebagai tabdzir, akan tetapi tabdzir mencakup penyia-nyiaan dan berlebihan dalam menggunakan makanan dan perlengkapan kehidupan. Dengan kata lain, bisa dikatakan setiap tabdzir adalah israf, akan tetapi setiap israf belum tentu tabdzir."


"Dari pada mubazir, lebih baik kita sedekahkan kepada orang yang membutuhkan yang sesuai dengan firman Allah Swt."


"Dan berikanlah haknya kepada kerabat,juga orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Karena makanan itu wajib yang diisi dalam perut kita," tutur Afnan.


"Lalu, yang tidak ada uang bagaimana By? jika orang beriman, mereka lebih memilih berpuasa untuk menahan lapar, seperti Bapak di kampung sebelah, yang Byby bantu untuk bekerja di lahan pertanian satu minggu lalu, Bapak itu selalu puasa jika tak ada uang untuk belanja, padahal sudah ber ikhtiar. Memangnya di perbolehkan ya By, puasa setiap hari? Bisakah puasa setiap hari jika uang sepersenpun digenggam tidak ada?" tanya Hasna mulai kritis dan itu yang Afnan suka serta bangga, Isteri nya mau banyak belajar.


"Masya Allah. Pertanyaan yang luar biasa! sini," tarik lembut Afnan agar Hasna duduk di Pangkuan nya. Cup satu kecupan terpetakan di kening Hasna.


"Disunnahkan puasa berselang sayang, apa maksudnya? yaitu satu hari berpuasa dan satu hari selanjutnya tidak. Hal ini sesuai dengan hadist yang diriwiyatkan dari Abdullah bin Amr Al’-Ash, dimana Nabi Saw pernah bersabda kepadanya:


"Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari berikutnya. Yang demikian itu merupakan Puasa Dawud dan merupakan puasa yang baik. Kemudian aku berkata: sesungguh aku mampu melakukan lebih dari itu." Maka Nabi pun menjawab: Tiada ada yang lebih baik dari pada itu," (Muttafaqun Alaih)


"Masya Allah TabarakAllah. Terimakasih Byby atas penjelasannya. Cup Hasna mengecup hidung mancung Afnan. "Nana buatkan minum dulu yah! o ya, mau minum di mana?" tanya Hasna.


"Sama-sama sayang! di teras belakang saja sayang," jawab Afnan. Lalu mereka keluar kamar dengan bertautan tangan. Sebelum berpsah di antara ruang tv, mereka saling mengecup ringan bibir mereka. Afnan berlalu ke teras belakang, sedangkan Hasna ke dapur membuat minuman. Beberapa menit kemudian Teh hangat serta bolu madu kesukaan Afnan pun terhidang.



Di rumah utama. Ubaydillah pun sama, ia baru saja di buatkan minuman dingin oleh Lintang.


"Terimakasih Yank! itu Dek Arsya dan Twins sudah lama pergi nya yank?" tanya Ubaydillah.


"Belum begitu lama juga Yank," jawab Lintang. Yah padahal Dad's rindu Sekali Mom's, tadi pagi waktu berangkat Dek Arsya belum bangun! sekarang pergi," ucap Ubaydillah.


"Umm, dengan Mom's nya berarti tidak rindu ya?" tanya Lintang sembari memajukan bibirnya. Cup.. kecupan kilat baru saja menyambar bibir Lintang yang membuat tersenyum malu.


"Apalagi dengan Mom's nya, rindu tak terbendung sayang," ucap Ubaydillah mulai genit.


Ubaydillah memeluk Lintang dari samping, menyandarkan kepalanya pada bahu Lintang dan melingkarkan tangannya pada perut Lintang.


"Yank, belum mau nambah Adik untuk Dek Arsya?" tanya Ubaydillah.


"Astagfirullah Yank, Dek Arsya masihlah terlalu kecil. Mom's ingin fokus merawat nya," jawab Lintang.


"Kan nanti banyak yang merawat. Dad's sewakan pengasuh ya? mau ya, Dad's hamili kembali?" Ubaydillah menatap Lintang penuh harap.


"Dad's, jangan mulai dong! merusak suasana saja. Kalau Dad's mau, hamil saja sendiri, sini Mom's buat Dad's hamil biar tidak penasaran ingin menghamili Mom's terus." ucap Lintang ketus lalu ia beranjak ke taman belakang.


"Sayang, tolong jangan marah! kalau memang bisa, Dad's mau menggantikan mu untuk hamil," ucap Ubaydillah membujuk Lintang bersamaan dengan itu seorang Ambu lewat di hadapan Ubaydillah.


"Den, sedang apa? koq bicara sendiri dan teriak-teriak?" tanya Ambu tak mengerti, ia tidak tahu ada Lintang sudah ke halaman belakang.


"Ehheee.. ini Mbu, sedang membujuk anak orang agar mau di hamili, Ooppss," Ubaydillah menutup mulutnya.


Ambu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Aden ada-ada saja! Ambu permisi merapikan ruang atas," pamit Ambu.


"Oh ya Ambu, silahkan!" ucap Ubaydillah, lalu ia menghampiri Lintang.

__ADS_1


"Sayang! jangan marah lagi, tolong," ucap Ubaydillah berjongkok di hadapan Lintang yang duduk di ayunan.


"Marah ah! habis Dad's nya sih, nakal!" ucap Lintang. "Janji tidak nakal lagi deh, kencan yuk!" ajak Ubaydillah.


"Kencan kemana? sudah sore!" ucap Lintang. "Ke Villa kita yang baru, kan belum pernah menginap di sana. Sekarang kita menginap berdua dulu, besok besok sama sama dengan Dek Arsya dan yang lainnya." ucap Ubaydillah.


Ubaydillah dan Afman baru saja mendirikan sekolah gratis di suatu kawasan pegunungan, masih di kota S dan di peruntukan Anak-anak yatim_piatu, serta Anak- anak kurang mampu di wilayah tersebut dan sekitarnya. Maka dari itu Ubaydillah juga mendirikan Villa sederhana untuk mereka singgah apabila sedang melakukan pengecekan dan peninjauan.


"Loh. Nanti Dek Arsya bagaimana?" tanya Lintang. "Nanti Dad's telepon Umi metitipkan nya, tenang saja Umi tidak akan keberatan koq, sayang! hampir tiap malam, Dek Arsya juga bobo dengan Umi dan Abi," ucap Ubaydillah. Memang Arsya terbilang jarang tidur dengan mereka.


Umi memberikan mereka Waktu untuk selalu berduaan mengingat mereka tak banyak waktu pacaran sebelumnya, karena tak lama setelah menikah Lintang hamil. Begitupun dengan Twins A, Umi dan Abi sering membawa mereka menginap agar Hasna dan Afnan dapat berduaan.


"Baiklah, Mom's pompa Asi sebentar ya Dad's sayang, untuk persiapan Dek Arsya selama di tinggal," ucap Lintang. "Ya sudah Mom's sayang, Dad's menyiapkan keperluan yang hendak di bawa ya," ucap Ubaydillah.


Lintang memompa Asi di ruang keluarga karena tidak ada orang lain saat itu dan Ubaydillah menyiapkan keperluan yang akan di bawa menginap di Villa. Dad's bawa tenda dong! Mom's ingin menikmati bobo di tenda," pinta Lintang.


"Siap Mom's sayang," jawab Ubaydillah.


Kembali ke rumah kayu.


"Ini pakaian nya masih banyak yang dapat di pakai sayang," ucap Afnan, setelah minum teh di teras belakang kini Hasna dan Afnan kembali ke kamar untuk merapikan dan memilah pakaian Hasna.


"Iya sih By. kecuali di rumah, kalau keluar Nana kan tidak pernah pakai baju terbuka dan seksi. Masih dapat di pakai juga ya By," ucap Hasna.


"Iya sayang, yang sekiranya terbuka di simpan. kan masih dapat digunakan di dalam rumah ketikan berdua Byby," tukas Afnan


"Ya makanya, Byby tak habis pikir koq waktu malam perkenalan pertama kita, bisa gitu kamu pakai dres minim kurang bahan gitu. Padahal saat kesininya kamu tuh paling anti dengan pakaian kurang bahan, bahkan baju jaring laba laba agak vulgar saja kamu teriak teriak, marah Pada Byby." Afnan membuka kenangan lama.


"Hehe, Byby! iikhh Nana malu kalau ingat dress kurang bahan itu." Hasna menutup wajahnya. "Dress itu tak Sengaja Nana lihat di butik yang Nana lewati, setelah Nana menyerempet kaca spion mobil di persimpangan itu," ucap Hasna.


"Itu mobil Byby, yang kamu serempet," ucap Afnan menyeringai.


"Hehe iya, maaf! Watu itu Nana melamun karena tak mau di jodohkan. Nana ingat terus perkataan Ninen dan Kiki ketika mereka berkata Nana akan di jodohkan dengan Ustadz, ya sudah Nana tidak fokus pada jalnan. Nana pun hampir celaka waktu itu, Alhamdulillah Nana masih di beri keselamatan oleh Allh. Sampai Valentino Nana pingit berbulan bulan untuk menghilangkan jejak, karena Nana tahu di mobil itu Ada dashboard cam." Hasna mengingat kejadian itu.


"SubhanAllah, pantas Byby tidak pernah melihat Vallentino hingga malam itu di Area Track! oh ya Byby lupa bertanya dari dulu,lalu apakah ada yang luka sayang waktu itu?" tanya Afnan.


"Tidak By, Alhamdulillah, hanya Nana pusing karena memutar otak untuk membuat Keluarga Ustadz ilfil gitu, agar mereka membatalkan pernikahan. Maka Nana dengan sengaja memakai dress itu dan itu untuk pertama dan yang terakhir, Hiii Nana malu kalau mengingat malam itu! Naudzubillah min dzalik (Kami berlindung kepada Allah dari hal (buruk) itu.) By, hingga Anak cucu jangan ada yang meniru." ucap penyesalan Hasna.


"Hehe.. tapi Byby suka, melihat kamu berpakaian seperti itu sayang," goda Afnan.


"Iikh..memang dasar otak ngeres, piktor tingkat akut!" seru Hasna cemberut.


"Seru loh, hampir saja Byby kejang-kejang di buat nya. Astaghfirullah Iman Byby langsung terkikis waktu itu, semalaman Byby sudah seperti orang kurang waras, berpikir keras agar secepatnya kamu dapat Byby halalkan," tutur Afnan.


"Ya Allah, maafkan Nana ya By," ucap Hasna sembari mengecup pipi Afnan. "Sudahlah sayang, tidak mengapa! Lalu dress nya kamu buang kemana, sayang?" Afnan penasaran.


Hasna berbisik. "Nana simpan By, sebagai bagian dari sejarah bertautnya perjalanan cinta kita," ucap Hasna.


"Byby ingin melihat, kamu memakai baju itu lagi Sayang," ucap Afnan, ia ingin melihat Hasna memakai dress itu tanpa menggunakan masker seperti sebelumnya.


"Ya sudah By! tolong bantu Nana Merapikan dulu pakaiannya, sepertinya tidak banyak pakaian yang harus disingkirkan. Masih dapat dipadu padankan dan dipakai untuk di dalam rumah," pinta Hasna.


Afnan membantu Hasna merapikan pakaian yang berserakan. Setelah selesai Hasna menyuruh Afnan menunggu nya di ruang tv. Ia akan mengganti pakaiannya dengan pakaian kurang bahan itu.


Setelah beberapa menit dres kurang bahan itu ia kenakan. Hasnapun menghampiri Afnan.


"Assalamu'alaikum Ustadz!" suaranya ia buat semirip mungkin seperti malam itu.


Afnan terperanjat. "Wa'alaikumsalam," Afnan merasa dejavu. Matanya terbelalak menyusur pandang tubuh Hasna dari atas hingga bawah. Tubuhnya mulai bergetar, jantung nya mulai berdetak tak beraturan, persaaan nya percis saat ia melihat Hasna malam itu. hawa panas dalam qolbu yang menyeruak mengikuti aliran darah nya yang mulai berdesir membuat ia tarasa melayang.


Canggung! itu yang Afnan rasakan. "Bo-boleh Byby menyentuhmu sayang?" entahlah Afnan gugup, padahal tiap hari bersama dengan Hasna. Norak atau lebay mungkin itu pantas di sebutkan. Namun nyatanya perasaan Afnan kembali pada malam itu. Bedanya kali ini ia bebas menyentuh Hasna.


"Silahkan By! sentuh saja," ucap Hasan. Tanpa menunggu lama, Afnan mendekati Hasa, lalu ia mengeksplor tubuh Hasna. Tubuh Afnan mulai merespon setiap sentuhan pada tubuh Hasna, hingga ia tak tahan dalam menahan diri untuk tak melakukan apapun.


Beberapa saat kemudian,


"Assalamualaikum A, Nana! A'a dan Dedek sudah pulang nih," suara Umi dari luar.

__ADS_1


"By, itu Umi," ucap Hasna. "Biar Byby yang buka pintu, sayang mandi saja terlebih dahulu, pasti A'a dan Dedek ingin mimi," ucap Afnan sembari meraih kaosnya. Saat ini Mereka masih di dalam selimut, sedang memulihkan tenaga.


__ADS_2