
Ba'da Subuh Afnan, Ubaydillah serta Devano akhir nya dapat pulang ke rumah, setelah dari pukul dua dini hari melaksanakan Tahajud, tadarusan, dzikir dan sholat malam lain nya hingga waktu subuh tiba.
kini saatnya mereka kembali ke peraduan nya masing-masing menemui istri mereka.
"Assalamualaikum Mimma sayang," ucap Afnan ketika ia masuk kedalam kamarnya.
"Wa'alaikum salam Biyya sayang! uuhh pasti Biyya lelah ya? Ya sudah ganti pakaian dulu ya by, nanti setelah ini minum kopi nya, takut keburu dingin. Baru saja Ambu mengantarkannya bersama camilan lainnya tuh ada kue kesukaan Byby juga bolu ketan hitam," ucap Hasna lalu mengajak Afnan duduk di sofa, ia membuka jubah Afnan dan menggantikannya dengan stelan T-shirt putih dan training Jogger selutut abu-abu.
"Terimakasih Mimma sayang," ucap Afnan seraya mengecup tangan Hasna dan lalu memeluk pinggang Hasna yang sedang berdiri, dan ia tempelkan telinga nya di atas perut Hasna.
"Assalamu'alaikum Twins sayang, Biyya rindu.begerak dong! ayo bangun sudah subuh nih," gumam Afnan pada perut Hasna. "Ups Biyya bagaimana cih, Twins kan cudah ikut Coat dengan Mimma dali cemalam, Biyya Pati yupa yah?" celoteh Afnan, yang memposisikan dirinya sebagai anak-anaknya dengan menirukan suara anak kecil berbicara. Dan di sambut dengan pergerakan Anak-anak nya di dalam perut. Hasna hanya tersenyum gemas melihat tingkah laku suaminya itu, serta meringis merasakan pergerakan anak-anaknya.
"Sudah Biyya, jangan ganggu Twins. Sini biar Mimma pijat sebentar. Supaya agak rileks," tawar Hasna. lalu ia mualai memijat pundak Afnan secara perlahan, memijat lembut pelipis Afnan. agar Afnan merasa nyaman.
"MasyaAllah,,,Walhamdulillah, walaillaha Ilalloh, lahawula wala quwata Illabillah hil aliyyil adzim . Maka Nikmat Tuhan mana kah yang kau dustakan!" ucap Afnan, di sela-sela menikmati pijatan dari Hasna yang begitu membuat nya rileks dan hilang nya rasa lelah sehabis dzikir dan wirid hampir setengah malam. Maka ia pun tak lupa berdoa sebagai ungkapan rasa syukur pagi hari atas Nikmat dari Allah.Salah satu kalimat syukur yang diajarkan oleh Kanjeng Nabi SAW di waktu pagi yaitu sebagai berikut:
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الشُّكْرُ
Allohumma ma ashbaha bi min ni’matin aw bi ahadin min kholqika fa minka wahdaka la syarika laka fa lakal hamdu wa lakasy syukru.
“Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku di waktu pagi atau yang ada pada setiap makhluk-Mu, semuanya hanya dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur.”
Doa ini bersumber dari hadits riwayat Imam Nasai dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dari Abdullah bin Ghannam, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ: اللهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ، فَقَدْ أَدَّى شُكْرَ ذَلِكَ الْيَوْمَ
“Barangsiapa di pagi hari membaca; ‘Allohumma ma ashbaha bi min ni’matin aw bi ahadin min kholqika fa minka wahdaka la syarika laka fa lakal hamdu wa lakasy syukru.
maka sungguh dia telah memenuhi syukurnya pada hari itu.
"Sudah Mimma terima kasih banyak,ayo Sekarang gantian Mimma yang Byby pijat," ucap Afnan sembari menyeruput kopi nya, lalu ia makan sepotong bolu ketan hitam kesukaannya , dan menyeruput kopinya kembali.
"Iya By, tapi Byby habiskan dulu itu potongan bolu ketan dan kopinya," pinta Hasna. Ia raih potongan bolu ketan itu lalu ia suapi Afnan dan begitupun dengan Afnan ia menyuapi Hasna kembali. Hingga ritual suap menyuap pun selesai.dan mereka akhiri dengan menggosok gigi, lalu Afnan membuat Hasna duduk berselonjor di atas tempat tidur dan ia Mulai memijat lembut Kaki Hasna dan lalu ia berkata.
"Sayang, Biyya boleh sahur pagi hari ini?" tanya Afnan penuh harap.
"Tentu saja dong Biyya sayang," ucap Hasna dengan penuh ikhlas. Afnan memeluk nya dan ia menangis bahagia.
"Terima kasih Mimma sayang. lalu Byby harus mulai dari mana ya, atau bagaimana yah. Byby bingung.takut menyakiti kamu dan Twins sayang," ucap Afnan.
Hasna hanya tersenyum, lalu ia bimbing Afnan untuk mendekat padanya dan ia mulai ajak Afnan berc*mb*, melakukan yang harus ia lakukan untuk menyenangkan suami nya yang sudah puasa tiga bulan lebih.
"Tidak perlu takut singa jantanku! perlakukan aku seperti biasanya namun tolong kali ini lebih lembut dan hati-hati!" ucap Hasna. seraya terus membimbing Afnan berlaku sesuatu pada nya yang kini terlihat takut dan ragu untuk berjelajah di pagi itu. namun pada akhirnya Afnan menguasai kembali Hasna Ya sudah sampai tiga bulan ini tidak ia jamah sama sekali. pagi ini ia ingin kembali menjadi suami seutuhnya yang meminta hak nya setelah dokter Anne memperbolehkan kembali mereka untuk melakukan hubungan suami istri.
Namun tiba-tiba saja Afnan menarik diri dari tubuh Hasna. yang ternyata ia kesulitan dalam mengambil tindakan karena perut Hasna yang makin besar dan ia merasa ragu karena kasihan terhadap Hasna, untuk berjalan saja sepertinya kepayahan.
"Hemmmm,, Sayang biarkanlah Byby berpuasa hingga enam bulan kedepan," ucap Afnan. ia bersandar pada kepala dipan di sisi Hasna .
"Loh Byby Sayang. tidak apa-apa tak usah khawatir lakukan saja!" pinta Hasna, meyakinkan.
"Maaf keberanian Byby melemah seketika sayang, ternyata rasa khawatir Byby lebih besar, daripada hawa n*fs* yang Byby miliki," ucap Afnan pelan seraya merangkul Hasna.
"Syukron Ya Habibi," ucap Hasna.
"Afwan Ya Rohi ( belahan jiwaku)," ucap Afnan sembari mengecup dalam kening Hasna dan seketika air matanya berjatuhan.
"By,, lakukanlah!" pinta Hasna bernada membujuk.
"Insya Allah sayang, tapi,,,,!!"
"Baiklah Byby akan mencoba melakukan nya, sekiranya Byby menyakitimu katakan ya sayang jangan kau tahan. Jika terasa perut nya tidak enak atau tidak nyaman, katakan ya sayang maka Byby akan menghentikannya," sambung Afnan.
"Pasti By!"
Maka kini Afnan memulai kembali hal yang tertunda tadi. Ia sedang berpikir bagaimana cara melakukannya? saat terakhir 3 bulan lalu perut Hasna belum sebesar itu, kini Afnan sudah lebih siap dan dengan sendirinya karena naluri yang ia miliki ia telah menemukan tekhnik menggauli Istrinya yang tengah hamil tua itu.
BISMILLAH ucap Afnan, lalu ia melafalkan Doa bersenggama dan,,,,
__ADS_1
"A'a,, Assalamua'laikum,,A tolong Ana A sebentar,,,!" suara berisik Ubaydillah dari arah luar pintu kamar , selain dari suaranya yang berisik itu ia juga menelepon Afnan berkali-kali.
"Astaghfirullah Al Adzim, mengapa harus ada iklan sih!" ucap Afnan sedikit geram dan frustasi.
"By lihat saja dulu, mungkin kak Ubay kebakaran jenggot," ucap Hasna dengan meledek Afnan seraya mengekeh.
"Baik Sayang," suara Afnan yang pasrah."Wa'alaikumsalam dek.Iya dek sebentar berisik sekali sih Anta, teriak Afnan dari dalam lalu ia menyelimuti Hasna dan ia menyambar handuk yang berada di sisi tempat tidur, lalu melilitkan nya di bagian pinggang. karena jika berpakaian dulu terlalu lama. Bukan tidak mungkin Ubaydillah menerobos masuk terdengar dari kepanikan suaranya. Dengan tergesa Afnan menyampirkan T-shirt nya untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
Cglek, Afnan membuka pintu."Iya Adikku sayang yang ngeselin ada apa teriak- teriak, menelepon juga, kebiasaan tidak tahu ya di dalam sedang ada meeting penting," protes Afnan, dengan suara yang rendah.
"Hehehe maafkan Dedek mu ini A'a bro sayang, hanya ingin mengambil kunci Valentino. Ana hendak ke pasar A membeli buah bahan rujak untuk Lilin. dia ingin dibuatkan rujak saat ini juga!" Rona wajah memelas dari Ubaydillah.
"Astagfirullah si Dedek Biasanya kan Anta pakai mobil, mengapa saat ingin pakai motor, tapi bukannya kunci Valentino Ana tinggalkan di bawah," ucap Afnan.
"Maaf A'a bro sayang biar cepat gitu loh. Kalau pakai mobil lama, apalagi pagi-pagi begini biasanya di depan pasar itu macet parah, dan tidak ada kunci Valentino di bawah A'a bro, semalam Anta bawa" ucap Ubaydillah.
"Oh sebentar mungkin di kantong celana, Anta jangan masuk dek. Ada ranjau di dalam!" ucap Afnan penuh ketegasan namun ia menahan tawa. lalu ia bergegas masuk untuk mengambil kunci Valentino.
"R**anjau? meeting ? A'a bro sedang apa ya, pagi-pagi begini ?" batin Ubaydillah. Namun karena pesan Afnan ia tidak berani masuk. jangankan masuk hanya sekedar mengintip saja ia tidak berani, padahal pintu itu terbuka. itulah sopan santunnya Ubaydillah.
Tak lama Afnan kembali, "Nih dek! iya semalam Ana lupa. Ana memasukkannya ke dalam kantong celana."
"Terima kasih A'a bro, tapi sebenarnya Anta sedang apa sih? itu sepertinya hendak mandi. Tapi koq tadi bilang ada ranjau dan sedang meeting maksudnya apa A'a bro?" pertanyaan polos terlontar begitu saja dari mulut Ubaydillah Karena ia merasa penasaran.
"Hadeeuuh anak kecil. Sudah sana! Ana sedang meracik bom, sebentar lagi akan meledak. Dan persiapan melepaskan rudal mengerti, tidak?" ucap Afnan mengusir Ubaydillah seraya merangkul bahu Ubaydillah dan membawanya ke arah tangga, lalu ia menyuruh nya turun dengan gemas.
Akhirnya setelah membereskan Ubaydillah, ia kembali ke kamar dengan tak lupa ia mengunci pintu.
"Sudah pergi kak Ubay nya by?" tanya Hasna yang masih bergumul di balik selimut.
"Sudah Sayang Ayo kita mulai kembali," ajak Afnan.dan kini mereka mulai kembali apa yang tadi tertunda karena Ubaydillah.maka pagi itu Afnan sangat amat puas Ia mendapatkan buah manis dari kesabarannya selama 3 bulan ini. akhirnya singa jantan itu mendapatkan mangsanya, walaupun ia harus berhati-hati sekali dalam melakukannya.
"Syukron laak(Terimakasih banyak) Ya Zaujati (istriku) Anti Habibati Anti ( engkaulah kekasihku).jazakillah khairan sayang (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)," ucap Afnan mendalam. Ia tidak tahu lagi ungkapan apa yang harus ia ucapkan sebagai tanda terima kasih kepada istrinya.dan tentunya ucapan syukur.
"Afwan, Wa iyyaka Byby sayang (dan kebaikan untukmu juga),"balas Hasna.sedikit-sedikit ia sudah mulai mengerti bahasa Arab karena Afnan dengan telaten mengajarinya.
pagi itu kebahagiaan yang hakiki untuk mereka berdua.
***
Kehamilan Lintang pun sudah mulai terlihat karena sudah memasuki usia 4 bulan dan keadaan mengidam nya masih naik turun. Ubaydillah sesekali masih saja ia usir karena tercium bau tidak enak oleh nya. namun sudah tidak se ekstrem dulu, yang terkadang tengah malam ia ingin makan kepiting rebus hingga Ubaydillah yang di temani Afnan atau Devano pun menelusuri pasar-pasar 24 jam untuk mencari kepiting,beruntung Afnan pun membantunya. terkadang ia yang memasak kepiting-kepiting itu jika sudah di dapat.belum lagi jika Lintang merajuk meminta hal hal aneh lainnya seperti ingin memetik buah rambutan dari pohon nya langsung dan untuk mendapat pohon rambutan itu harus menempuh jarak yang tidak sebentar, namun itu semua akan terbayar dengan senyuman Lintang yang sumringah. Dan banyak lagi permintaan aneh lainnya yang membuat mereka kerepotan, namun mereka tetap saling bahu-membahu untuk membantu termasuk Andrian dan Devano yang ikut terlibat di dalamnya, sedangkan Elyavira hingga saat ini ia belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan,padahal Devano yang suka dengan anak kecil ia ingin sekali segera mendapatkan momongan. namun mereka tetap bersabar menunggu pemberian dari Allah.
Sore itu selepas Ashar. Hasna sedang bersantai dengan mendengarkan murotal Al-Qur'an, di ruang santai lantai atas dekat dengan kantor Afnan, bersama Lintang. Sedangkan Afnan pergi mengajar di kelas bahasa Inggris dan bahasa Arab, karena ia masih dapat mengajar jika di pesantren. namun untuk pergi keluar dan jauh ia belum dapat meninggalkan Hasna.
"koq tidak nyaman begini ya Lin!" ucapan Hasna pada Lintang.
"Tidak nyaman bagaimana Na?" tanya Lintang ia tidak mengerti.
"Seperti kalau kita menstruasi gitu Lin, tapi masa sih gue mau melahirkan kan menurut dokter Anne HPL gue tuh masih 3 minggu lagi," ucap Hasna lalu ia bangkit dari sofa.
"Na,, baju lo ada darahnya tuh!" pekik Lintang
"Astaghfirullah Lin lalu bagaimana nih gue takut!" seru Hasna wajahnya terlihat mulai memucat, namun ia ingat perkataan dokter Anne untuk selalu tenang, tenang, dan tenang . Lalu ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan dan ber Istighfar. ia kembali duduk di sofa dan meminta tolong pada lintang untuk memanggilkan Umi.
"Lin, Tolong panggilkan umi atau siapapun dan tolong suruh jemput Ustadz di kelas bahasa," pinta Hasna.
"Ok Na sebentar! sabar ya," ucap Lintang lalu ia bergegas untuk turun ke lantai bawah. dan Hasna tak lupa ia memikirkan Lintang yang juga sedang mengandung
"Lin hati-hati jalannya," ucap Hasna dengan suara keras.
"Iya Na," sahut Lintang kembali dengan suara keras.
Selang 10 menit kemudian Umi dan Ambu menghampiri Hasna."Ada apa Sayang? apa sudah terasa sakit perutnya?" tanya Umi seraya merangkulnya. Ia terlihat khawatir.
"Ini Umi Nana seperti mengeluarkan darah dan memang benar berdarah tadi Lintang melihatnya," jawab Hasna.
"Sabar ya Sayang Ambu sedang menelepon A'a," ucap Umi memenangkan Hasna. Seraya mengelus punggung Hasna dengan lembut.
"Awwss, Astagfirullah," pekik Hasna.
__ADS_1
"MasyaAllah,, sakit ya sayang?" tanya Umi. sedangkan Lintang tidak di izinkan kembali naik melihat Hasna. karena Umi mengerti Lintang pun sedang dalam keadaan hamil, takut Lintang merasa trauma.
Tak berapa lama Afnan pun tiba. "Ada apa dengan Nana Mi? apa sudah hendak melahirkan? bukankah menurut dokter Anne HPL nya masih 3 mingguan kedepan, " tanya Afnan sedikit panik itu terlihat dari mikik wajahnya.
"kurang tahu A ,tapi Nana sudah mengeluarkan darah dari tadi. Umi sudah memberikannya handuk untuk menutupi area belakang nya," jawab Umi.
Afnan ingat perkataan dokter Anne, sebisa mungkin walaupun dalam keadaan panik, diusahakan untuk tetap tenang saat menghadapi kondisi Hasna ketika akan melahirkan, karena itu berpengaruh pada psikis si ibu.
"Sini sayang, berpegangan pada Byby jadikan lah Byby sebagai media pelampiasanmu, ketika kamu sakit. Hendak dicengkeram,di cakar ,di cubit atau se maumu Byby terima dengan Ikhlas," ucap Afnan. Lalu ia mengajak Hasna berdiri dan menarik serta melingkarkan kedua tangan Hasna ke leher nya. Dan Afnan memeluk Hasna sebisa mungkin,serta mengelus lembut punggung hingga pinggang Hasna dan juga perut Hasna agar dia merasa lebih rileks.
"Terimakasih Byby Sayang," ucap Hasna, sesekali ia menggigit bibir bawahnya karena terasa pergerakan yang tak biasa dari dalam perut nya.
"Sama-sama sayang," ucap Afnan dan ia meletakkan kepala Hasna di lekukan bahu bagian depan tubuh nya serta tak henti mengecup dan mengelusnya lembut. Hasna betul-betul merasa nyaman.
"Sayang butuh sesuatu,ma'em atau minum," tawar Umi. Ia pun tak henti mengelus kepala Hasna.
"Tidak Umi sayang terimakasih," ucap Hasna tersenyum tipis, terlihat bibir nya agak pucat.
---------
Di parkiran Pesantren yang dekat dengan building Elyavira.
Ubaydillah baru saja sampai bersama Andrian dari kantor nya, ia lihat Devano dan Elyavira berjalan dengan tergesa.
"Dev mau kemana?" tanya Ubaydillah.
"ke rumah utama bang, melihat Nana tadi bang Afnan pergi dengan tergesa dari kelas bahasa, dan terdengar soal Nana gitu, makanya kita mau lihat bang," ucap Devano.
"Ya sudah mari kita lihat, apa yang terjadi," ucap Ubaydillah. dan mereka pun bergegas ke rumah utama.
Setelah sampai rumah utama, Devano, Elyavira dan Adrian segera ke lantai atas sedangkan Ubaydillah menemui Lintang di kamarnya.
"Sayang apa yang terjadi dengan Nana?" tanya Ubaydillah. saat ia masuk Lintang sedang duduk di pojok tempat tidur.
"Itu Dad, Nana berdarah mungkin Nana hendak melahirkan dan Umi melarang Mimom untuk melihatnya," ucap Lintang. ia begitu berbinar ketika Ubaydillah masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung bergerak turun dari tempat tidur dan memeluk Ubaydillah.
"Tenang Ya Mimom Sayang, mungkin Umi tidak ingin Ayang merasaka khawatir, panik atau cemas," ucap Ubaydillah lembut.
"Iya Didad sayang, Mimom mengerti koq!" ucap Lintang lirih.
"Ya sudah sekarang Didad ke atas dulu ya melihat keadaan Nana. Sayang tidak mengapa kan di sini dulu," ucap Ubaydillah lalu merenggangkan pelukannya dan menatap wajah lintang seraya mengecup kening Lintang.
"Iya Didad sayang tidak mengapa," ucap Lintang. setelah melepaskan pelukannya serta memastikan Lintang duduk dengan tenang di sofa. Ubaydillah memanggilkan Ambu yang lainnya untuk menemani Lintang.Maka ia pun naik dan bergegas ke lantai atas.
Devano baru saja sampai di lantai atas, "Nana kenapa bang? apa sudah akan melahirkan?" tanya Devano.
"Sepertinya Dev,walaupun menurut dokter Anne HPL nya masih 3 Minggu kedepan. Namun kita sedang observasi ruangan. Jadi Nana tidak menunggu lama di luar kamar," jawab Afnan.
"Dek, Nana sabar ya!" ucap Eyalvira. Lalu ia menghampiri Hasna seraya menggengam tangan Hasna untuk menguatkan nya.
"Terima kasih banyak Kak Elya," ucap Hasna dengan senyum yang dipaksakan.
Lalu Ubaydillah pun muncul dari arah bawah.
"Sudah terasa mulas A?" tanya Ubaydillah.
"Iya dek tapi baru sesekali saja, Oh ya Ana sudah mereservasi tempat untuk kita nanti kesana. Tolong temani Kami sehabis magrib ya dek. Untuk dek Elya dan Dev tolong temani Neng Lilin di sini ya, Abang akan pergi bersama bang Ubay dan Umi sedangkan Abi masih di luar kota, dan akan sampai sini tengah malam nanti," tutur Afnan.
"InshaAllah bang," jawab Elyavira dan Devano berbarengan.
"Aduh A, Ana turun dulu ya, perut Ana mulas sekali," ucap Ubaydillah. Ia bergegas turun ke lantai bawah menuju toilet, karena sudah tidak tahan merasa perutnya sakit.
------
Ba'da Magrib mereka sudah siap berangkat ke rumah sakit, Hasna terus mengeluarkan darah seperti haid, tanpa ada lendir atau air apapun. sedangkan Ubaydillah bolak-balik terus ke toilet karena ia merasa mulas. beruntung ada Adrian yang dengan sigap mengantar mereka, dengan Ubaydillah bersikkeras tetap ikut. Walaupun Afnan sudah melarang nya, dan dengan keadaan menahan perutnya yang sakit. sesekali mereka tertawa melihat tingkah lucu Ubaydillah yang kadang menggeliat-geliat kesakitan dan ia bersenandung, serta bersiul saat rasa sakit itu ia rasa. Hasna yang hendak melahirkan saja dia tenang malah Ubaydillah yang kadang teriak teriak kesakitan. sesekali Afnan mengolesi punggung dan perut Ubaydillah dengan minyak angin.
"Ya Allah Dek, Ana koq malah repot mengurusi Anta, yang hendak melahirkan itu siapa sih?" tanya Afnan seraya mengekeh. Saat mengolesi minyak angin ke Perut Ubaydillah.
"Hehe, Maafkan Dedek. A'a bro! Ana tidak ingin melewatkan momen Istimewa, spesial, spectacular dan luar biasa ini. Ana kan menemani Anta dari mulai uwhek,,,uwhek.maka Ana juga ingin menjadi saksi saat nanti keponakan Ana uweek,,uweek. celoteh Ubaydilla dan terlihat seringaian permohonan maaf dari Ubaydillah. sedangkan Adrian sudah tertawa tawa dari setadi.Hasna ikut mengekeh sambil meringis menahan perut nya yang kadang terasa di remas. Dan Umi pun mesem mesem seraya geleng-geleng kepala, merasa pening dengan tingkah Ubaydillah yang terlihat seperti anak kecil, malah kini ia meminta Afnan agar memijat bahunya.
__ADS_1
********
mesih next ya,, minta doanya nih agar Nana selamat melahirkan nya 🤲😍🤗.