
"Jadi apa yang dikatakan Om Gunawan waktu itu benar?" tanya Adisti saat Yasa selesai berbicara.
"Memang Om Gunawan cerita apa?" tanya Yasa balik.
Adista pun menceritakan apa yang dia dengar dari Om Gunawan. ( Bagi yang sudah lupa bisa baca di Bab 38. Bertemu) Yasa hanya diam mendengarkan, sesekali dia menghela napas. Pria itu kesal juga dengan kesalahan yang dilakukan oleh sang papa. Namun, apa boleh buat semuanya sudah berlalu. Mau marah pun tidak akan bisa mengembalikan masa lalu.
Hanya saja Yasa merasa sedih karena di akhir hayatnya sang mama merasa sedih karena harus menanggung semuanya seorang diri. Andai dia sudah dewasa saat itu pasti akan menemani mamanya menjalani hari-hari terakhirnya.
"Pak Gunawan memang benar. Sebenarnya papa merasa sangat bersalah pada Pak Gunawan, tapi terlalu malu untuk mengatakannya. Apalagi komunikasi mereka juga sudah benar-benar terputus."
"Kenapa harus malu? Bukankah sebaiknya meminta maaf dan saling memaafkan! Om Gunawan juga tidak akan menyimpan dendam. Aku sangat mengenalnya, beliau orang yang baik."
"Pak Gunawan memang orang yang baik, tapi papa lah orang yang egois. Dia takut jika Pak Gunawan tidak mau memaafkannya padahal itu hanyalah ketakutannya saja."
Sebenarnya Yasa juga kesal pada sang papa yang bukan hanya pengecut, tapi juga lari dari tanggung jawabnya. Andai sedari dulu bukan orang yang mudah emosi, pasti tidak akan ada kesalahpahaman yang berkelanjutan hingga kini.
"Bagaimana kalau kita bicara saja dengan Om Gunawan? Mungkin dia tahu caranya agar hubungan mereka bisa baik lagi. Almarhumah mama juga pasti akan tenang di alam sana. Pasti almarhumah juga dulu merasa bersalah pada suami dan teman suaminya. Meskipun Om Gunawan pada akhirnya jatuh cinta pada almarhumah mama mertua, tapi setidaknya dia tidak pernah merebut istri siapa pun."
Tidak dipungkiri ada sedikit rasa kesal karena ada pria lain yang mencintai mamanya, tetapi Yasa tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka juga tidak menjalin hubungan, justru mamanya sangat menjaga hatinya.
"Bagaimana caranya bicara dengan Pak Gunawan? Apa nanti dia mau membantu?" tanya Yasa ragu.
__ADS_1
"Kita coba saja, tidak ada salahnya 'kan?"
"Tapi pasti papa akan marah jika Pak Gunawan tahu selama ini papa merasa bersalah padanya. Takut kalau nanti dirinya diejek."
"Om Gunawan bukan orang yang seperti itu, kalaupun nanti mereka saling ejek pasti itu hanya sebuah candaan. Ayolah! Mamu percaya padaku, kan? Om Gunawan pasti akan mengerti keadaan Papa Faisal."
Yasa pun akhirnya mengangguk, mereka berencana akan menemui Pak Gunawan nanti malam di sebuah restoran. Adisti sudah mengirimkan pesan dengan alasan mengundang makan malam bersama. Memang sudah lama mereka tidak bertemu dan saling bercerita. Gunawan yang memang sudah merindukan anak dari sahabatnya itu pun menyetujui saja. Baginya Adisti sama seperti putrinya sendiri.
Malam hari Yasa dan sang istri menuju sebuah restoran tempat mereka janjian, ternyata Gunawan sudah datang lebih dulu, membuat Adisti jadi merasa tidak enak. Mereka pun saling bersalaman dan mengambil tempat duduk.
"Maaf, Om, aku telat. Padahal aku yang ngundang, tapi malah Om yang datang lebih dulu," ucap Adisti yang merasa tidak enak.
Adisti mengangguk dan memanggil pelayan. Mereka mengatakan pesanan masing-masing dan kembali berbincang sambil menunggu pesanan datang.
"Kamu apa kabar? Kamu kelihatan lebih bersinar, sepertinya sekarang kamu sangat bahagia. Apa keberadaan suamimu yang merubahnya?" tanya Om Gunawan sambil tersenyum ke arah Adisti.
Wanita itu pun ikut tersenyum malu karena dia memang merasa sangat bahagia. Mungkin itu yang membuat dirinya bertambah bersinar.
"Om, bisa saja. Aku merasa biasa saja kok! Om juga sekarang kelihatan lebih muda. Aku jadi curiga kalau Om sedang jatuh cinta," goda Adisti membuat Gunawan terkekeh.
Pria itu sendiri tidak pernah memikirkan hal tersebut, entah lupa atau memang sengaja tidak sempat memikirkan itu. "Sekarang ada apa? Tumben kamu ngajak makan malam di sini, pasti ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan. Apa ini mengenai saham kamu dan Yasa? Apa kalian ingin menyatukannya?"
__ADS_1
"Tidak, Om ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Memang benar aku dan Mas Yasa datang ke sini untuk berbicara sesuatu dengan Om, tapi ini masalah pribadi lebih ke masalah hati."
Gunawan mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Adisti. Jika memang ini ada urusannya dengan hati lalu, apa hubungannya dengan dirinya. Kalau masalah rumah tangga mereka bukankah Adisti seharusnya menyelesaikan semua ini berdua dengan suaminya, bukan malah datang mencarinya.
Apakah mungkin mereka berdua ingin menjodohkan dirinya dengan seorang Wanita? Jika itu sampai terjadi, sudah pasti jawabannya adalah tidak. Entah kenapa Gunawan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menikah. Belum menemukan seseorang yang cocok atau mungkin karena hatinya sudah terpaut pada seseorang yang sudah pergi selamanya. Padahal cintanya sama sekali tidak berbalas, tapi untuk melupakannya sungguh terasa sangat sulit.
"Apa Maksud kamu? Om sama sekali tidak mengerti. Kamu jelaskan semuanya secara ringkas saja agar Om paham."
Adisti berpikir sejenak, bingung cara menyampaikannya pada Om Gunawan. Dia menatap ke arah sang suami dan hanya dijawab dengan menghendikkan bahunya.
Gunawan yang melihat keduanya diam pun jadi kesal sendiri. "Cepat kalian katakan, jangan saling pandang-pandangan terus! Om jadi semakin penasaran."
"Begini, Om. Kami tahu kalau Om dan Papa Faisal masih belum berhubungan baik padahal dulu kalian berteman jadi, kami ingin Om dan papa baikan. Om 'kan tahu kalau kita semua di dunia ini hidup tidak akan lama, daripada menyimpan dendam lebih baik kita semua damai," ujar Adisti sambil melihat ekspresi pria di depannya.
Gunawan menganggukkan kepala, dia mulai mengerti arah pembicaraan keponakannya. "Om mengerti maksud kalian, tapi Yasa tentu mengerti bagaimana sifat papanya yang keras kepala. Dia tidak akan mau bertemu denganku apalagi setelah salah paham dulu."
"Karena itu kami datang ke sini."
Yasa pun menceritakan apa yang sebenarnya dialami oleh sang papa. Om Gunawan hanya diam mendengarkan, dia tidak menyangka jika selama ini sahabatnya sudah mengetahui cerita yang sebenarnya. Namun, karena gengsinya yang terlalu tinggi hingga sampai saat ini mereka bermusuhan dan tidak pernah bertemu. Entah bagaimana keadaan mantan sahabatnya itu.
"Jadi kami ke sini untuk mendiskusikan dengan Om, bagaimana baiknya agar papa mau pulang. Sebenarnya aku juga marah pada papa karena tanpa sadar papa sudah membuat kesalahan dan membuat mama bersedih, padahal mama sedang berjuang melawan penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya," ujar Yasa dengan nada yang sedih. Adisti mengusap punggung sang suami guna memberi kekuatan untuknya.
__ADS_1