
Pagi hari, Vira dan Adisty sedang lari pagi mengelilingi kompleks. Keduanya ingin menikmati udara dan olahraga pagi sambil berjalan di taman, nanti siang saja mereka jalan-jalan ke mall. Di taman banyak anak muda juga yang melakukan kegiatan yang sama seperti keduanya. Ada juga orang yang sudah lanjut usia bersama dengan pasangan mereka. Sungguh membuat Adis iri dibuatnya.
Andai saja dia memiliki suami yang setia, pasti saat ini dia masih bersama dan menikmati hari-hari. Melakukan banyak hal bersama, tetapi percuma juga berandai-andai, itu akan semakin menyakiti hatinya.
"Dis, aku tahu saat ini kamu sedang ada masalah dengan papa. Entah ada apa aku tidak tahu karena memang kalian sengaja merahasiakannya dariku, tapi aku tahu saat ini papa yang mau melakukan kesalahan. Sebagai seorang anak aku hanya ingin meminta padamu. Aku mohon maafkan papa, kecuali kalau dia memang sudah sangat keterlaluan padamu, maka kamu boleh membencinya. Aku juga tidak akan membenarkan sikap papa jika yang dilakukan sudah sangat menyakiti hatimu. Apalagi melihatmu menangis seperti kemarin, pasti masalahnya tidak semudah yang dilihat," ujar Vira dengan menatap ke arah sepupunya.
"Kenapa kamu bisa sampai berpikir ke arah sana? Bukankah aku sudah menjelaskannya kemarin," kilah Adisti yang masih ingin menutupi masalah tersebut.
"Meskipun kamu sudah mengatakannya, tapi aku tahu kamu sedang berbohong. Kita sudah sangat lama hidup bersama. Aku juga bisa tahu bagaimana saat papa berbohong atau tidak. Dia itu tidak ahli dalam hal tersebut."
Adisti menunduk lemah, sepertinya percuma juga berbohong pada Vira. Nyatanya gadis itu bisa tahu keadaan sekitarnya.
"Ya, itu memang benar, tapi kamu jangan khawatir aku sudah memaafkan Om Edwin sebelum dia meminta maaf. Bagiku dia juga orang tuaku. Selama ini juga sudah sangat menyayangiku, hanya saja apa yang dilakukan kini mungkin bentuk kasih sayangnya padaku yang terlalu berlebihan," ucap Adisti yang sengaja tidak ingin membuat Vira kepikiran, tentang alasan hubungan dirinya dan Edwin yang berjarak. Biarlah Vira menganggap jika ini murni masalah dirinya dan Edwin saja.
Vira menganggukkan kepala, hatinya sedikit lega meskipun tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah itu menjadi rahasia mereka asalkan hubungan keluarga masih baik.
"Oh ya! Mengenai Yasa bagaimana? Apa kamu sudah mulai dekat dengan dia? Aku lihat terakhir kali dia berusaha untuk mendapatkan perhatianmu," tanya Vira yang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kamu jadi membahas tentang dia?" tanya Adisti kesal.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Yasa pria yang baik, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Cobalah buka hatimu."
Adisti melengos, tidak ingin menatap sepupunya. Dua juga tidak suka membahas hal itu. "Aku sedang tidak ingin membahas hal itu."
"Harus sampai kapan kamu akan menghindari semua ini. Masalah tidak akan selesai jika kamu diam saja. Kalau kamu benar-benar tidak ingin memulai hubungan lagi dengan Yasa, maka putuskan sekarang juga agar dia juga tidak lagi berharap, tapi jika kamu masih mengharapkan keberadaannya, cobalah buka hatimu. Pikirkan semuanya baik-baik, jangan sampai kamu menyesal saat dia sudah benar-benar pergi dari kehidupanmu dan sudah menemukan kebahagiaannya yang lain di luaran sana. Aku tahu di sudut hatimu yang paling dalam masih ada namanya."
"Sok tahu!"
"Ck, kamu suka ngeyel kalau dibilangin."
Tidak ada pembicaraan apa-apa lagi. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Saat matahari agak terik, mereka memutuskan untuk kembali pulang, pasti saat ini Edwin sudah menunggunya untuk sarapan.
Tiga hari sudah Adisti menginap di rumah Vira. Dia harus segera pulang karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu, dirinya juga harus menghadiri sidang putusan yang akan digelar besok. Kemarin pengacara sudah menghubunginya dan sudah memberi kabar kalau Adisty harus datang. Jika permohonan perceraian dikabulkan maka ikrar talak juga akan dibacakan. Itulah kenapa harus menghadirkan kedua belah pihak.
Sebelum sidang digelar besok, tiba-tiba saja Bryan mengirim pesan pada Adisti, yang mengatakan jika dirinya ingin bertemu. Padahal wanita itu sudah memblokir nomornya, tetapi Bryan selalu punya cara untuk menghubunginya menggunakan nomor baru. Mau tidak mau Adisti pun mengiyakan saja. Tidak ada salahnya berbincang sebelum perpisahan. Dia juga perlu mengatakan sesuatu pada sang suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan itu.
Saat Adisti datang ke sebuah restoran, ternyata Bryan sudah menunggu di sana. Tumben pria itu datang lebih dulu, padahal biasanya selalu datang terlambat. Namun, dia tidak mau ambil pusing. Justru itu lebih baik, dirinya tidak perlu berlama-lama di tempat ini.
Segera wanita itu mengambil tempat duduk di depan Bryan dan bertanya, "Ada apa kamu ingin bertemu denganku? Besok juga kita akan bertemu di persidangan."
__ADS_1
"Justru itu. Aku ingin kita kembali bersama seperti dulu. Apa sudah tidak ada rasa cinta di hatimu untukku? Aku masih sangat mencintaimu. Di hatiku hanya ada kamu, satu-satunya wanita yang aku cintai, percayalah padaku. Sahna hanya orang yang aku anggap sebagai pelampiasan saja. Aku juga kasihan sama dia karena keluarganya juga orang miskin."
Adisti tertawa sambil menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu. "Bisa-bisanya kamu berkata demikian setelah kamu bersenang-senang dengan istrimu itu. Tidakkah kamu memikirkan bagaimana perasaannya saat ini jika mendengar apa yang kamu katakan? Kamu bersikap seolah kamu adalah korban di sini padahal jelas-jelas kamu pelakunya. Walau bagaimanapun aku tidak bisa kembali denganmu. Saat ini yang aku inginkan adalah berpisah denganmu dan memulai kehidupan yang baru. Aku tidak ingin masa lalu terus saja menghantuiku."
"Setidaknya kita harus mencoba dulu, baru saat kita memang sudah benar tidak saling menginginkan, maka kita bisa berpisah."
Lagi Adisti tertawa, tidak mengira jika Bryan akan berkata seperti itu. Dia pun menatap sang suami dengan tajam, bisa-bisanya mempermainkan keadaan dan perasaan orang lain. Bertahun-tahun hidup bersama kini wanita itu bisa melihat sisi lain dari suaminya.
"Inilah yang tidak aku sukai darimu. Kamu menganggap sebuah ikatan suci pernikahan adalah sebuah permainan. Aku tahu perceraian memang sangat tidak disukai oleh Tuhan, tapi bagiku lebih baik berpisah denganmu dan menyehatkan mentalku."
Bryan kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Adisti, tetapi memaksakan keinginannya sepertinya tidak akan bisa. Dia sangat tahu bagaimana watak dari istrinya. Pria itu masih memikirkan kemungkinan agar dirinya bisa kembali bersama, tetapi perkataan Adisti justru membuatnya terkejut.
"Aku peringatkan jangan macam-macam denganku! Turuti saja perceraian ini. Aku sudah melupakan masalah penculikan waktu itu jadi, tidak usah dibahas lagi."
Mata Bryan membelalak, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Penculikan! Penculikan?" tanya Bryan yang berpura-pura bodoh.
"Kamu jangan pura-pura bodoh. Aku tahu siapa yang menculikku waktu itu dan siapa dalang di baliknya jadi, kamu tidak usah mencari alasan lagi karena aku sudah mengetahui semuanya."
__ADS_1