
"Apa? Itu tidak mungkin! Bryan tidak mungkin di kantor polisi! Dia tidak mungkin ditahan!" teriak Mama Lusi yang baru saja mendapat telepon dari pihak kepolisian.
Sahna yang berada di kamar pun segera keluar saat mendengar teriakan mertuanya. Apalagi Mama Lusi menyebut nama Bryan dan polisi. Wanita itu ingin meyakinkan apa yang dia dengar. Jika benar apa yang ada di kepalanya, entah bagaimana nasibnya nanti.
Saat Bryan berpenghasilan kecil saja dirinya sudah menderita, bagaimana jika dipenjara. Otomatis sang suami tidak lagi bekerja dan tidak ada uang yang dia dapat.
"Ma, apa benar Bryan di kantor polisi? Bryan kenapa ada di sana?" tanya Sahna yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Mama Lusi.
Wanita paruh baya itu masih diam dengan tatapan kosong, bahkan saat ini ponselnya sudah jatuh di atas pangkuannya. Sungguh dia sangat terkejut mendengar berita itu. Tadi pagi sang putra pamit untuk pergi ke kantor, tetapi kenapa sekarang harus berakhir seperti ini. Mama Lusi yakin jika ini ada kaitannya dengan rencana Arsylla yang membawa Bryan bekerja di perusahaan itu. Selalu saja wanita itu yang membawa kesulitan dalam keluarganya.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku harus pergi kantor polisi untuk membebaskan anakku," gumam Mama Lusi yang segera beranjak ke kamar untuk mengambil tas dan segera memesan taxi.
Sahna pun segera mengikuti sang mertua. Dia juga ingin tahu bagaimana keadaan sang suami saat ini, juga ingin tahu apa yang menjadi penyebab suaminya berada di kantor polisi karena kecelakaan atau karena sebuah kasus dan membuat pria itu ditangkap. Jika sampai kemungkinan pertama yang terjadi, dia benar-benar akan pergi dari Bryan. Mengenai anak yang ada dalam kandungannya, dia bisa meletakkannya di panti asuhan saat lahir nanti.
Mama Lusi pun tidak melarang Sahna ikut dengannya. Saat ini yang terpenting bagi wanita paruh baya itu adalah sampai di kantor polisi dan melihat keadaan putranya. Jika benar Bryan bisa seperti ini karena Arsylla, maka dia tidak akan pernah memaafkan wanita itu. Mama Lusi akan membalas semua.
__ADS_1
Sebelumnya dia sudah memperingatkan Bryan bahwa dirinya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada putranya, tapi sekarang melihatnya sudah sampai sejauh ini membuatnya sedih. Andai Bryan mendengar kata-katanya dan lebih pintar, pasti tidak akan seperti ini.
Tidak berapa lama mobil yang ditumpangi oleh Mama Lisa sampai juga. Dia dan sang menantu turun dan segera masuk untuk melihat keadaan Bryan. Polisi pun membawa keduanya ke sebuah ruangan, di mana saat ini Bryan dan Arsylla berada karena memang keduanya masih dalam proses penyidikan jadi, belum ditahan dan masih ditempatkan di ruangan yang berbeda dengan dijaga oleh seorang polisi.
"Bryan! Ya ampun! Kenapa kamu bisa sampai berada di sini? Apa yang sudah kamu lakukan?" pekik Mama Lusi yang langsung menghampiri putranya.
Wanita itu memegang kedua pundak sang putra agar pria itu menatap mamanya. Bukannya menjawab Bryan hanya diam dengan menundukkan kepala. Hal tersebut semakin membuat Mama Lusi geram.
"Cepat jawab! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa bisa sampai berurusan dengan polisi? Mama sudah memperingatkan kamu sebelumnya, kenapa kamu tidak mendengarkan apa kata Mama?"
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Bryan saat ini karena memang dirinya juga menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya. Andai waktu bisa diputar sudah pasti dia tidak akan mau berurusan lagi dengan Arsylla.
Bryan menggeleng lemah, dari segi manapun dia bersalah. Semua bukti juga sudah terkumpul dan polisi sudah memeriksa segalanya. Yasa juga orang berpengaruh, pasti akan semakin sulit.
"Sepertinya kali ini akan sulit, Ma. Aku hanya minta Mama untuk jaga kesehatan, biar aku menjalani hukumanku di sini. Jangan membantuku, nanti Mama akan semakin kesulitan."
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan? Bagaimanapun kamu adalah segalanya bagi Mama. Kamu juga punya tanggungjawab. Kalau kamu di sini bagaimana dengan kehidupan Mama nanti? Ingatlah kalau kamu sebentar lagi memiliki anak. Kamu harus berjuang agar bisa keluar dari sini."
"Aku tahu, Ma, karena itu aku tidak melawan pihak yang berwajib agar hukumanku jadi ringan. Aku tidak ingin semakin mempersulit yang malah akan menambah hukumanku."
Mama Lusi terlihat tidak suka dengan ucapan Bryan. Biasanya putranya itu lebih bersemangat daripada dia, tetapi kenapa sekarang malah menyerah begitu saja, pasti ada sesuatu. "Ini pasti karena Arsylla, kan? Kamu berada di sini pasti karena rencana yang sudah dia buat benar, kan?"
Bryan hanya diam tidak mampu menjawab pertanyaan sang mama. Akhirnya Mama Lusi hanya bisa menangisi nasib sang putra yang harus berakhir seperti ini. Seandainya dia tidak banyak menuntut pada Bryan, pasti ini semua tidak akan terjadi.
Sahna mendekat ke arah sang suami dan berkata, "Kalau kamu di sini, lalu aku bagaimana? Aku dan anakku juga butuh nafkah. Siapa yang akan menghidupi kami? Aku menikah denganmu karena aku ingin bahagia, tetapi kenapa sekarang harus seperti ini? Mana janji yang sudah kamu katakan dulu? Satu pun tidak ada yang kamu tepati. Tidakkah kamu ingin berusaha untuk menepati janjimu? Kenapa sekarang malah ada di sini?"
"Sahna, maafkan aku, tapi aku janji setelah aku keluar nanti aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu dan anak kita. Untuk saat ini aku mohon berjuanglah sendiri menggunakan tabungan kamu sampai aku bebas. Nanti aku akan bekerja keras untuk menggantinya."
"Saat ini saja aku tidak tahu kapan kamu akan keluar dari sini dan berapa lama hukuman yang akan kamu jalani, bagaimana bisa aku percaya padamu? Aku yakin jika hukuman yang dijatuhkan padamu tidak akan ringan dan sudah pasti kamu tidak akan bisa melihat saat aku melahirkan anak kita nanti."
"Tidak! Kamu tenang saja, nanti aku akan meminta izin untuk pergi menemuimu saat anak kita lahir. Kamu tenang saja aku akan melakukan semuanya untukmu."
__ADS_1
"Tapi sayangnya aku tidak membutuhkan hal itu. Saat ini yang aku butuhkan adalah keberadaan suami di sisiku dan bisa menghidupiku dengan layak, bisa membuatku bahagia. Tidak sepertimu, janji-janji manis yang kamu ucapkan semuanya tidak ada satu pun yang kamu tepati, bahkan sekarang aku harus hidup menderita. Kehidupanku lebih buruk dari saat aku masih bersama dengan kedua orang tuaku. Aku bertahan sampai sekarang karena aku merasa malu pada mama dan papa. Aku meminta izin pada mereka untuk menikah denganmu, padahal mereka tidak setuju saat mengetahui aku hanya akan dijadikan istri kedua, tapi aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja dan akan bahagia. Lihatlah sekarang! Tidak ada yang baik-baik saja. Semuanya hancur berantakan, sangat jauh dari apa yang kamu janjikan dulu. Lebih baik rumah tangga kita sampai di sini saja. Aku tidak mau tahu lagi tentangmu. Aku tidak ingin tahu apa yang akan terjadi padamu."
Sahna segera keluar dari ruangan itu tanpa menoleh kebelakang, sementara Bryan berteriak memanggil nama sang istri. Namun, tidak dipedulikan oleh Sahna sama sekali.