
Adisti dan Naina sedang membahas mengenai kemajuan butik di ruang kerja. Adisti juga ingin tahu sejauh mana kemampuan orang yang dia percayai dan cukup puas karena gadis itu baru belajar, tetapi sudah menunjukkan hasil yang begitu bagus. Tidak sia-sia wanita itu mengajarinya, semoga kedepannya Naina bisa dipercaya dan tidak berkhianat, seperti orang-orang yang dipercayai sebelumnya. Sangat sulit untuk menemukan orang-orang yang sesuai dengan keinginan kita, tetapi Adisti tidak akan menyerah. Dia akan selalu berusaha berbahagia sendiri ataupun bersama dengan orang-orang tercinta.
Bel rumah berbunyi, Bik Rina yang kebetulan sedang menyiapkan makan malam pun segera keluar untuk melihat siapa tamu yang datang. Tidak berapa lama wanita itu kembali dan mengetuk pintu ruang kerja majikannya, dua memberitahu Adisti jika ada tamu yang datang dan ingin bertemu.
"Maaf, Nyonya, di depan ada tamu katanya rekan bisnis Anda dan ingin bertemu."
Adisti yang semula fokus pada kertas yang ada di tengah segera mendongakkan kepala, menatap pembantunya dengan seksama. Dia merasa aneh, kapan dirinya memiliki rekan bisnis? Lagi pula kalau memang benar orang itu rekan bisnis, kenapa harus datang ke sini? Kenapa tidak datang ke tempat kerjanya saja di butik besok pagi. Kalau bertemu jam segini sudah bukan saatnya untuk membahas urusan pekerjaan, kecuali memang ada pekerjaan lembur.
"Bibi buatkan teh saja dulu, sebentar lagi aku akan keluar," jawab Adisti yang diangguki oleh Adisti. Dia juga meminta Naina untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, sementara dirinya akan keluar untuk melihat tamu tersebut. Meskipun dalam hati wanita itu sangat penasaran siapa tamu tersebut.
Saat sampai di ruang tamu, Adisti memutar bola matanya malas. Lagi-lagi orang itu mengganggu ketenangan hidupnya. Bukankah sebelumnya wanita itu sudah memperingatkan untuk tidak lagi mengganggunya. Urusan bisnis juga sudah dia serahkan pada Gunawan.
"Sepertinya Anda kekurangan pekerjaan, hingga sampai mendatangi saya ke sini," sindir Adisti yang memang disengaja.
"Aku memang tidak ada kerjaan, itu juga yang membuat aku datang ke sini. Aku ingin mencari pekerjaan padamu," sahut Yasa sambil tersenyum, semakin membuat Adisti malas.
Bik Rina datang dengan membawakan dua cangkir teh untuk majikan dan tamunya.
__ADS_1
"Silakan dinikmati tehnya, maaf saya hanya menyediakan ini saja. Setelah habis saya harap Anda bisa segera pergi dari sini. Saya masih banyak sekali pekerjaan yang harus segera saya selesaikan," ucap Adisti yang sengaja ingin mengusir tamunya.
Dia tidak perlu berbasa-basi pada Yasa, selain karena pria itu yang menjadi masalahnya di sini, juga tidak ingin ada fitnah nantinya. Apalagi dengan statusnya yang saat ini masih istri orang. Sementara itu, Yasa hanya tersenyum, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan Adisti. Pria itu sangat senang akhirnya bisa datang untuk tujuan pribadi, padahal sedari tadi perasaannya sudah tidak menentu.
"Kenapa Anda tersenyum? Apa ada sesuatu yang lucu pada apa yang aku katakan tadi?"
Yasa menggeleng dan tetap memberikan senyumnya yang begitu manis. "Tidak, hanya saja saat kamu semakin marah, justru semakin membuat kamu cantik di mataku. Aku lebih suka kamu yang seperti ini daripada terus diam tanpa kata. Ini memanglah dirimu meskipun dunia sudah berubah, tapi aku ingin kamu tetap sama, baik pada siapa saja meskipun orang itu sudah jahat."
Adisti tertawa sinis sambil berkata, "Aku tidak sebaik itu. Seharusnya kata-kata itu kamu tunjukkan pada dirimu sendiri. Apakah selama ini sudah cukup baik sebagai seorang manusia? Jangan hanya menghakimi orang lain, tapi kamu juga perlu berkaca agar tidak melakukan kesalahan yang sama."
"Untuk itu aku datang ke sini, aku ingin menjelaskan sesuatu padamu agar tidak ada kesalahpahaman kedepannya," sahut Rasa dengan cepat, pandangannya sendu tertuju pada Adisti.
"Mengenai Arsylla, aku menerima dia bekerja di perusahaan karena ada alasannya dan itu semua karena kamu. Aku tidak ingin kamu salah paham, di hatiku dari dulu sampai detik ini hanya ada kamu, tidak ada siapa pun lagi. Aku benar-benar tulus mencintaimu. Aku tahu apa yang aku katakan terdengar bullshit, tapi aku mengucapkannya tulus dari dalam hatiku yang paling dalam. Hanya kamu satu-satunya yang ada di sana, tidak ada yang bisa menggantikannya dan tidak akan pernah ada yang menggantikan."
Adisti terdiam dengan menatap ke arah Yasa yang juga menatapnya. Getaran dalam hatinya semakin terasa, dia tidak ingin terlena dalam ungkapan cinta yang diucapkan oleh pria itu. Adisti tidak ingin membohongi hatinya bahwa dia merasa tersentuh. Entah itu benar-benar tulus dari dalam hatinya atau tidak, yang pasti wanita itu bisa melihat kesungguhan di matanya.
Hanya saja penghianatan yang pernah dia rasakan membuat Adisti bersikap waspada dan tidak terlena begitu saja. Mengenai Arsylla, wanita itu juga ingin tahu apa alasan di balik Yasa menerima mantan sahabatnya itu bekerja. Akan tetapi, terlalu malu bagi dirinya untuk bertanya.
__ADS_1
"Sudahlah, itu masa lalu, aku tidak ingin membahasnya. Mengenai Arsylla itu bukan urusanku lagi, itu hak kamu untuk mempekerjakan siapa pun di perusahaanmu, tidak ada urusannya denganku," ucap Adisti yang membohongi hatinya.
Yasa membuang napas pelan dan kembali berkata, "Awalnya dia menghubungiku dan meminta bertemu. Tadinya aku menolak karena aku merasa tidak memiliki tujuan apa pun dengannya, tapi saat mendengar namamu dia sebut, akhirnya aku mau bertemu dengannya. Aku pikir kamu sedang butuh bantuan, tapi ternyata aku salah."
Yasa pun menceritakan pertemuan pertamanya dengan Arsylla yang saat itu meminta pekerjaan padanya. Waktu itu dia tidak bisa berpikir jernih dan hanya menginginkan keadaan Adisti baik-baik saja. Akhirnya Yasa pun terpaksa menuruti keinginan Arsylla demi mendapatkan informasi. Dia juga bukan pria yang mudah ingkar janji.
"Begitulah ceritanya, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menghianatimu," ujar Yasa panjang lebar tanpa Adisti minta. Dia hanya tidak ingin wanita itu semakin membencinya.
"Sudah aku katakan aku tidak menginginkan penjelasan apa pun darimu. Itu bukan urusanku, sekarang lebih baik kamu kembali."
"Kenapa harus seperti ini, Dis? Tidak adakah sedikit saja perasaanmu terhadapku? Apakah semua rasa itu sudah benar-benar hilang dari dalam hatimu? Cintaku padamu begitu besar, tidak bisakah kamu membalasnya sedikit saja? Paling tidak bukalah hatimu untukku, kamu tidak perlu melakukan apa pun. Cukup biarkan aku membuatmu jatuh cinta kembali, biar semuanya berjalan dengan sendirinya, aku yang akan berjuang untuk mendapatkan cinta itu lagi. Jangan tutup pintu hatimu," ujar Yasa dengan suara lirih.
Adisti menundukkan kepala, bayangan masa lalu hadir di depan matanya. Di mana saat dirinya sangat membutuhkan kehadiran pria itu, justru pengkhianatan yang harus diterima untuk pertama kalinya dan dia merasa hatinya begitu terluka. Rasa sakit yang sudah dikubur dalam-dalam, kini harus kembali terlihat.
"Aku tidak mau menjadi wanita yang terpuruk lagi. Aku pernah membuka hatiku untuk pria lain, tapi berakhir dengan dikhianati. Aku tidak ingin hal itu terulang kembali, cukup dua kali aku dikhianati oleh laki-laki. Aku tidak mau merasakannya lagi."
"Dis, kamu tentu tahu saat itu aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku melakukan semuanya karena terpaksa. Padahal saat itu aku sudah memintamu untuk bertahan, aku ingin membuktikan padamu semua yang aku lakukan itu palsu, hanya demi membuat fokus papa teralihkan. Setelah itu aku akan menjelaskan semua pada mereka. Sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."
__ADS_1
"Sadar atau tidak, tapi yang kamu lakukan justru semakin menyakiti hatiku. Mungkin itu juga pertanda bahwa kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama."
Yasa menggeleng, menatap Adisti dengan pandangan tidak percaya. Bisa-bisanya wanita itu berkata demikian, tidakkah adakah sedikit saja kesempatan untuk dirinya.