
Adisti sudah memberi kabar pada Om Edwin dan juga Tante Soraya mengenai rencana lamaran Yasa. Seluruh keluarga begitu bahagia mendengar tentang rencana pernikahan Adisti. Tante Soraya yang sebelumnya merasa sedih karena tidak bisa menemani keponakannya saat bercerai juga ikut merasa bahagia. Kali ini wanita itu berjanji akan datang saat pernikahan Adisti.
Meskipun Soraya bukanlah adik kandung dari almarhum papa Adisti, tetapi dia sangat menyayangi keponakannya itu seperti putrinya sendiri. Hanya saja memang jarak yang memisahkan mereka, membuat keduanya jarang bertemu. Komunikasi juga ala kadarnya, tetapi tidak mengurang kasih sayang di antara mereka.
Vira yang mengetahui rencana lamaran juga begitu senang. Dia sebenarnya ingin datang ke rumah Adisti sekarang juga, tetapi pekerjaannya begitu menumpuk, membuat gadis itu tidak bisa pergi ke mana-mana. Lagi pula Vira juga harus menemui pria yang akan dijodohkan dengannya. Padahal dia sudah menolak mentah-mentah, tapi Edwin tetap bersikeras karena ingin agar putrinya segera menikah dan tidak memedulikan rengekan gadis itu.
Pintu ruang kerja Adisti diketuk oleh seseorang dari luar. Wanita itu pun mempersilahkannya masuk, yang ternyata adalah Naina.
"Ada apa, Naina?" tanya Adisti.
"Ini, Bu, saya ingin menyerahkan berkas yang Ibu minta," jawab Naina sambil menyerahkan sebuah map.
"Apa kamu sudah memeriksanya?"
"Sudah, Bu. Seperti yang Ibu katakan, ternyata memang ada pengeluaran keluar yang tidak jelas penggunaannya buat apa setahun yang lalu, tapi dua bulan lalu juga ada pemasukan juga yang tidak tahu dari mana."
"Maksud kamu?"
"Silakan Ibu periksa sendiri."
Adisti mengerutkan kening dan memeriksa berkas yang diberi oleh Naina. Memang benar adanya seperti itu. Hal tersebut tentu saja membuatnya kecewa karena selama ini dia sudah berusaha menjadi atasan yang baik, tetapi itu tidak cukup membuat pegawainya jujur dan setia.
"Jadi menurutmu apakah orang itu memang sengaja mengambil uang, kemudian setelah itu mengembalikannya lagi? Apa maksudmu orang itu menganggap ini seperti sebuah hutang, begitu?"
__ADS_1
"Saya kurang tahu, Bu, tapi dari yang saya lihat memang adanya seperti itu. Rasanya tidak mungkin ada pengeluaran dan pemasukan dengan nominal yang sama dan tidak diketahui alasannya karena apa."
"Tapi kenapa? Padahal orang itu bisa langsung pinjam uang ke saya jika memang benar-benar butuh. Saya juga tidak pernah membatasi karyawan untuk berhutang pada saya. Jika mereka memang membutuhkan uang, saya pasti akan meminjamkannya. Apalagi jika kebutuhannya untuk keluarga dan keadaan sangat mendesak, tidak ada alasan untuk menolak."
"Mungkin orang itu merasa segan, Bu. Apalagi nominalnya juga begitu besar."
Adisti terdiam, memikirkan kata-kata Naina. Ternyata gadis itu pintar juga. Akan tetapi, yang jadi pertanyaannya adalah siapa yang telah mengambil uangnya secara diam-diam dan mengembalikannya begitu saja tanpa adanya konfirmasi padanya. Adisti merasa pasti orang itu cukup lama kerja di butik ini. Apalagi pengeluaran tersebut sudah setahun yang lalu dan baru dikembalikan dua bulan lalu. Itu berarti dia pegawai lama yang juga punya akses dengan keuangan.
"Naina, apa kamu punya pandangan kira-kira siapa yang sudah berani melakukan hal ini padaku? Mengambil uang secara diam-diam. Bukankah itu sama saja dengan mencuri?"
"Saya tidak berani berkomentar, Bu. Tentu saat ini Anda juga bisa menilainya sendiri. Saya takut nantinya malah akan jadi fitnah."
"Ya sudah. Kamu keluar saja, biar masalah ini aku pikirkan dulu." Naina pun mengangguk dan segera pergi dari sana.
Adisti membuka laptopnya, mencari data-data satu tahun belakangan ini. Mudah-mudahan saja dia bisa menemukan orang yang sudah mengkhianatinya. Meskipun uang itu sudah kembali, tetap saja ini tidak bisa dibiarkan karena orang tersebut sudah tidak jujur padanya. Apa salahnya mengatakan secara langsung, Adisti juga pasti akan memberinya pinjaman tanpa memotong gaji apalagi sampai meminta bunganya. Dia juga tidak membatasi pegawainya kapan mau melunasi.
***
"Kamu sedang ada masalah?" tanya Yasa saat dirinya dan Adisti sedang menikmati makan malam.
Pria itu melihat sang kekasih sedang tidak bersemangat. Sepertinya memang tengah ada masalah yang sedang dihadapi. Sebagai calon suami tentu saja dia tidak akan tinggal diam, ingin membantu Adisti untuk memecahkan masalahnya.
"Hanya sedikit masalah," jawab Adisti dengan mengaduk-aduk makanannya.
__ADS_1
"Tapi sepertinya wajah kamu mengatakan jika masalahnya cukup berat. Apa ini ada hubungannya dengan rencana lamaranku?"
"Tidak. Ini masalah pekerjaan. Boleh aku tanya sesuatu padamu?" tanya Adisti sambil menatap wajah Yasa.
Pria itu pun segera mengangguk, dia merasa jika Adisti saat ini sedang dalam mode serius jadi, dirinya harus membantunya.
"Bagaimana kalau orang yang kamu percaya selama ini ternyata tega menusukmu dari belakang. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan?"
Yasa berpikir sejenak, kenapa Adisti bertanya seperti itu. Mungkin itu yang saat ini sedang dialami oleh sang kasih. Dia harus memberi jawaban yang cukup masuk akal dan tidak lagi membuat Adisti dilema.
"Kemungkinan memang hanya dua. Dipecat atau dibiarkan tetap bekerja, yang tentu saja dengan beberapa pertimbangan."
"Pertimbangan apa? Bukankah mengambil uang tanpa sepengetahuan pemiliknya itu sama saja dengan mencuri? Kalau aku membiarkannya saja pasti akan ada kejadian lagi di kemudian hari. Aku juga tidak bisa menjamin bahwa nantinya orang itu tidak akan berbuat hal yang sama lagi. Aku tidak ingin mengambil resiko. Padahal selama ini aku sudah sangat baik kepada semua karyawan, tapi kenapa mereka tetap saja menikamku dari belakang."
"Berbuat baik menurutmu belum tentu baik juga buat orang lain. Terkadang orang salah mengartikan kebaikan kita. Itulah kenapa kita harus hati-hati pada semua orang."
"Apa itu juga berlaku kepadamu? Apa aku juga harus berhati-hati denganmu?" tanya Adisti dengan pandangan serius ke arah sang kekasih, berharap pria itu menjawab apa adanya dan membuatnya yakin.
"Tentu saja kamu harus berhati-hati denganku. Kamu harus menemukan sesuatu yang membuatmu yakin bahwa aku memang benar-benar layak untuk kamu percayai. Memang siapa yang sudah menghianatimu? Apa perlu bantuanku untuk menyelesaikan masalah itu?" tanya Yasa yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Adisti.
"Tidak perlu. Aku masih bisa menyelesaikannya sendiri, ini masalah kecil. Hanya saja mungkin perlu ketegasan saja. Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku."
"Sama-sama. Oh ya! Mengenai lamaran kita bagaimana? Apa kamu sudah membicarakannya dengan keluargamu?"
__ADS_1