
"Neng, kenapa?" tanya Bik Rina yang melihat atasannya tidak tenang.
Adisti pun menoleh menatap ke arah Bik Rina. Dia pun memberanikan diri bertanya meski merasa malu. "Apa dulu saat Bibi menikah, Bibi merasa gelisah?"
Bik Rina mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan pertanyaan atasannya. Bukankah sebelumnya Adisti juga pernah menikah, tetapi kenapa malah bertanya kepadanya. Mungkin ini yang namanya beda orang beda rasa.
"Kenapa malah tanya Bibi? Bukannya Neng Adisti pernah menikah juga?"
"Iya, Bik, tapi kali ini rasanya berbeda. Sekarang lebih deg-degan dua kali lipat. Kalau pagi kepikiran kapan malam, kalau malam kepikiran kapan pagi, pokonya semua serba gelisah."
Bik Rina terkekeh mendengar jawaban dari majikannya. "Semua calon pengantin juga pernah merasakan hal yang sama. Bibi dulu juga merasakan seperti itu."
"Dulu di pernikahanku yang pertama aku juga merasa deg-degan, tapi tidak seperti sekarang ini. Kali ini rasanya itu lebih terpacu, jantungku terus berdetak tidak beraturan," ujar Adisti sambil meletakkan tangannya di dada, tepat jantungnya berada.
"Mungkin ini juga pertanda jika di pernikahan Eneng yang ini, kelak akan bisa membuat Neng bahagia hingga maut memisahkan."
"Amin. Semoga saja seperti itu. Tinggal dua hari lagi, tapi rasanya begitu sangat lama. Padahal kemarin waktu ditetapkan acara pernikahan kurang satu bulan itu rasanya kecepetan, tapi kenapa sekarang terasa waktu itu lambat sekali seolah mengejekku."
"Itu karena Neng terlalu banyak berpikir, makanya waktunya terasa lambat. Nikmati saja setiap detiknya, ini juga nanti akan menjadi kenang-kenangan untuk nanti diceritakan ke teman-teman atau anak-anak nanti."
Adisti mengangguk, menatap wanita paruh baya yang selama ini selalu menemaninya di rumah ini. "Bik, nanti setelah aku menikah, Bibi sama Naina tinggal di sini saja ya? Kalau Bibi pergi, rumah ini akan kosong tidak ada yang menempati."
"Kalau saya ikut Naina, ke mana saja terserah dia."
Adisti pun menatap Naina yang juga ada di sana, berharap gadis itu mau memenuhi permintaannya. "Tapi, saya merasa tidak enak kalau terus di sini karena Anda sendiri juga sudah tidak tinggal di sini lagi."
"Justru itu, aku ingin kamu dan Bibi di sini untuk merawat rumah ini. Kalau perlu nanti aku carikan pembantu lagi, biar bisa bantu merawat rumah ini agar Bibi tidak capek."
__ADS_1
"Jangan, Neng. Bisa menempati rumah ini saja sudah senang, tidak usah cari orang lagi." Bik Rina menatap putrinya dan mengangguk, memberi tanda agar mau tinggal di rumah ini.
"Iya, Bu Adis, nanti saya juga ikut membantu Ibu untuk merawat rumah ini. Anggap saja itu sebagai yang bayar karena kami sudah diperbolehkan untuk tinggal di rumah," sahut Naina.
"Justru saya yang berterima kasih karena Bibi dan kamu mau tinggal di sini. Apa pun nanti yang dikatakan orang lain biarkan saja, jangan mendengarkan apa yang dikatakan mereka. Akulah pemilik rumah ini, aku yang berhak menentukan siapa pun yang boleh tinggal di sini dan tidak. Bibi mengerti 'kan maksudku?" ucap Adisti yang sangat tahu bagaimana orang-orang di luaran sana yang tidak menyukainya. Dia tidak ingin membuat Bik Rina dan Naina merasa tidak nyaman.
"Tentu, Bibi selalu mengerti apa yang Neng Adisti katakan."
"Alhamdulillah kalau begitu dan kamu Naina, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kamu sudah mulai terbiasa tanpa aku, kan? Mungkin ke depannya juga kamu harus mulai membiasakan diri."
Naina mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud Adisti. Dia memang suka kerja di sana, tetapi apa maksud dari kata membiasakan diri? Sungguh atasannya ini penuh misteri.
Gadis itu pun memberanikan diri bertanya, "Maksudnya? Kan sudah ada Bu Adisti nanti jadi, aku akan kembali ke pekerjaanku yang semula, sebagai asisten Ibu."
"Tidak. Kamu nanti akan menggantikanku. Aku memang akan tetap sesekali pergi ke butik, tetapi mungkin akan jarang ke sana. Semua kuserahkan sama kamu sebagai pengelola butik. Nanti aku akan carikan kamu seorang asisten biar nanti bisa membantu kamu dalam mengerjakan pekerjaan."
"Tapi saya merasa tidak pantas akan hal itu, Bu. Di butik masih ada beberapa orang yang kerjanya lebih baik daripada saya, alangkah baiknya kalau mereka saja yang ditunjuk."
"Tidak, Nai. Aku percaya padamu sepenuhnya. Kalau orang lain yang mengolah butik, tidak menutup kemungkinan jika mereka nantinya akan menghianatiku. Sudah cukup Bryan dan Arsylla saja yang membodohiku, aku tidak ingin ada lagi. Jika itu terjadi maka aku tidak akan pernah memaafkannya."
"Tapi, Bu, apa Ibu tidak takut kalau aku akan menggelapkan dana dan membuat butik rugi?" tanya Naina ragu.
"Tidak. Aku percaya padamu, kamu pasti bisa melakukan tugas dengan baik. Aku minta tolong padamu jaga kepercayaanku dengan baik. Aku mempercayakan semuanya padamu, jangan sampai kamu menghianatiku seperti orang-orang yang sebelumnya hidup bersamaku."
Naina menatap ibunya, mencari jawaban apa yang harus dia lakukan. Bu Rina pun sebenarnya juga berat menerima semua ini, tetapi saat ini Adisti sulit percaya pada orang lain. Dia dan Naina seharusnya merasa beruntung karena majikannya begitu percaya pada dirinya dan sang putri, tetapi tanggung jawabnya kini bertambah. Entah Bik Rina dan Naina sanggup atau tidak.
"Semua terserah padamu mau menerimanya atau tidak. Pikirkan juga dirimu apa sanggup menanganinya atau tidak," ucap Bik Rina sambil menatap sang putri.
__ADS_1
Naina dalam keadaan dilema, dia tidak tahu harus berkata apa. Di sisi lain gadis itu mulai merasa nyaman dengan pekerjaannya kini di butik, padahal dulu sama sekali tidak pernah terpikirkan, tetapi seiring berjalannya waktu Naina mulai merasa nyaman.
Adisti menggenggam salah satu telapak tangan Naina, membuat gadis itu menatapnya. "Pikirkan saja dulu dengan baik. Aku juga tidak akan memaksamu kalau kamu memang tidak mau mengemban tanggung jawab yang sudah aku berikan. Tidak apa-apa, biar nanti aku pikirkan cara yang lain. Pikirkan dengan baik agar nanti kamu tidak merasa terbebani."
Naina mengangguk, bersyukur Adisti tidak memaksanya.
Bel rumah berbunyi, Bik Rina pun segera membukakan pintu. Ternyata Vira yang datang, Adisti merasa senang karena akhirnya ada orang yang menemani di tengah rasa gelisahnya. Om Edwin sendiri mengatakan jika akan datang satu hari sebelum pernikahan, begitu juga dengan Tante Soraya dan suami. Adisti pun memberikan baju yang nantinya akan digunakan Vira saat pesta resepsi nanti. Dia sengaja memberikan baju yang senada dengan keluarga Yasa agar seluruh keluarga jadi kompak dan serasi.
"Dis, aku boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Vira saat keduanya berada di dalam kamar.
"Tanya apa, tanyakan saja," jawab Adisti tanpa melihat sepupunya dan hanya fokus pada ponsel yang ada di tangan.
"Si Rio udah menikah belum?"
Seketika Adisti terkejut dan melebarkan matanya ke arah Vira. "Rio? Rio siapa? Asistennya Yasa?"
"Ya, siapa lagi Rio yang kita kenal selain dia."
"Kenapa tiba-tiba nanyain si Rio? Jangan bilang kalau kamu ada rasa sama dia. Benar seperti itu?"
"E–enggak, siapa bilang! Aku 'kan cuma bertanya. Memangnya kalau aku bertanya tentang orang lain tidak boleh?" sahut Vira dengan tergagap entah kenapa.
Adisti merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sepupunya itu, pasti Vira memiliki perasaan terhadap asisten tunangannya atau mungkin keduanya memang ada sesuatu yang tidak dia ketahui.
"Apa selama ini kalian saling berkomunikasi?" tanya Adisti sambil memperhatikan ekspresi Vira, berharap mendapat jawaban yang jujur.
"Boro-boro komunikasi, dia itu 'kan orangnya dingin sekali. Aku sudah bicara panjang lebar, dia malah jawabnya hm ... hm ... ngeselin banget, kan? Pengen banget aku pukul kepalanya biar dia segera sadar dan nggak cuek lagi."
__ADS_1
"Jangan terlalu benci, nanti malah jadi cinta."