
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Semuanya sudah jelas, kan? Aku harus pergi karena aku masih banyak pekerjaan yang harus segera kulaksanakan." Adisti pergi begitu saja dari sana tanpa mencicipi makanannya sedikitpun.
Sementara itu, Bryan menatap kepergian sang istri dengan pandangan sedih. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja dia menyesal atas semua yang sudah dilakukan. Andai saja dirinya tidak menghianati istrinya pasti saat ini dirinya masih berbahagia. Bryan juga masih bisa hidup mewah, tidak seperti sekarang yang harus serba kekurangan.
Sahna juga akhir-akhir ini sering marah-marah padanya, setiap hari mengeluh karena kekurangan uang. Setiap malam juga mendapat aduan karena bertengkar dengan mamanya. Padahal dulu keduanya sangat akrab satu sama lain, bahkan terlihat saling menyayangi. Siapa yang menyangka semua telah berubah setelah dirinya tidak memiliki apa pun.
"Ternyata aku memang bukanlah siapa-siapa tanpa kamu. Andai waktu bisa aku ulang, pasti aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Andai saja aku tidak terpengaruh dengan apa yang Arsylla katakan, pasti saat ini kita masih bersama. Sungguh aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi, sekarang rasanya semua percuma, tidak akan kembali seperti dulu," gumamnya.
***
"Hai, Sa. Makan siang, yuk!" ajak Arsylla dengan nada santainya.
Namun, sama sekali tidak ditanggapi oleh lawan bicaranya yang sibuk dengan pekerjaan. Tentu saja hal itu membuatnya kesal, terapi tidak bisa menunjukkannya secara langsung. Dia harus bisa mengambil hati pria itu agar keinginannya bisa tercapai.
"Sa, kok diam saja sih! Ayo kita makan siang! Sudah waktunya nih."
__ADS_1
Yasa menatap tajam ke arah wanita yang ada di depannya. Sedari tadi dia sudah mencoba untuk menahan amarahnya, tetapi sepertinya Arsylla sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Hingga tidak tahu malu terus saja mencoba untuk merayunya.
"Apa kamu tidak lihat di mana kita berada? Ini di kantor dan saya adalah atasan kamu. Tidak bisakah kamu bersikap hormat? Kalau tidak bisa sebaiknya kamu mengajukan surat pengunduran diri, dengan senang hati aku akan segera mengabulkannya."
Arsila seketika melototkan matanya, tidak menyangka jika Yasa akan berkata demikian. "Kok kamu bicaranya gitu, Sa! Aku 'kan niatnya baik mau ngajakin kamu makan siang."
"Tapi sayangnya niat kamu tidak pada tempatnya. Saya di sini atasan, bisa makan siang kapan saja yang saya mau jadi, sebaiknya kamu segera pergi dari ruangan ini. Dan satu hal lagi, untuk kedepannya tolong jaga sikap. Di sini saya adalah bos dan kamu adalah pegawai saya, jaga batasan itu. Jangan sampai aku mendepakmu dari sini."
Arsylla ingin mengatakan sesuatu. Namun, Yasa lebih dulu membuka mulutnya. "Jangan kamu pikir aku tidak bisa memecatmu karena janjiku padamu waktu itu. Aku dulu berjanji akan memberimu pekerjaan, tapi aku tidak pernah berjanji akan mempekerjakanmu selamanya jadi, jika kamu membuat kesalahan maka siap-siap saja pergi dari perusahaan ini."
Memang benar apa yang dikatakan oleh Yasa, semua sesuai pembicaraan waktu itu. Seharusnya kemarin dia meminta Yasa untuk berjanji mempekerjakannya selamanya jadi, Arsylla tidak perlu takut akan kehilangan pekerjaan. Kalau sudah seperti ini dirinya pasti akan kesulitan untuk bergerak.
"Kenapa masih berdiri di situ? Apa kamu lupa di mana pintu keluar? Apa perlu saya panggilkan security untuk membawamu dari sini?"
Arsylla mencoba untuk tetap tersenyum. "Baiklah kalau kamu tidak mau makan siang bersamaku. Itu tidak masalah, kita bisa makan siang lain kali saja. Kalau begitu aku permisi," ucapnya yang berusaha untuk tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Yasa dan berlalu dari sana.
__ADS_1
Terdengar suara pintu tertutup, membuat Yasa membuang napas kasar. Dari tadi dia sudah menahan diri untuk tidak memaki Arsylla dengan kata-kata kotor. Andai saja pria itu bisa, pasti akan menendang wanita itu dari perusahaan ini. Namun, Yasa bukan orang licik, yang bisa memecat karyawan begitu saja tanpa alasan.
Apalagi sampai saat ini pekerjaan Arsylla juga baik karena memang wanita itu tidak melakukan kesalahan. Atau mungkin lebih tepatnya belum, padahal Yasa sudah sangat menunggu kelicikan yang dibuatnya. Lebih tepatnya belum terlihat, mudah-mudahan saja bisa secepatnya jadi, dia tidak perlu berlama-lama membiarkan orang yang sudah membuat hidup Adisti bersedih, tetap bahagia.
Yasa juga tahu jika besok adalah sidang keputusan perceraian Adisti dan Bryan. Pria itu berharap agar hasilnya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Adisti, yang juga diinginkannya. Meskipun nanti wanita itu tetap akan menolaknya, setidaknya orang yang dicintainya itu tidak bersama dengan orang yang tidak berguna seperti Bryan.
Ingin sekali dia datang untuk memberi dukungan pada Adisti. Namun, pasti keinginannya itu akan ditolak oleh wanita itu karena statusnya yang saat ini masih bersuami. Tidak baik jika bersama dengan pria. Pasti nanti Bryan akan menjadikan hal tersebut sebagai alasan agar tidak berpisah jadi, lebih baik menahan diri saja.
Sementara itu Arsylla yang sudah kembali ke ruangan, melampiaskan amarahnya pada beberapa benda yang ada di meja. Dia sangat kesal pada Yasa yang terlalu jual mahal, padahal dirinya sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa mencuri perhatian. Namun, tetap saja sangat sulit untuk menembus benteng hati pria itu.
Arsylla tahu jika dalam hati Yasa masih tertulis nama Adisti. Hal itulah yang juga semakin membuat wanita itu menginginkan Yasa, padahal sebelumnya hanya ingin mendapatkan harta saja. Siapa yang menyangka seiring berjalannya waktu setiap hari bertemu dalam satu gedung membuat Arsylla menyukai kepribadian pria itu.
Berbeda dengan Bryan dulu, yang justru diserahkan pada sepupunya. Kali ini dirinya ingin memiliki Yasa seorang diri tanpa mau berbagi dengan siapa pun. Dia harus berusaha keras agar keinginannya bisa tercapai.
"Adisti, kenapa selalu kamu yang menjadi pusat perhatian? Padahal aku sudah melakukan segala hal agar orang-orang perhatian padaku, tapi kenapa kamu selalu saja mengambil perhatian mereka. Lihat saja! Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu kembali bersama dengan Yasa. Aku sudah melangkah sejauh ini. Apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan Yasa," gumam Arsylla dengan penuh kebencian, tanpa sadar dia akan melakukan kesalahan.
__ADS_1
Sorot matanya yang sudah memerah menandakan jika dirinya memang sudah dikuasai amarah. Apa pun nanti yang akan terjadi, semoga wanita itu cepat sadar jika yang dilakukannya itu salah.