
Pagi ini Adisti tidak pergi ke butik. Dia nanti akan pergi ke mall bersama dengan Bibi untuk berbelanja kebutuhan bulanan, serta membeli beberapa pakaian. Sudah lama juga dia tidak berbelanja. Tadinya mau mengajak Naina, tapi asistennya itu menolak dan bilang banyak pekerjaan jadi, Adisti pergi bersama dengan Bik Rina saja.
Yasa juga mengizinkan istrinya pergi. Dia selalu membebaskan wanita itu pergi ke mana pun yang diinginkan asal sebelum pergi izin dulu agar tidak khawatir. Banyak sekali barang-barang yang dibeli oleh Adisti. Bik Rina hanya mengikuti saja, bahkan wanita itu juga dibelikan baju oleh majikannya, padahal dirinya sudah menolak, tetapi Adisti memaksa dan akhirnya wanita paruh baya itu pun menerima saja.
Saat sedang asyik memilih baju datanglah seseorang yang membuat mood Adisti berubah. Siapa lagi kalau bukan Haris. Entah dari mana pria itu tahu dirinya sedang berbelanja di sini. Apakah mungkin Haris memang mengirim seorang mata-mata agar memberi informasi di mana saja dirinya berada.
"Gaun itu memang cocok untuk mu. Pasti nanti kamu akan semakin cantik saat memakainya," ucap Haris sambil tersenyum, membuat wanita itu memutar bola matanya malas.
Tadinya dia pikir Haris sudah tidak akan mengganggunya lagi, setelah rencananya untuk membuat dirinya dan Yasa salah paham, tetapi pria itu masih saja datang. Mungkin tidak akan berhenti sampai keinginannya terwujud.
Adisti tidak mempedulikan kehadiran Haris, dia tetap memilih-milih baju untuk dirinya dan Bik Mina, tidak lupa juga kemeja untuk sang suami. Haris terus saja berbicara panjang lebar meskipun tidak ada yang menanggapinya. Para pegawai yang melihatnya pun hanya saling pandang saja. Mereka beranggapan jika Haris sedang mengejar cinta Adisti, tetapi wanitanya enggan menerima.
"Kamu semakin lama semakin sombong, ya! Padahal aku ini masih sepupu kamu juga. Kamu sekarang istrinya Yasa jadi, otomatis aku sepupu kamu dong!"
Adisti yang tidak tahan akhirnya menatap ke arah pria itu dan mencoba untuk tersenyum paksa. "Yasa memang sepupu kamu, tapi tidak ada hubungannya denganku. Kamu sangat tahu 'kan bagaimana aku? Jika aku tidak suka, selamanya akan seperti itu dan aku harap kamu menjauh dariku saja daripada harus mencari masalah."
Haris meletakkan kedua tangannya di dada sambil berpura-pura meringis. "Aduh! Kenapa hatiku merasa sakit sekali mendengar kata-katamu. Tidak bisakah kamu berkata lebih halus? Kamu ini seorang wanita."
"Memangnya kenapa kalau aku wanita? Bukan berarti aku tidak bisa melawanmu dan membela diri."
__ADS_1
Haris melebarkan matanya dengan tersenyum devil. "Wah! Aku takut, ternyata kamu bisa garang juga."
Adisti mendengus dan mengabaikan sepupu sang suami itu. Dia menuju kasir dan membayar semua barang-barang yang sudah dia beli. Tadinya wanita itu ingin makan siang di mall, tapi melihat keberadaan Haris membuat selera makannya hilang begitu saja. Lebih baik dia makan di rumah saja.
Sebelum pulang Adisti dan Bik Rina membeli bahan-bahan pokok, untuk kebutuhan dapur di rumah barunya dan rumah lama yang saat ini ditempati Bik Rina dan Naina. Haris tetap saja mengikuti keduanya meski sama sekali tidak dianggap keberadaannya. Entah terbuat dari apa wajah pria itu sungguh bermuka tebal. Setelah semua dibeli barulah keduanya pulang dengan mobil Adisti. Haris masih tetap mengikuti mereka dengan menggunakan mobilnya sendiri.
Adisti semakin kesal saat melihat mobil Haris mengikutinya, padahal wanita itu sengaja pulang lebih cepat agar bisa menghindari pria itu, tetapi sepupu sang suami itu sama sekali tidak tahu diri. Dia jadi bingung harus bagaimana. Bukannya takut, hanya terlalu malas menanggapinya.
"Ada apa, Neng? Apa pria tadi mengikuti kita?" tanya Bik Rina sambil menengok ke belakang.
"Iya, Bik. Lihat saja di belakang, itu mobilnya. Padahal tadi aku cepat-cepat pulang agar bisa menghindarinya, tapi dia masih saja mengikuti kita," jawab Adisti dengan ketus
"Terus sekarang gimana? Apa kita tetap akan pulang, Neng?"
"Saya terserah Neng saja bagaimana baiknya. Saya juga merasa tidak nyaman dengan keberadaannya."
Akhirnya Adisti pun mengemudikan mobilnya menuju kantor Yasa. Bukan dia merasa takut dengan Haris, hanya saja dia tidak merasa nyaman berada di dekatnya. Bagaimanapun juga mereka bukanlah mahram, tidak baik jika terlalu sering bertemu. Apalagi dengan niat buruk yang dimiliki oleh pria itu, lebih baik menghindar saja.
Begitu sampai di perusahaan sang suami, ternyata Yasa tidak ada di tempat dan sedang meninjau proyek. Entah akan kembali jam berapa Adisti pun meminta resepsionis untuk membawanya ke sebuah ruangan yang kosong saja di lantai satu. Dia juga memintanya agar tidak menerima tamu untuk Yasa dan mengatakan sedang sibuk.
__ADS_1
Haris sangat kesal setelah tahu Adisti membawanya ke perusahaan Yasa. Pasti wanita itu sengaja melakukannya, padahal hari ini pria itu berniat dengan mengganggu ketenangan istri sepupunya dengan menceritakan banyak hal tentang kejelekan Yasa Sepertinya rencana itu harus dia tunda dulu dan mencari waktu lain yang tepat. Pria itu akan memastikan Adisti tidak akan lari darinya lagi.
"Neng, apa tidak apa-apa kita menunggu di sini?" tanya Bik Rina sambil melihat sekeliling. Sebenarnya ini ruangan untuk wawancara karyawan baru. Tadi resepsionis menawarkan diri untuk mengantar ke ruangan atasannya saga agar lebih nyaman, tetapi Adisti menolak dan memilih ruangan ini.
"Tidak apa-apa, Bik. Kita tunggu saja sampai satu jam di sini, barulah kita lihat ke depan apakah Haris masih menunggu atau tidak." Bik Rina pun mengangguk mengikuti kata-kata majikannya.
Sementara itu, Yasa mendapat laporan dari anak buahnya jika Haris datang mengganggu Adisti dan saat ini sang istri sedang berada di kantornya. Tentu saja Yasa sangat kesal karena sepupunya masih saja mengganggu ketenangan sang istri. Namun, dia merasa lega karena Adisti pergi ke tempat yang benar. Padahal pria itu sudah menempatkan beberapa orang suruhannya agar menjaga sang istri, tetapi tetap saja kecolongan.
Yasa pun ingin segera kembali ke perusahaan. Tadinya dia masih ingin berlama-lama di sini, ingin melihat sejauh mana perkembangan proyek, tetapi untuk saat ini sepertinya dia harus menundanya terlebih dahulu.
"Tuan, Nona Adisti baru saja mengirim pesan kalau mereka akan segera pulang jadi, Anda tidak perlu terburu-buru. Lagi pula Nona Adisti juga bisa jaga diri," ujar Rio saat Yasa ingin kembali.
"Tetap saja aku khawatir padanya."
"Percaya saja pada istri Anda. Lagi pula ada orang yang menjaga mereka."
Akhirnya Yasa pun mengangguk dan mengalah. Dia meneruskan keinginannya untuk melihat perkembangan proyek. Di sela pekerjaan mereka, sesekali Yasa bertanya mengenai urusan pribadi juga.
"Rio, apa sudah ada kabar dari pengacara mengenai sidang Arsylla dan Bryan?"
__ADS_1
"Belum, Tuan sepertinya sidang saat ini sedang berlangsung. Mungkin saat jam makan siang barulah pengacara bisa memberi kabar dengan pasti."
"Tadinya aku ingin datang ke sana, tapi ternyata ada pekerjaan hari ini dan cukup banyak. Adisti juga menolak untuk datang ke sana."