
Bryan ingin mengikuti langkah Adisti. Namun, Alex menghadangnya dan tidak membiarkan pria itu mengikuti atasannya. Bryan tetap memaksa, tetapi Alex tetap berdiri di tempatnya dan tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk, kecuali jika pemilik rumah yang mengizinkan sendiri. Satpam pun tidak mau kalah, dia ikut membantu Alex untuk mengusir Bryan dan ibunya.
Lusi begitu marah pada dua pria yang ada di depannya karena selama ini, dia bisa dengan mudah keluar masuk dari rumah ini, tetapi sekarang harus diusir secara tidak hormat begitu saja. Sementara itu, Bryan menatap rumah yang dulu dia tempati bersama dengan sang istri tanpa menghiraukan mamanya. Semua kenangan saat dirinya tinggal di rumah ini muncul begitu saja, bagai kaset yang berputar di depan matanya. Sungguh sangat menyakitkan, tetapi inilah kenyataannya.
Dulu setiap hari mereka selalu bahagia. Adisti selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, tidak sekali pun melupakan semuanya. Dia saja yang tidak tahu rasa bersyukur, hingga akhirnya berselingkuh di belakang sang istri. Ini semua juga karena Arsylla, seandainya wanita itu tidak memperkenalkannya pada Sahna, pasti saat ini dirinya masih berbahagia dengan Adisti.
Selama ini juga dia tidak pernah mempermasalahkan Adisti yang tak kunjung hamil. Baginya anak bukanlah masalah yang penting, pria itu bisa hidup bahagia, tetapi karena hasutan dari Arsylla mengenai masa depannya, hingga membuat pria itu berkhianat. Lusi yang sudah sangat kesal pun akhirnya menarik tangan Bryan dan membawanya pulang.
Besok adalah sidang pertama perceraian mereka. Entahlah Bryan sekarang ragu untuk datang, tetapi jika tidak hadir maka persidangan akan lebih cepat selesai. Dia tidak akan mungkin melakukan hal itu. Bagaimanapun caranya pria itu tetap akan mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur ini.
Meskipun nantinya pasti akan sangat sulit. Apalagi kalau sampai Adisti membawa bukti, tentang dirinya yang sudah menikah lagi tanpa persetujuan dirinya, sudah pasti akan lebih mudah bagi pengadilan untuk menyetujuinya. Apa pun nanti yang terjadi di persidangan, Bryan akan tetap berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya. Namun, untuk menyewa seorang pengacara juga rasanya sangat tidak mungkin. Apalagi saat ini dirinya tidak memiliki penghasilan. Mau dengan apa dia membayar pengacara. Untuk makan sehari-hari saja sudah kesulitan, rumah juga tinggal bersama mamanya.
"Kamu lagi mikirin apa, Bryan?" tanya Lusi dengan berteriak, saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang karena memang mereka naik motor, sehingga mereka harus mengencangkan suara agar lawan bicaranya bisa mendengar.
__ADS_1
"Tidak ada, Ma," jawab Bryan yang masih bisa didengar oleh mamanya. Tentu saja pria itu berbohong, tidak mungkin dia mengatakan yang sejujurnya.
"Kamu memikirkan mantan istrimu? Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu harus bisa mendapatkan Adisti lagi bagaimanapun caranya. Mama tidak mau hidup susah seperti dulu lagi, itu sangat mengerikan." Lusi begidik ngeri membayangkan kehidupannya akan seperti dulu lagi.
"Hmm," gumam Bryan menanggapi ucapan mamanya.
Lusi yang belum selesai berbicara pun segera melanjutkannya, "Kamu saja yang bodoh, bagaimana bisa terjebak dengan wanita yang miskin seperti ini. Mama lebih baik tidak punya cucu daripada harus hidup jadi gembel. Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu harus seperti dulu lagi."
Bryan yang sudah jengah dengan ucapan sang mama pun memberhentikan motornya di pinggir jalan, hingga membuat Lusi heran. "Kamu kenapa berhenti di sini? Ini jalanan sepi sekali, Mama takut!"
Lusi melototkan matanya ke arah sang putra, tetapi tidak berani protes. Bisa-bisa nanti dirinya akan ditinggalkan di sini. Wanita itu pun mencoba menetralkan emosinya.
"Iya, iya, Mama minta maaf. Sekarang jalankan kembali motor kamu, Mama takut di sini," sahut Lusi sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
Bryan pun akhirnya melajukan kembali motornya menuju rumah. Begitu sampai di depan rumah, pria itu membuang napas kasar karena sudah ada wanita hamil yang berdiri di depan teras dengan tatapannya yang begitu sinis, siapa lagi kalau bukan Sahna. Kalau tahu begini lebih baik tadi mengajak mamanya berkeliling sebentar. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja dan sekarang harus menambah beban pikiran.
Lusi yang melihat itu pun berdecih sinis. Andai saja wanita itu tidak hamil, sudah pasti dia akan mengusirnya dari rumah ini. Bisa-bisanya gara-gara wanita seperti ini, dirinya akan menjadi seperti dulu lagi. Lusi memasuki rumah begitu saja tanpa berkata apa pun.
"Mas, kamu dari mana? Kenapa pergi sama mama dan aku nggak diajak? Jangan-jangan kamu makan di luar sana. Kamu makan enak-enak sementara aku di rumah hanya makan pakai ikan dan sayur asam. Enak sekali hidup kamu membiarkan aku wanita hamil di rumah sendirian. Seharusnya kamu itu ajak aku, bukan Mama."
Bryan sama sekali tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh sang istri. Pria itu terus saja berjalan menuju kamarnya. Saat ini kepalanya sedang pusing, obat yang tadi diberikan oleh dokter juga belum sempat dia minum. Biasanya kalau sakit seperti ini ada Adisti yang selalu mengingatkan dirinya untuk minum obat, tetapi sekarang tidak ada lagi. Entah bagaimana kehidupan pria itu setelah ini.
Sahna masih tidak mau menyerah, dia mengikuti sang suami dan terus bertanya hingga mendapatkan jawaban yang diinginkan. "Mas kamu ditanya kok diam saja dan masuk rumah begitu saja. Aku tanya, kamu dari tadi ke mana saja sama mama?"
"Aku dan Mama ada urusan dan tidak semua urusanku harus kamu ketahui. Tidakkah kamu lihat saat ini aku sedang sakit? Aku butuh ketenangan dan aku harap kamu bisa diam."
Sahna mendengus kesal, selalu seperti ini jika ingin tahu sesuatu. Mau protes juga rasanya percuma, dirinya akan kalah. Akan tetapi, saat dia melihat wajah sang suami, benar saja wajah pria itu begitu pucat. Entah apa yang sudah dilakukan oleh Bryan hingga sampai seperti ini. Apakah mungkin karena belum mendapatkan pekerjaan, hingga membuat pria itu kepikiran.
__ADS_1
Sahna menggelengkan kepala, biarlah itu menjadi urusan sang suami. Saat ini dirinya hanya bisa menunggu kapan pria itu bisa kaya seperti sebelumnya. Dia baru saja merasakan kesenangan memiliki uang banyak, tetapi sekarang sudah harus kembali lagi seperti dulu. Wanita itu tidak akan pernah rela jika memang begitu adanya.
Sahna sudah mempertaruhkan kehidupannya dengan menikahi Bryan. Dia bahkan sudah memutuskan sang kekasih. Kalau semua orang tahu dirinya menjadi miskin lagi, pasti semua orang akan menertawakannya.