Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
47. Dalam bahaya


__ADS_3

Adisti berdiri di balkon kamarnya. setelah kepulangan Yasa tadi, dia sama sekali tidak bisa tidur, selalu kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Asha tahu seharusnya tidak boleh terlalu memikirkan Yasa. Hubungannya dengan Bryan saja tidak jelas, tapi sekarang harus hadir pria dari masa lalunya. Entahlah perasaan apa yang wanita itu rasakan kini.


Adisti sudah membuat keputusan, bahwa saat ini dirinya tidak ingin terlibat perasaan dengan siapa pun. Dia hanya ingin mengakhiri pernikahannya dengan Bryan. Setelah itu Adisti ingin membahagiakan dirinya sendiri lebih dulu. Mengenai kehidupan wanita itu selanjutnya biarlah waktu yang menjawab.


Tadi Adisti sudah menegaskan pada Yasa bahwa dia tidak ingin memulai sebuah hubungan lagi. Mudah-mudahan saja pria itu mengerti dan tidak lagi memaksakan kehendak. Luka yang ditorehkan sang suami dan sahabatnya masih terasa sakit, biarlah Adisti obati lebih dulu agar saat memulai kehidupan baru tidak akan lagi mengingat masa lalu.


"Semoga keputusanku sudah benar. Aku ingin menyembuhkan luka yang ada dalam hatiku lebih dulu. Aku tidak ingin mengambil keputusan dengan tergesa-gesa seperti yang aku lakukan enam tahun yang lalu. Aku dengan mudahnya percaya dengan Bryan karena ingin mengobati luka dalam hatiku, tapi sekarang lihatlah aku harus kembali terluka. Ke depannya aku tidak ingin hal ini terulang lagi, aku harus memastikan bahwa lukaku benar-benar sembuh barulah aku akan membuka hatiku untuk orang lain. Aku percaya bahwa tidak semua laki-laki itu sama, akan ada seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku tanpa adanya alasan di balik semua itu," gumam Adisti dengan pandangan lurus ke depan.


***


Hari ini sidang perceraian Adisti dan Bryan akan digelar untuk yang kedua kalinya. Tadi pengacara juga sudah menghubungi wanita itu, menanyakan apakah nanti hadir atau tidak. Adisti sudah memutuskan untuk kembali tidak hadir dan menyerahkan semuanya pada pengacara. Dia terlalu malas jika harus berhadapan dengan Bryan lagi.


Biarlah pengacara yang menyelesaikan semuanya. Wanita itu juga malas jika harus berhadapan dengan mertuanya, yang selalu merasa paling benar dan tidak mau disalahkan sama sekali. Padahal pernikahan Bryan dan istri keduanya juga terlaksana atas persetujuannya. Jika tidak mana mungkin wanita itu juga hadir di pesta.


"Bu Adisti, mengenai gaun pesanan Bu Sahna, kenapa Anda belum mengerjakannya?" tanya Nadia yang saat ini berada di ruangan Adisti.


Dia melihat atasannya lebih memilih mengerjakan pesanan orang lain, padahal masih ada beberapa hari untuk pengerjaannya, sedangkan gaun pesanan Sahna besok akan diambil. Tidak biasanya Adisti seperti ini, mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Walaupun dia tidak suka dengan pembeli, tapi biasanya wanita itu selalu melayani semua orang dengan baik, tanpa membawa urusan pribadi, tetapi sekarang sepertinya atasannya sama sekali tidak peduli.

__ADS_1


"Mengenai Sahna, biar itu menjadi urusanku. Kamu kerjakan saja pekerjaanmu, tidak biasanya kamu bertanya mengenai apa yang harus aku kerjakan, ada apa?" tanya Adisti dengan kesal.


Ini adalah butik miliknya, tetapi Nadia seolah ingin mengatur pekerjaannya. Bukan dia tidak bertanggung jawab, hanya saja ada alasan kenapa Adisti tidak mengerjakan apa yang ingin dipesan oleh pembeli. Wanita itu tidak perlu mengatakan pada semua orang, biarlah itu menjadi urusannya.


"Maaf, Bu. Bukan maksud saya untuk menyinggung pekerjaan Ibu, hanya saja saya takut nanti butik ini namanya akan tercemar," sahut Nadia dengan cepat. Dia jadi merasa bersalah karena sudah menyinggung Adisti.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan nama baik butik ini, tapi kamu tenang saja. Aku membangun butik ini dengan penuh kerja keras, aku tidak mungkin membiarkan semuanya hancur begitu saja."


Nadia menggaruk belakang kepalanya karena merasa terlalu ikut campur urusan atasannya. "Iya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf. Kalau begitu saya kembali ke tempat kerja saya."


Nadia pun keluar dari ruangan itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia terlalu meremehkan Adisti, padahal sudah jelas bagaimana kinerja atasannya selama ini. Harusnya wanita itu sadar diri kalau keberadaannya di sini hanyalah untuk bekerja tidak ada alasan lain. Adisti sendiri hanya bisa menggelengkan kepala saat Nadia keluar dari ruangannya.


Akhirnya Adisti memutuskan untuk tidak membuatkan gaun. Biarlah nanti urusan Sahna menjadi urusannya, toh dia juga sudah mencoba untuk menghubungi, hanya saja orang yang tidak mau bekerja sama. Lagipula Adisti juga yakin jika dirinya hanya dipermainkan saja, bukankah Bryan juga tidak memiliki cukup uang untuk mengadakan pesta resepsi.


Tidak berapa lama ponsel Adisti yang berada di dalam tas pun berdering, wanita itu segera mengambilnya. Ternyata ada panggilan masuk dari pengacara. Dia segera mengangkatnya, Adisti penasaran bagaimana hasil dari persidangan tadi. Dari tadi wanita itu juga tidak tenang menunggu kabar.


"Halo, assalamualaikum, Pak."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Bu Adisti. Saya hanya ingin menyampaikan mengenai hasil persidangan," sahut pengacara yang berada di seberang telepon.


"Iya, bagaimana hasilnya?"


"Seperti yang sebelumnya kita perkirakan, kalau Pak Bryan masih tetap kekeh ingin mempertahankan pernikahan ini, tapi setelah saya memberikan beberapa bukti akhirnya Pak Brian tidak bisa mengelak lagi dan akhirnya menyetujui perceraian ini. Agenda persidangan selanjutnya adalah ikrar talak yang akan dibacakan oleh Pak Bryan. Pengadilan mengharapkan Anda untuk hadir nanti kalau sidang digelar."


"Tentu, Pak. Saya akan hadir karena memang itu yang sudah saya tunggu-tunggu. Terima kasih Anda sudah membantu saya sampai sejauh ini," ucap Asha dengan tulus, sepertinya rasa terima kasih saja tidak akan cukup, dia akan memberi hadiah nanti semoga tidak menyinggungnya.


"Anda tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang pengacara. Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya bisa lancar sampai keinginan Anda terpenuhi."


"Terima kasih."


Adisti pun mengakhiri panggilan karena memang sudah tidak ada lagi yang harus dibahas. Dia kembali mengerjakan pekerjaan, hingga tidak sadar jika hari sudah larut. Naina sudah pulang dari siang karena diminta Adisti untuk mengantar gaun ke rumah pelangg*nnya. Hari ini Reno izin tidak masuk kerja jadi hanya Naina yang bisa diandalkan karena bisa naik motor .


Adisti melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata sudah jam sepuluh malam. Terlalu asik dalam pekerjaannya, hingga dia tidak sadar waktu telah berlalu. Wanita itu pun membereskan berkas di mejanya dan pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Entah kenapa hari ini perasaannya sedikit tidak tenang, ada sesuatu yang mengusik dalam hatinya. Namun, Adisti mencoba untuk berpikir positif bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Ternyata apa yang dia rasakan benar. Wanita itu bisa melihat dari spion mobilnya jika ada mobil yang mengikuti dirinya.

__ADS_1


Saat Adisti melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil itu pun mengikutinya. Hingga tiba saat di jalan yang sepi, mobil itu menghadang laju mobil Adisti. Hampir saja terjadi tabrakan, untung saja Adisti bisa menginjak rem tepat waktu. Beberapa orang turun dari mobil depan dan menggedor kaca mobil Adisti, membuat wanita itu ketakutan.


Meskipun dia bisa bela diri, tetap saja dirinya akan kalah menghadapi orang-orang itu. Apalagi dia juga tidak memiliki senjata apa pun, sedangkan mereka sudah pasti memiliki senjata api. Dalam hati Adisti terus berdoa, berharap ada seseorang yang menolongnya. Entah dari arah mana pun asal dirinya bisa selamat.


__ADS_2