
"Tuan, sidang perceraian Nona Adisti sudah selesai dan pengadilan sudah mengabulkan gugatan tersebut," ucapan Rio pada atasannya.
Seketika membuat wajah Yasa bersinar. "Bagus, kalau begitu aku tidak perlu repot-repot menyuap para hakim. Bagaimana keadaan Adisti sekarang?"
"Sepertinya baik, Tuan. Saat ini beliau juga sudah kembali bekerja. Setelah pulang dari pengadilan wajahnya juga terlihat biasa saja."
"Mudah-mudahan saja dia memang dalam keadaan baik, tapi aku ragu karena selama ini dia selalu saja berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan orang lain, padahal hatinya ternyata terluka. Memang siapa yang baik-baik saja setelah bercerai dengan suaminya? Semua orang juga pasti akan terluka."
"Tapi saya yakin Nona Adisti pasti bisa melewati semuanya. Anda tidak perlu khawatir."
Yasa menatap asistennya dan bertanya, "Menurutmu aku harus bagaimana, Rio? Apa aku harus mendekatinya secara langsung setelah dia resmi jadi janda seperti sekarang ini?"
"Sebaiknya jangan, Tuan. Tunggu saja sampai masa iddah Nona Adisti selesai. Anda hanya perlu waktu tiga bulan, setelah itu Anda bebas mendatanginya tanpa terhalang statusnya lagi. Anda juga tidak perlu khawatir dengan cemoohan orang terhadap Nona Adisti, statusnya kini juga sudah bebas."
"Bagaimana kalau nanti ada seorang pria yang lebih dulu mendekatinya? Aku tidak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya. Apa kamu bisa menjamin kalau tidak ada orang yang akan mendekatinya?"
Bukan tanpa sebab Yasa berkata demikian, tetapi pengalaman yang mengajarinya. Dulu juga dia menjauhi Adisti demi memberi ruang pada wanita itu untuk berpikir, tetapi nyatanya malah membuat Yasa kehilangan Adisti karena sudah menjadi istri pria lain.
"Saya rasa itu mustahil, Tuan. Mengingat bagaimana selama ini sikap tegas Nona Adisti, pasti dia akan mencoba untuk menjauhi orang-orang yang ingin mendekatinya. Nona Adisti bukanlah wanita yang gampang terbujuk rayu oleh wanita."
"Tidak juga, buktinya dulu dia dengan mudah menerima Bryan," kilah Yasa yang tiba-tiba teringat masa lalu.
__ADS_1
"Justru itu yang menjadi bahan pertimbangan bagi dia dalam membuka hati dan memilih laki-laki. Mungkin nanti juga Anda akan merasa kesulitan saat mengambil hatinya. Saat ini luka yang dialami oleh Nona Adisti masih basah."
Yasa menganggukkan kepala. Saat ini hanya bisa berserah diri, dia akan memohon pada Sang Pencipta agar menjodohkan dirinya dengan Adisti apa pun caranya. Meskipun itu sangat mustahil, tetapi baginya tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan ini.
Sekarang Yasa memilih menunggu Adisti yang akan pulang dari butik. Pria itu sengaja memarkirkan mobilnya sedikit jauh agar tidak menaruh kecurigaan orang yang mengenalnya. Dia juga sengaja memakai mobil Lain milik salah satu pegawainya. Tadi Yasa menukarnya saat jam pulang kantor.
Sebenarnya dia ingin menemui wanita itu karena sudah sangat merindukannya. Namun, mengingat saat ini statusnya masih dalam masa iddah, pria itu tidak mau mengganggunya. Biar Adisti menjalani masa iddahnya dengan tenang agar bisa melepaskan bebannya yang akhir-akhir ini menumpuk.
Tidak berapa lama, Adisti pun akhirnya pulang dengan mengendarai mobilnya, yang tentu saja di sopiri oleh Alex.
"Bu Adisti, sepertinya ada yang sedang mengikuti kita," ucap Alex yang sadar saat melihat mobil di belakangnya sedari tadi mengikuti.
Tadinya dia masih berpikir positif mungkin tujuan mobil itu juga satu arah dengannya. Namun, setelah sekian banyak belokan kenapa mobil itu masih tetap mengikutinya. Bahkan saat dia menambah kecepatan pun mobil itu ikuti cepat dan saat pelan pun sama.
"Sepertinya bukan, Bu. Kali ini pelakunya orang lain."
Adisti masih memperhatikan mobil di belakangnya dengan saksama. Dia pun meminta Alex untuk memperlambat laju mobil. Namun, bukannya mendahuluinya mobil di belakang terus saja mengikuti dengan kecepatan pelan juga. Sampai akhirnya wanita itu minta Alex untuk menepikan mobilnya.
Wanita itu ingin tahu apa yang akan dilakukan pemilik mobil tersebut. Hingga beberapa menit mobil itu masih diam di tempat tanpa ada tanda-tanda pemiliknya untuk turun. Adisti yang kesal pun akhirnya memilih untuk turun dan mendekati mobil tersebut, untuk mengetahui siapa pelakunya.
Alex yang takut bisa terjadi sesuatu pada atasannya pun mengikuti dari belakang. Dia takut tidak bisa menjaga Adisti seperti kemarin. Yasa yang mengetahui mantan kekasihnya turun tentu saja merasa takut, nanti wanita itu akan semakin membencinya. Namun, kabur pun juga rasanya percuma karena Adisti sudah ada di depan mobilnya.
__ADS_1
Wanita itu mengetuk pintu kaca mobil dengan keras, berharap agar pemiliknya segera turun. Alangkah terkejutnya ternyata yang turun dari mobil adalah Yasa. Adisti mengerutkan kening sambil menatap tajam ke arah pria itu.
"Kenapa kamu dari tadi mengikutiku? Apa kamu ada sesuatu yang penting? Saya rasa sudah tidak ada urusan lagi, kenapa masih mengikutiku juga?" tanya Adisty dengan kesal.
Dari tadi dia sudah takut jika ada penculik yang mengikutinya, tapi ternyata Yasa yang ada di dalam mobil ini. Entah sejak kapan pria itu beralih pekerjaan sebagai penguntit.
"Aku hanya sedang merindukanmu, makanya aku ingin melihatmu dari jauh," jawab Yasa sambil terus menatap ke arah wanita yang ada di depannya.
Jawaban Yasa tentu saja membuat Adisti semakin kesal. Dia sama sekali tidak berharap ada orang yang merindukannya, apalagi itu seorang pria yang entah itu siapa pun. Wanita itu masih ingin menikmati kesendiriannya.
"Aku tidak mau tahu apa yang menjadi tujuanmu mengikuti mobilku, tapi aku harap sekarang kamu segera pergi dari sini dan jangan mengikutiku. Aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Aku harap kamu mengerti keadaanku!"
Yasa tetap memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Meskipun saat ini hatinya tengah terluka. Sungguh dia sama sekali tidak berniat untuk menyakiti hati Adisti.
"Maaf kalau kehadiranku mengganggumu. Kalau begitu aku pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik, tapi aku yakin kalau Alex juga pasti akan menjagamu dengan baik." Yasa pun pergi dari sana membuat Adisti merasa lega.
Wanita itu pun segera pergi dari sana, dia harus segera pulang. Tubuhnya sudah terasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Alex kembali mengikutinya dari belakang.
Bryan sudah pergi dari hidupnya, mudah-mudahan saja setelah ini Yasa juga tidak mengganggunya lagi. Meskipun itu rasanya sangat mustahil. Adisti juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain untuk tidak mengganggunya. Apa yang dilakukannya juga terbatas.
"Kita pulang ke rumah, Bu?" tanya Alex, takutnya jika Adisti ingin pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat dengan memejamkan mata karena tubuhnya sudah sangat lelah.